Chapter 98
"Namun, yang menghadapi penantang tetap murid-muridku dan putra-puteriku." Dua gadis itu mengangguk.
Urusan ini memang urusan pribadi Hu-taihiap, mereka tak berhak mencampuri. Aneh memang, dalam waktu sekejap saja mereka telah menjadi calon mantu murid Hu-taihiap, hal yang dinilai beruntung dan membahagiakan hati. Mereka sebenarnya coba-coba saja, tapi malah mendapat jodoh. Ini keberuntungan besar.
Ketika hari-hari berikutnya tak banyak penantang yang berani mencoba karena satu demi satu mereka dirobohkan Kao Sin atau Cun Li, maka sebulan kemudian pibu nyaris ditutup.
"Tak ada lagi yang maju. Suhu agaknya berhak memiliki Sam-kong-kiam itu!" Hu-taihiap berseri-seri. Memang itulah yang diharapkan; dia akan menjagoi dunia dengan pedang keramat itu. Namun, ketika pendekar ini siap-siap melaporkan segalanya kepada Kim-taijin, mendadak seminggu menjelang penutupan terjadi peristiwa besar yang menggegerkan. Apakah itu? Mari kita lihat.
Sebulan setelah kemenangan berturut-turut Hu-taihiap, pagi itu tak ada penantang. Jago pedang ini menikmati arak di belakang taman. Wajah Hu Beng Kui segar bersinar-sinar; tak ada rasa gelisah ataupun khawatir di wajah pendekar itu. Namun, ketika pendekar ini siap menenggak habis sisa araknya yang terakhir, mendadak helaan napas terdengar di belakangnya, lembut.
"Hu-taihiap, selamat pagi. Maafkan aku."
Hu-taihiap mencelat dari bangkunya. Belum pernah dia mengalami peristiwa macam ini; ada orang di belakang tanpa diketahui. Tentu saja jago pedang itu kaget dan otomatis membentak sambil menghantamkan lengan ke belakang. Angin yang dahsyat berkesiur dingin, tajam, dan menyeramkan. Akan tetapi, ketika pendekar itu tak melihat apa-apa dan suasana kosong di belakangnya, mendadak pendekar ini melongo terbelalak lebar melihat bangku yang didudukinya pecah terhantam angin pukulannya.
"Eh, setankah tadi?" Hu-taihiap terkejut, seketika bengong karena dia benar-benar tak melihat apa pun. Di sekitarnya kosong dan tak ada orang. Namun, ketika dia celingukan ke sana-sini, mendadak sapaan halus itu terdengar lagi.
"Hu-taihiap, selamat pagi. Maafkan aku."
Pendekar ini membalik. Dengan gerakan supercepat dia mengayun tubuh, berjungkir balik, dan berseru keras menghantam ke asal suara itu. Sekarang dia melihat sesosok bayangan berdiri di situ, bayangan aneh karena kepalanya tertutup halimun. Pendekar ini terkejut. Namun, karena dia sudah melancarkan pukulan dan menghantam ke arah bayangan yang kini dilihatnya itu, pukulannya tepat menghantam namun lenyap tak berbekas seolah tenaganya mengenai sesosok hantu yang tidak memiliki badan kasar.
"Iblis!" Pendekar ini melayang turun. "Siapakah kau?"
Kini Hu Beng Kui melihat jelas. Dia sudah berhadapan dengan bayangan aneh ini, terkejut dan tergetar karena dari balik halimun itu sekonyong-konyong menyorot dua bola mata yang mengeluarkan sinar. Sinarnya tajam namun lembut; Hu Beng Kui tiba-tiba seakan lumpuh. Cepat pendekar ini mengerahkan tenaga batinnya dan maklum bahwa seseorang berkesaktian tinggi sedang dia hadapi. Namun begitu lawan tersenyum dan dia ingat akan sesuatu, mendadak jago pedang ini berseru tertahan, teringat dongeng seorang tokoh dewa yang belum pernah dijumpai.
"Bu-beng Sian-su....!"
Bayangan itu mengangguk. Sekarang tawa lirih terdengar dari mulut bayangan ini; bukan main lembutnya, bukan main sejuknya. Ketika pendekar itu tertegun dan terkesiap karena baru sekarang dia percaya akan tokoh dongeng ini, maka pendekar itu jatuh terduduk dan berkedip-kedip.
