Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 96

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 96

"Kau dengar, Nona."

"Terhadap musuh, muridku ini berani jatuh cinta."

"Dia harus menerima hukumannya atau....." "Tidak!" Siu Loan pucat, melihat Hu Beng Kui hendak menggerakkan pedangnya lagi.

"Kau tak boleh membunuhnya, Hu Taihiap. Atau kau bunuh aku lebih dulu.... wuut!" Dan Siu Loan yang tegak melindungi pemuda itu dengan mata berapi-api tiba-tiba menangis.

"Hu Taihiap. Sumpah demi segala dewa, kau tak boleh membunuh pemuda ini. Dia... dia tak bersalah. Cintanya tak bersalah!" "Eh!?" Jago pedang itu terkejut.

"Apa maksudmu, Nona?" "Kau bermaksud bahwa kau bukan musuh muridku? Bahwa kau tidak marah mendengar pengakuan cintanya?"

"Tidak.... tidak, dia tak bersalah!" Siu Loan berseru. "Aku memang bukan musuhnya, Hu Taihiap. Kalau kau menyatakan muridmu salah karena mencintai musuh, maka pernyataanmu tidak benar. Aku bukan musuh. Aku.... aku suka dan ingin bersahabat dengan muridmu!" Hu Beng Kui tertegun.

"Kau tidak bohong?" "Tidak!" "Kalau begitu, kau menerima cintanya?" Siu Loan sukar menjawab. Untuk ini, tentu saja dia jengah, rasa malunya luar biasa hebat. Pertanyaan itu serasa todongan pedang tajam yang menghunjam langsung, mukanya berubah-ubah; sebentar merah, sebentar pucat. Dan ketika gadis itu tak menjawab karena bingung dan gugup menerima pertanyaan Hu Beng Kui, pendekar ini pun mengejek.

"Bocah, aku akan mengampuni muridku kalau kau menerima cintanya. Dengan begini, berarti dia tidak jatuh cinta kepada musuh. Tapi kalau kau menolak dan muridku jelas bersalah, maka aku akan menghukum sesuai peraturanku."

"Sing!" Pedang itu digerakkan lagi, mendengung dan bergetar di tangan Hu Beng Kui. Siu Loan terkesiap mendengar suara pedang yang mengerikan itu, melihat Hu Beng Kui siap menghukum muridnya dengan dagu yang keras. Wajah jago pedang itu tampak bengis. Dan karena satu-satunya jalan hanya ia harus menerima cinta pemuda itu kalau menginginkan Kao Sin selamat, tiba-tiba Siu Loan mengangguk dan berkata sambil menangis, "Ya, aku menerima!"

Hu Beng Kui tiba-tiba pecah tawanya. Jago pedang ini tergelak sampai Siu Loan terkejut. Kao Sin melompat dan tiba-tiba memeluknya. Entah kegirangan apa yang membuat pemuda itu seperti lupa diri. Kao Sin berseru menyebut kekasihnya. Dan ketika Siu Loan tertegun dan pemuda itu menyebutnya "Loan-moi" (Adinda Loan), Hu Beng Kui melempar pedang sambil berseru meninggalkan sepasang muda-mudi ini, "Kao Sin, berhasil! Kau telah mendapatkan kekasihmu!" Dan sementara Siu Loan bengong dan Kao Sin memeluknya gembira, pemuda ini pun berbisik lembut, "Loan-moi, jangan marah. Suhu hanya bersandiwara saja untuk mengujimu yang mengintai di luar tadi."

"Ah, Hu Taihiap tahu?"

"Tentu, Suhu sudah tahu kedatanganmu, Loan-moi. Beliau sengaja menguji dan pura-pura saja hendak menghukum aku!"

"Ihh!" Gadis itu tiba-tiba meronta. "Kalau begitu, kalian mempermainkan aku, Sin-ko. Aku, ah... tahu aku sekarang. Kau dan gurumu rupanya menguji aku tak tanggung-tanggung. Terlalu!" Dan Siu Loan yang terisak melepaskan diri tiba-tiba berkelebat dan memaki-maki Kao Sin.

Tapi ketika ia tiba di luar pintu dan sesosok bayangan menyambar lengannya, tiba-tiba Swat Lian tertawa geli dan berkata, "Adik Siu Loan, selamat. Ayah dapat meresmikan kalian di atas panggung!" Siu Loan terkejut. Sekarang dia semakin kaget lagi karena putri Hu Beng Kui ini ternyata diam-diam berada di belakangnya, menguntit tanpa diketahui. Sadarlah dia bahwa memasuki rumah jago pedang ini sama dengan memasuki sarang harimau; tak mungkin yang masuk bisa lolos dari pengamatan penghuninya. Dan ketika Swat Lian menyambar lengannya dan tertawa menggoda, mendadak gadis ini melepaskan diri melihat Kao Sin menyusul.

"Kalian terlalu curang...." Gadis itu menangis, segera berlari pergi, tetapi Swat Lian tidak mengejar. Kao Sin-lah yang mengejar dan berseru menangkap gadis itu. Dan ketika Swat Lian terpaksa melengos karena Kao Sin menangkap dan memeluk gadis itu dengan mesra, Siu Loan sudah dibujuk dengan kata-kata lembut, "Loan-moi, maafkan kami semua. Akulah yang membujuk Suhu. Suhu tak bersalah. Aku yang bersalah karena semua sandiwara itu aku yang membuat!"

"Kau...?"

"Ya, terpaksa, Loan-moi. Aku ingin tahu apakah kau menerima cintaku atau tidak. Aku menyuruh Suhu membantu dan ternyata berhasil. Aku bahagia. Maafkan aku, Loan-moi, sekarang aku mendapatkan kekasihku dan Suhu akan kuminta mengumumkan perjodohan kita di panggung lui-tai....." Dan sementara Siu Loan bengong dengan semua kata-kata pemuda itu, tiba-tiba Kao Sin menundukkan mukanya dan... mencium bibir yang lunak hangat itu.

"Ih!" Siu Loan meronta. "Lepaskan, Sin-ko. Lepaskan! Ada sumoimu di sana!" Kao Sin terkejut. Dia melihat sumoinya tertawa di sana. Seketika ia pun jengah. Tapi ketika sumoinya melompat pergi dan ia hendak menyambar kekasihnya, mendadak Siu Loan pun berkelebat meninggalkannya.

"Hei, tunggu, Loan-moi. Tunggu....!" Siu Loan pura-pura tak mendengar. Ia sebenarnya mendongkol, tetapi juga bahagia menerima pemuda itu, menjadi kekasih dan kelak menantu murid Hu Beng Kui. Bukan main keberuntungannya ini. Tapi malu dan gemas karena Kao Sin menciumnya di dekat Swat Lian, ia pun meninggalkan kekasihnya dengan mulut cemberut dan pura-pura marah. Diam-diam ia mengecup bekas ciuman tadi. Alangkah nikmatnya. Ciuman pertama memang selalu nikmat!

Dan ketika Kao Sin mengejar dan ia pura-pura tak mendengar, Kao Sin sudah di belakangnya dan menangkap lengannya, membuat gadis itu tertarik dan seketika berhenti. Dua pasang mata kini beradu pandang. Kao Sin meminta maaf, ujarnya lembut sambil membelai rambut si Nona. Dan ketika Siu Loan terisak dan menjatuhkan diri di dada pemuda itu, Kao Sin berbisik, "Sumoiku telah pergi, bolehkah kulanjutkan?"

"Melanjutkan apa?"

"Ah, tanda sayang itu, Loan-moi. Bolehkah?"

"Mmmm...." Siu Loan tak mengerti, mengangkat wajahnya, tetapi tiba-tiba Kao Sin menunduk. Dan ketika dia terkejut dan baru mengerti, ternyata apa yang dimaksudkan dengan "lanjutan" itu adalah ciuman mesra yang diberikan pemuda itu untuk kekasihnya. Siu Loan tak menolak, kebahagiaan memang sedang melanda hatinya. Dan ketika dia menyambut dan membalas ciuman kekasihnya, dua muda-mudi ini tenggelam dalam nikmatnya madu asmara yang memabukkan. Asyik!

Sementara di tempat lain, di panggung lui-tai juga terjadi sesuatu yang tak kalah menariknya. Saat itu, Cun Li menerima serangan-serangan gencar dari lawannya. Siu Cing menghujani tendangan dan tusukan jarum ke arah murid Hu Beng Kui itu. Gadis ini terbelalak, dia sudah berkeringat basah kuyup sementara lawan enak-enakan saja. Semua pukulan dan tusukan jarumnya mental. Dan ketika jurus demi jurus dilakukan gencar, namun lawan mampu menghadapinya dengan baik, Siu Cing kehabisan tenaga dan akhirnya menghentikan serangan.

"Aku kalah, kau yang menang....!" Gadis itu membanting kaki, melempar jarumnya, dan matanya pun merah. Dan ketika Cun Li tertegun karena melihat lawan hendak menangis, tiba-tiba gadis itu meloncat turun dan lari meninggalkan panggung.

"Nona..." Siu Cing tak mau dengar. Dia penasaran, marah, serta kagum menghadapi pemuda itu, juga malu karena ia tak dapat merobohkan lawan yang bertangan kosong. Cun Li terlalu lihai baginya. Maka, merasa tak mungkin ia menang dan murid Hu Beng Kui itu kuat benar, akhirnya kekecewaan mengusik hatinya dan Siu Cing pun menangis. Pada saat seperti itu, ia tak mau ditonton orang banyak; ia ingin menyingkir, ingin menumpahkan tangisnya. Tapi melihat Cun Li mengejarnya di belakang, mendadak Siu Cing terkejut dan mempercepat larinya. Dikejar dan dipanggil-panggil, akhirnya gadis ini berhenti. Ia merasa akan tersusul dan kemarahan tiba-tiba bergolak di dadanya. Siu Cing naik pitam.

Maka begitu lawan berada di dekatnya dan ia membalik tiba-tiba seperti harimau diganggu anaknya, gadis ini berkacak pinggang membentak gusar, "Kau mau apa? Mau menyuruh aku roboh di panggung lui-tai? Mau mempermainkan aku yang sudah menyatakan kalah?"

"Ah-ah, nanti dulu, Nona. Nanti dulu. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hendak bicara baik-baik!" Cun Li kelabakan, tentu saja gugup dan bingung diberondong pertanyaan bertubi-tubi begini. Ia tidak bermaksud membuat malu gadis itu, bahkan sebaliknya. Tapi melihat muka yang merah padam itu dan si gadis pun bertolak pinggang, mendadak jakun pemuda ini naik turun dan kata-kata pun seret tak dapat dikeluarkan. "Hayo, kau mau apa? Apa maksudmu mengejar-ngejar aku?"

"Glek!" Ludah pemuda ini masuk kembali. "Aku, eh... aku hendak bicara, Nona. Aku hendak mengembalikan jarummu!" Kebetulan sekali Cun Li tadi memungut jarum si Nona, kini ia mempunyai alasan baik dan cepat-cepat menyerahkan senjata Nona itu. Siu Cing tertegun, tetapi segera menerima. Cun Li girang dan dua tangan mereka bersentuhan lembut. Siu Cing tersentak, Cun Li juga tersenyum. Dan ketika dua mata ikut beradu dan sorot yang mesra memancar dari mata Cun Li, pemuda itu menyambung, "Maafkan aku kalau perbuatanku tadi tidak berkenan di hatimu, Nona Siu. Aku tak dapat membalas serangan-seranganmu karena aku tak mampu!"

"Kenapa?" Suara itu kini lirih terdengar.

"Entahlah, aku... ah, aku tak tahu!"

"Masa?"

"Sungguh!" Cun Li mulai girang mendapatkan ketenangannya kembali. "Aku tak mampu menghadapimu, Nona. Semangatku lemah!" Siu Cing tiba-tiba tersenyum. Dua-tiga percakapan yang terjadi ini sudah memudarkan kemarahannya. Dia merasa geli mendengar pemuda itu menyatakan semangatnya lemah, padahal kalau mau, pemuda itu dapat membalasnya, mungkin malah merobohkannya. Dia bisa malu di atas panggung. Tapi ingin menguji mengapa pemuda ini lemah menghadapinya, Siu Cing bertanya tak puas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment