Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 105

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 105

Pit Yau Ang melirik ke arah Phoa Kin Sian dan menyahut, "Dia ini mati di tangan Cici?"

Berkerut alis Suma Bing, tanyanya, "Adik Sian, kau juga pintar menggunakan racun?"

Phoa Kin Sian tertawa kikuk, katanya, "Ya, tidak begitu mahir. Karena terpaksa dan terdesak, baru aku turun tangan!"

Berputar cepat pikiran Suma Bing. Dirinya terkena racun dalam racun yang disebarkan Racun Diracun, kebetulan dia mempunyai *Tan Tiang Tan* untuk memunahkan. Sekarang diketahui pula bahwa istrinya juga pandai menggunakan racun; hal ini mustahil dan kurang masuk akal.

Bersama ini lantas terlintas ucapan si maling bintang, Si Ban Cwan, tentang bibinya, Ong Fong Jui, dan Phoa Kin Sian. Katanya, asal-usul perguruan mereka sedikit mencurigakan. Tapi, karena mengingat pantangan dan peraturan dunia persilatan, dia tidak mau menjelaskan secara terang. Sekarang lebih baik dia menanyakan secara langsung kepada istrinya, maka tercetus pertanyaannya, "Adik Sian, aku ada satu soal hendak bertanya padamu!"

"Tentang urusan apa?"

"Tentang asal-usul perguruanmu!"

Phoa Kin Sian bersikap serba susah dan tertawa pahit, katanya, "Engkoh Bing, maaf Siau Moay tidak bisa memberitahukan kepadamu!"

"Mengapa?"

"Karena peraturan perguruan sangat keras!"

Suma Bing menghela napas, ujarnya, "Kalau demikian, aku tidak memaksa kau!" Habis berkata, lalu dia berpaling ke arah Pit Yau Ang dan berkata, "Adik Ang, kenapa kau tinggalkan Perkampungan Bumi..."

"Perkampungan Bumi? Hahahahahahaha..." Terdengar suara gelak tawa yang keras dan berat sampai menggetarkan telinga. Kontan tergetar perasaan ketiga orang ini. Di tengah suara gelak tawa itu, tampak seorang tua gagah kereng mengenakan jubah merah pelan-pelan menghampiri ke arah mereka bertiga.

"Tuan ini orang kosen dari mana?" tanya Suma Bing dingin.

Orang tua jubah merah seakan tidak mendengar, langsung dia berlenggang sampai di depan mereka, kira-kira berjarak satu tombak, baru menghentikan langkahnya. Kedua matanya bagai mata elang memancarkan sinar terang menatap tajam ke arah Pit Yau Ang.

Melihat kelakuan orang tua yang kurang ajar ini, bangkitlah kemarahan Suma Bing. Bentaknya keras, "Hei, Tuan tidak tuli, bukan?"

Pelan-pelan baru orang tua jubah merah ini mengalihkan pandangannya, tanyanya, "Buyung, kau ini gembar-gembor terhadap siapa?"

"Terhadap kau!"

"Buyung seperti kau ini memanggil aku dengan sebutan tuan?"

"Karena kupandang kau seorang laki-laki!"

Mata elang si orang tua jubah merah melotot besar, memancarkan cahaya kehijauan yang berjelalatan. Katanya sambil tertawa kering, "Siapa namamu?"

"Suma Bing!"

"Dari perguruan mana?"

"Tiada perlu kuberitahu kepada Tuan!"

"Kau inikah buyung yang kenamaan di kalangan Kangouw sebagai Sia Sin kedua?"

"Itulah Cayhe adanya!"

"Kedua anak jelita ini apamu?"

"Istriku!"

"Hehehe, besar keberuntunganmu, sayang mujur tapi kurang abadi!"

Suma Bing mendengus dingin, semprotnya, "Tuan, apa maksudmu itu?"

"Kau tetap memanggil Lohu sebagai tuan?"

"Bagaimana anggapan Tuan aku harus memanggil?"

"Locianpwe!"

"Kau tidak sembabat!"

"Kenapa?"

"Pokoknya tidak sembabat!"

"Hm, kau pintar membual dan pintar putar lidah!"

"Dalam Bulim mengutamakan keluhuran dan budi pekerti, tiada perbedaan antara tua dan muda."

"Buyung, agaknya kau terlalu fanatik akan kekuatan ilmu silatmu?"

"Ini juga kurang benar, silat atau kekuatan tidak lepas dari pengertian kebajikan."

"Jadi anggapanmu aku ini tidak pandai silat juga kurang bijaksana?"

"Tepat sekali. Terhadap kedua pengertian itu sedikit pun Tuan tidak menonjolkan bahwa Tuan sudah paham, padahal Tuan adalah seorang tua yang harus dijunjung puji!"

"Nanti sebentar akan Lohu tunjukkan kepada kalian." Lalu dia berputar menghadapi Pit Yau Ang, tanyanya, "Pit Gi itu apamu?"

"Orang tuaku!"

"Bagus sekali, kau ikut Lohu saja. Aku tidak perlu khawatir lagi Pit Gi bakal mengeram diri terus seperti bulus."

"Kau ini mengoceh apa?" semprot Pit Yau Ang marah.

"Budak, berani kau berkata kurang ajar?"

"Akan kumaki kau, orang tua tidak tahu mampus..."

"Cari mati!"

"Belum tentu!" Pit Yau Ang tidak tahu ada permusuhan apa antara orang tua jubah merah ini dengan ayahnya, namun kata-kata 'mengeram diri sebagai bulus' benar-benar menusuk pendengarannya. Baru saja selesai perkataannya, kelima jarinya dipentang, terus mencengkeram ke arah batok kepala si orang tua jubah merah.

Kedua mata orang tua jubah merah melotot keluar bagai kelereng; sedikit pun dia tidak bergerak atau berkelit. Tadi sekali cengkeram dengan mudah saja Pit Yau Ang mencengkeram mati Bau Bong Khek, salah satu dari empat setan gantung yang kenamaan, maka dapatlah diukur betapa hebat serangan cengkeraman ini. Begitu melihat orang tua jubah merah tidak menyingkir dan tidak bergerak, segera ia tambah tenaganya berlipat ganda pada kelima jari tangannya, langsung mengarah batok kepala orang itu.

Sudah dalam dugaan bahwa orang tua jubah merah ini bakal pecah dan tercengkeram hancur batok kepalanya. Tapi lantas terdengar seruan kaget tertahan. Tampak Pit Yau Ang mundur terhuyung beberapa langkah, wajahnya menunjukkan keheranan. Karena waktu tangannya menyentuh batok kepala orang, yang terasa tangannya mencengkeram selapis besi baja yang kokoh kuat. Karena terlalu besar tenaga yang dia gunakan untuk mencengkeram, sampai tangan sendiri yang terasa tergetar linu.

Keruan bukan kepalang kejut Suma Bing dan Phoa Kin Sian. Entah dari mana asal-usul orang tua jubah merah ini. Sedemikian hebat dan tinggi kepandaiannya sampai berani terang-terangan membiarkan dirinya dicengkeram batok kepalanya tanpa kena cedera sedikit pun juga.

Orang tua jubah merah menyeringai puas, katanya, "Budak kecil, kau masih terpaut sangat jauh. Cengkeramanmu ini hanya menggaruk-garuk gatal di atas kepalaku. Lebih baik kau menurut saja ikut Lohu pergi, atau kau ingin Lohu turun tangan?"

Sudah kejut dirangsang amarah lagi, saking dongkol sampai tubuh Pit Yau Ang gemetar. Bentaknya, "Siapa kau sebenarnya?"

Orang tua jubah merah ngakak dingin, serunya, "Setelah melihat ini, pasti kau akan tahu." Baru saja lenyap suaranya, entah cara bagaimana dia bergerak, tahu-tahu pergelangan tangan Pit Yau Ang sudah digenggam keras olehnya. Gerak tubuh dan cara turun tangan yang begitu aneh benar-benar luar biasa dan tiada bandingannya.

"Tangan Setan!" tanpa terasa tercetus seruan kaget dari mulut Phoa Kin Sian.

Orang tua jubah merah manggut-manggut, "Terhitung kau yang luas pengalaman!"

"Kalau tidak salah dugaanku," kata Phoa Kin Sian bersikap sungguh-sungguh, "Tuan pasti adalah Ang Go Ngo Tang, salah satu dari Kui Tha Siang Go, bukan?"

"Tepat sekali, memang itulah Lohu adanya."

Tergetar perasaan Suma Bing. Tidak nyana bahwa si orang tua jubah merah ini ternyata adalah anak buah Kui Tha, salah satu tempat keramat yang disegani oleh kaum persilatan. Entah ada permusuhan atau pertikaian apakah antara Kui Tha (Menara Iblis) dan Perkampungan Bumi, atau mungkin antara Ang Go Ngo Tang dengan Raja Bumi, yaitu Pit Gi, mempunyai ganjelan hati pribadi. Dilihat cara orang turun tangan, agaknya ilmu silat Kui Tha juga sangat mengejutkan dan tidak kalah hebatnya.

Namun, Pit Yau Ang adalah istrinya, mana bisa dirinya berpeluk tangan tinggal diam. Maka segera dia tampil ke depan dan berseru, mengancam, "Lepaskan dia!"

Ang Go Ngo Tang atau Gandarwa Merah Ngo Tang mengekeh iblis, serunya, "Buyung, ringan benar ucapanmu!"

Desis Suma Bing dengan geramnya, "Tuan hendak berbuat apa kepada dia?"

"Tersangkut-paut apa dengan kau buyung kecil ini?"

"Dia adalah istriku, kenapa tiada sangkut-pautnya dengan aku?"

"Lalu kau buyung kecil ini hendak apa?"

"Lepaskan dia!"

Sebagai putri kesayangan Perkampungan Bumi, selama hidup baru pertama kali ini Pit Yau Ang merasa dihina dan direndahkan. Betapa malu dan gusarnya, namun karena jalan darah sendiri dicengkeram oleh lawan, tenaga untuk bergerak saja tidak ada. Saking gugup dan gelisah, keringat membanjir keluar membasahi tubuh.

Terdengar si Gandarwa Merah Ngo Tang mencemooh acuh tak acuh, "Buyung, kalau kau adalah suaminya, tentu kau adalah salah satu anggota dari Perkampungan Bumi juga. Baiklah kupinjam mulutmu untuk memberi kabar kepada Pit Gi. Katakan kepadanya; dalam satu bulan dia harus tiba di Telaga Hitam dalam perbatasan Kui Ciu dan Sucwan untuk menyelesaikan urusan lama. Dalam jangka sebulan ini kujamin keselamatan putrimu ini, selewatnya..."

"Selewatnya satu bulan bagaimana?"

"Keselamatannya susah diramalkan!"

Suma Bing tertawa hambar, serunya, "Aku minta kau lepaskan dia!"

"Mengandal kau, masih belum mampu!"

"Baiklah, biar kucoba!" Di tengah suara bentakannya secepat kilat ia turun tangan, langsung kirim sebuah pukulan mengarah dada si Gandarwa Merah ini.

*Blang!* Kontan Gandarwa Merah Ngo Tang tergetar mundur tiga langkah. Terdengar dia malah bergelak tawa, serunya, "Buyung, hebat juga tenaga dalammu, tapi masih belum mampu mengapakan Lohu!"

Berubah air muka Suma Bing, kecut perasaan hatinya. Secara keras, si Gandarwa Merah dibiarkan digenjot dadanya, ternyata tanpa kurang suatu apa. Betapa dahsyat himpunan kekuatan tenaga dalamnya ini, kenyataan si Gandarwa Merah hanya tergetar mundur tiga langkah.

Naga-naganya memang dirinya bukan tandingan orang, tapi mana ia mau menyudahi begitu saja. Maka begitu mengerahkan hawa murninya, terus disalurkan ke arah jari tengah tangan kanan, kontan Cincin Iblisnya memancarkan cahaya terang menyilaukan mata. Agaknya Gandarwa Merah ini insaf akan kekuatan Cincin Iblis yang hebat itu, air mukanya sedikit berubah tegang.

Wajah Suma Bing penuh diselimuti kekejaman, seringainya dingin, "Kau lepas tangan tidak?"

"Tidak!"

"Kalau tidak, kukremus kau hidup-hidup!"

"Kau tidak akan mampu!"

"Lihat saja nanti!" Di mana sorot cahaya Cincin Iblisnya berkelebat, tenggorokan Gandarwa Merah Ngo Tang yang diincar. Gandarwa Merah mengelak ke samping, sambil bergerak itu, tubuh Pit Yau Ang dibawa berputar untuk memapaki cahaya serangan Cincin Iblis.

Diam-diam Suma Bing mengumpat dan mencaci kelicikan lawan. Tersipu-sipu ia harus mendoyong tubuh sambil menekuk lengan tangannya sehingga sorot cahaya Cincin Iblis mencong ke samping, terpaut serambut hampir saja Pit Yau Ang kena terluka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment