Chapter 95
Gerakan gadis itu cepat bertubi-tubi. Cun Li memuji dengan kagum, lalu pemuda ini mengembangkan lengan kanannya untuk mengibas tendangan lawan. Jarum segera mencuat saat kakinya terpelanting.
Lawan melengking aneh dan berkelebatan mengitari Cun Li. Ketika Cun Li mengelak dan menangkis ke sana kemari, tubuh sang nona tiba-tiba lenyap seolah mengelilingi pemuda tersebut.
"Bagus, hebat, Nona, indah sekali!"
Siu Cing tak menghiraukan pujian itu. Dia terus melakukan tusukan dengan jarum di tangannya, menusuk dan menyelinap seperti orang menjahit. Mula-mula Cun Li bingung. Gerakan jarinya melingkar-lingkar mencari lubang. Dua kali Cun Li tertusuk, namun sang nona justru terkejut. Jarumnya membal saat bertemu sinkang yang melindungi tubuh pemuda itu.
Siu Cing kagum melihat lawannya memiliki kekebalan yang mampu menolak tusukan jarumnya. Gadis itu pun membantu serangannya dengan tendangan kaki kanan yang mencuat menari-nari.
Penonton kagum. Mereka disuguhi tontonan yang menarik. Sekarang mereka melihat murid yang lebih lihai dari Hu-taihiap maju. Cun Li banyak melakukan tamparan untuk menolak serangan lawan, juga mendemonstrasikan kekebalan sinkangnya yang mampu menolak jarum, namun sama sekali belum membalas.
Siu Cing penasaran dan mukanya memerah. Ketika ia membentak menyuruh pemuda itu membalas, tiba-tiba seperti adiknya tadi, gadis ini menitikkan air mata yang membuat Cun Li terkejut.
"Ayo balas, jangan menangkis saja!"
Cun Li tergetar. Melihat dua titik air mata, ia mendadak menjadi lemah, apalagi saat melihat bibir yang digigit kuat-kuat karena gemas. Ah, betapa lembut dan lunaknya bibir itu. Cun Li tiba-tiba melamun. Air mata dan bibir yang lembut membuat pemuda ini meleng, konsentrasinya pecah. Dua kali jarum berkelebat dan bajunya pun robek.
Cun Li terkejut dan segera sadar. Ketika ia terhuyung maju-mundur untuk melakukan balasan, sekonyong-konyong kaki sang nona menyambar pundaknya dalam satu tendangan tinggi.
"Dess!" Cun Li terpelanting.
Untuk pertama kalinya ia roboh. Cepat-cepat ia melompat bangun, namun sang nona kembali berkelebat mengejarnya. Ia menangkis dan gadis itu terdorong. Ketika gadis itu membentak marah dan menyuruhnya membalas, Cun Li menghela napas dan berbisik, "Tidak, aku tak dapat melakukannya, Nona. Silakan kau menyerang dan biar aku bertahan sampai aku atau kau roboh sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Tak apa-apa, hanya saja aku merasa tak sampai hati."
"Ah...!" Sang nona terguncang oleh pandangan lembut lawannya, ia tiba-tiba gugup dan melengos. Ia melanjutkan serangan-serangan, tapi sekarang ia gelisah. Cun Li mulai melancarkan tatapan mesra sehingga gadis itu kian gugup dan bingung.
Di tempat lain, Siu Loan melayang turun dari panggung. Ternyata benar, gadis ini mencari Kao Sin. Ia merasa kemenangannya tadi tidak wajar; ada sesuatu yang diberikan lawan. Kao Sin banyak mengalah dan pemuda itu belum mengeluarkan Giam-lo Kiam-Sut-nya. Padahal ia tahu betapa hebatnya ilmu itu; sekali pedang keluar dari sarungnya, korban pasti jatuh. Namun, Kao Sin justru terlempar keluar panggung seolah sengaja.
Hal ini membuatnya heran. Karena kejadian di atas panggung disaksikan banyak orang dan Kao Sin dinyatakan kalah, Siu Loan merasa girang meskipun bingung. Ia tahu Hu Beng Kui memiliki murid-murid yang hebat, dan ia baru saja merobohkan salah satunya. Namun, begitu mendengar lawannya dipanggil "si jago pedang" dan mengetahui Kao Sin mungkin mendapat hukuman atas kekalahannya, mendadak gadis ini merasa tidak enak. Apa yang akan dilakukan Hu Beng Kui terhadap Kao Sin? Karena gelisah dan cemas, gadis ini berbuat nekat dan menyelinap masuk ke dalam rumah tanpa izin.
Ia tak tahu bahwa sesosok bayangan lain mengikuti, yaitu Swat Lian yang mendapat perintah kakaknya untuk mengamati gerak-gerik Siu Loan. Swat Lian mengintai dari balik jendela dan melihat Kao Sin berlutut di depan seorang laki-laki gagah setengah baya. Agaknya, itulah Hu Beng Kui.
"Kao Sin, kenapa kau membuatku malu dengan kekalahanmu tadi?" suara Hu Beng Kui terdengar.
"Maaf, Suhu," Kao Sin menunduk. "Teecu tidak tahu kenapa, tapi teecu benar-benar tak mampu menghadapi gadis itu."
"Tapi kau tidak bersungguh-sungguh, kau kehilangan semangat!"
"Itulah, teecu kehilangan semangat. Teecu mengaku salah dan siap menerima hukuman."
"Hm!" Hu Beng Kui mengangguk. "Kau memang harus menerima hukuman. Hukumanmu adalah membawa gadis itu kemari!"
"Mau diapakan?" Kao Sin terkejut dan mengangkat mukanya. "Dia tak bersalah apa-apa, Suhu. Yang bersalah hanyalah teecu!"
"Aku tahu. Karena itu, kuberi perintah agar kau membawanya kemari. Aku mau kau bertempur lagi dan robohkan dia di sini dengan pedangmu!"
"Tidak!" Kao Sin tiba-tiba mengeluh. "Teecu tak dapat melakukannya, Suhu. Ilmu pedang kita adalah ilmu pedang ganas yang sekali dicabut, pasti ada korban yang roboh!"
"Kau membantah?" Hu Beng Kui membentak. "Ini perintah! Atau aku akan menyuruh yang lain menyeret gadis itu dan membunuhnya di sini!"
"Jangan... jangan lakukan itu, Suhu!" Kao Sin tiba-tiba menangis. "Kalau Suhu bersikeras, biarlah teecu yang menyerahkan jiwa sebagai penggantinya... srat!"
Pemuda itu mencabut pedang, menggigil dan pucat memandang gurunya. Hu Beng Kui tertegun, lalu tersenyum mengejek. "Kau mau apa?"
"Teecu hendak menyerahkan jiwa kalau Suhu bersikeras ingin membunuh gadis itu!"
"Kau membelanya? Kau mencintainya? Hm!" Jago pedang itu tertawa mengejek. "Kalau begitu, aku yang akan membunuhmu karena kau telah mencemarkan nama keluarga Hu!"
Hu Beng Kui merampas pedang dan siap menebas leher muridnya. Tiba-tiba terdengar bentakan dari luar dan sesosok bayangan melompat masuk.
"Hu-taihiap, tahan! Jangan bersikap kejam!"
Siu Loan menerjang, melepas jarumnya ke arah pedang Hu Beng Kui, lalu melancarkan dua tendangan ke arah dada sang pendekar. Hu Beng Kui terkejut, namun tertawa dingin sambil menangkis. Jarum-jarum itu runtuh dan Siu Loan terpelanting.
"Bocah, kau datang kemari? Bagus, aku tak usah mencarimu lagi. Terangkan apa artinya ini dan kenapa kau lancang masuk!"
Siu Loan tegak berdiri. Ia kaget, mengusap keringat, dan melirik Kao Sin yang gemetar. Ia berseru gagah, "Kau tak boleh membunuhnya!"
"Kenapa? Dia muridku!"
"Benar, tapi ini sewenang-wenang. Kau tak boleh membunuhnya, titik!"
"Eh, kau lancang mencampuri urusan orang lain?" Hu-taihiap membentak marah. "Coba terangkan kenapa kau membelanya!"
Siu Loan bingung. Atas dasar apa ia membela Kao Sin? Karena pemuda itu menyatakan cinta kepadanya? Siu Loan merasa wajahnya memerah. Perasaannya bergolak melihat Hu Beng Kui hendak membunuh muridnya hanya karena masalah cinta. Siu Loan menatap Kao Sin dan tergetar melihat pemuda itu tersenyum lembut padanya. Ia tiba-tiba terisak.
"Aku membelanya demi perikemanusiaan! Aku membelanya karena ia tak bersalah!"
"Hm!" Hu Beng Kui tertawa mengejek. "Dia jelas bersalah karena membuat malu namaku dengan tidak melawanmu sungguh-sungguh!"
"Kalau begitu, pertandingan boleh diulang. Aku siap melawannya lagi!"
"Muridku yang tak mau, dia menyatakan tak sanggup!" Hu Beng Kui berpaling pada muridnya. "Kao Sin, tak dapatkah kau melawan gadis ini? Benarkah kau tidak memiliki semangat?"
"Maaf," Kao Sin menjatuhkan diri berlutut. "Teecu benar-benar tak sanggup, Suhu. Teecu tidak mampu menghadapi Nona ini."
"Kenapa? Hayo jawab, kau laki-laki gagah, bukan banci!"
Kao Sin tersipu dan berkata lirih, "Karena teecu mencintainya, Suhu. Teecu mencintai gadis ini!"
Siu Loan mendengar pengakuan itu dengan jelas. Wajahnya kini semerah Kao Sin. Hu Beng Kui telah memaksa muridnya untuk mengaku di depan gadis itu. Kao Sin mencuri pandang ke arah Siu Loan. Jantung gadis itu berdegup kencang seakan ingin meloncat keluar mendengar kata-kata pemuda tersebut.
Siu Loan mengeluh. Hu Beng Kui tertawa mengejek, "Nah!"