Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 89

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 89

"Aku tahu kau akan melindungiku bila ayahmu marah-marah."

"Kau percaya itu?"

"Tentu saja, kita sahabat."

Dan heh-heh...

"Maaf, agaknya beberapa hari ini Siocia teringat padaku dan ingin bertemu."

"Wut!" Swat Lian melompat bangun, matanya terbelalak, wajahnya memerah.

"Kau berani bicara seperti itu, Kim-siucai? Kau mau main-main denganku?"

"Ah-ah, maaf," siucai ini tiba-tiba ketakutan. "Aku tidak bermaksud kurang ajar kepadamu, Siocia, melainkan melihat bukti yang ada di tangan. Bukankah kau membawa lukisanku dua tiga hari ini? Bukankah kau selalu termenung dan tampak sedih? Aku mencuri lihat akhir-akhir ini, Siocia, tapi baru hari ini aku berani masuk!"

Swat Lian tertegun. Tiba-tiba lukisan di tangannya jatuh, wajah gadis ini memerah, dan Swat Lian gugup memandang siucai itu. Kim-siucai sendiri sudah mengambil lukisan yang jatuh itu dan menyerahkannya dengan menunduk. Ketika Swat Lian menerima dan tubuhnya sedikit membungkuk, sastrawan ini berkata menyesal.

"Hu Siacia, maafkan aku. Rupanya kata-kataku telah menyinggung perasaanmu. Kukira kau membutuhkan seseorang untuk bicara di tempat ini, tak tahunya aku salah. Biarlah aku pergi dan aku tak akan berani datang lagi kemari..."

Tapi ketika sastrawan itu memutar tubuhnya, tiba-tiba Swat Lian berseru menahan, terisak.

"Tunggu, kau memang benar, Twako. Aku ingin bicara denganmu dan jangan pergi!"

"Eh," sastrawan ini terkejut, girang. "Siocia tidak marah?"

"Tidak, kau duduklah, Twako. Mari kita mengobrol."

Begitu Swat Lian memerintahkannya duduk, tiba-tiba Kim-siucai tersenyum lebar.

"Siocia, apa yang ingin kau bicarakan? Tidak lancangkah kiranya aku mengobrol di sini denganmu?"

"Tidak, aku cukup mendapat kebebasan, Twako. Dan, hm... terus terang saja hari ini Ayah sedang tidak di rumah!"

"Wah, kebetulan. Tapi bagaimana kalau kakakmu atau yang lain tahu?"

"Aku akan melindungimu, kakakku amat sayang kepadaku dan tak mungkin dia marah."

"Dan pembantu-pembantumu?"

"Kenapa cerewet amat? Kau bawel seperti nenek-nenek, Twako. Tak usah khawatir dan percayalah akan kata-kataku!" Swat Lian kesal.

"Ha-ha, terima kasih, Siocia. Kalau begitu terima kasih!" Sastrawan ini tertawa bergelak. Swat Lian mengerutkan kening tapi akhirnya tersenyum.

Dua titik air mata itu diusapnya dan mereka sudah duduk berhadapan. Ketika dua pasang mata kembali beradu dan Swat Lian merah mukanya memandang wajah tampan itu, Kim-siucai tiba-tiba memegang pundaknya, begitu berani!

"Siocia, kenapa kau begitu sedih? Kenapa menangis?"

Aneh sekali, Swat Lian tak mengusir tangan di atas pundak ini, bahkan menarik napas.

"Aku prihatin atas sikap Ayah, Kim-Twako," katanya. "Dan aku khawatir akan apa yang bakal terjadi."

"Hm, urusan Sam-kong-kiam itu?"

"Ya." Jari itu tampak menggigil, bergetar di atas pundak.

"Kau tak membujuk ayahmu?"

"Sudah, Twako, tetapi gagal."

"Ayahmu seorang keras kepala?"

"Ya, bahkan akhir-akhir ini cenderung sombong setelah tewasnya Kim-mou-eng itu. Eh!" Swat Lian berhenti sejenak. "Kau tahu tentang terbunuhnya Pendekar Rambut Emas itu, Twako? Kau mendengar pula?"

"Tentu, kalau tidak, tak mungkin pedang berpindah tangan, Siocia. Dan aku prihatin atas semua kejadian ini."

"Kau tak perlu menyebutku Siocia (Nona)," mendadak Swat Lian menegur. "Panggil saja namaku atau Adik Swat Lian!"

"Hm, keluargamu tidak marah?"

"Kenapa marah? Memangnya aku harus tunduk pada mereka dan terikat peraturan-peraturan kaku?"

Kim-siucai tiba-tiba kagum, melepas tangannya.

"Siocia, eh... Adik Swat Lian, kau benar-benar lihiap (pendekar wanita) sejati. Lebih pantas kau menjadi putri Si Pedang Maut daripada putri seorang pedagang!"

"Kau memuji?" Swat Lian tersenyum. "Maaf, Toako, aku tak punya uang kecil!"

"Ha-ha!" Mereka tiba-tiba sama tertawa.

"Kau luar biasa, Adik Swat Lian. Kalau tidak mengenal sendiri tingkah lakumu sehari-hari, tentu tak mau aku percaya bahwa kau demikian bebas, tak terikat norma-norma usang, serta gagah dan lihai. Mana mungkin orang percaya bahwa jari-jari yang demikian halus mampu membuat jungkir balik penjahat? Ah, aku kagum padamu, Adik Swat Lian. Kau memang hebat!"

Tapi mendesis sambil mengangkat mukanya, tiba-tiba Kim-siucai berseru, "Ada orang datang!"

Swat Lian terkejut. Dengan amat cepat namun berkesan gugup, siucai itu meloncat ke belakang, bersembunyi di gerumbul taman dan menghilang di situ. Swat Lian terkejut karena baru mendengar langkah seseorang, Suheng-nya nomor empat, Cun Li, muncul. Ketika dia tertegun dan heran bagaimana siucai itu bisa lebih dulu tahu, Cun Li telah berkelebat di depannya dan membungkuk.

"Sumoi, tak ada seseorang di sini? Aku melihat jejak kaki mencurigakan, jangan-jangan ada pencuri atau orang asing masuk!"

Swat Lian bangkit berdiri, terbelalak.

"Di mana kau lihat?"

"Di tembok, Sumoi. Seperti orang merayapi dinding dan menuju ke tempat ini!"

"Hm, tidak!" Swat Lian berdebar, teringat Kim-siucai, dan tentu saja menggeleng. "Kau barangkali salah lihat, Suheng. Coba periksa kembali, tapi tempat ini betul-betul tak ada orang selain aku."

"Baiklah, terima kasih, Sumoi. Dan aku akan melapor kakakmu." Cun Li berkelebat ke dalam.

Sekarang Kim-siucai muncul dan sastrawan itu mengebut-ngebut pakaiannya. Tiba-tiba Swat Lian curiga dan memandang tajam. Aneh siucai ini, pikirnya. Bagaimana dapat mendahului pendengarannya mendengar Cun Li? Apakah dia lengah atau...

"Kim-Twako!" Swat Lian tiba-tiba membentak, mencengkeram bahu lawan. "Bagaimana kau tahu kedatangan Suheng-ku itu padahal aku belum? Kau memiliki kepandaian dan berpura-pura?"

"Ah-ah!" Kim-siucai ini meringis, lagi-lagi menampakkan diri kesakitan. "Kenapa kau menduga begitu, Adik Swat Lian? Bukankah aku kebetulan menghadap arah Suheng-mu dan adakah aneh kalau aku lebih dulu tahu? Aku telah melihat bayangannya, karena itu aku lebih dulu tahu dibanding dirimu. Lepaskan cengkeramanmu, sakit!"

Swat Lian melepaskan cengkeramannya, tertegun.

"Begitukah?"

"Ya, kau kira apa? Aku bohong?"

"Hm!" Swat Lian menyerah kalah. "Aku lagi-lagi salah, Twako. Maafkan aku."

"Kenapa kau menduga aku bisa silat? Ha-ha, kau ini lucu, Adik Lian. Kalau aku bisa silat tentu tiga penjahat dulu itu tak dapat menghina aku. Kau terlampau curiga, atau barangkali penampilanku yang terlalu mencurigakan. Baiklah, kalau begitu aku pergi saja dan biar kau..."

"Tidak!" Swat Lian memotong, mencegah. "Kau tak usah pergi, Twako. Nanti saja, aku masih ingin bercakap-cakap denganmu!"

"Tapi kau memiliki ketidakpercayaan..."

"Aih, sudahlah. Ini semua karena Ayah, Twako. Ayah berkeyakinan benar bahwa kau bisa silat. Padahal, hm... sekali totok saja kau roboh!" Swat Lian terkekeh, menyatakan penyesalannya.

Siucai itu meringis. Dia merasa diolok-olok karena kebodohannya, tapi tidak marah dan tersenyum memandang gadis itu, malah berkata sambil menepuk dahi sendiri, "Ya, itulah kesialanku. Aku melulu sastrawan goblok, Adik Swat Lian. Pintar tidak, goblok pun belum. Heh-heh, ayahmu terlalu berlebihan menilai diriku. Kalau saja benar, hm... tentu nikmat sekali bisa memiliki kepandaian bela diri."

"Kau mau belajar?" Kim-siucai terbelalak.

"Siapa mau menjadi guruku?"

"Hi-hik, aku mau, Twako. Kulihat kau berbakat dan dapat memiliki sekadar ilmu penjaga diri agar tidak diganggu orang jahat."

"Kau?"

"Ya, kenapa? Kau tak suka?"

"Ah!" Siucai ini bertepuk tangan. "Tentu saja suka, Adik Lian. Tapi..." keningnya tiba-tiba berkerut. "Lancang apa aku ini? Mana mungkin kau dapat mengajari aku? Tidak, aku takut ayahmu, Adik Lian. Jangan-jangan dia marah besar dan aku bisa dibunuhnya!"

"Aku akan melindungimu!" gadis itu menegakkan kepala. "Dan aku jamin keselamatanmu asal kau menurut perintahku!"

"Begitu nekat?" pemuda ini tertawa. "Kau melihat apa pada diriku ini, Adik Swat Lian? Bukankah aku seorang pengelana yang suka bergerak dari satu tempat ke tempat lain? Apakah bisa aku kau kurung di sini? Jangan, aku tak mau merepotkanmu, Adik Lian, meskipun aku merasa bersyukur dan berterima kasih sekali bahwa demikian besar perhatianmu kepadaku!"

"Kau menolak?" Swat Lian tiba-tiba kecewa. "Baiklah, kau rupanya merendahkan ilmu silat keluarga Hu, Kim-Twako. Barangkali dalam perjalananmu itu kau melihat seorang yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada kami!"

"Ah, jangan salah paham. Kenapa berpikir begitu, Adik Lian? Aku tak merendahkan, hanya semata aku tak mau membuatmu repot."

"Aku tidak repot!"

"Tapi ayahmu bisa marah."

"Aku dapat memberi jawabannya!"

"Hm!" Kim-siucai ini garuk-garuk kepala, terdesak. "Baiklah, Adik Lian. Tapi aku ragu apakah setua ini aku dapat menjadi muridmu yang baik!"

"Kau suka?"

"Sekadar penjaga diri saja..."

"Tentu, aku memang ingin membayar sedikit jasamu atas lukisanmu dulu, Twako. Kalau kau suka tentu saja aku akan girang sekali!"

Swat Lian benar-benar girang, mukanya tiba-tiba berseri.

"Kalau begitu sekarang boleh kita mulai!" gadis itu melompat bangun, langsung berseru, "Aku akan mengajarimu kauwkoat (teori silat) sebelum meningkat yang lain!"

"Ah, begini mendadak?"

"Memangnya kenapa? Hayo, ke sini, Twako. Lihat, aku akan mengajarimu jurus-jurus penahan serangan!"

Sambil menyuruh pemuda itu maju, Swat Lian sudah menunjukkan gerak-gerak tangan dan sikap kaki yang benar, menyuruh pemuda itu menirukan. Sambil nyengir, Kim-siucai pun mengangguk. Dua tiga jam tidak terasa mereka habiskan dengan cepat. Ketika siucai itu menghapus keringat dengan napas terengah-engah, Swat Lian menghentikan gerakannya dan tertawa berkata, "Kau lemah benar. Baru beberapa jurus saja sudah capai!"

"He-he, aku belum biasa, Adik Lian. Tapi dua tiga hari tentu aku akan lebih kuat."

"Ya, dan kau akan bertambah sehat."

"Tapi pelajaran pun meningkat!"

Swat Lian tertawa. Bergaul dengan siucai ini mendadak membuat dia lupa kemurungannya terhadap sang ayah. Hari itu mereka menyelesaikan percakapan dan keesokan harinya kembali mereka bertemu lagi. Jurus demi jurus diajarkan Swat Lian kepada murid barunya ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment