Chapter 99
Ketika dia menggeleng tanda belum mengerti, Bu-beng Sian-su memberi sedikit petunjuk.
"Inti syair ini terletak pada bait kedua. Dapatkah kau menangkapnya?" Hu Beng Kui tertegun.
Dia memperhatikan bait kedua itu, berpikir keras, dan mengulang-ulang kalimatnya. Belum juga berhasil. Ketika dia menggeleng dan bertanya apa artinya, Bu-beng Sian-su tertawa lembut dan berkata sambil menghela napas, "Baiklah, rupanya kau belum dapat juga menangkapnya, Taihiap. Barangkali sesuatu harus terjadi terlebih dahulu baru kemudian kau mengerti. Syair ini sederhana, tetapi inti sarinya amat tinggi. Kalau kau belum mengerti, percuma saja kukatakan sekarang. Manusia cenderung mendapat kesusahan dahulu sebelum memetik hikmahnya; biarlah kaurasakan itu sebelum terbuka kesadaranmu. Hanya saja, sebelum kita berjumpa lagi dalam pertemuan berikut, bolehkah kutanya satu hal padamu?"
"Apa yang hendak Sian-su tanyakan?"
"Kurang bahagiakah hidupmu ini? Kurang enakkah?"
Hu Beng Kui terkejut. "Apa yang Sian-su maksudkan?"
"Jelas, aku hanya bertanya tentang itu, Taihiap. Kurang bahagiakah hidupmu ini, kurang enakkah?"
Hu Beng Kui mendelong. Tiba-tiba dia bingung, pertanyaan itu membuatnya berdebar. Entah bagaimana, mendadak dia berdesir; ada sesuatu yang serasa disodokkan ke ulu hatinya. Jago pedang ini tertegun. Sementara dia bengong tak menjawab, tiba-tiba kakek dewa itu berkata lagi, "Nah, kalau kau sudah merasa enak, sebaiknya sadari keberuntunganmu ini, Taihiap. Aku khawatir kau bakal kehilangan segala-galanya gara-gara urusan Sam-kong-kiam. Aku tidak mendahului takdir, tapi seorang anakmu akan hilang bila tindakanmu ini diteruskan!"
Hu Beng Kui terkesiap. Kata-kata kakek dewa itu seakan ramalan baginya, ramalan yang mengerikan. Jago pedang ini mundur selangkah dengan muka pucat. Hampir dia marah mendengar kata-kata itu. Namun, ketika dia hendak membantah dan merasa tersinggung, tiba-tiba Bu-beng Sian-su lenyap berkelebat meninggalkannya.
"Hu-taihiap, aku tak bermaksud menyakiti siapa pun. Kalau ada kata-kataku yang tak enak bagimu, maafkanlah. Sampai jumpa lagi."
Hu-taihiap berkelebat mengejar bayangan kakek dewa itu sambil berseru memanggil, namun kakek itu telah lenyap di luar tembok dan tidak kelihatan lagi. Hu-taihiap penasaran dan mengerahkan ginkangnya. Akan tetapi, ketika kakek dewa itu benar-benar tak diketahui lagi keberadaannya, tiba-tiba pendekar pedang ini menghentikan langkahnya dengan kaki menggigil. Apa yang harus dia lakukan? Memaki-maki dan marah? Jago pedang ini tak tahu. Dia menjadi ketakutan mendengar kata-kata kakek dewa itu tentang seorang anaknya yang akan hilang kalau dia meneruskan tindakannya. Bahwa Sam-kong-kiam rupanya tak baik di tangannya, dan kakek dewa itu mengimbau agar mengembalikannya ke istana.
Hu-taihiap mengepalkan tinju. Pertanyaan lain tentang "kurang enakkah hidupnya saat ini" tiba-tiba membuat jago pedang itu bingung dan gelisah. Kurang enakkah dia di dunia ini? Kurang bahagiakah hidupnya? Ah, jawabannya relatif. Manusia tak mengenal puas, manusia tak mengenal bahagia. Jadi, kalau ditanya tentang itu, bisa saja dijawab tidak. Tapi tentunya pertanyaan tadi ada hubungannya dengan Sam-kong-kiam, bukan meluncur begitu saja. Karena dia mendengar bahwa kakek itu biasanya suka memberi petunjuk dan kata-kata bijaksana kepada orang lain, maka tentunya perjumpaannya tadi dengan manusia dewa itu bukan sekadar pertemuan kosong.
Hu Beng Kui termenung. Terus terang saja, "ramalan" tadi membuatnya berdebar. Kata-kata itu terus mengiang di telinga. Ketika giangan itu terus mengganggu dan dia merasa gemas, tiba-tiba Hu Beng Kui meremas hancur sepotong batu di tangannya.
"Tak mungkin. Kakek dewa itu bukan malaikat pencabut nyawa, juga bukan nujum, mana bisa kata-katanya dipercaya? Ah, kau hanya menggangguku saja, Sian-su. Kedatanganmu tak membawa berkah!" Jago pedang ini akhirnya geram, melesat, dan memasuki rumahnya kembali. Pagi itu, dia memanggil anak-anaknya. Ketika Swat Lian dan kakaknya muncul, sang pendekar menyuruh mereka duduk.
"Kalian merasa sehat?"
Beng An dan adiknya merasa aneh. "Ya, kami tidak ada apa-apa, Ayah. Kenapa kau tanyakan itu? Ada apa?"
Hu Beng Kui menggeram. "Aku baru saja bertemu Bu-beng Sian-su. Kakek dewa itu datang, tapi hatiku dibuatnya guncang!"
"Ah!" Swat berseru tertahan. "Kau bertemu tokoh dewa itu, Ayah? Apa katanya? Kenapa kau kelihatan tidak senang?"
"Dia, hm... dia tak setuju perbuatanku!"
"Apa katanya?"
"Secara tersirat menyuruh aku mengembalikan Sam-kong-kiam!"
"Betul!" Swat Lian tiba-tiba berseru, meluncur tanpa sengaja. "Pedang itu memang bukan milikmu, Ayah. Sebaiknya kembalikan saja dan..."
"Brakk!" Hu Beng Kui menggebrak meja, marah sekali. "Kau juga masih menentang keinginan ayahmu, Lian-ji? Kau hendak menggagalkan usahaku yang hampir berhasil? Tidak, aku tak mau itu. Seminggu lagi pibu kunyatakan tutup dan pedang itu berhak di tanganku!"
Swat Lian terkejut. Tanpa sadar ia membuat ayahnya marah. Memang selama ini di hati kecilnya, ia tak menyetujui tindakan sang ayah, begitu pula kakaknya. Meskipun sebentar lagi perjuangan ayahnya berhasil karena semua penantang telah dirobohkan. Ayahnya telah memberi pengumuman bahwa seminggu lagi pibu akan ditutup. Para penantang hampir tak ada lagi dan ayahnya hendak ke kota raja; pertaruhannya dengan istana sudah di ambang pintu kemenangan. Tentu saja dia terbelalak ketika ayahnya gusar, kaget melihat ayahnya menggebrak meja. Ketika ayahnya berapi-api dan memandangnya dengan marah, gadis ini menunduk dan terisak.
"Maafkan aku, Ayah...."
Hu Beng Kui sadar kembali. Kata-kata putrinya tadi seakan minyak yang dituangkan ke api yang membara. Dia sebenarnya sedang tidak enak hati dan marah atas kata-kata Bu-beng Sian-su tentang seorang anaknya yang akan "hilang". Inilah yang membuat pendekar itu terguncang karena entah kenapa dia begitu terpengaruh oleh kata-kata tersebut. Dia telah berusaha melenyapkan guncangan ini, namun batinnya tak dapat diredakan; kata-kata itu selalu mengiang dan mengganggu. Maka, begitu putrinya dibentak dan Swat Lian menangis, tiba-tiba pendekar ini sadar kembali dan cepat mengusap rambut putrinya itu, menyatakan penyesalannya.
"Lian-ji, kau sebaiknya tak perlu cepat menyokong pendapat orang lain. Aku terganggu oleh kedatangan kakek itu. Aku sedang gelisah. Maafkanlah kalau ayahmu bersikap kasar."
Hu Beng Kui terharu. Tentu saja ia terharu dan menyesal karena jarang ia memarahi anaknya ini, Swat Lian, putri satu-satunya yang dicinta. Gadis itu cukup dimanja dan disayang. Swat Lian yang mengangguk menyesal pula akan kata-katanya sendiri, segera memeluk ayahnya itu.
"Sudahlah, aku juga menyesal akan kata-kataku tadi, Ayah. Aku tak akan mengulangi sikapku dan mudah-mudahan seminggu ini tak ada penantang terakhir hingga kau memenangkan taruhanmu dengan istana."
"Ya, mudah-mudahan...."
Tapi baru Hu Beng Kui menyelesaikan kata-katanya, mendadak murid tertuanya, Gwan Beng, muncul.
"Suhu, teecu menerima surat seseorang!"
Hu Beng Kui terkejut. Muridnya sudah berlutut, sebuah surat ada di tangan dan siap diserahkan. Jago pedang ini bangkit dan akan menerima, tapi begitu melihat ada asap di ujung surat itu, tiba-tiba pendekar ini membentak sambil memandang muridnya.
"Lepaskan surat itu!"
Gwan Beng terkejut. Dia tercelat ditendang gurunya. Sebuah ledakan terjadi dan Hu Beng Kui berjungkir balik. Swat Lian dan Beng An berseru tertahan melihat kejadian itu. Ayah mereka melayang turun dengan muka berubah. Ketika asap buyar dan mereka melihat Gwan Beng bengong di sana, mendadak suheng mereka itu mengeluh dan terhuyung jatuh terduduk; tangannya hitam kemerah-merahan.
"Kau terkena racun!" Seruan ini sudah cukup bagi mereka semua.
Gwan Beng pucat melihat kejadian tak disangka itu; tangannya perih dan gatal, tiba-tiba saja sudah bengkak begitu besar. Ketika pemuda itu terkejut dan mendesis, gurunya sudah berkelebat mendekati muridnya itu dan menotok pergelangan tangannya.
"Tahan napasmu, sedot dan keluarkan tiga kali perlahan-lahan. Minum pil ini!"
Hu Beng Kui merah padam, terbelalak gusar, dan sudah memberikan sebutir obat kepada muridnya. Setelah ditelan, Gwan Beng disuruh bersila mengatur pernapasannya. Pendekar itu maklum bahwa seseorang hampir mencelakai muridnya; tentu saja dia marah. Ketika pendekar itu meletakkan tangan di pundak muridnya dan membantu menyalurkan sinkang, lima menit kemudian bengkak di tangan muridnya sembuh.
"Siapa yang memberikan surat itu?"
Gwan Beng mengusap keringat, bangkit berdiri. "Seorang pemuda, Suhu. Memperkenalkan diri sebagai Bu-kongcu."
"Mana dia sekarang?"
"Sudah pergi."
"Kau mengenal ciri-cirinya?"
"Ya, teecu ingat baik. Tampan, agak pucat, dan...."
"Hei, itu apa?" Swat Lian tiba-tiba berseru, otomatis menghentikan kata-kata Gwan Beng. Semua orang melihat sebuah benda mengkilap menggelinding dari surat peledak. Swat Lian melompat, tapi ayahnya menghardik. Hu Beng Kui sendiri yang mendekati dan membungkuk. Ternyata benda mengkilap itu semacam lencana berbentuk segi empat. Pendekar ini mengamati dan cepat memungutnya, tentu saja dia mengerahkan sinkang-nya untuk berjaga-jaga. Lencana itu panas bekas terbakar. Ketika tak ada apa-apa dan Hu Beng Kui membalik lencana ini, ternyata di belakangnya ada kata-kata tantangan yang berisi pemberitahuan bahwa dua hari lagi tujuh orang akan datang untuk mengajak pibu, dipimpin Sai-mo-ong!
"Dari siapa, Ayah?" Hu Beng Kui menggigil.
"Seorang iblis, Sam-mo-ong!"
"Ah, akhirnya dia datang juga?"
"Ya, bersama enam temannya, Lian-ji. Coba kau lihat!"
Hu Beng Kui melempar lencana itu, diterima dan dibaca. Ketika Swat Lian membaca dan tertegun, kakaknya meminta dan ingin tahu. Suasana segera berubah karena inilah yang menegangkan. Memang selama ini pentolan sesat belum pernah muncul. Kiranya sekarang datang bertujuh, dan Beng An ingin tahu siapa kiranya mereka-mereka itu.