Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 92

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 92

"Bagus!" Kao Sin memuji, segera mengetahui bahwa tenaga tiga pengemis utama ini lebih kuat dibanding yang lain. Mereka maju lagi dan Kao Sin dibuat sibuk, kini dia disibukkan oleh tiga tongkat di tangan ketiga pengemis itu.

Twa-kai, Ji-kai, serta Sam-kai hampir berimbang; mereka sama-sama memiliki gerakan cepat yang mantap.

Ketika tiga pengemis itu mendesak sementara empat pengemis yang lain menyerang dari belakang, Kao Sin berputar mengerahkan ginkang untuk menghindari serangan-serangan berbahaya. Satu-dua mulai mendapat gebukan tongkat, namun pemuda ini telah melindungi dirinya dengan sinkang, bahkan tongkat yang membalik hampir mengemplang tuannya sendiri.

Para pengemis itu terkejut.

Saat Twa-kai membentak nyaring mempercepat gerakannya, tiba-tiba bersama Ji-kai dan Sam-kai, ia lenyap mengelilingi Kao Sin. "Bentuk Tujuh Tongkat Bangau!" Kao Sin terbelalak.

Lawan di belakang serta kiri-kanan tiba-tiba berpencaran. Tongkat di tangan tujuh pengemis itu mendadak menusuk menyambar seperti kaki bangau, cepat dan susul-menyusul hingga Kao Sin bingung.

Kao Sin terkurung dan tak dapat keluar.

Ketika dia mencari lubang keluar dan mencoba memperhatikan arah, tiba-tiba tujuh tongkat menggebuknya hampir berbarengan dari semua penjuru.

"Buk-buk-bukk....!" Kao Sin terpelanting.

Untuk pertama kalinya dia dibuat kelabakan oleh hujan tongkat yang luar biasa ini. Tiga pukulan dari Twa-kai, Ji-kai, serta Sam-kai membuat dia menggigit bibir. Kuat pukulan itu; tenaga tiga pengemis utama ini memang lebih hebat.

Ketika kembali dia kebingungan dan harus berhati-hati terhadap pukulan tiga pengemis utama itu, dia kembali mendapat gebukan dan harus berguling menjauh di panggung lui-tai. Ia melompat bangun, tapi tujuh tongkat sudah mengejar lagi. Dua-tiga kali Kao Sin dihajar.

Marahlah pemuda ini.

Karena Twa-kai terdengar mengeluarkan kata-kata mengejek dan dia harus menahan sakit terhadap tiga pukulan pengemis utama itu, akhirnya Kao Sin membentak sambil mencabut pedangnya. Persis di saat lawan mengejar dia yang sedang berguling, dia sudah di pinggir lui-tai; sedikit ayal tentu dia terlempar keluar. Ini tak boleh jadi. Itu berarti kalah.

Ketika lawan menyergap dan tujuh tongkat menukik ke bawah bagai paruh bangau yang siap melempar Kao Sin ke luar panggung, tiba-tiba Kao Sin mencabut pedangnya. Satu sinar panjang memecah di udara menyambut tujuh batang tongkat itu.

"Crak-crak-crakk!" Tujuh pengemis itu berseru kaget. Mereka masing-masing tak sempat menarik tongkat, dan menarik pun tak ada guna.

Pedang di tangan Kao Sin bergerak cepat dan semua tongkat buntung; papas seperempat lebih dibacok pedang pemuda ini.

Ketika mereka berseru kaget dan harus melempar tubuh bergulingan dikejar pedang, Kao Sin sudah memburu mereka dalam gerakan yang disebut Koai-kiam-bui-kwi (Pedang Siluman Mengejar Iblis). Berturut-turut dia menusuk dan membabat.

Lawan dipaksa menangkis lagi dan tongkat menjadi semakin pendek; bahkan tongkat di tangan Twa-kai, Ji-kai, serta Sam-kai tinggal sepergelangan tangan, tak kuat bertemu pedang di tangan pemuda itu. Tentu saja mereka pucat dan nyaris terbabat pula pergelangan tangan mereka.

Ketika tiga pengemis utama ini tertegun dan Kao Sin menggerakkan kaki empat kali berturut-turut, empat pengemis muda terlempar keluar panggung sementara ujung pedang sudah berhenti di kulit leher Twa-kai dalam satu getaran, siap menusuk!

"Ah!" Twa-kai pucat bukan main. Dia melihat Kao Sin menodong pedangnya, tertawa sambil mengusap keringat. Gerakan tadi memang memakan banyak tenaga.

Kao Sin sudah berdiri di depan pengemis itu dengan pedang menempel di kulit leher. Kalau dia meneruskan gerakannya, tentu Twa-kai tewas. Pengemis tertua ini terbelalak dengan muka seputih kertas.

Ketika dia sadar dan membuang sisa tongkatnya, Twa-kai menjura dan Kao Sin menurunkan pedangnya.

"Sobat she Kao, kau memang hebat. Kami Kang-lam Jit-kai kalah!" Kao Sin memasukkan pedangnya.

Penonton di sekitar tempat itu tiba-tiba bersorak gemuruh. Tadi mereka mengkhawatirkan nasib pemuda ini, namun tak disangka dalam gebrak yang begitu cepat, pemuda ini berhasil mengubah keadaan. Pedang mautnya mampu membacok putus semua tongkat di tangan lawan dalam gerak yang begitu cepat dan memukau. Tak ada di antara mereka yang tahu kapan Kao Sin mencabut senjatanya.

Begitu Twa-kai menyatakan kekalahannya dan semua orang kagum akan kelihaian Kao Sin, tiba-tiba sorak yang begitu gembira memuji murid Hu Beng Kui ini dalam kemenangannya yang menakjubkan. Satu dikeroyok tujuh namun Kao Sin di atas angin; tiba-tiba pemuda itu mendapat tepuk tangan riuh yang membisingkan telinga.

Twa-kai tak ada muka lagi dan sudah melayang turun, diikuti pula oleh Ji-kai dan Sam-kai. Ketika tiga pengemis itu ngeloyor pergi disusul empat saudaranya yang meringis terlempar dari panggung yang tinggi, kemenangan ini membuat nama Hu Beng Kui terkenal dan Kao Sin pun disebut-sebut sebagai murid yang tangguh dari jago pedang itu. Padahal Kao Sin adalah murid termuda; putra-putri Hu Beng Kui sendiri belum turun tangan karena di sana masih ada empat murid kepala yang lain, yakni Cun Li dan tiga suheng-nya itu.

Begitu hari itu Hu Beng Kui mendapat kemenangan mudah atas tujuh pengemis dari Kang-lam, orang ramai membicarakan ini dan hari pertama tak ada pertandingan berikut. Hari itu yang mendaftar memang baru Kang-lam Jit-kai. Siang hari sampai malam hanya nama keluarga ini yang disebut-sebut, juga tentu saja Kao Sin.

Ketika keesokan harinya tak ada yang berani menantang hingga orang menjadi gelisah karena berarti pertunjukan menarik bakal tak ternikmati, mendadak sore hari menjelang malam datang berturut-turut dua rombongan kecil.

Yang pertama adalah empat manusia gundul. Mereka menyebut diri sebagai Empat Harimau Hitam; kulit mereka memang hitam dan melihat gerak-geriknya jelas dari golongan kasar. Mereka kokoh dengan lengan yang besar-besar, tampak kuat dan tegap. Tak ada yang tahu dari mana sebenarnya empat orang ini; logat bicaranya menunjukkan daerah utara. Mata mereka yang membelalak besar mudah menciutkan nyali, bersinar-sinar, dan buas seperti harimau.

Karena Hu Beng Kui sudah kecewa melihat kemunculan Kang-lam Jit-kai sebagai penantang pertama yang termasuk kelas "gurem", Hu Beng Kui tak mau menyambut dan menyuruh dua anaknya menerima penantang.

"Kalian saja yang menerima. Aku baru akan muncul kalau yang datang adalah ketua-ketua partai atau orang-orang ternama." Beng An dan adiknya mengangguk.

Memang ayahnya harus menjaga gengsi, bukan sombong. Semata bersikap begitu demi menjaga wibawa. Tak boleh sembarang orang berhadapan dengan ayahnya itu. Hu Beng Kui, Si Pedang Maut, harus menempatkan diri dalam tempat teratas, apalagi berani menantang orang-orang kang-ouw dengan risiko tinggi.

Beng An dan adiknya mewakili ayah mereka. Ketika petang itu mereka menerima Empat Harimau Hitam yang sudah melotot melihat kecantikan Swat Lian yang menonjol, rombongan kedua—sepasang wanita cantik—menyusul belakangan diantar Cun Li.

"Sumoi, ini Bi-ciam Sian-li (Dewi Jarum Cantik) dari Provinsi Fu-kien. Datang menantang kita memenuhi undangan." Empat Harimau Hitam melotot semakin lebar.

Di ruangan itu tiba-tiba muncul tiga wanita cantik. Swat Lian menjadi sebal dan muak. Empat laki-laki gundul itu terkekeh, mata mereka jalang berganti-ganti memandang dirinya dan Bi-ciam Sian-li. Tentu saja Bi-ciam Sian-li juga tahu dan ada pandangan marah pada sepasang wanita cantik itu. Cun Li mengerutkan kening.

Ketika Beng An menerima tamu-tamu itu dan bagaimana pun mereka harus menyambut baik, Beng An mendahului adiknya berkata tenang, ikut mendongkol melihat kejalangan mata Empat Harimau Hitam, "Cu-wi sekalian kuterima, mari ke panggung dan kita bicara di luar!"

Enam tamu itu mengikuti. Penonton sudah terbelalak; mereka juga telah mendengar kedatangan tamu-tamu baru ini. Beng An berkelebat ke atas dan menyuruh semuanya naik. Empat Harimau Hitam terbahak dan melayang mengikuti Beng An. Bi-ciam Sian-li disuruh menunggu di bawah karena mereka datang belakangan; Empat Harimau itulah yang harus dilayani dulu.

Ketika Beng An tiba di sana dan melihat Empat Harimau sudah melayang dengan ringan, pemuda ini menjura menyambung kata-katanya, "Su-wi enghiong (empat laki-laki gagah), kami dari keluarga Hu sebelumnya menghaturkan terima kasih atas perhatian su-wi. Sebagaimana biasa yang telah jadi peraturan kami, maka su-wi dipersilahkan bertanding menghadapi murid termuda dari ayah kami. Kalau su-wi dapat memenangkan pertandingan ini, barulah su-wi menghadapi berturut-turut murid yang lain sebagai jenjang peningkatan. Tapi kalau dalam babak pendahuluan ini su-wi kalah, harap su-wi mundur dan tidak coba-coba mengikuti pibu."

"Wah, mana Hu-taihiap? Masa dia tak muncul?"

"Ayah kami akan muncul kalau kalian dapat menyelesaikan pertempuran dari pertempuran, su-wi enghiong. Kalian tak perlu khawatir dan sebaiknya mulai dulu jenjang pertama. Inilah murid termuda ayah kami, Kao Sin-suheng!"

Lalu memanggil Kao Sin yang sudah bersiap di bawah panggung, Beng An memperkenalkan sutenya yang baru-baru ini menggemparkan Kota Cebu.

"Inilah suheng kami, Kao Sin. Harap kalian selesaikan pibu ini dan kami menonton di bawah."

Sambil turun meloncat ringan, Beng An sudah membiarkan murid ayahnya berhadapan dengan lawan, membuat Empat Harimau itu terbelalak.

"Kau yang maju?"

Kao Sin menjura. "Benar."

"Kau yang mengalahkan Kang-lam Jit-kai?"

"Benar."

"Hmm, kau rupanya lemah, orang she Kao. Bagaimana kalau kau dan putra-putri Hu-taihiap itu maju sekalian?"

"Peraturan tak menyebutkan begitu. Kalian harus merobohkan aku dulu sebelum bertemu saudara-saudaraku yang lain." Kao Sin mendongkol.

"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment