Halo!

Pedang 3 Dimensi - Chapter 97

Memuat...
Pedang 3 Dimensi

Chapter 97

"Kau lihai dan gagah, kenapa lemah menghadapi aku? Atau kau memang lemah kalau menghadapi setiap wanita?"

"Ah, tentu tidak, Nona! Aku hanya lemah kalau menghadapimu. Aku tak mengerti kenapa!" Wajah Siu Cing bersemu merah.

"Kau bohong, kau tentunya dapat menjawab pertanyaanku itu."

"Tidak, aku tak bohong, Nona Siu. Aku...." Cun Li menahan kata-katanya.

Siu Cing memutar tubuhnya, tak mau mendengar lebih jauh. Rupanya gadis ini tak puas karena dua tiga kali Cun Li berkata tidak tahu, ia menjadi jengkel. Ketika Cun Li terdiam melihat lawannya melompat pergi, tiba-tiba Siu Cing berseru, "Sudahlah, aku tak mau bicara lagi, orang she Cun. Kau rupanya tak cukup jantan untuk bicara terus terang!"

Cun Li kaget. Si nona meninggalkannya, berkelebat dan lenyap. Namun, Cun Li yang tersadar segera mengejar, "Nona, tunggu!"

Siu Cing menghentikan langkah secara mendadak. Cun Li terkesiap karena ia tidak sengaja menabrak, lalu memeluk dan mendekap si nona. Cun Li gelagapan. Wajahnya pucat karena lompatannya tadi terlalu terburu-buru hingga ia tak menduga si nona akan berhenti dan membalikkan tubuh. Ia tak dapat mengerem dan seketika menabrak hingga si nona masuk ke dalam lingkaran lengannya. Pemuda itu berseru kaget dan buru-buru melepaskan tangkapannya.

Sembari menjura berulang-ulang, pemuda ini berkata gugup dengan muka merah padam, "Maaf, maaf, Nona Siu. Aku tak sengaja!"

Siu Cing pun merah mukanya. Sebenarnya ia gemas melihat pemuda itu masih mengejar-ngejarnya juga. Ia pun tak menyangka akan tertabrak dan terpeluk. Maka, sembari menyingsingkan lengan dan berkacak pinggang, Siu Cing membentak untuk menutupi rasa malunya, "Kau mau apa? Kenapa mengejar-ngejarku juga?"

"Ah, aku.... eh, aku...." Cun Li kelabakan. "Aku masih ingin bicara, Nona. Aku ingin kau tidak buru-buru pergi!"

"Untuk apa?"

"Untuk, eh.... untuk apa saja. Untuk berkenalan lebih lanjut!"

"Bukankah kau sudah kenal?"

Cun Li gugup. "Bukan itu, Nona. Perkenalan kita terlalu singkat. Aku, eh.... aku ingin lebih jauh dan.... dan...."

"Hi-hik!" Swat Lian tiba-tiba muncul, mengejutkan dua orang itu. "Cun Li-suheng hendak menyatakan isi hatinya, Siu Cing. Jangan kau buat dia semakin gugup!"

"Sumoi!" Cun Li merasa seperti kepiting rebus, kaget bukan main. "Apa katamu ini? Kau bilang apa?"

"Hi-hik, aku bilang kau mau menyatakan sesuatu pada gadis ini, Suheng. Belum terucapkan karena lawanmu tampak galak! Bukankah kau mau menyatakan bahwa kau suka kepadanya? Bahwa kau jatuh cinta kepadanya? Nah, nyatakan itu terus terang, Suheng. Siu Cing tak suka kau plintat-plintut!"

"Sumoi!" Swat Lian berkelebat lenyap. Ia terkekeh di kejauhan, berhasil menggoda suhengnya habis-habisan. Cun Li memerah hingga ke leher. Siu Cing pun tak kalah merah, tetapi begitu Swat Lian lenyap dan ia merasa jengah, gadis itu meninggalkan Cun Li.

"Nona!" Siu Cing tak menghiraukan. Ia malu digoda seperti itu, diam-diam gemas dan marah pada putri Hu Beng Kui tersebut. Sekarang ia ingin melihat apakah Cun Li masih mau mengejarnya. Ketika ia mendengar angin berkesiur di belakang dan Cun Li mengejar, tiba-tiba Siu Cing terkejut merasa pundaknya ditangkap.

"Nona, tunggu. Aku mau blak-blakan!"

Siu Cing tersentak dan berhenti. Mereka berada di halaman belakang yang remang-remang. Cun Li yang merah mukanya tak begitu kentara. Pemuda itu berdiri gagah dengan dada dibusungkan, sikapnya seperti panglima perang yang dikepung musuh. Ia berkata gemetar, "Aku mau mengatakan bahwa apa yang dikata sumoiku benar. Aku tak akan berputar-putar. Aku suka dan cinta kepadamu!"

Siu Cing terbelalak. Keremangan malam menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Sejak tadi ia ingin mendengar pengakuan ini, tetapi melihat sikap Cun Li yang kaku dan mirip panglima hendak bertanding, ia tak dapat menahan geli dan terkekeh. "Hi-hik, kau lucu....!"

Gadis itu mendekap mulutnya, lalu memutar tubuh dan melompat pergi.

"Eh!" Cun Li tertegun, penasaran. "Bagaimana jawabanmu, Nona? Kenapa pergi? Tunggu!"

Cun Li mengejar lagi, menyergap, dan menyambar lengan gadis itu. Siu Cing tersentak dan berputar. Saat Siu Cing terkejut dan terbelalak marah, Cun Li sudah memegang lengannya erat-erat, bertanya menggigil, "Nona, kenapa kau pergi? Bukankah aku sudah berterus terang? Salahkah aku?"

Siu Cing tak dapat menjawab. Ia lupa menarik tangannya, terpaku dengan tatapan mata yang saling menyelami. Cun Li mencengkeram semakin erat. Ketika Siu Cing menunduk dan tidak menjawab, Cun Li mengguncang tubuh gadis itu. "Nona, salahkah aku? Kurang terus-terangkah aku?"

Siu Cing terisak. Sekarang ia memejamkan mata, tak sanggup menjawab. Namun, ketika tangannya perlahan membalas mencengkeram jari-jari pemuda itu, Cun Li seolah mendapat kebahagiaan yang besar.

"Li-ko, beginikah caramu menunjukkan cinta? Kau masih menyebutku Nona segala?"

"Ooh!" Suara Cun Li girang bukan main. "Kau menerimaku, Cing-moi?" Pemuda ini langsung mengubah panggilannya. "Kau tidak marah? Kau mau menerima cintaku?"

Siu Cing mengangguk. Anggukan itu perlahan dan hampir tak kentara. Namun, saat Cun Li melihatnya, pemuda itu mendekap dan memeluk kekasihnya. "Cing-moi, terima kasih. Aku bahagia sekali!"

Saat Siu Cing menengadah, menitikkan dua butir air mata bagai mutiara pagi, Cun Li menghisapnya dan segera gadis itu mengeluarkan keluh bahagia. Ketika kedua tubuh itu merapat, Cun Li mengangkat dagu kekasihnya dan menciumnya.

"Asyik!"

Cun Li dan Siu Cing kaget. Kekeh dan tawa di belakang mereka membuat Cun Li seketika melepas kekasihnya. Siu Loan dan Kao Sin muncul, tertawa-tawa menggoda mereka. Pipi Siu Cing bersemu dadu.

"Loan-moi, kau mengintai? Kurang ajar, tak tahu malu kau!" Siu Cing menampar jengah. Si adik mengelak dan bersembunyi di balik punggung Kao Sin sambil berteriak, "Sin-ko, bantu aku. Enci-ku marah-marah, hi-hik!"

Cun Li mendekati Kao Sin yang tersenyum. "Kalian baru saja menghadap Suhu?"

"Ya, Suheng. Loan-moi menerima cintaku dan tak kusangka Siu Cing pun menerima cintamu. Kalau begitu tepat kata Sumoi, Suhu dapat mengumumkan perjodohan ini di atas panggung."

"Sumoi pun bertemu denganmu?"

"Ya, dan memberi tahu kalian di sini, Suheng. Katanya Siu Cing bertempur denganmu, tapi tak tahunya, eh...."

"Memadu cinta!" sambung Siu Loan cekikikan.

Keduanya yang nakal akhirnya melerai suasana saat Cun Li mengajak mereka menemui Hu-taihiap untuk meminta restu. Hu-taihiap yang sudah mengetahui laporan dari Swat Lian pun memberikan restu. Malam itu juga, pibu selesai dan Hu-taihiap mengumumkan perjodohan tersebut. Penonton tertawa, sementara kedua pasangan muda itu tampak bahagia namun tersipu malu. Malam kedua pun berakhir dengan tambahan anggota baru di pihak Hu-taihiap.

"Kalian boleh tinggal di sini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment