Chapter 103
"Hoan?"
"Ya, Ting Hoan. Gurunya, Pek Hoat Sian Nio, mungkin takut menghadapi racunmu, tapi ketahuilah, yang menagih jiwanya adalah aku, Suma Bing." Racun Diracun mengeluh panjang dengan sedih dan menyayat hati, tiba-tiba tubuhnya melenting tinggi lalu pergi.
"Lari ke mana kau!" Betapa mukjizat Bu Siang Sin Hoat itu; dalam suara bentakan yang keras, tahu-tahu Suma Bing sudah berkelebat menghadang di depannya sambil mengayunkan tangan. Kontan Racun Diracun terhuyung dan sempoyongan sepuluh langkah lebih.
"Kau hendak pergi begitu saja?"
"Suma Bing, apa yang hendak kau lakukan?"
"Hendak kuhancurleburkan tubuhmu untuk melampiaskan dendam korbanmu yang mati penasaran."
"Kau... berani pastikan bahwa semua itu adalah perbuatanku?"
Suma Bing menjengek gusar, "Apa mungkin bukan kau?"
Seakan tergugah oleh suatu hal, Racun Diracun terlongong sejenak. Tampaknya ada sesuatu yang tengah dipikirkan. Tak lama kemudian, mendadak dia menghela napas dan berkata, "Suma Bing, saat ini tidak leluasa aku memberi penjelasan."
"Ada apa lagi yang perlu dijelaskan?"
"Aku ada satu permintaan."
"Katakan!"
"Setengah tahun lagi kuberikan pertanggungjawabanku kepadamu!"
"Tidak bisa. Hari ini juga, di depan kuburan Ting Hoan, harus kuselesaikan urusan ini!"
"Suma Bing, kau jangan terlalu memaksa."
"Sehari lebih panjang umurmu akan lebih menambah penasaran orang yang menjadi korbanmu!"
"Suma Bing, jangan kau terlalu takabur!"
"Bagaimana?"
"Menjangan bakal mati di tangan siapa masih susah ditentukan!"
Sambil mengacungkan tangannya, Suma Bing membentak, "Mari kau coba-coba!"
"Nanti dulu!"
"Masih ada pesan apa lagi yang perlu kau sampaikan?"
"Yang kau andalkan tidak lebih hanyalah kemukjizatan Bu Siang Sin Hoat dan tidak mempan racun, paling-paling ditambah lagi dengan Lwekang-mu yang baru dilebur itu, benar bukan? Tapi jangan kau lupa, betapa hebat Racun Diracun bukanlah omong kosong belaka."
Berdetak jantung Suma Bing. Dari mana Racun Diracun bisa mengetahui dirinya ketambahan Lwekang baru? Peristiwa dirinya meminum darah naga pusaka di perkampungan bumi, selain bibinya, Ong Fong Jui, dan istrinya, Phoa Kin Sian, belum pernah dia ceritakan kepada orang lain. Sudah tentu tidak mungkin hanya karena beberapa patah kata itu lantas dia dilepas begitu saja.
Maka serunya penuh kemurkaan, "Racun Diracun, kalau hari ini aku, Suma Bing, tidak mencincang tubuhmu menjadi perkedel, aku bersumpah tidak akan menjadi manusia!"
"Suma Bing, kau ini binatang yang berdarah dingin!"
"Apa, aku binatang berdarah dingin? Memangnya kau adalah binatang berdarah panas?"
"Aku, Racun Diracun, jangan kau anggap takut kepadamu. Seumpama tiada menanam budi kepadamu, hubungan sekedarnya yang tak berarti masih ada. Sedemikian kukuh dan keras kepala kau ini, kenapa kau tidak terima permohonanku untuk menunda urusan ini sampai setengah tahun lagi?"
Serta-merta Suma Bing mundur dua langkah. Ucapan orang itu tepat menusuk lubuk hatinya. Memang, musuhnya ini pernah beberapa kali mengulurkan tangan menolong jiwanya, malah secara jantan mau menyerahkan Pedang Darah tanpa syarat. Semua ini adalah kenyataan yang tak mungkin dihapus dan tidak bisa dilupakan. Mungkinkah dirinya turun tangan mencabut nyawanya? Sumpahnya kepada Thong Ping dan dendam sakit hati Ting Hoan, dapatkah hapus dan impas begitu saja? Sesaat mulut Suma Bing tersumbat, tak bisa memberi jawaban.
Perasaan Racun Diracun agak tenang, katanya, "Suma Bing, urusan di dunia ini kadang-kadang susah diselami dan dipahami dengan pikiran sehat. Lebih baik kau berpikir tenang sedikit."
"Jadi maksud Tuan dalam peristiwa ini masih ada latar belakangnya?"
"Mungkin sekali!"
"Peristiwa di luar perikemanusiaan ini bukan kau yang melakukan?"
"Aku tidak mengakui, tapi juga tidak menyangkal tuduhanmu itu."
"Bagaimana maksud jawabanmu ini?"
"Setengah tahun kemudian akan kuberikan pertanggungjawabanku. Hutang jiwa bayar jiwa, hutang darah bayar darah!"
"Kenapa harus ditunda sampai setengah tahun?"
"Suma Bing, kalau saat ini juga aku minta kau segera mati, apakah kau tidak merasa berat karena banyak hal yang belum kau laksanakan?"
Suma Bing mendengus dingin, jengeknya, "Kau ingin aku mati?"
"Kau sangka aku tidak sanggup?"
"Marilah dicoba!"
"Ketahuilah, walaupun rumput ular yang kau telan itu dapat memunahkan kadar racun umumnya, tapi tidak dapat memunahkan racun dalam racun. Apa kau tidak percaya?"
"Racun dalam racun?"
"Benar, selama aku berkecimpung di dunia persilatan belum pernah kugunakan. Kalau kau memang memaksa, ya kau akan tahu sendiri apa akibatnya!"
"Adalah kau sendiri yang menimbulkan pertikaian ini."
"Kau mengancam aku?" Ujar Suma Bing dengan angkuhnya, "Silakan kau sebarkan racunmu itu, aku pandang sepele saja!"
Racun Diracun menyeringai dingin, katanya, "Sekarang boleh kau coba-coba menyalurkan hawa murnimu!"
Keruan bergidik dan dingin perasaan Suma Bing. Dalam keadaan yang tidak terasa ini, apa mungkin lawan sudah menebarkan racunnya yang lihai itu? Karena pikirannya ini, tiba-tiba ia menyedot napas panjang, terus menyalurkan hawa murni dari pusarnya. Benar juga, Yang Kiau dan Im Kiau, dua nadi besar, ada tanda-tanda mulai mengerat, sedang empat dari delapan jalan darah besar juga sudah buntu.
Kejutnya ini benar-benar bukan kepalang. Kiranya ucapan Racun Diracun bukan main-main belaka, betul-betul dirinya sudah terkena racun berbisa lawan. Tapi kapan dan bagaimanakah lawan menyebarkan racunnya itu?
"Bagaimana?" desak Racun Diracun.
Timbul sifat angkuh dan kesesatan turunan gurunya dalam benak Suma Bing. Katanya nekat, "Seumpama aku mati karena racunmu ini kumat, terlebih dulu aku harus membunuh kau, manusia laknat ini!"
"Saat ini kau tak mungkin dapat melakukannya!"
Cepat-cepat Suma Bing menyalurkan Kiu Yang Sin Kang. Baru saja tenaganya timbul, lantas dia merasakan adanya banyak rintangan; jalan darahnya banyak yang sudah buntu. Kecut perasaannya, keringat dingin membanjir keluar. Sambil membanting kaki, serunya, "Baik, kita bertemu pada lain kesempatan!"
"Nanti dulu, kau telanlah dulu obat pemunah ini!"
"Tidak perlu!" Jantung Suma Bing berdetak semakin keras, tapi bagaimana bisa ia menerima obat pemunah musuhnya?
"Kalau begitu, kau tidak akan dapat pergi jauh!" Racun Diracun menghela napas lalu berkata lagi, "Suma Bing, aku menggunakan racun hanya untuk mengambil kesempatan membuatmu kepepet saja, tiada maksudku hendak mengambil nyawamu. Hendak kutanya kepadamu, hari-hari yang lalu sedikit banyak bukankah kita mengikat persahabatan yang erat?"
"Ya, memang hal itu boleh kuakui."
"Maka pandanglah persahabatan kita itu, terimalah obat pemunah ini!"
"Tidak!"
"Sebelum sepuluh li, kau akan mati keracunan!"
Suma Bing menyeringai sedih, ujarnya, "Itu urusanku sendiri!"
"Suma Bing, seorang laki-laki harus dapat secara tegas membedakan antara budi dan dendam. Persahabatan kita dulu adalah satu soal. Sekarang kau menuntut balas untuk orang lain juga lain soal lagi, jangan kau campur adukkan kedua persoalan itu menjadi satu. Sudah kukatakan dan sekarang kutegaskan sekali lagi, setengah tahun kemudian akan kuberikan pertanggungjawabanku kepadamu supaya kau puas."
Suma Bing menjadi bimbang. Dia ragu-ragu bukan karena tergerak oleh bujukan orang atau takut mati, melainkan dia teringat akan sakit hati ayahnya, dendam kebencian ibundanya, dan dendam kesumat perguruan. Dan sekarang yang terpenting adalah menolong jiwa bibinya yang tergenggam dalam tangannya; dia harus secepat mungkin mengantar tiba Hoan Hun Tan. Aku tidak boleh mati, demikian hatinya berteriak.
Kata Racun Diracun lagi, "Suma Bing, menurut apa yang kutahu, istrimu, Phoa Kin Sian, setengah tahun lagi bakal melahirkan. Mungkin sekali dia akan mengalami kesukaran, apakah kau tidak memikirkan akan masa depan keturunanmu?"
Tanpa terasa tergerak sanubari Suma Bing. Racun Diracun mengatakan Phoa Kin Sian mungkin mengalami kesukaran; dari mana dia mengetahui? Kesukaran apakah itu? Dari mana pula dia tahu bahwa Phoa Kin Sian tengah mengandung dan bakal melahirkan? Karena pikirannya ini, tanyanya heran, "Apa, Tuan katakan istriku bakal mengalami kesukaran?"
"Benar!"
"Kesukaran apa?"
"Kelak kau akan tahu sendiri, kau takkan percaya mendengar penjelasanku."
"Dari mana Tuan mengetahui hal itu?"
"Ini tidak perlu kau tanyakan, pendek kata hal itu adalah kenyataan."
Risau dan gundah perasaan Suma Bing, hatinya penuh tanda tanya. Kalau orang tidak mau mengatakan, tidak mungkin dia memaksa orang bicara. Namun, tampaknya ucapannya itu sungguh-sungguh dan boleh dipercaya. Tiada perlunya Racun Diracun membual dan membuat sensasi. Satu hal yang mengherankan adalah dari mana dia tahu bakal terjadinya peristiwa yang susah diketahui orang sebelumnya ini? Tapi sifat angkuh dan keras kepala Suma Bing membuat dia tidak suka tunduk di hadapan orang lain. Sahutnya dingin, "Terima kasih akan petunjukmu ini, selamat bertemu."
"Benar-benar kau hendak pergi?"
"Sudah tentu, sebab sekarang aku tidak mampu lagi melenyapkan nyawamu!"
"Kau tidak takut mati?"
"Apa yang perlu ditakutkan? Yang kutakuti adalah susah membedakan antara budi dan dendam; ini akan mengganjal dalam hati dan menyesal seumur hidup!" Habis berkata, dia memutar tubuh menghadap kuburan Ting Hoan dan berkata penuh haru, "Adik Hoan, kau nantikanlah, waktunya tidak akan terlalu lama." Sekali melejit, tubuhnya sudah berlarian di tengah jalan raya. Di belakangnya terdengar suara helaan napas sedih Racun Diracun.
Suma Bing berlari kencang, hatinya bertanya-tanya dan tak habis mengerti akan sepak terjang Racun Diracun selama ini terhadap dirinya; betul-betul susah diduga. Perkataan Racun Diracun terngiang lagi di telinganya, "Sebelum sepuluh li kau akan mati keracunan!"
Benar juga, baru lima li kemudian hawa murninya mulai luber, kepala terasa berat, kecepatan larinya semakin lamban, sampai akhirnya gerak-geriknya tak ubah seperti orang biasa yang tidak pandai bermain silat.
'Apa memang sudah suratan takdir aku, Suma Bing, harus mati keracunan?' demikian ia bertanya pada dirinya sendiri. Timbul rasa sedih yang mencekam sanubarinya.