Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 93

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 93

Harimau Gundul itu tiba-tiba berkelebat tanpa aba-aba, mengeluarkan cakar harimaunya, dan menyerang Kao Sin. Kao Sin mengelak dan terpaksa mundur karena lawan terus menerjang dengan gerakan memutar. Saat Kao Sin menghindar ke kiri, orang lain di sebelah kiri menubruknya. Dua harimau itu pun mengeroyoknya.

Yang kedua ini pun menggunakan cakar harimau. Ketika Kao Sin mengelak ke belakang, orang di belakangnya justru menyerang. Begitu ia berkelit ke kanan, orang di sebelah kanan pun ikut menyerang. Berturut-turut, cepat, dan bertubi-tubi, Kao Sin dikeroyok oleh Empat Harimau yang maju berbarengan.

"Ha-ha, keluarkan pedangmu, anak muda. Biar kami lihat sampai di mana kesohornya ilmu pedang Giam-lo Kiam-sut!"

Kao Sin terkejut. Mengelak dan melompat ke sana-sini menghadapi empat orang ini ternyata sangat melelahkan. Dia harus mengerahkan gin-kang untuk mengimbangi kecepatan orang-orang gundul itu. Ketika ia mulai kewalahan, satu serangan di kiri terpaksa ia tangkis.

"Plaak!" Cakar harimau itu mental. Pemiliknya melotot marah, sementara temannya di sebelah kanan membentak dan ikut menyerang. Kao Sin kembali menangkis. Namun, saat cakar harimau itu terpental, Kao Sin terkejut karena lengannya terasa pedas dan sakit. Dua orang lainnya menerjang sambil memaki. Karena tidak sempat berkelit, ia menangkis, tetapi senjata lawan menjerat tubuhnya hingga baju pemuda itu robek dan ia terhuyung. Beruntung, ia sudah mengerahkan sinkang untuk melindungi kulit dan tubuhnya.

Kao Sin marah. Lawannya pun terkejut karena pemuda itu tidak terluka oleh cakar harimau mereka yang tajam. Keempat orang itu berteriak dan mulai meraung, "Bunuh dia, keluarkan am-gi!"

Kao Sin terbelalak saat empat lawannya tiba-tiba mengeluarkan senjata kecil mirip bintang dan menghamburkannya ke arahnya, sementara cakar di tangan mereka terus menyerang bertubi-tubi. Ia kaget dan marah; ini bukan lagi pibu, melainkan perkelahian ganas. Mereka tidak tahu diri berani bersikap buas di tempat sang tuan rumah.

Saat lawan memekik dan menyerangnya dengan bantuan senjata rahasia, Kao Sin mencabut pedangnya, membentak, dan melompat tinggi sambil berjungkir balik. Semua senjata rahasia disapu runtuh. Sinar pedangnya bergulung dua kali membentuk angka delapan.

Saat lawan terkejut, Kao Sin mengeluarkan jurus mautnya yang disebut Bianglala Menikam Iblis. Empat kali pedangnya bergerak, cakar harimau lawan terbabat putus. Kao Sin tidak lagi sungkan karena mereka yang mendahului berbuat ganas. Saat lawan terpekik melihat cakar mereka putus, sinar pedang Kao Sin mengarah ke empat leher lawannya.

"Suheng, jangan membunuh!" Seruan itu menyelamatkan jiwa Empat Harimau. Pedang Kao Sin terlampau cepat, sinarnya berkeredep menyilaukan mata. Namun, begitu Kao Sin terkejut oleh bentakan Beng An dan otomatis mengurangi tenaga, pedang itu hanya menyentuh dan menggores kulit leher lawan dengan lemah.

"Cret-cret-creet!" Empat Harimau itu terguling. Mereka terkejut dan mengeluh tertahan karena kulit leher mereka terluka, tidak dalam namun mengucurkan darah. Itu berkat kemurahan hati lawannya.

Saat Kao Sin tegak di depan mereka dengan wajah menahan marah, Beng An berkelebat ke atas panggung menegur Empat Harimau. "Sin-houw, tak diperkenankan sekali pun mempergunakan senjata rahasia di sini. Kalian melanggar peraturan, enyahlah!"

Empat Harimau itu malu. Kegirangan dan kesombongan mereka padam; mereka memang kalah dan salah. Jika putra Hu Beng Kui itu tidak membentak suhengnya untuk tidak membunuh, mereka pasti sudah terkapar tak bernyawa. Mereka akhirnya gentar dan beringsut bangun, lalu turun meninggalkan panggung dengan rasa malu yang luar biasa. Mereka telah pecundang.

Begitu Empat Harimau pergi, penonton bersorak memuji kemenangan Kao Sin. Untuk kedua kalinya mereka melihat kelihaian ilmu pedang pemuda itu; tak sampai tiga jurus, lawan dibuat roboh. Benar-benar hebat Giam-lo Kiam-sut itu.

Setelah Empat Harimau pergi dan suasana masih riuh, Beng An mengundang Bi-ciam Sian-li untuk naik ke atas panggung. Dua wanita itu melayang ke atas panggung lui-tai. Sorak penonton seketika berhenti; mereka tercengang melihat peristiwa menarik ini. Baru kali ini ada penantang wanita cantik.

Saat dua wanita itu tersenyum memandang Beng An, pemuda itu menjura dan berseru nyaring, "Ji-wi lihiap, pertandingan pertama telah berakhir. Kalian akan menghadapi Kao Sin-suheng. Siapkah kalian?"

"Kami siap, kongcu," seorang di antara mereka berseru merdu. "Tapi apakah saudara Kao Sin tidak terlalu lelah?"

"Hm," Beng An mengerutkan kening. "Kukira tidak, Nona. Suhengku dapat bertempur dua atau tiga jam tanpa beristirahat, kami sudah terbiasa. Jika Nona siap, silakan maju, tapi kuperingatkan di sini bahwa tidak diperkenankan mempergunakan senjata gelap dalam pibu yang bersifat persahabatan ini!"

"Kami tahu," si cantik kembali tersenyum. "Dan kami akan mematuhi peraturan, kongcu. Kami siap merobohkan suhengmu!"

Beng An melayang turun. Kedipan dan sinar mata Bi-ciam Sian-li mengharuskannya cepat-cepat meninggalkan lawan. Dua wanita cantik itu rupanya menaksir dirinya, sementara adiknya tersenyum menggoda. Pemuda itu mendengus.

Saat Bi-ciam Sian-li berhadapan dengan Kao Sin, pemuda itu tergetar gugup mendengar kata-kata salah satu dari mereka yang rambutnya disanggul, "Saudara Kao Sin, sudah siapkah kau melayani kami? Kami datang untuk merobohkanmu, bersiaplah!"

Kao Sin mengangguk gugup. "Ya, majulah, Nona. Aku sudah siap."

"Kau menyimpan pedangmu lagi? Ayo keluarkan, kami ingin melihat jurus-jurus maut dari Giam-lo Kiam-sut!"

"Aku akan mengeluarkan jika diperlukan, Nona. Sebaiknya kalian maju dan seranglah aku, kalian boleh mempergunakan senjata," jawab Kao Sin yang berusaha menenangkan diri. Ia terpaksa membuang muka jika bertatap langsung dengan si cantik bersanggul itu. Entah mengapa, jantungnya berdebar kencang. Saat dua wanita itu saling pandang, tiba-tiba yang satu mundur dan yang bersanggul maju menghadapi Kao Sin.

"Sin-twako, enciku bilang biar aku duluan menghadapimu. Kita bertanding satu lawan satu!"

"Apa?" Kao Sin terkejut. "Kalian tidak maju berdua?"

"Kami bukan tipe pengeroyok, Twako. Kalau kau hanya seorang, tentu kami pun akan maju seorang."

Kao Sin yang kembali terguncang melihat senyum si cantik itu mendadak bengong. Tak disangka, Bi-ciam Sian-li hanya maju seorang diri. Celakanya, yang maju itu justru yang mengguncang perasaannya. Kao Sin kalut, ia menggigil dan tidak keruan. Si cantik memandangnya heran, sementara penonton tiba-tiba tertawa melihat sikap Kao Sin.

Ketika Kao Sin tampak panas dingin, enci si cantik itu melompat turun. "Siu Loan, jangan buat lawanmu bengong!"

Gadis itu ternyata bernama Siu Loan. Kao Sin sadar dan penonton pun riuh. Beng An di bawah panggung menjadi geli. Ia berseru, "Suheng, jangan melamun lagi. Lawan siap menghadapimu!"

"Eh, oh... ya-ya!" Kao Sin terkejut dan wajahnya merah seperti kepiting rebus. "Silakan maju, Nona. Aku siap menghadapimu!"

"Tapi kau harus mengganti baju, keringatmu berbau!"

Penonton tiba-tiba terbahak. Kata-kata yang diucapkan Siu Loan tidak bermaksud menggoda—gadis itu berbicara sewajarnya—namun karena disuarakan nyaring dan semua orang mendengar, tawa penonton pecah. Kao Sin tampak makin kikuk, tetapi sesosok bayangan berkelebat ke atas. Dialah Cun Li, murid keempat si jago pedang. Ia membawakan baju baru karena tahu kekikukan sang sute di panggung.

Dibantu Cun Li, pemuda itu melepas bajunya yang kotor dan penuh keringat setelah menghadapi Empat Harimau. Saat baju dilepas dan Kao Sin tampak bidang dengan dada telanjang, Siu Loan melengos dan penonton bersorak gemuruh.

"Aih, jantan. Pemuda yang energik," gumam Siu Loan dengan wajah memerah.

Setelah selesai berpakaian, Cun Li tersenyum lalu melayang turun. Kao Sin berterima kasih kepada suhengnya. Ia kemudian berbalik menghadapi Siu Loan dan membungkuk. "Nona, mari!"

Siu Loan tertegun. Untuk sejenak, ia kagum. Setelah berganti baju, Kao Sin tampak jauh lebih tampan, gagah, dan menarik.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment