Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 102

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 102

"Kau pergilah!" "Selamat bertemu!" Dengan rasa kesal dan khawatir, Suma Bing berlari menuju tempat yang ditunjuk oleh si maling tua.

Satu jam kemudian, tibalah ia di depan sebuah gubuk reyot di pinggir jembatan batu merah. Gubuk ini terbagi dalam tiga bilik, memiliki sebuah pintu tanpa jendela. Keadaannya sangat jorok dan bobrok, agaknya sudah lama tidak ditinggali manusia.

Entah bagaimana Ting Hoan bisa menetap di tempat semacam ini. Bukankah si maling tua mengatakan dia sudah sekarat dan tinggal menunggu ajal? Mungkin mendadak dia terserang penyakit berat atau telah mengalami sesuatu. Berpikir sampai di sini, tanpa terasa tubuhnya bergidik dan merinding.

Waktu kakinya melangkah ke dalam, hidungnya segera diserang oleh bau apek yang menyesakkan dada. Suma Bing menahan napas dan memandang ke arah dalam sebelah kiri. Kosong melompong, lalu ia berputar memandang ke arah kanan. Di pojok kamar dalam, mendekam dan melingkar sebuah benda berwarna putih. Mungkinkah itu dia? Jantung Suma Bing mulai berdebar keras. Saat mendekati, memang tidak salah, itulah seorang perempuan yang berpakaian putih.

"Kau... kau adalah... Nona Ting?"

Tubuh orang berbaju putih itu bergerak, tapi tidak mengeluarkan suara.

"Apakah kau adalah adik Hoan?"

"Siapa?" Suara itu terdengar sangat lemah dan lembut, hampir tidak terdengar.

"Akulah Suma Bing," seru Suma Bing agak keras.

Tubuh orang berbaju putih itu bergetar, ia bergegas membalikkan badan menghadap ke atas. "Oh, kau..."

Suma Bing mundur tiga langkah, tangan dan kakinya terasa dingin. Tidak salah lagi, memang dia adalah Ting Hoan. Gadis rupawan yang berwajah cemerlang itu sekarang telah berubah menjadi sedemikian pucat, kurus, dan peyot. Sinar matanya redup, namun mengandung perasaan kebencian yang melimpah, membuat bulu roma orang berdiri.

"Kau... akhirnya kau datang. Benarkah kau ini?"

Suma Bing maju lagi, lalu membungkuk di sampingnya sambil berkata gemetar, "Adik Hoan, inilah aku, Suma Bing!"

"Ini... bukan mimpi?"

"Ya, ini kenyataan. Aku, akulah Suma Bing. Aku memburu kemari setelah mendengar kabar dari Si Cianpwe, si Maling Bintang!"

Ting Hoan memejamkan kedua matanya sambil menenangkan gejolak hatinya. Napasnya mulai teratur. Sesudah sekian lama, kedua matanya terbuka lagi; agaknya semangatnya sudah pulih sebagian besar.

"Engkoh Bing, bolehkah aku... memanggil demikian?"

"Adik Hoan, asal kau suka!"

Wajah pucat dan kurus dari Ting Hoan menampilkan rasa girang dan senyum simpul. Katanya, "Engkoh Bing, sejak pertama kali melihatmu, aku berjanji dalam hati: aku tidak meminta balas cintamu, asal aku bisa mencintaimu... sudah cukup!"

"Adik Hoan, aku sangat mencintaimu, tapi beban yang kupikul terlalu berat!"

"Engkoh Bing, aku tidak perlu mendengar penjelasanmu. Aku sudah merasa girang dan puas dalam waktu sebelum ajal ini kau dapat berada di sampingku. Ini sebetulnya hanyalah khayalanku belaka, tapi sekarang menjadi kenyataan!"

Tenggorokan Suma Bing tersumbat, sekuat tenaga ia menahan air mata. Terbayang dalam ingatannya waktu pertama kali dirinya menunaikan tugas dari gurunya. Kalau bukan karena Ting Hoan membangkang perintah gurunya, pasti jiwanya sudah lama melayang.

"Adik Hoan, kau terserang penyakit atau..."

"Aku... Hahahaha..." Meski suara tawanya lemah dan rendah, namun mengandung kedukaan dan nestapa yang tak terperikan.

"Adik Hoan," suara Suma Bing bergetar, "Sebetulnya apa yang telah terjadi?"

Ting Hoan menghentikan tawanya, wajahnya berganti serius. Katanya sambil mengertakkan gigi, "Engkoh Bing, sebetulnya aku malu bertemu dengan kau, tapi sebaliknya aku juga mengharap betul bertemu dengan kau. Kalau tidak, aku tidak akan bisa mati tenang."

"Adik Hoan, kau..."

"Engkoh Bing, aku... aku telah diperkosa orang..."

Darah Suma Bing bergejolak. "Siapa?" tanyanya gusar.

Tutur Ting Hoan, "Iblis itu menodai aku karena aku telah menyebut namamu. Dengan kutukan berat dia hendak mencabut nyawaku, tapi aku tidak segera mati. Aku hidup lagi selama tiga hari, sekarang, sebab aku ingin bertemu sekali lagi dengan kau!"

Tanpa terasa air mata Suma Bing meleleh. Serunya beringas, "Siapa dia? Akan kubeset dan kuremukkan tubuhnya!"

"Dia adalah..."

"Siapa?"

"Racun Diracun!"

"Apa? Racun Diracun?"

"Benar!"

Kontan pandangan Suma Bing terasa gelap, dadanya hampir meledak saking gusar. Dengan *Racun Tanpa Bayangan*, Racun Diracun sudah membunuh adik Siang Siau Hun dan Li Bun Siang. Juga memelet Thong Ping sehingga perempuan malang ini melahirkan anak di luar perkawinan, malah membunuh juga ibunda Thong Ping. Sekarang, seorang lagi telah dinodainya, malah orang yang malang ini adalah kekasihnya sendiri.

"Kalau tidak kuhancurleburkan tubuh manusia laknat itu, aku bersumpah tidak akan menjadi manusia!" Suma Bing menggerung dan memaki kalang kabut sambil mengertakkan gigi untuk melampiaskan kedongkolan hatinya.

"Engkoh Bing..."

Warna pucat pasi di wajah Ting Hoan mulai berubah menjadi bersemu kuning keabu-abuan. Suma Bing menekuk lutut dan memeluknya kencang-kencang. Bibir Ting Hoan bergerak-gerak, matanya juga berkedip, entah apa yang hendak diucapkan, namun suaranya tidak terdengar.

"Adik Hoan!" keluh Suma Bing sesenggukan. Tubuhnya mulai merinding, ia menyadari apa yang bakal terjadi. Sekonyong-konyong teringat *Hoan Hun Tan* yang tersimpan di tubuhnya; mungkin jiwa kekasihnya ini masih bisa ditolong dengan obat mujarab itu.

Wajah Ting Hoan berubah kebiru-biruan dan menunjukkan senyuman terakhir, lantas kepalanya terkulai ke samping. Nyawanya meninggalkan badan kasarnya.

Tak tertahan lagi air mata Suma Bing meleleh semakin deras, menetes satu demi satu di atas wajah Ting Hoan yang mulai membeku. Waktu hidupnya dia tidak pernah memberikan apa yang diharapkan, kini setelah orang mati, hanya air matalah yang diberikan sebagai pengantar keberangkatan jiwanya ke alam baka.

"Ia sudah mati, mati di bawah cengkeraman setan iblis!" gumam Suma Bing.

Satu jam kemudian, tidak jauh dari letak jembatan batu merah itu, dibangun sebuah kuburan baru. Batu nisan di depan kuburan digores dengan jari bertuliskan: "Kasihan bunga jelita dipetik gugur, tinggal daku hidup merana di dunia fana." Tulisan ini tanpa nama, marga, serta tanda tangan. Di atas kuburan terletak seonggok bunga liar.

Tampak seorang pria berdiri menunduk dan terpekur melamun, berdiri tegak mematung. Dia bukan lain adalah *Sia Sin* kedua, Suma Bing, yang baru saja ditinggalkan kekasih tercinta.

Sekonyong-konyong, terdengar sebuah panggilan dingin: "Suma Bing!"

Suma Bing tergugah dari rasa kepedihan hati oleh panggilan itu. Perlahan dia membalikkan tubuh. Begitu matanya melihat siapa yang berada di depannya, kontan dia bergelak tawa menggila, nadanya penuh dengan kepedihan hati dan nafsu membunuh.

Ternyata orang yang muncul ini tak lain adalah Racun Diracun.

Kedatangan Racun Diracun bagi Suma Bing seumpama Tuhan memberikan restunya kepada pemohon. Belum dingin jenazah Ting Hoan dikebumikan, jika dirinya membunuh iblis laknat ini di depan kuburan, benar-benar suatu hal yang sangat menyenangkan.

Bola mata Racun Diracun yang bagian putihnya lebih banyak daripada hitam itu menunjukkan rasa heran. Ia menghardik dingin, "Tutup mulut!"

Suma Bing menghentikan tawanya, wajahnya dirundung kekejaman yang buas, matanya menyala menatap lawan. Dengan nada tidak mengerti, Racun Diracun bertanya, "Suma Bing, apa yang kau tertawakan?"

Rasa kebencian semakin merangsang benak Suma Bing. Ia menggeram gemetar, "Aku girang bahwa kedatanganmu ini sangat kebetulan!"

"Apa maksudmu?"

"Kedatanganmu ini meringankan aku, jadi tidak perlu jauh-jauh mencarimu kian-kemari."

"Mencari aku, untuk urusan apa?"

"Apa Tuan kenal seorang perempuan yang bernama Thong Ping?"

"Thong Ping?"

"Benar, dia bernama Thong Ping!"

"Belum pernah kudengar nama ini."

"Tuan benar-benar tidak ingat atau..."

"Suma Bing, apa maksudmu ini?"

"Tidak apa, dia minta aku melakukan sesuatu!"

"Terangkanlah secara jelas!"

Sebelum bicara, Suma Bing mendengus keras, "Racun Diracun, cocok dan serasi benar nama julukanmu ini. Sungguh kejam, telengas, tak mengenal peri kemanusiaan..."

Sejenak Racun Diracun melongo, lalu menyemprot gusar, "Suma Bing, berkatalah secara terus terang!"

"Bukankah ini sudah jelas? Thong Ping minta padaku untuk menagih sesuatu kepadamu!"

"Siapakah Thong Ping itu?"

"Kau tidak berani mengakui?"

"Suma Bing, perlu kutandaskan sekali lagi, bicaralah yang terang!"

Sekian lama Suma Bing memandang nanap musuhnya ini sambil menggigit bibir, desisnya, "Tuan sendiri yang minta aku berkata terus terang, baiklah, dengarkan. Setelah kau memelet cinta Thong Ping, lantas kau menodai tubuhnya, selanjutnya kau buang dan tinggalkan begitu saja. Malah lebih durhaka lagi kau bunuh ibunya. Kau... inikah manusia?"

Saking kaget mendengar tuduhan berat ini, Racun Diracun terhuyung tiga langkah, suaranya gemetar, "Apa yang kau katakan?"

Suma Bing maju dua langkah, serunya, "Sekarang Thong Ping telah melahirkan anakmu!"

"Anak?"

"Ya, seorang bayi perempuan!"

"Anak... dia... dia..." Racun Diracun mengeluh dengan sedih, mulutnya komat-kamit entah apa yang diucapkan, seluruh tubuhnya gemetaran.

"Kau tidak akan menyangkalnya lagi, bukan?"

"Aku... tidak menyangkal... tidak..."

Suma Bing mendesak maju lagi selangkah serta ujarnya, "Maka aku datang untuk menagih sesuatu kepadamu!"

"Sesuatu... apa?"

"Jiwamu!"

"Ha! Suma Bing... kau... jangan..."

Dirangsang rasa kebencian yang melimpah, Suma Bing tidak memperhatikan sikap dan mimik Racun Diracun yang luar biasa aneh dari kebiasaannya.

"Dengar, masih ada..."

"Masih ada apa?"

Setelah melirik ke arah gundukan tanah kuburan yang meninggi itu, wajah Suma Bing berkerut mengejang dengan penuh kepedihan, desisnya serak, "Racun Diracun, kukira kau sudah tahu siapakah yang berbaring di bawah gundukan tanah ini?"

"Siapa?"

Sepatah demi sepatah Suma Bing berkata, "Ting Hoan yang telah kau perkosa!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment