Chapter 90
Seminggu kemudian, ketika mereka sedang belajar dengan gembira, mendadak Beng An muncul sambil berseru marah, "Lian-moi, apa-apaan ini? Kau memasukkan orang asing ke dalam rumah! Hei... dia Kim-siucai!"
Beng An terkejut, tiba-tiba menghentikan langkahnya dan terbelalak memandang siucai tersebut. Kim-siucai sendiri tersentak dan buru-buru menyelinap di belakang Swat Lian. Ia menggigil dan berbisik meminta tolong kepada Swat Lian. Swat Lian pun terkejut karena tidak menyangka kedatangan kakaknya yang kini berdiri di depannya dengan mata melotot.
"Lian-moi, bagaimana kau bisa bergaul dengan siucai ini? Dan kau mengajarinya silat? Ah, kau lancang! Ayah bisa marah dan menghajar kalian berdua!"
Swat Lian berusaha menenangkan diri. "An-ko, jangan keburu marah. Aku hanya memberinya pelajaran sederhana, hitung-hitung sebagai jasa lukisannya dulu itu."
"Tapi kau tak meminta izin, Lian-moi. Dan Kim-siucai ini pun sedang dicari Ayah!"
"Aku tahu..."
"Kalau begitu, kenapa nekat? Kau lancang, biar kulihat sampai di mana ilmu yang kau berikan...!"
Beng An berkelebat menyambar siucai itu. Secara tiba-tiba, Beng An bergerak dan menyerang pemuda tersebut. Kim-siucai mencoba mengelak, tetapi setelah dua hingga tiga gebrakan, ia pun roboh. Beng An segera tahu sampai di mana ilmu yang diberikan adiknya; ternyata memang ilmu yang biasa-biasa saja. Untung bukan ilmu pedang Giam-lo Kiam-sut!
Beng An mendengus. Saat ia mencengkeram dan dengan marah mengangkat tubuh siucai itu, ia membentak, "Kim-siucai, berapa hari kau mendapat pelajaran dari adikku? Kau begitu berani mati bergaul dengannya? Lancang kau, seharusnya kulempar kau sekarang....!"
Swat Lian berkelebat menyambar siucai itu dan berseru, "An-ko, lepaskan! Keselamatan Kim-siucai aku yang menjaga!"
Gadis itu merenggut siucai tersebut dari tangan kakaknya dan berdiri gagah dengan dada membusung. "Dia datang karena kuundang. Kalau ingin marah, jangan kepadanya, melainkan kepadaku. Nah, kuharap kau tidak memberitahukan ini kepada Ayah!"
Beng An terkejut. "Kau gila?"
"Aku tidak gila, An-ko. Aku telah berjanji kepadanya agar tidak ada seorang pun yang mengganggu!"
"Tapi Kim-siucai ini mencurigakan, dia lolos ketika dulu kita kejar!"
"Dia bersembunyi di kakus, An-ko. Dan aku telah menanyainya hingga tidak perlu curiga lagi!"
Beng An mengerutkan kening. Ia tertegun melihat adiknya demikian ngotot melindungi siucai tersebut. Tentu saja ia tidak senang karena sebagai seorang gadis, adiknya telah bergaul dengan pemuda asing tanpa sepengetahuannya. Beng An melotot memandang siucai itu, namun melihat adiknya bersungguh-sungguh dan mengetahui watak adiknya yang keras, akhirnya Beng An menarik napas panjang.
"Lian-moi, kau adalah putri Hu Beng Kui yang terhormat. Haruskah kini kau bergaul diam-diam dengan pemuda yang baru dikenal? Pantaskah kiranya selama berhari-hari kau bertemu dengannya di sini? Bagaimana kalau diketahui orang lain dan namamu tercemar? Kim-siucai ini sudah jelas bukan pemuda baik-baik, Lian-moi. Kalau dia pemuda baik-baik, tentu akan datang secara terhormat dan meminta izin kepada Ayah atau aku untuk menemuimu. Insaflah, ini bukan pertemuan yang baik dan siucai ini harus diusir!"
Swat Lian tertegun dan hendak membantah, tetapi Kim-siucai sudah maju mendahului sambil merangkapkan tangan. "Saudara Beng An, apa yang kaukatakan memang tidak salah. Tapi coba pikir, mungkinkah aku mendapat izin kalau masuk terang-terangan? Mungkinkah Ayahmu atau kau mengizinkan aku di sini? Tidak, aku rasa tak mungkin itu kalian lakukan, Saudara Beng An. Karena itu, terpaksa secara lancang aku berada di sini menemui adikmu."
"Untuk urusan apa?"
"Sam-kong-kiam."
Beng An melengak terkejut. "Kau siucai lemah begini bicara tentang Sam-kong-kiam? Hm....!" Beng An tiba-tiba mencengkeram bahu lawannya. "Kau mencurigakan hatiku, Kim-siucai. Omonganmu ini saja sudah cukup membuat aku mencurigaimu karena tak masuk akal seorang mahasiswa lemah macam dirimu bicara tentang Sam-kong-kiam!"
Sambil memandang adiknya dan tetap mencengkeram siucai itu, Beng An berseru, "Nah, kau dengar, Lian-moi. Tidakkah kau curiga melihat siucai ini bicara tentang Sam-kong-kiam? Tidakkah pemuda macam ini seharusnya ditangkap dan dihadapkan kepada Ayah?"
"Maaf," ujar Kim-siucai. "Aku tidak bermaksud merebut pedang itu, Saudara Beng An. Melainkan ingin membicarakan sepak terjang Ayahmu yang dapat mencelakakan diri sendiri. Aku datang untuk berbicara ini, bukan soal pedangnya!"
"Benar," Swat Lian tiba-tiba mengangguk. "Dia datang untuk membicarakan Ayah yang melepas pengumuman itu, An-ko. Karena sama seperti kita, Kim-siucai pun menganggap Ayah mengundang bahaya!"
"Apa pedulinya?" Beng An marah. "Bukankah dia orang luar dan tak perlu ikut campur?"
"Ah, salah. Aku memang orang luar, Saudara Beng An. Tapi budi adikmu yang telah menyelamatkan aku dari penjahat membuat aku ingin berbuat sesuatu untuk menyelamatkan kalian sekeluarga pula. Aku... ah... jangan merendahkan!" Kim-siucai melihat ejekan dari mulut Beng An. "Aku memang siucai lemah, tapi buah pikiranku barangkali dapat memengaruhi orang lain."
"Hm, pengaruh apa? Kau tetap tak banyak bisa berbuat, siucai tolol. Kalau kami yang berkepandaian saja tak bisa melakukan apa-apa, apalagi kau. Sudahlah, nama keluarga Hu harus kami jaga. Memandang muka adikku, biarlah kehadiranmu kuanggap tak ada dan sekarang kau harus pergi. Jangan menemui adikku lagi karena tak pantas seorang gadis mengadakan kencan dengan pemuda yang bukan apa-apanya!"
Wajah Swat Lian memerah. Memang untuk ini ia merasa salah; sebenarnya Kim-siucai itu sudah mau pergi, tapi ia selalu menahan-nahan. Itulah kesalahannya. Ia merasa tertarik dan entah mengapa wajah siucai ini mengganggunya. Barangkali gerak-geriknya yang aneh dan serba rahasia itu membuatnya ingin tahu.
Ketika kakaknya melirik tajam dan teguran itu ditujukan pula pada dirinya, Swat Lian menunduk, sementara Kim-siucai menghela napas dan mengangguk. "Adik Swat Lian, apa yang dikata kakakmu memang benar. Sekarang kita harus berpisah, banyak terima kasih bahwa sejurus dua ilmu yang telah kauberikan padaku mungkin dapat berguna di kemudian hari. Maaf kalau aku merepotkanmu dan maaf pula terhadap Saudara Beng An!"
Setelah membungkuk memberi hormat, tiba-tiba siucai itu memutar tubuhnya, meninggalkan tempat itu, naik ke tembok, dan merayap ke atas. Lucu sekali tingkahnya, menggelikan. Namun, begitu ia lenyap di luar dan Beng An berkelebat menyusul, ternyata orang tersebut sudah tidak ada lagi di sana.
"Iblis! Ke mana dia?"
Swat Lian juga terkejut. Ia sendiri sudah menyusul kakaknya. Di luar tembok itu adalah tempat terbuka; semestinya Kim-siucai itu masih terlihat. Mereka terbelalak karena siucai itu lenyap seperti siluman. Ini tak mungkin. Beng An berseru pada adiknya agar memutari tembok sebelah kiri, sementara ia sendiri berkelebat mencari dengan memutari tembok sebelah kanan.
"Lian-moi, coba cari. Temukan dia!"
Swat Lian mengangguk. Ia sudah berkelebat mencari, tetapi tidak ketemu. Di ujung tembok mereka kembali jumpa. Beng An membanting kaki karena tidak menemukan Kim-siucai itu. "Sial! Kenapa tidak tadi-tadi saja dia kutangkap? Siucai ini mencurigakan, Lian-moi. Aku tak percaya dia orang biasa karena untuk kedua kali sekarang kita tertipu!"
Swat Lian berdebar, heran juga. "Ya, ke mana siucai itu, An-ko? Apakah dia pandai menghilang seperti siluman?"
"Tak mungkin, ini pasti kepandaian ilmu meringankan tubuh. Atau dia bersembunyi di kakus lagi? Coba kucari!"
Beng An yang penasaran berkelebat ke samping, namun tak lama kemudian kembali lagi dengan tangan kosong. "Tak ada, ia benar-benar lenyap!"
"Hm!" Swat Lian bersinar-sinar, heran dan curiga dengan kuat. "Siucai ini aneh sekali, An-ko. Kalau begitu, lain kali dia kutemukan, sebaiknya dia kuhadapkan kepada Ayah!"
"Kau terlambat, seharusnya tadi!"
Sesosok bayangan berkelebat di belakang mereka, membuat dua muda-mudi ini membalik. Terlihat Cun Li muncul. "Sumoi, sute, Ayah kalian memanggil. Undangan sudah mulai berdatangan dan kalian diminta masuk!"
Beng An terkejut. "Siapa?"
"Tujuh Pengemis Kang-lam. Suhu telah menerima mereka dan kalian diharapkan hadir."
"Baik!"
Beng An menyambar adiknya, melompat ke dalam, dan akhirnya tidak jadi memikirkan keanehan Kim-siucai, lalu buru-buru menghadap Ayah mereka. Hu Beng Kui mulai kedatangan tamu; murid-murid berkata bahwa orang-orang mulai membanjiri luar kota. Inilah detik-detik menegangkan itu.
Ketika mereka menghadap Ayah dan mendapat dampratan karena dianggap keluyuran tak tahu diri, akhirnya mereka disuruh tinggal di rumah menyiapkan diri menyambut kedatangan para tamu.
"Kalian tak usah ke mana-mana, ini saatnya kita bekerja!"
Beng An menunduk. Kata-kata sang Ayah tentu saja tidak berani ia bantah. Hari itu terjadi kesibukan di rumah Hu Beng Kui. Karena Tujuh Pengemis Kang-lam dinyatakan sudah mendaftar dan mereka merupakan tamu pertama yang mengikuti undangan Hu Beng Kui yang aneh, maka hari itu Swat Lian dan kakaknya tak lagi memikirkan Kim-siucai.
Siang itu, memasuki tengah hari, ternyata sudah banyak orang berkumpul di halaman keluarga ini. Rumah Hu Beng Kui memang luas; halamannya dapat menampung lima ratus orang lebih, tak heran karena keluarga ini adalah keluarga kaya. Hu Beng Kui memang berhasil dalam menikmati kehidupan materinya.
Tujuh Pengemis Kang-lam yang dimaksud itu sudah duduk di depan panggung lui-tai, yaitu panggung yang telah didirikan Hu Beng Kui untuk mengadu kepandaian. Panggungnya kokoh dan setinggi lebih dari dua meter. Tidak ada tangga di sana dan orang harus meloncat untuk naik ke atas. Inilah cara Hu Beng Kui menguji lawannya. Lawan harus memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup untuk dapat melayang ke atas panggung.