Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 94

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 94

Begitu lawan mempersilakannya menyerang, tiba-tiba Siu Loan tersenyum dan berkata lirih, "Baiklah, awas Saudara Kao Sin, aku tak mencabut senjataku pula kecuali diperlukan."

"Siuutt!" Kaki yang bergerak dari bawah ke atas menuju dagu pemuda itu tiba-tiba menendang, membuat Kao Sin terkejut dan mengelak. Kaki lain tiba-tiba mengganti posisi; dua kali gadis itu memutar pinggang dan dua tendangan pun melayang ke tubuh Kao Sin.

Karena Kao Sin dapat mengelak dan kedua tendangan itu gagal, Siu Loan mendadak membentak lalu menerjang maju.

"Awas, wut-wutt!" Dua lengan itu mulai bekerja, menampar dan memukul, lalu tiba-tiba gadis ini berputaran. Kao Sin melihat kecepatan dalam setiap gerakan itu.

Ketika lawan dibantu kakinya dan kini tendangan serta tamparan bertubi-tubi menghujani pemuda ini, Kao Sin berloncatan ringan mengelak dan menangkis. Ia mulai merasakan bahwa di samping cepat, ternyata gadis itu memiliki tenaga yang kuat. Kaki atau tangan yang bertemu dengan tangkisannya tak terpental, bukti bahwa gadis ini memiliki *sinkang* dan *ginkang* yang tak boleh diremehkan.

Ketika lawan penasaran dan Kao Sin hanya menangkis serta mengelak, tiba-tiba gadis itu membentak dan mengeluarkan jurus-jurus aneh, mematuk dan menerkam mirip gerakan rajawali. Semua serangannya tertuju ke bagian tengah. Berkali-kali Kao Sin nyaris tersambar oleh tangan lawan yang cepat.

Ketika jurus demi jurus dilancarkan dan perkelahian semakin seru, tiba-tiba Kao Sin melihat dua titik air mata di mata lawan yang penasaran karena belum sekali pun mendaratkan pukulannya di tubuh Kao Sin.

"Ayo balas, jangan menangkis atau mengelak saja!"

Kao Sin tergetar. Tiba-tiba perasaannya luluh oleh isak si gadis; gadis itu marah dan Kao Sin bingung. Entah bagaimana, ia tak tahan melihat titik air mata itu. Si nona rupanya ingin mendaratkan satu dua pukulan ke tubuhnya. Karena ia tak tahan dan Kao Sin sudah terguncang sejak pertama kali mereka bertemu pandang, tiba-tiba pemuda ini bersikap ayal-ayalan dan mulai membiarkan tubuhnya dipukul.

"Buk-bukk!" Kao Sin mulai terhuyung. Ia menerima bulan-bulanan pukulan satu demi satu. Penonton tertegun melihat pemuda itu mulai jatuh bangun. Kao Sin tidak mengerahkan *sinkang*-nya dan sengaja menerima semua pukulan hingga tubuhnya memar biru. Si gadis terkejut karena Kao Sin yang dilawan ini berbeda dengan Kao Sin yang tadi melawan Empat Harimau; ia tampak lemah dan lelah. Tentu saja si gadis girang dan mendaratkan pukulannya bertubi-tubi.

Tak ada seorang pun yang tahu, kecuali Beng An dan saudara-saudaranya, bahwa posisi ini tidak wajar. Kao Sin menunjukkan kelambanan yang membuat kening Beng An dan para *suheng*-nya berkerut. Mereka tak tahu apa maksud pemuda itu dan tak menyangka sama sekali bahwa Kao Sin ingin menggembirakan lawan.

Isak si nona yang membuat perasaannya luluh itu tidak dapat ditahan oleh pemuda ini. Maka, ketika pukulan demi pukulan menghujani tubuhnya dan Kao Sin berkali-kali mengeluh, tiba-tiba ia terlempar keluar panggung saat satu tendangan miring mengenai pinggangnya.

"Dess!" Kao Sin terguling-guling. Penonton seakan tak percaya menyaksikan kejadian ini. Kao Sin, jagoan yang diunggulkan, ternyata roboh. Pemuda itu kalah.

Namun, begitu mereka sadar dan sesosok bayangan meloncat ke atas panggung memuji kemenangan Siu Loan, penonton mendadak bersorak karena tak menyangka, heran, sekaligus kagum.

"Loan-moi (Adik Loan), kau menang!" Itulah bayangan Bi-ciam Sian-li. Gadis yang menjadi encinya itu mengangkat tangan adiknya di atas panggung sambil berteriak girang. Penonton menyambut dan panggung seakan hendak roboh ditimpa sorak-sorai mereka.

Ketika Siu Loan memeluk encinya dengan gembira, di bawah panggung, Beng An dan saudara-saudaranya sudah melompat mendekati Kao Sin.

"Suheng, kau bertempur tidak sungguh-sungguh! Kau memalukan kami! Apa maksudmu ini?"

"Ya, kau banyak mengalah kepada gadis itu, Suheng. Apa artinya ini dan kenapa kau sengaja memberi kemenangan?" Swat Lian pun tak habis mengerti.

"Maaf," Kao Sin menunduk, mukanya merah. "Aku... aku memang tak dapat menghadapi lawanku itu, Sumoi. Aku menyerah saja dan biar suheng-suheng yang lain yang maju."

"Kenapa begitu? Apa artinya ini?"

"Aku tak dapat menjelaskan, Sute. Tapi aku benar-benar tak dapat menghadapi gadis itu."

"Kalau begitu kau memalukan kami. Penonton bisa salah paham dengan kejadian ini!"

Sementara Beng An marah-marah, tiba-tiba suara dari jauh menegur mereka, "Beng An, tak perlu marah. Kao Sin sedang jatuh hati kepada gadis itu. Biarlah yang lain maju dan aku dapat mengerti perasaan suhengmu."

"Suhu...!" Kao Sin terkejut, cepat menoleh dan melihat bayangan suhunya berkelebat di dalam rumah. Mukanya tiba-tiba semburat merah seperti kepiting rebus. Rupanya Hu Beng Kui mengetahui perasaan muridnya ini. Pendekar itu tertawa.

Ketika Kao Sin mendengar tawa suhunya yang lembut, ia dipanggil, "Kao Sin, ke mari!" Beng An dan saudara-saudaranya tertegun, lalu tersenyum geli. Kao Sin segera bangkit dan memenuhi panggilan gurunya. Rupanya Hu Beng Kui diam-diam memperhatikan jalannya pertandingan dengan saksama. Jago pedang itu memang tidak muncul.

Ketika Kao Sin menghadap, Swat Lian terkekeh, "Ih, kalau begini celaka, Kao Sin-suheng tak mungkin membantu kita kalau disuruh melawan pujaannya!"

"Benar," Beng An tersenyum geli. "Dan barangkali Ayah akan mendampratnya di dalam, Lian-moi. Biarlah dia rasakan, kita harus melanjutkan pertandingan ini!"

Melompat ke atas panggung untuk menghentikan tepuk tangan penonton, Beng An menghadapi Siu Loan yang masih berpelukan dengan encinya. "Nona, kau menang. Tapi ini masih babak pertama. Sanggupkah kau melanjutkan pertandingan berikut sebagai babak peningkatan?"

"Hmm, mana Saudara Kao Sin?" Siu Loan heran. "Kenapa dia tak muncul? Aku agak aneh dengan kemenanganku!"

Beng An tersenyum. Mendengar kata-kata itu, ia merasa suka dengan si nona. Ternyata gadis ini merasakan ketidakwajaran itu dan tidak merasa sombong; ia menanyakan suhengnya dan mencari sana-sini. Karena suhengnya masuk ke dalam dipanggil ayahnya, Beng An menjawab pendek, "Dia dipanggil ayahku, barangkali harus mempertanggungjawabkan kekalahannya ini. Apakah Nona siap untuk melanjutkan *pibu* (pertandingan) berikut?"

Siu Loan seakan tak mendengar pertanyaan terakhir. "Dipanggil ayahmu? Harus mempertanggungjawabkan kekalahannya?" Mukanya pucat.

"Ya, ada apakah, Nona? Bukankah itu wajar?" Beng An mengulang pertanyaannya dengan heran, "Nona, siapkah kau menghadapi pertandingan berikut? Masih ada enam orang lagi yang akan mengujimu sebelum kau berhadapan dengan Ayahku pribadi!"

"Tidak!" Gadis itu tiba-tiba melayang turun. "Aku lelah, Kongcu. Biar enciku saja yang menggantikan aku!"

Sementara sang enci terbelalak melihat adiknya menghilang di samping panggung, Beng An dan gadis di atas panggung itu tertegun.

"Ke mana adikmu?"

"Barangkali mencari Kao Sin!"

"Untuk apa?"

"Hm, mana aku tahu, Kongcu. Adikku memang aneh, tapi sebentar tentu dia kembali. Sudahlah, aku mewakili adikku dan aku siap di sini."

Beng An terkejut. Tiba-tiba ia sadar bahwa penonton di bawah panggung menanti pertandingan berikut. Mereka mulai berteriak agar *pibu* dilanjutkan. Mereka tentu saja heran akan lenyapnya Siu Loan, namun sang adik sudah mewakilkan pada kakaknya. Perhatian kini tertuju ke atas panggung dan Beng An menarik napas.

Ketika suara teriakan mulai terdengar di sana-sini, Beng An mengangkat tangannya dan berseru, "Cuwi (tuan-tuan sekalian), harap tenang. *Pibu* memang akan dilanjutkan. Sekarang nona ini menggantikan adiknya menghadapi kami. Kami tampilkan Cun Li Suheng untuk melayaninya!"

Cun Li berkelebat naik ke atas panggung.

"Nah, ini musuhmu, Nona. Suhengku nomor empat, Cun Li!"

Cun Li memberi hormat. Empat mata tiba-tiba beradu; Cun Li dan gadis di atas panggung sama-sama tertegun. Mereka bertatap mata, dan gadis itu lebih dulu menunduk. Ia menggigil, entah kenapa sekonyong-konyong jantungnya berdebar. Cun Li yang tinggi tegap dengan kesan sedikit kurus itu tampak berwibawa, gagah, dan tidak kalah dengan Kao Sin.

Ketika Beng An meloncat turun dan Cun Li menjura di depannya, untuk pertama kali gadis itu mendengar suara lawan yang serak-serak bergetar, "Nona, aku mewakili suhuku melayani setiap penantang. Silakan mulai, aku memberi kesempatan padamu tiga jurus pertama!"

Gadis itu bersinar-sinar. "Kita bertangan kosong?"

"Kau boleh bersenjata, Nona. Keluarkan jarummu di balik baju itu!"

"Ah!" Gadis ini terkejut. "Kau tahu?"

"Ya, aku melihatnya, Nona. Silakan cabut dan mulailah, seranglah aku!"

Gadis itu tiba-tiba mencabut senjatanya. "Namaku Siu Cing," katanya lirih. "Dan aku akan mencoba merobohkanmu sebelum berhadapan dengan Hu-taihiap!"

"Mulailah." Cun Li tersenyum, segera mengenal nama lawan. "Kau boleh mulai tiga jurus pertama, Nona Siu. Aku memberi kesempatan padamu kalau kau bisa mengalahkan aku!"

"Tentu, aku akan mencoba... wuut!"

Jarum berkelebat dan tiba-tiba meluncur menyambar tenggorokan Cun Li. Cun Li mengelak dan serangan menyambar lagi dua kali berturut-turut ke dada dan pusar. Cun Li mengagumi kecepatan lawan dan terpaksa meloncat tinggi. Ketika lawan mengejar dan jarum menusuk telapak kakinya, tiba-tiba Cun Li membentak sambil melakukan tendangan dengan lutut terlipat.

"Plak!" Jarum terpental. Gadis itu berseru kaget. Siu Cing tiba-tiba berseru keras. Lengannya yang tergetar oleh tangkisan tadi membuatnya penasaran; pinggangnya meliuk dan kakinya bergerak dari bawah, menendang dengan posisi empat puluh derajat ke dagu Cun Li. Hebat dan indah sekali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment