Chapter 88
Peristiwa yang menggemparkan itu membuat Hu Beng Kui tiba-tiba dikenal sebagai pembunuh Kim-mou-eng. Penduduk Ce-bu pun ramai membicarakan hal tersebut dan baru mengetahui bahwa Hu Beng Kui, yang selama ini mereka anggap sebagai pedagang, ternyata adalah seorang ahli pedang berjuluk Si Pedang Maut.
Bagaimana dengan Swat Lian dan Beng An sendiri? Tentu saja mereka terkejut. Tindakan ayahnya itu dinilai terlalu berani dan terasa kontroversial dengan sepak terjang sang ayah sehari-hari yang tidak suka menonjolkan diri, namun kini mendadak bersikap seolah perang terbuka.
Bukan main.
Ketika hari itu Beng An menegur ayahnya dengan terbelalak, pendekar itu menjawab dengan tenang sambil tertawa, "Biarlah, aku ditantang pihak istana. Kaisar ingin tahu pantaskah aku menjaga Sam-kong-kiam. Kalau berhasil, Sam-kong-kiam menjadi milikku, tapi kalau tidak berhasil, paling-paling mampus menelan kekalahan!"
Beng An pucat. "Tapi itu kesombongan, Yah. Tidakkah kau merasa bahwa istana menguji watakmu pula?"
"Aku tidak peduli tentang itu. Pokoknya mereka menantang dan aku menerima, titik!"
"Tapi Ayah mencari penyakit, kita semua bisa terlibat!"
"Hei, takutkah kau?" Sang ayah tiba-tiba marah dan memandang putranya dengan tajam. "Apa maksud semua kata-katamu ini, Beng An? Apakah kau hendak menyuruh ayahmu menjilat ludah kembali dan terbungkuk-bungkuk menghadap kaisar dengan menarik pengumumanku ini? Sekarang semuanya tidak dapat mundur, aku harus maju dan Sam-kong-kiam cukup berharga untuk dipertaruhkan dengan nyawa sekalipun. Keberhasilanku membunuh Kim-mou-eng tidak perlu membuatku gentar menghadapi yang lain!"
Begitulah, Beng An tidak bisa berkutik. Memang repot sekarang ini. Ayahnya telah mengedarkan pengumuman bahwa siapa pun orang kang-ouw boleh datang ke rumah mereka untuk mencoba mendapatkan Sam-kong-kiam. Ayahnya hendak menunjukkan kepada dunia persilatan bahwa dialah yang patut memegang pedang keramat itu. Apalagi, keberhasilan membunuh Kim-mou-eng, yang mampu meloloskan diri dari kepungan ratusan orang, menjadi bukti nyata bahwa ayahnya jauh lebih hebat. Kini, dengan pedang yang begitu ampuh, ayahnya bagaikan seekor harimau yang tumbuh sayap.
Beng An sendiri percaya bahwa sukar ada orang yang dapat mengalahkan ayahnya. Tanpa Sam-kong-kiam sekalipun ayahnya sudah ditakuti orang, apalagi dengan pedang seampuh itu. Maka, dengan menunduk dan menghela napas, pemuda ini mundur dan segera disambut oleh adiknya.
"Bagaimana, Ayah bersikeras?" tanya Swat Lian.
"Ya, semuanya sudah terlanjur, Lian-moi. Aku tidak dapat membujuknya dan kita siap-siap saja menanti banjirnya para penantang!"
Swat Lian pucat. "Ayah begitu sombong?"
"Hm, kenyataannya begitu, Lian-moi. Tapi sekarang kita tahu bahwa Ayah memang ingin memiliki Sam-kong-kiam, meskipun di mulut berkata tidak."
"Dan kau membantu Ayah?"
"Apakah tidak begitu?" Beng An balik bertanya. "Adakah jalan lain dan kita harus memusuhi ayah sendiri? Tidak, jelek-jelek dia adalah ayah kita sendiri, Lian-moi. Kalau Ayah sudah menetapkan begitu, maka kita sebagai anak-anaknya tidak dapat berbuat lain. Biarlah, apa yang terjadi kita lihat dulu, barangkali ada hikmah yang dapat kita petik di sini."
Swat Lian terisak. Dia tidak dapat berbuat apa-apa, bukan karena takut menghadapi lawan-lawan berat, melainkan menyesali sikap ayahnya yang dapat menyusahkan seluruh keluarga, termasuk dia, kakaknya, Kao Sin, serta suheng-suhengnya. Namun, karena ayah mereka adalah satu-satunya orang tua tempat mereka hidup dan dibesarkan, akhirnya Beng An dan adiknya menerima semua itu dengan perasaan tertekan.
Begitu Hu Beng Kui mengeluarkan pengumuman untuk menerima orang-orang yang ingin mendapatkan Sam-kong-kiam, dunia kang-ouw tiba-tiba geger. Apa yang akan terjadi? Mari kita lihat saja.
Seminggu setelah pengumuman itu disebarkan, pagi itu Swat Lian termenung di taman. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman menghadapi sepak terjang ayahnya. Tangannya memegang sehelai gambar yang akhir-akhir ini sering ia lihat, yakni lukisan dirinya sendiri karya Kim-siucai. Bayangan sastrawan yang tampan serta lemah lembut itu kembali muncul, mengganggu pikirannya, dan tiba-tiba Swat Lian menitikkan air mata. Dalam kesedihan, ia ingin berbicara dengan seseorang, bukan kakaknya, melainkan orang lain.
Tiba-tiba, suara seseorang mengejutkannya dari belakang. "Siocia, kau sendirian di sini? Mana ayahmu?"
Swat Lian mencelat. Tanpa didengar dan tanpa diketahui, seseorang mendadak telah berada di belakangnya; jika itu musuh, tentu dia sudah celaka. Swat Lian kaget dan berjungkir balik, gerak refleks dirinya siap melepas pukulan. Namun, begitu ia melayang turun dan menahan lengannya yang siap menghantam, Swat Lian berseru tertahan.
"Kim-twako...!"
"Heh-heh, maaf, Siocia. Rupanya aku mengejutkanmu." Kim-siucai yang muncul membuat Swat Lian terbelalak. Gadis itu girang bukan main dan segera meremas pundak sang sastrawan.
"Eh, kau yang datang? Bagaimana bisa masuk? Melompati tembok?"
"Aduh, lepaskan dulu cengkeramanmu, Siocia. Sakit sekali bahuku kauremas. Aku... aku benar melompati tembok, masuk seperti anjing digebuk, heh-heh!" Sastrawan itu menyeringai.
Sikapnya menggemaskan dan Swat Lian tersenyum. Entah kenapa dia merasa geli mendengar sastrawan itu melompati tembok dengan susah payah, persis seperti anjing yang dikejar-kejar. Swat Lian terkekeh. Ketika ia memperlihatkan giginya yang berderet seperti mutiara, Kim-siucai cemberut.
"Kenapa kau tertawa? Memangnya aku badut?"
"Hi-hik, aku tertawa karena omonganmu tadi, Kim-twako. Bahwa kau melompati tembok seperti anjing digebuk. Tentu lucu tingkahmu tadi, barangkali kau terjerembap seperti anjing sungguhan!"
"Ah, terlalu kau, Siocia. Masa aku kauanggap anjing beneran? Aku manusia, bukan hewan!"
"Ya, ya. Aku tahu, aku hanya menggodamu saja. Eh, bagaimana kau dapat mengejutkanku tanpa kudengar langkahmu? Kau... hm, kenapa dulu kau pergi, Kim-twako? Benarkah kau sastrawan tulen?" Swat Lian tiba-tiba teringat dan memandang penuh selidik hingga lawan bicaranya tersenyum.
Swat Lian yang jenius tiba-tiba menotok, dia ingin menguji sastrawan itu. Tapi ketika sang lawan roboh dan menjerit tertahan, gadis ini tertegun.
"Aduh, kenapa begini, Siocia? Kau apakan aku? Aku tidak bisa bangkit, pundakku terasa retak!"
Swat Lian menggerakkan jari. Sekali totok, ia membebaskan lawannya. Kim-siucai bangkit dan mengusap pundaknya. Rasa sakit yang diperlihatkan sambil mendesis-desis itu jelas bukan pura-pura. Swat Lian mengerutkan kening, teringat ucapan ayahnya, dan memandang untaian rambut di bawah kopiah sastrawan itu. Rambutnya tampak hitam biasa, tidak keemasan seperti kata ayahnya. Karena ragu dan menganggap sastrawan ini bukan ahli silat, akhirnya Swat Lian duduk membanting pantatnya.
"Kim-siucai, kau orang aneh. Bagaimana kau dulu dapat melepaskan diri dari kami?"
"Ah, gampang, Siocia. Waktu itu aku sembunyi di kakus!"
"Heh?"
"Benar, aku memasuki kakus dan bersembunyi di situ. Aku mendengar ayahmu marah-marah dan mencariku. Tentu saja aku gemetar dan nyaris kecemplung. Wah, kalau aku tidak menahan napas dan bersembunyi di sana, tentu kau dan ayahmu sudah menemukanku!"
Swat Lian merasa geli. Tanpa terasa senyumnya melebar hingga pecah dalam tawa kecil. Ketika ia melihat sang sastrawan tampak marah, gadis itu berkata, "Kim-twako, bukan main caramu itu. Tempat itu memang tepat, siapa yang mau mencarimu di sana? Hi-hik, kau tidak tertimpa kotoran?"
"Ah, jangan meledek, Siocia. Aku nyaris muntah-muntah bersembunyi di sana. Kalau ayahmu teliti dan mau mendobrak pintu kakus, tentu aku mati kaku digantung ayahmu itu! Sudahlah, mana ayahmu sekarang dan betulkah berita yang kudengar di luaran bahwa ayahmu menantang semua orang kang-ouw untuk mempertahankan Sam-kong-kiam?"
"Kau tahu?"
"Wah, aku pengelana, Siocia. Tahu segalanya!"
Swat Lian kagum. Untuk kesekian kalinya ia tercengang akan kemampuan sastrawan ini yang rupanya suka menguping dan tahu sebelum diberitahu. Karena Kim-siucai adalah seorang pengelana, Swat Lian dapat menerima alasan itu.
"Kim-twako, kau rupanya orang istimewa. Apalagi yang kau ketahui selain ini?"
"Banyak, Siocia. Termasuk pertikaian ayahmu dengan pihak istana."
Swat Lian mengerutkan kening. "Kau juga tahu itu?"
"Tentu saja, aku punya telinga di mana-mana!"
Swat Lian mendesis, "Twako, bagaimana kau bisa tahu itu? Tak banyak orang yang tahu akan hal ini. Kau rupanya dapat bergerak cepat ke sana kemari untuk melacak berita!"
Kim-siucai menghentikan tawanya. Sorot mata yang penuh selidik dan curiga itu membuatnya menyeringai menahan diri. Ketika gadis itu memandangnya tajam, sastrawan ini mengangkat lengannya.
"Siocia," katanya sungguh-sungguh, "bukankah hal begini dapat disiarkan istana kepada siapa saja? Bukankah persoalan itu gampang didengar karena pihak istana mendongkol kepada ayahmu? Hal ini bukan istimewa, Siocia. Kalau aku tahu, itu adalah lumrah."
"Hm, baiklah. Dan kedatanganmu sekarang ini, apa maksudmu? Bagaimana kau berani mati mendatangi rumahku? Bukankah kau tahu Ayah akan menangkapmu kalau kau terlihat?"
"Aku percaya padamu, Siocia."