Chapter 91
Orang-orang lain rupanya sudah mendengar dan Hu Beng Kui pun menyediakan tempat duduk. Kedatangan Tujuh Pengemis Kang-lam yang merupakan orang pertama yang akan merebut Sam-kong-kiam tentu saja menarik perhatian. Ketika Hu Beng Kui muncul diikuti putra-putrinya, tujuh pengemis itu bangkit berdiri memberi hormat. Baru kali itu mereka bertemu jago pedang ini, dan lima dari mereka kagum memandang Swat Lian yang hari itu mengenakan pakaian hijau dengan ikat pinggang hitam.
"Cantik dan gagah," gumam salah satu pengemis. "Hu-taihiap, kami datang untuk mencoba memenuhi tantanganmu. Kami, Kang-lam Jit-kai, tak tahu diri ingin merebut Sam-kong-kiam!"
"Hm, kami tahu, jit-wi lo-kai (tujuh pengemis). Kalian ingin bertanding dengan cara bagaimana? Silakan naik ke atas panggung, kita bicara di sana!"
Hu Beng Kui menggerakkan kaki, tubuhnya tiba-tiba lenyap dan mumbul di atas panggung lui-tai. Tanpa menengok, pendekar ini sudah melesat ke sana dengan gerakan yang sangat ringan dan luar biasa. Ketika Swat Lian dan kakaknya mengikuti gerakan sang ayah dan menyuruh tujuh pengemis itu naik, orang-orang di sekitar sana bertepuk tangan memuji kepandaian Hu Beng Kui dan kedua anaknya. Hu Beng Kui menyambutnya dengan acuh saja karena ia belum mengeluarkan sepersepuluh dari kepandaian yang dimilikinya.
Kang-lam Jit-kai tertegun. Mereka sempat tergetar karena meloncat tanpa memandang kiri-kanan bukanlah hal yang tidak berbahaya; jika meleset, mereka bakal terjeblos dan menjadi bahan tertawaan. Namun, karena merasa dapat melompat tanpa kesulitan, mereka pun bergerak serentak mengikuti jejak tuan rumah dan kembali mendapat tepukan saat sudah berhadapan dengan Hu Beng Kui di atas panggung.
"Maaf, Twa-kai (Pengemis Tertua), Taihiap. Masalah cara pertandingan, kuserahkan saja kepadamu. Kami biasa maju bertujuh, tapi kalau dikehendaki maju satu per satu pun kami dapat, semuanya terserah padamu."
"Hmm, begitukah? Kalau begitu bareng saja, aku akan menyuruh muridku termuda melayani kalian." Hu Beng Kui menoleh dan memanggil, "Kao Sin, majulah. Hadapi tamu dan robohkan mereka!"
Begitu muridnya melayang masuk, jago pedang ini meluncur turun membiarkan muridnya menghadapi lawan, diikuti putra-putrinya. Sebenarnya, Hu Beng Kui sedang menguji kepandaian lawan dan melihat dari gerak-gerik tujuh pengemis itu, mereka masih di bawah tingkat Kao Sin. Tentu saja sikap ini meremehkan tujuh pengemis tersebut hingga Twa-kai mendelik.
Kao Sin menjura di depan mereka. Saat pemuda itu membungkuk dan Twa-kai mengetukkan tongkat, si pengemis tertua berseru, "Hu-taihiap, sedemikian sombongkah dirimu hingga menyuruh maju seorang murid melawan kami bertujuh? Bagaimana kalau muridmu mampus?"
"Hm, tak perlu banyak cakap, Twa-kai. Kalian yang akan roboh, cepatlah selesaikan pertandingan ini!" Hu Beng Kui memberi tanda kepada putra-putrinya untuk masuk ke dalam karena ia merasa pertandingan ini tidak menarik lagi setelah melihat ginkang (ilmu meringankan tubuh) mereka yang rendah.
"Jit-wi lo-kai, majulah semua!"
"Sombong!" Twa-kai mendelik. "Kau belum tentu dapat menghadapi dua di antara kami, bocah. Robohkan dulu mereka dan baru setelah itu menyuruh kami maju bertujuh!"
Kao Sin tertawa. Ia merasa besar hati karena sikap gurunya tadi adalah pertanda bahwa ia memang mampu menghadapi mereka. Benar saja, tangkisannya membuat dua pengemis itu terpental. Dengan mudah ia mengelak dan melompat, lalu mulai melancarkan tamparan. Ketika dua pengemis itu terdesak hebat, dua saudara lainnya maju menerjang atas isyarat Twa-kai.
"Bocah, kau memang lihai. Sekarang hadapilah kami berempat!"
*Siutt-trakk!* Tongkat menyambar. Kao Sin melepas dua musuh pertamanya, berbalik, dan menangkis hingga tongkat lawan terpental. Kini, empat pengemis menghujani Kao Sin dengan serangan bertubi-tubi. Kao Sin tertawa dan meloncat tinggi. Saat ia melayang turun, ia melakukan sapuan kuat menyambut senjata lawan.
"Des-dess!" Dua pengemis terjengkang. Saat mereka berada di lantai panggung, dua pengemis pertama kembali maju menerjang untuk menolong saudaranya. Kao Sin berputaran cepat di antara empat sambaran tongkat, tubuhnya lincah bagai belut. Ketika ia menyambut hujan tongkat dengan kedua lengan telanjang, penonton terbelalak kagum.
Kao Sin mampu menangkis semua tongkat dengan baik. Empat pengemis di atas panggung selalu terhuyung karena kalah kuat. Karena Kao Sin memiliki sinkang dan ginkang di atas mereka, pemuda itu lenyap mendahului gerakan lawan. Sesaat kemudian, ia membagi pukulannya.
"Si-wi lo-kai, robohlah!"
Empat pengemis itu pusing karena tidak dapat mengikuti gerakan lawan. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh mereka. Kao Sin mengatur tenaga sedemikian rupa hingga dalam waktu singkat, empat pengemis itu ambruk di lantai panggung bagai kain basah. Tongkat mereka terlepas setelah Kao Sin menotok pergelangan tangan mereka.
"Ah, keparat!" Twa-kai mencelat menolong adik-adiknya, diikuti Ji-kai dan Sam-kai. Setelah memastikan empat saudaranya yang pucat itu selamat, Twa-kai melompat berdiri dan berseru marah, "Bocah bermarga Kao, kau hebat. Agaknya kami memang harus maju bertujuh. Beranikah kau meneruskan pertandingan melayani kami?"
"Ha-ha, itu sudah kubilang tadi, Twa-kai. Kenapa sekarang baru sadar dan ingin maju bertujuh? Majulah, seharusnya sejak tadi kalian bergabung!"
"Baik!" Twa-kai yang gusar mencabut tongkatnya dan mengepung bersama enam adiknya.
"Kau cabut senjatamu!"
"Tak usah diperintah, tentu kucabut kalau nanti diperlukan."
"Kau bertangan kosong?"
"Untuk sementara ini..."
"Wuutt...!" Twa-kai yang tidak dapat membendung amarah langsung menyerang ke dada lawan, disusul Ji-kai dan Sam-kai dari kiri dan kanan. Angin serangan mereka tajam dan mantap. Kao Sin terkejut dan segera mengelak, namun empat pengemis sisanya ikut menerjang dari belakang.
"Plak-plak-plakk...!" Kao Sin membalik dan menangkis dengan sapuan kakinya hingga empat pengemis itu terpental. Meski terus mendesak, Twa-kai dan dua saudaranya yang lain tetap menghadapi perlawanan sengit dari Kao Sin. Benturan keras pun terjadi ketika mereka beradu senjata.