Chapter 101
Bayangan kelima Rasul itu akhirnya menghilang di tengah kabut malam.
Gadis berbaju hitam menyumat sisa lilin di depan meja sembahyang.
Air muka Suma Bing perlahan mulai bersemu merah; itulah pertanda bahwa tenaganya sudah mulai pulih kembali.
Diam-diam, gadis berbaju hitam menggeremet ke belakang Suma Bing. Sebuah tangannya sudah menekan jalan darah besar *Thian leng hiat*.
Dalam mimpinya pun, Suma Bing tidak menduga bahwa bayangan kematian sudah mengulur tangan kepadanya.
Rona wajah gadis berbaju hitam ini berubah-ubah dan susah ditebak; entah apa yang tengah diterawangnya. Ia tengah berpikir haruskah ia turun tangan membunuhnya. Tangannya agak gemetar, hatinya bimbang untuk mengerahkan tenaga.
Pada saat itulah, mendadak Suma Bing membuka matanya. Melihat suasana yang sepi ini, tanpa terasa ia berseru heran, "Eh!" Cepat-cepat gadis berbaju hitam menarik tangannya.
Suma Bing juga sudah merasa. Badannya berkelebat, lalu membalik, serunya terkejut, "Ternyata kau. Di mana mereka?"
"Sudah pergi!"
"Sebenarnya gurumu..."
"Lebih baik Tuan jangan menanyakan hal itu lagi!"
"Baik, kita kembali pada persoalan pertama. Aku mohon diberi sebutir *Hoan hun tan*!"
"Karena kau mati-matian melindungi jenazah guruku, biarlah kuberi sebutir, tapi..."
"Bagaimana?"
Bola mata gadis berbaju hitam berputar-putar, memancarkan cahaya aneh. Lama kemudian, baru ia bersuara, "Ada syaratnya!"
"Syarat apa? Syarat yang tadi kau ajukan?"
"Bukan!"
"Syarat apa?" Suma Bing menegaskan.
Agaknya gadis berbaju hitam ingat sesuatu, maka sambil mengangguk-angguk ia berkata, "Aku berhak menunda dulu syarat yang bakal kuajukan itu!"
"Menunda?"
"Benar. Asal kau ingat bahwa kau masih berutang satu syarat kepadaku, itu sudah cukup. Mungkin suatu waktu kelak bisa kuajukan, tapi... juga mungkin tidak kuajukan..."
"Ini! Mengapa begitu?"
"Sudah tentu ada alasanku!"
Suma Bing tak habis mengerti. Seseorang hendak menunda hak pengajuan syarat; ke mana tujuannya susah ditebak. Tapi bila diingat waktu dirinya pertama kali memasuki biara ini, orang mengajukan penggantian dengan kepalanya, dan dengan tegas ia sudah setuju. Mati saja tidak ia takuti, apalagi syarat lainnya.
Maka segera ia mengangguk, "Baik, aku setuju!"
"Tapi perlu kutandaskan, bila kelak syarat itu kuajukan, lalu Tuan tidak menepati janji..."
"Nona terlalu khawatir, aku yang rendah bukan manusia macam itu!"
"Aku percaya kau, ambillah!" Lalu dari balik bajunya dikeluarkan sebuah botol kecil yang terbuat dari porselen, terus diangsurkan kepada Suma Bing.
Tangan Suma Bing gemetar menyambut botol kecil itu. Legalah hatinya; kalau obat ini sudah di tangan, maka jiwa bibinya, Ong Fong Jui, tidak perlu dikhawatirkan lagi.
"Saya minta diri!"
"Silakan!"
Begitu keluar dari Yok Ong Bio malam itu juga, Suma Bing berlarian kencang. Ingin rasanya ia tumbuh sayap dan segera tiba di selokan yang belum diketahui namanya itu untuk menolong bibinya.
Hari kedua tengah hari, Suma Bing sudah menempuh sejauh lima ratusan *li*. Karena perut terlalu lapar, terpaksa ia memasuki sebuah kota hendak mengganjal perut.
Baru saja sampai di ujung jalanan, sebuah bayangan dengan cepat memapak datang. Terdengar pula suara yang sangat dikenalnya, "Buyung, sudah lama benar kucari kau!"
Cepat-cepat Suma Bing menghentikan larinya. Waktu mengangkat kepala, kiranya yang mendatangi ini adalah si Maling Bintang, Si Ban Cwan. Cepat-cepat ia memberi hormat, "Cianpwe, apakah baik-baik saja selama berpisah?"
"Masih baik, belum mati. Buyung, sungguh tak diduga kau bisa lolos dari Bwe Hwa Hwe dengan tetap masih bernyawa."
"Cianpwe, musuh besar sudah kutemukan jejaknya!"
"Siapa?"
"Loh Cu Gi!"
"Loh Cu Gi?" seru si Maling Bintang penuh keharuan.
"Benar!"
"Kau sudah menuntut balas?"
"Belum, hampir saja jiwaku melayang di tangannya!"
"Di mana dia berada?"
"Bwe Hwa Hwe!"
"Dia juga..."
"Dia adalah sesepuh atau tulang punggung dari Bwe Hwa Hwe. Chiu Thong, ketua mereka itu, adalah muridnya."
"O, dia kenal kau tidak?"
"Aku sendiri yang memperkenalkan asal-usulku!"
"Masa dia mau melepasmu begitu saja?"
"Tidak, dalam penjara bawah tanah, kebetulan aku bertemu dengan Tiang Un Suseng Poh Jiang, dialah yang membantu aku lolos dari kurungan!"
"Lalu bagaimana dengan Tiang Un Suseng?"
Menggelam air muka Suma Bing, ujarnya sedih, "Dia sudah mati, bersama suciku, Sim Giok Sia!"
"Benar-benar terjadi demikian?"
"Suci Sim Giok Sia meninggal karena diperas, sedang Tiang Un Suseng hanya mengikuti jejaknya saja. Kalau tidak, dengan gampang ia dapat lolos dari penjara itu. Hm, utang darah itu kelak biar kubalaskan secara total!"
"Loh Cu Gi pernah merebut kedudukan jago silat kelas satu, *Lwekang*-nya tentu..."
"Yang lain aku tidak tahu, yang jelas *Kiu yang sinkang* telah dilatihnya sampai sempurna, lebih tinggi dari dugaan suhu semula. Sekali pukul, dia dapat membumihanguskan benda sasarannya!"
Berubah wajah keriput si Maling Tua, katanya, "Sekali pukul membumihanguskan benda sasarannya, siapa pula tokoh yang kuat melawannya, Buyung, selain..."
"Selain apa?"
"Dapat kau mempelajari ilmu sakti yang tersembunyi di dalam Pedang Darah dan Bunga Iblis itu!"
"Tapi..."
"Bagaimana?"
"Pedang Darah telah hilang!"
"Apa, Pedang Darah kau hilangkan?"
"Ya, tapi masih ada harapan dapat diminta kembali!"
"Siapakah orang yang mengambil?"
"Phoa Cu Giok!"
"Belum pernah kudengar nama itu!"
"Ai, dia adalah adik kandung Phoa Kin Sian!" Maka berceritalah Suma Bing akan pengalamannya dalam latihannya yang sesat karena terganggu, dan kini tengah menjalankan tugas minta obat di Yok Ong Bio.
Si Maling Tua Si Ban Cwan menggeleng-geleng sambil menghela napas panjang.
Suma Bing tertawa kikuk, katanya, "Cianpwe, mari kita mengganjal perut dulu baru bicara lagi bagaimana?"
"Bagus sekali, Buyung. Memang ada omongan yang perlu kuberitahukan kepadamu. Untuk tidak mengurangi selera makan kita, setelah perut kenyang baru kita perbincangkan lagi."
Begitulah mereka memasuki kota terus mencari rumah makan. Kebetulan tak jauh di sebelah depan sana ada sebuah rumah arak Tiau Yu Kip; langsung mereka masuk dan mencari tempat duduk, terus memesan makanan dan minuman.
Saat itu kebetulan tiba tengah hari, para pengunjung sangat banyak yang makan minum, suasana menjadi ramai dan gaduh.
Tengah makan minum, tak kuat Suma Bing menahan sabar lagi, tanyanya, "Cianpwe, Nona Siang Siau Hun..."
Si Maling Tua membalik mata, ujarnya, "Dia pulang ke rumahnya. Dia menyalahkan aku karena tidak mencegah kau menepati janjimu ke Bwe Hwa Hwe!"
"Ada lebih baik dia pulang ke rumah, betapa berbahayanya berkelana di dunia kangouw."
"Siapa tahu apa benar dia pulang ke rumah."
Suma Bing terkejut, serunya, "Mengapa?"
"Ada kemungkinan dia pergi mencari kau!"
"Mencari aku? Wah, celaka, markas Bwe Hwa Hwe bagai sarang naga dan gua harimau."
"Ini hanya dugaan saja. Aku sudah mencari tahu susah payah, tapi tiada kabar beritanya."
Tanpa terasa tenggelam dan berat perasaan Suma Bing; hatinya risau dan gundah. Siang Siau Hun adalah perempuan yang berhati kukuh dan berpendirian teguh, mungkin ia bisa melakukan hal-hal yang bodoh, maka katanya, "Jadi untuk persoalan ini maka Cianpwe mencari wanpwe?"
"Tidak, masih ada urusan lain."
"Urusan apa?"
"Mari kita bicara di luar."
Bergegas mereka tinggalkan rumah arak itu, terus berlarian keluar kota. Setelah di tempat yang agak sepi, baru si Maling Tua bicara dengan nada berat tertekan, "Buyung, kau kenal seorang gadis yang bernama Ting Hoan?"
Sebuah wajah ayu dan jelita segera terbayang dalam benak Suma Bing. "Ya, aku kenal dia," sahut Suma Bing.
"Dia minta aku, si Maling Tua, menyampaikan berita kepadamu."
"Berita apa?"
"Dia minta aku, si Maling Tua, membawa kabar untuk kau!"
"Kabar apa?"
"Dia ingin melihatmu untuk yang terakhir."
Suma Bing berjingkrak kaget, tanyanya gemetar, "Yang terakhir? Apakah maksudnya?"
"Dia sudah hampir mati, tapi sebelum ajal ini, dia ingin benar bertemu dengan kau!"
"Dia, sudah hampir mati?"
"Benar, sudah kempas-kempis, tinggal menunggu waktu saja!"
"Kenapa terjadi demikian?"
"Setelah bertemu, kau akan tahu segalanya."
"Di mana dia sekarang berada?"
"Kira-kira lima puluh *li* dari sini ada sebuah kampung bernama Sam Keh Cheng. Di dalam gubuk reyot di samping jembatan batu merah itulah dia berada."
"Baik, segera aku berangkat..."
"Nanti dulu!"
"Cianpwe masih ada pesan apa?"
"Tadi kau berkata kau tersesat waktu berlatih. Apakah bibimu yang menembusi jalan darah setengah tubuhmu yang terbuntu itu?"
"Begitulah!"
"Apa kau tahu asal-usul perguruannya?"
"Ini... aku tidak begitu jelas."
"Aneh!"
"Apakah Cianpwe ada menemukan sesuatu?"
"Dalam dunia persilatan, entah sudah berapa tokoh silat kosen yang mati atau cacat karena tersesat dalam latihannya itu. Maka, kalau tersesat dalam latihan dipandang sebagai jalan buntu yang membawa maut. Dia dapat dan kuat menggunakan tenaga murni dalam tubuhnya untuk menjebol dan menembusi jalan darahmu yang tertutup. Bukan saja *Lwekang*-nya itu sangat tinggi, juga sangat ajaib. Aku, si Maling Tua, curiga pasti dia adalah salah satu murid gembong persilatan yang kenamaan pada ratusan tahun yang lalu."
"Siapa?"
"Yang mengenal ilmu *Kan guan kay hiat sip meh tay hoat*, boleh dikata hanya satu aliran ini saja, tiada keduanya!"
"Siapakah sebenarnya?"
Si Maling Tua Si Ban Cwan berkerut alis, ujarnya, "Masing-masing aliran dan golongan dalam dunia persilatan ada peraturan dan pantangannya. Lebih baik kelak kau tanyakan sendiri."
Apa boleh buat, Suma Bing mengangguk-angguk. Memang selama ini belum pernah terpikirkan untuk menanyakan asal-usul perguruan bibinya. Malah tidak terpikirkan juga olehnya bahwa Phoa Kin Sian adalah istrinya; sebelum ini yang diketahui hanyalah bahwa dia adalah murid bibinya saja.
"Cianpwe masih ada pesan apalagi?"
"Tidak ada, kau pergilah. O, ya..."
"Harap katakan!"
"Maling tua ini sudah menyirapi ke mana-mana, tapi kabar berita tentang ibumu masih belum dapat kuperoleh. Mengenai perempuan yang terkurung di belakang puncak Siau Lim itu, aku masih tetap bercuriga..."
Suma Bing memandang penuh rasa terima kasih kepada Maling Tua, katanya, "Kelak wanpwe pasti akan kembali ke Siau Lim Si untuk membuka tabir rahasia ini. Untuk berita ibunda sampai Cianpwe susah payah kian kemari, wanpwe menyatakan banyak terima kasih!"
"Tidak menjadi soal, ini kan kerelaan dari Maling Tua ini."