"Sian-su, ada apa kau datang? Kau sengaja mencari aku?" Hu Beng Kui menggigil. Dia tak menyangka sama sekali bahwa dia akan didatangi tokoh dongeng ini, nyaris tak percaya kalau tak melihat sendiri. Jago pedang ini terhenyak. Tapi ketika Bu-beng Sian-su mengangguk dan mengeluarkan tawanya yang lembut, segera pendekar ini sadar.
"Ya, maafkan aku, Taihiap. Aku datang memang sengaja mencarimu."
"Untuk apa?"
"Bolehkah kita bicara terbuka?" Tokoh dewa itu tersenyum. "Aku datang bukan untuk merebut Sam-kong-kiam, Taihiap. Justru ingin menyelamatkan dirimu dari pedang keramat ini."
Hu-taihiap merah mukanya. Kiranya manusia dewa itu dapat menangkap pikirannya; tadi dia bertanya kaku karena mengira kakek dewa itu akan mengajak pibu. Tak tahunya justru bukan, dan tokoh dewa ini bahkan katanya hendak menyelamatkannya. Hu Beng Kui merasa aneh dan segera tertarik karena dia telah mendengar akan tokoh luar biasa ini, yang kedatangannya senantiasa membawa berkah dan belum pernah terdengar Bu-beng Sian-su mencelakakan orang lain. Manusia dewa ini sudah dikenal kearifannya di samping kesaktiannya yang tak lumrah. Tadi dia telah membuktikan itu; pukulannya amblas tanpa bekas, padahal sebongkah batu sebesar gajah akan hancur terkena pukulannya itu.
Maka, tertarik dan berdebar mendengar kata-kata kakek dewa ini, segera Hu-taihiap menjura dan membungkukkan tubuh. Bagaimanapun, keramahan dan kelembutan kakek itu pantas disambut hormat.
"Silakan, aku siap bicara terbuka, Sian-su. Mohon petunjukmu kalau memang ada!"
"Hm, tentu ada, Taihiap. Dan kuharap kau tidak tersinggung."
"Aku tidak tersinggung, silakan Sian-su bicara."
Ketika kakek dewa itu tersenyum dan memandangnya bersinar-sinar, segera kakek ini bertanya, "Betulkah Sam-kong-kiam telah berada di tanganmu?"
"Betul." Hu Beng Kui tak perlu berbohong.
"Dan kau menantang semua orang kang-ouw untuk mempertahankan pedang ini?"
"Hm." Jago pedang itu mengelak. "Aku sebenarnya ditantang hingga berbuat seperti itu, Sian-su. Istana mengujiku untuk melihat apakah aku pantas atau tidak memegang Sam-kong-kiam."
"Baik, aku sudah dengar itu. Tapi kenapa kau menerima?"
Hu Beng Kui mengerutkan alis. "Aku menerima karena ditantang, Sian-su. Aku tak mau disangka takut!"
"Dengan melibatkan pula anak-anak dan murid-muridmu? Hm, jujur saja, Hu-taihiap. Aku melihat masih ada yang lain di samping ini. Dan inilah yang berbahaya!"
Hu Beng Kui terkejut. "Sian-su tahu?"
"Tentu. Aku tahu apa yang terkandung di hatimu, Taihiap. Karena itu, aku hendak memberitahu sebelum semuanya terlambat!"
Hu Beng Kui mengedikkan kepala. "Maaf, ini sebenarnya urusan pribadiku, Sian-su. Masakah orang lain mencampuri dan mengorek-ngorek apa yang semestinya tak perlu diketahui orang lain? Apakah Sian-su tak merasa mencampuri urusan ini?"
Hebat kata-kata ini. Dengan tajam dan getas, Hu Beng Kui telah menyatakan bahwa kakek dewa itu adalah orang luar; semestinya kakek itu marah. Tapi Sian-su yang tertawa dan tersenyum lembut mengangguk.
"Benar, ini memang urusan pribadimu, Taihiap. Tapi jujurkah kau dengan melibatkan orang lain pula? Lihat anak-anak dan muridmu itu. Mereka juga termasuk orang lain dan bisa menerima akibat dari sepak terjangmu. Masihkah ini masalah pribadi dan tidak bisa dibilang masalah bersama? Ingat, kalau kau jujur dengan kata-kata 'pribadi' itu, seharusnya kau tak melibatkan orang lain, Taihiap. Karena bagaimanapun anak-anak dan muridmu itu tetap bukan kau. Mereka adalah orang lain, mereka terlibat dan sengaja kaulibatkan hingga masalah ini tidak bisa dibilang pribadi melainkan masalah kau sekeluarga, kau dan anak-anak muridmu."
Hu Beng Kui tertegun. "Kau tak jelas."
"Aha, marilah melihatnya baik-baik. Urusan yang dinamakan pribadi semestinya urusan yang hanya ditanggung orang per orang, oleh yang bersangkutan. Jadi, tak benar rasanya kalau orang lain dilibatkan, meskipun orang lain itu adalah anak sendiri dan murid sendiri. Dan karena kau telah melibatkan anak muridmu ini, maka aku datang untuk memberi tahu bahwa kau tak cukup jantan untuk memikul sendiri masalah yang kausebut pribadi ini."
Hu Beng Kui terkejut. "Sian-su bicara apa?"
"Ah, aku sudah bicara jelas, Taihiap. Bahwa masalah yang kauanggap pribadi ini semestinya kau tanggung secara pribadi pula, tidak melibatkan yang lain, meskipun mereka itu anak-anakmu sendiri atau muridmu sendiri!"
"Tapi mereka putra-puteriku, mereka muridku!"
"Ya, namun mereka tetaplah mereka, Taihiap. Mereka bukanlah kau. Mereka adalah pribadi-pribadi lain yang memiliki pula keinginan atau pendapat pribadi!"
Hu Beng Kui mengerutkan kening. "Sian-su, apa sebenarnya yang kauinginkan di sini? Coba kau bicara jujur saja. Aku masih tak mengerti!"
"Hm, kalau begini baiklah, Taihiap. Terus terang aku hendak menyatakan bahwa aku tak menyetujui tindakanmu. Kau salah. Kau dapat membahayakan orang lain dengan perbuatanmu tentang masalah ini. Urusan Sam-kong-kiam seharusnya diselesaikan dengan cara jujur dan wajar. Ini keterusteranganku."
"Sian-su hendak maksudkan bahwa Sam-kong-kiam diserahkan ke istana?"
Kakek dewa itu tertawa. "Kenapa kau bertanya dengan emosi? Tersinggungkah dirimu, Hu-taihiap? Aku tak perlu menjawab ini kalau kau mendapatkan pikiranmu yang jernih. Kau dikuasai nafsu pribadi."
Lalu, sementara jago pedang itu memerah mukanya, kakek ini tiba-tiba membalik. "Taihiap, coba lihat ini. Barangkali kau dapat menemukan inti sarinya!"
Dengan mencorat-coret di tembok yang kokoh, kakek ini mengukir huruf-huruf indah:
*Mengguncang langit menggetarkan bumi*
*Terhunjam pongah sepotong besi*
*Tiada peduli kanan dan kiri*
*Itulah Pedang Tiga Dimensi*
*Kaku, dingin dan mati*
*Sekarang apa artinya ini*
*Kenapa dikejar dan dicari*
*Bukankah yang amat berarti*
*Masih bukan milik sendiri?*
*Karena itu, sungguh bodoh si manusia buta*
*Yang terkidung nafsu dan loba kian tersesat*
*Menumpuk dosa sampai ajal merenggut tiba.*
"Nah, kau mengerti, Taihiap?" Sian-su membalik menghadapi jago pedang itu lagi, selesai mencoretnya. "Ataukah kau masih kurang jelas?"
"Tulisan itu jelas, tapi aku tak mengerti!"
"Hm, kau tak mengerti karena kau belum menghayatinya, Taihiap. Kalau sudah, tentu kau akan mengerti. Ilustrasi ini adalah gambaran dirimu, juga banyak orang lain di dunia. Karena itu, renungkan sejenak dan jangan buru-buru bertanya!"
Hu Beng Kui bingung. Bagi dirinya, itu tak lebih dari sekadar coretan halus kakek dewa ini. Bait pertama agak menyeramkan.