Chapter 104
"Apa aku harus menerima pengobatannya? Tapi aku hendak membunuhnya!" Begitulah gumamnya dalam hati. Tak terasa, ia sudah berjalan sejauh tiga li. Mendadak tubuhnya terhuyung, pandangan matanya berkunang-kunang, langkah kakinya terhenti, dan tubuhnya limbung hampir roboh. Bayangan kematian sontak melingkupi sanubarinya.
Benar, dirinya tak sanggup berjalan sejauh sepuluh li. Berkat rumput ular pemberian Si Gwa Lojin, ia memang kebal akan segala racun. Namun, ia tak menduga bahwa ia tidak kuat bertahan melawan racun dalam racun yang ditebarkan oleh Si Tiau Khek. Pikirannya mulai kabur dan melayang, hingga akhirnya tubuhnya limbung dan roboh terlentang.
Mendadak, samar-samar ia merasa tubuhnya rebah dalam pelukan seseorang. Sebuah suara terngiang di telinganya, "Engkoh Bing, kuatkan semangatmu!" Begitu mendengar suara itu, Suma Bing tahu siapa orang tersebut. Semangatnya bangkit dan ia berkata dengan gemetar, "Adik Sian, kaukah itu?"
"Ya, akulah!"
"Aku... aku sudah payah!"
"Kenapa kau jadi begini?"
"Aku telah keracunan!"
"Apa kau keracunan?"
"Benar."
"Siapa yang meracunimu?"
"Racun dalam racun!"
"Rebahlah, biar kuperiksa. Engkoh Bing, sungguh kebetulan. Dulu tanpa sengaja aku memperoleh sebutir Tan Tiong Tan dari seorang tua tak bernama. Khasiatnya dapat menyembuhkan penyakit dan segala bisa."
"Adik Sian, racun dalam racun bukan sembarang bisa. Rumput ular juga tidak mempan lagi, apalagi..."
"Coba saja kau telan dulu." Sambil berkata demikian, ia merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hijau. Begitu tutup botol itu dibuka, bau wangi segera merangsang hidung, seketika membuat pikiran segar, semangat bangkit, dan hati terasa lapang. Ia berkata dengan lemah lembut, "Engkoh Bing, coba telanlah ini!"
Tanpa bersuara, Suma Bing memandang istrinya lekat-lekat dengan penuh kasih. Mulutnya terbuka dan ia menelan obat pemberian istrinya. Saat itu, ia merasa bahagia tak terhingga. Alangkah indah hidup manusia ini. Matanya dipejamkan, menikmati kehangatan pelukan sang istri. Seumpama Tan Tiong Tan tidak mujarab, mati dalam pelukan istri tercinta pun rasanya sudah cukup puas.
"Engkoh Bing, kerahkan tenaga untuk mengeluarkan racun."
Suma Bing menurut. Ia menghilangkan segala pikiran, lalu perlahan mulai mengerahkan hawa murninya. Dalam saat-saat genting inilah, dari kejauhan terdengar berkesiur angin baju dan derap langkah kaki beberapa orang yang mendatangi mereka dengan cepat. Tak lama kemudian, beberapa bayangan manusia meluncur turun tiga tombak di hadapan mereka.
Waktu Phoa Kin Sian melihat para pendatang ini, air mukanya seketika berubah. Mereka tak lain adalah Si Tiau Khek. Suma Bing tengah rebah dalam pangkuannya dan menyalurkan tenaga untuk mengusir racun, sehingga tak mungkin ia melepas diri untuk menghadapi mereka. Jika mereka turun tangan, niscaya mereka suami istri bakal kehilangan nyawa.
Air muka Si Tiau Khek yang membeku bagai setan hidup itu tidak menunjukkan mimik yang terbaca. Sorot matanya memancarkan sinar kehijauan yang menyeramkan, dan tali yang terikat di leher mereka menjulur turun di depan dada; sebuah keadaan yang benar-benar mengerikan.
Sambil berpaling ke arah ketiga kawannya, Heng Si Khek berkata, "Inilah kesempatan baik yang diberikan oleh Tuhan."
Hui Bing Khek menggerakkan tangan tunggalnya sambil terkekeh, ujarnya, "Lotoa, ingin yang hidup atau yang mati?"
"Sudah tentu lebih baik masih hidup. Losi, ringkus mereka!"
Tenggorokan Teh Ciam Khek berkerok mengiakan, lalu ia melangkah maju. Phoa Kin Sian merasa sangat gugup dan gelisah, keringat membanjir membasahi tubuhnya. Begitu melihat Teh Ciam Khek mendekat, serasa kabur sukmanya. Ia tidak dapat bergerak dan tidak boleh membentak atau merintangi, karena jika sedikit saja konsentrasi Suma Bing terganggu, akibatnya susah dibayangkan. Dalam keadaan terpaksa, ia mengambil sebutir batu di pinggir tubuhnya lalu menyambitkannya ke arah Teh Ciam Khek.
Teh Ciam Khek menyeringai bagai iblis, serunya, "Nyonya manis, apa-apaan kau jual lagak di hadapanku? Berani main sambit dengan batu!" Sambil berkata, ia mengulurkan tangan untuk menangkis batu yang melayang. Mendadak terdengar Teh Ciam Khek memekik panjang mengerikan, lalu roboh terlentang.
Ketiga setan gantung lainnya terkejut bukan main. Mereka berseru heran dan tanpa janji menubruk maju bersamaan.
"Jangan sentuh, racun!" seru Heng Si Khek gemetar. Wajah Hui Bing Khek dan Bao Bong Khek seketika berubah ketakutan, mereka pun mundur.
Sekian lama Heng Si Khek mengawasi Phoa Kin Sian dengan penuh dendam, lalu berseru, "Maju bersamaan! Gunakan pukulan jarak jauh. Kalau tidak bisa hidup, biar mati pun tidak masalah!"
Serempak, ketiga setan gantung ini maju dari tiga jurusan. Perlahan, tangan mereka diangkat dalam detik-detik yang mencekam. Hati Phoa Kin Sian semakin tenggelam dan pasrah pada nasib. Tiba-tiba terdengar sebuah bentakan nyaring, "Berhenti!"
Ketiga setan gantung terkesiap heran dan menghentikan langkah, lalu berpaling ke belakang. Tampak seorang nyonya muda yang cantik rupawan dengan wajah dingin tengah berdiri setombak di belakang mereka.
Betapa hebat kepandaian ketiga setan gantung ini, namun mereka tidak menyadari ada musuh yang mengintai. Jelas sekali kepandaian pendatang ini tidak main-main. Phoa Kin Sian mengawasi nyonya muda yang datang tanpa diundang itu dengan penuh keheranan.
Heng Si Khek menjengek dingin, tanyanya, "Siapa kau?"
Sorot mata nyonya muda itu menatap ke arah Suma Bing, namun mulutnya menjawab, "Kau belum berharga menanyakan namaku!"
Kontan timbul nafsu keji ketiga setan gantung. Bao Bong Khek terbahak sinis, serunya, "Nyonya busuk, besar benar mulutmu itu!"
Wajah nyonya muda itu berubah gusar mendengar makian tersebut. Nafsu membunuh membayang di mukanya, matanya mendelik memancarkan sinar dingin. Tanpa sadar, Bao Bong Khek bergidik seram dan mundur selangkah. Terdengar nyonya muda itu mendesis berat, "Karena ucapanmu, kau pantas dihukum mati!"
Sebelum suaranya hilang, tanpa terlihat bagaimana ia bergerak, tahu-tahu tubuhnya sudah melejit tiba di hadapan Bao Bong Khek. Kelima jarinya yang runcing memutih bagai kilat mencengkeram. Cara cengkeraman ini sangat aneh dan belum pernah terlihat sebelumnya. Betapa tinggi kepandaian Bao Bong Khek, namun ia tetap tak mampu berkelit. Terdengar jeritan menyeramkan diselingi suara kejut tertahan. Kepala Bao Bong Khek pecah dan otaknya berhamburan; ia roboh tanpa nyawa.
Heng Si Khek dan Hui Bing Khek sangat terkejut, serasa arwah mereka terbang ke awang-awang. Kepandaian nyonya muda ini benar-benar lihai. Namun, meskipun nama Si Tiau Khek dikenal akan kekejiannya, kini dua dari empat orang mereka telah tewas. Sambil mengacungkan tangan yang tersisa sebelah, Hui Bing Khek menubruk nekat ke arah nyonya muda itu. Dalam waktu bersamaan, Heng Si Khek menubruk ke arah Suma Bing dan istrinya.
"Berani mati!" Nyonya muda itu menggertak nyaring sambil memutar tangannya. Kontan, Hui Bing Khek terpental balik dengan jeritan kesakitan, lalu ia terpelanting jauh dan tewas di atas tanah.
Begitu sebat dan gesit gerak-gerik nyonya muda itu. Begitu melancarkan serangan, ia segera memutar tubuh. Saat itu, Suma Bing telah berdiri dengan gagah, wajahnya diselimuti hawa membunuh, sementara Heng Si Khek terlihat rebah tak bergerak. Ternyata, saat Heng Si Khek hendak membokong, Suma Bing telah siuman dari latihannya yang sempurna. Begitu melihat bayangan orang menubruk, tanpa banyak bicara, ia mengerahkan sepuluh bagian tenaga Kiu Yang Sin Kang dan menghantamnya. Heng Si Khek tidak menduga serangan balasan itu, kontan isi perut dan dadanya rontok hingga ia tewas.
Sinar mata Suma Bing menyapu pandang ke arah nyonya muda itu, serunya penuh kepedihan, "Kaukah ini?"
Nyonya muda itu mengangguk sayu, sahutnya, "Ya, akulah Engkoh Bing!" Nyonya muda berwajah ayu itu adalah putri Perkampungan Bumi, yaitu Pit Yau Ang.
"Siapa dia?" senggak Phoa Kin Sian dingin.
Suma Bing tertawa kecut, katanya, "Adik Sian, dialah Pit Yau Ang!"
"O!" seru Phoa Kin Sian terperanjat. Tersipu, ia maju mendekat sambil berseru riang, "Oh, adikku!"
Pit Yau Ang melengak, tanyanya, "Kau..."
"Akulah Phoa Kin Sian!"
"O, Cici, terimalah hormat adikmu!" sambil berkata, ia membungkuk memberi hormat. Tersipu, Phoa Kin Sian menarik tangannya serta berseru, "Jangan, Dik, tidak perlu banyak peradatan!"
Suma Bing merasa terpukul batin. Meskipun lahirnya sikap Phoa Kin Sian dingin dan kaku, hakikatnya ia adalah perempuan yang polos dan welas asih. Buktinya, terhadap Pit Yau Ang, ia sama sekali tidak merasa iri atau cemburu. Tentu saja, Pit Yau Ang sendiri merasa terhibur dan lega. Memang, sikap dan tingkah laku Phoa Kin Sian benar-benar di luar dugaannya.
Sekilas Suma Bing menyapu pandang tiga mayat di atas tanah, lalu berseru kejut, "Wah, Hui Bing Khek telah melarikan diri." Phoa Kin Sian dan Pit Yau Ang celingukan ke empat penjuru. Benar juga, bayangan Hui Bing Khek sudah menghilang tanpa jejak. Melihat salah satu setan gantung, ia berseru, "Dia ini mati karena keracunan?" Wajah Phoa Kin Sian sedikit berubah.