Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 100

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 100

Bagai bayangan setan, tubuh Suma Bing berkelebat memutar ke belakang keempat Rasul itu. Kedua tangannya tiba-tiba diayun berbarengan.

"Blang!" disertai sebuah seruan tertahan, salah satu dari keempat Rasul itu terbang jauh keluar pintu kelenteng.

Bertepatan dengan itu, sebilah cundrik yang berkilau dingin tahu-tahu sudah mengancam di depan dada Suma Bing.

Kaget bukan alang kepalang, Suma Bing segera menghentakkan tangan. Cincin Iblis yang dikenakan di tengah jarinya kontan memancarkan sinar mencorong. "Creng!" Suma Bing tergetar sempoyongan, sementara Rasul yang memegang senjata itu pun terhuyung beberapa langkah.

Ketiga Rasul yang lain pun pada saat itu segera menyerang tiba.

Bu Siang Sin Hoat benar-benar sakti mandraguna. Begitu tubuhnya limbung karena benturan keras tadi, kakinya lantas menggeser selicin belut berganti tempat. Kekuatan tenaga dipusatkan di tangan kanan, lalu cahaya sinar Cincin Iblis kembali mencorong lebih tajam dan disapukan ke arah ketiga Rasul yang menyerang.

Kaget ketiga Rasul itu bukan main, serasa arwah mereka terbang meninggalkan badan. Cepat-cepat mereka menjejakkan kaki, melejit jauh menyingkir.

Kini Suma Bing kembali berdiri tegak di depan peti mati, sikapnya garang dan siap siaga.

Pada saat itulah, Rasul yang terpental keluar pintu kelenteng itu agaknya lukanya tidak terlalu berat. Ia kini melangkah masuk lagi ke dalam ruangan.

Kelima Rasul berdiri dalam posisi lima penjuru; Suma Bing terkepung di tengah.

Sekian lama kedua belah pihak sama-sama berdiri mematung, siap siaga menunggu serangan musuh. Setengah jam berlalu, keadaan tetap sunyi tanpa seorang pun bersuara. Akhirnya, Suma Bing sendiri berlaku kurang sabar.

Sinar Cincin Iblisnya menyapu datang. Dua Rasul yang berdiri di hadapannya segera melejit menyingkir ke belakang.

Namun, sebelum cahaya cincinnya mengenai sasaran, mendadak tubuh Suma Bing membalik dan mengirim sebuah hantaman dahsyat ke belakang dengan kekuatan Kiu Yang Sinkang. Gerakan tubuhnya benar-benar mempesona hingga sulit diikuti oleh pandangan mata.

Betapapun tinggi kepandaian Rasul Penembus Dada, ia tetap sulit menghadapi serangan mendadak ini. Kontan terdengar dua lolong jeritan panjang. Satu di antara Rasul yang menerjang roboh terkapar, sedang yang lain terpental jungkir balik setombak lebih. Kedok di mukanya basah oleh darah; agaknya lukanya tidak ringan.

Bentakan-bentakan nyaring memekakkan telinga. Tiga Rasul lainnya menubruk maju berbarengan sambil melancarkan serangan berantai. Jurus dan tipu serangannya sangat aneh, menakjubkan, seakan-akan air sungai mengalir deras tanpa putus-putus.

Suma Bing kebingungan dan gugup. Beruntun empat kali tubuhnya berputar sambil menangkis, baru kemudian ia dapat berdiri tegak lagi.

Cara turun tangan ketiga Rasul itu menggunakan gerak cepat; jurus dan tipu serangannya sedemikian gencar dan rapat bagaikan hujan deras, sehingga Suma Bing tidak sempat menggunakan Cincin Iblis dan melancarkan pukulan Kiu Yang Sinkang.

Dalam sekejap mata, tiga puluh jurus telah berlalu.

Tadi, berulang kali Suma Bing melancarkan Kiu Yang Sinkang dan Cincin Iblis hingga tenaga murninya banyak terkuras. Meskipun jalan darah mati-hidupnya sudah tembus dan tenaga dalamnya tidak mengenal putus, musuh terlalu tangguh untuk dihadapi. Ia harus mengerahkan seluruh tenaganya, maka dengan cepat tenaga murninya semakin susut. Keadaannya semakin payah dan terdesak di bawah angin.

Sebaliknya, ketiga Rasul Penembus Dada itu semakin gencar menyerang secara mati-matian. Di tengah berkesiurnya angin pukulan, diselingi pula sinar berkeredep dari cundrik yang menciutkan nyali, perbawa dan kekuatan gabungan mereka bertiga benar-benar mengagumkan.

Kelenteng itu sudah tua dan reyot. Angin pukulan yang sedemikian deras membuat atapnya bergetar, genteng dan debu berterbangan tak henti-hentinya. Agaknya, jika kedua belah pihak tidak ada yang mau menghentikan pertempuran, tak lama lagi kelenteng itu pasti akan ambruk.

Bagi Suma Bing, yang kedatangannya memang memiliki maksud tertentu, ia tentu tidak akan mundur atau mengalah.

Terdengar sebuah bentakan menggelegar, kontan terlihat salah satu dari ketiga Rasul itu terjengkang mundur sambil muntah darah. Dalam waktu yang bersamaan, cundrik Rasul Penembus Dada juga menyobek kulit lengan Suma Bing sehingga terluka panjang; darah membanjir keluar dengan derasnya.

Wajah Suma Bing yang semula tegang penuh nafsu membunuh kini bertambah pucat menakutkan, napasnya pun mulai memburu.

Suma Bing insaf bahwa bahaya selalu mengancamnya. Ia harus secepat mungkin mengakhiri pertempuran ini. Karena ketetapan hatinya, tenaganya dikerahkan seluruhnya sambil mengertakkan gigi, beruntun ia melancarkan sembilan kali pukulan berantai.

Begitu sembilan pukulan ini dilancarkan habis, tepat sekali satu di antara Rasul pengeroyok itu dengan telak terpukul roboh terjungkal dan tak bisa bergerak lagi. Karena pengerahan tenaga yang berlebihan ini, seketika Suma Bing merasakan pandangannya berkunang-kunang, kepala terasa berat, sebaliknya tubuhnya terasa enteng bagai terapung di tengah udara.

Demikian juga keadaan Rasul Penembus Dada yang memegang cundrik itu, napasnya pun terengah-engah, dadanya turun naik dengan keras.

Sekarang tinggal Suma Bing dan Rasul Penembus Dada yang memegang cundrik. Mereka saling berhadapan seperti dua ayam jago yang sudah kehabisan tenaga, saling pandang tanpa bergerak lagi.

Agak lama kemudian, Suma Bing membuka mulut dengan suara gemetar, "Hari ini akan kubuat kalian berlima menggeletak tak bernyawa lagi dalam kelenteng bobrok ini."

Rasul Penembus Dada menyeringai sinis, "Suma Bing, cundrikku ini juga dapat menembus ulu hatimu!"

Lantas terdengar pula suara bentakan dan teriakan yang simpang siur; mereka berkutat dan bertempur lagi dengan sengitnya. Namun, tidak sehebat tadi sebab kedua belah pihak sudah sama-sama kehabisan tenaga. Mereka hanya bergerak dan meronta demi kemenangan terakhir.

Bukti dan kenyataan sudah jelas, akhirnya mereka berdua pasti akan sama-sama gugur dan tamat riwayatnya.

Pada saat itulah, mendadak terdengar sebuah bentakan nyaring, "Berhenti!"

Tanpa diminta kedua kalinya, serta-merta mereka berhenti bertempur. Masing-masing mundur dua langkah sambil saling pandang dengan mata membara gusar.

Ternyata gadis baju hitam itu kini tampil lagi ke depan, alisnya dikerutkan dalam-dalam, matanya mendelik buas penuh nafsu membunuh. Baru sekarang Suma Bing berkesempatan menghela napas lega. Ia maklum, dengan luka berat yang diderita, kelima Rasul Penembus Dada tidak akan berani mengumbar keganasannya lagi. Pasti gadis baju hitam ini cukup mampu untuk menghadapi mereka. Maka, segera ia mengundurkan diri ke samping dan diam-diam mengerahkan tenaga untuk mengobati diri.

Sorot mata gadis baju hitam menyapu pandang kepada empat Rasul yang terluka berat, lalu beralih menatap ke arah Rasul Penembus Dada yang mencekal cundrik. Ia berkata, "Kalian mendapat perintah dari siapa untuk mengambil jiwa suhuku?"

"Dari ketua Jeng Siong Hwe!" sahut Rasul Penembus Dada.

"Siapakah ketua kalian?"

"Kau tidak perlu tahu!"

"Ada permusuhan dan dendam apa dengan guruku?"

"Tidak perlu kujelaskan."

Gadis baju hitam mengacungkan sebelah tangannya, mengancam, "Ini segenggam pasir beracun yang dinamakan Cui Hun Soa. Segenggam ini kukira cukup untuk menamatkan riwayat kalian berlima, bukan?"

"Mungkin, tapi kau sendiri juga tidak akan tetap hidup!"

Gadis baju hitam menurunkan tangan, ujarnya, "Sekarang ini aku tidak akan berbuat begitu. Sebab suhu memang benar sudah meninggal, orangnya mati, permusuhan impas. Hanya aku ada sedikit permohonan, jangan kalian merusak jenazahnya!"

"Tidak mungkin!" seringai Rasul Penembus Dada dingin.

Gadis baju hitam naik pitam, teriaknya, "Orangnya sudah mati, jenazahnya pun tidak kau lepaskan!"

"Ya, cundrik ini harus menembusi dadanya dulu!"

"Kujelaskan sekali lagi, suhuku betul-betul sudah meninggal!"

"Mati atau hidup sama saja!"

"Kalau begitu, jangan kalian sesalkan cara turun tanganku yang kejam!"

"Silakan sesuka hatimu kau turun tangan, tapi kau sudah tiada kesempatan lagi!"

"Omong kosong!" Tiba-tiba badan gadis baju hitam melejit mundur setombak lebih, tangannya sudah terangkat tinggi. Di tangannya sudah menggenggam pasir beracun, tinggal menaburkannya saja.

Rasul Penembus Dada hanya mendengus dingin tanpa bergerak dan membuka suara.

Namun mendadak gadis baju hitam menurunkan tangannya pula, ujarnya, "Kalian pergilah!"

Rasul Penembus Dada memasukkan cundrik ke dalam balik bajunya, suaranya sedingin es, "Inilah kesempatan, kenapa tidak kau turun tangan? Untuk selanjutnya, selamanya kau takkan ada kesempatan lagi."

Rona wajah gadis baju hitam berubah berganti-ganti. Timbul lagi nafsunya untuk membunuh, namun secepat itu pula terus menghilang. Katanya dengan suara tawar, "Silakan kalian pergi!"

Sekilas Rasul Penembus Dada melirik ke arah Suma Bing yang tengah bersemedi, lalu berkata kepada gadis baju hitam, "Beritahu kepada gurumu, soal cundrik ini menembusi dada tinggal tunggu waktu saja, dia tidak akan dapat lolos!"

Berubah hebat air muka gadis baju hitam, serunya gemetar, "Dia sudah mati!"

"Mati? Pek Chio Lojin pandai meramu obat yang aneh-aneh, pura-pura mati hanya dapat mengelabui orang saja!"

Habis berkata, ia beruntun menutuk dan menepuk beberapa jalan darah di tubuh keempat Rasul lainnya. Satu per satu mereka berdiri terus beriringan berjalan keluar.

Kaki gadis baju hitam maju selangkah, agaknya hendak merintangi kepergian mereka, tapi dia urung bersuara. Dia maklum, seumpama membunuh kelima Rasul ini pun tidak akan dapat membereskan persoalan ini. Mereka hanyalah petugas yang menjalankan perintah orang lain saja. Orang di balik layar itulah yang lebih kejam dan menakutkan. Bersamaan dengan itu, dia juga insaf bahwa lwekang Rasul Penembus Dada, meskipun sudah terluka berat, mungkin dirinya masih bukan tandingannya, maka akhirnya dia memutuskan untuk tidak turun tangan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment