Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 106

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 106

Dalam sekejap bagaikan kilat, Phoa Kinian mengayunkan tangannya tanpa suara, menghantam ke arah Gandarwa Merah Ngo Tang. Serangan mendadak ini, betapa pun tinggi kepandaian orang yang diserang, sulit untuk dihindari.

Bayangan merah berkelebat, lalu tiba-tiba Gandarwa Merah Ngo Tang sudah bergeser sejauh satu tombak lebih, kemudian ia menyeringai sambil berpaling.

"Latihanmu ini masih kurang sempurna." Bukan saja serangannya gagal, ia malah diejek. Phoa Kinian merasa sangat malu dan gusar hingga wajahnya pucat gemetar. Kecepatan reaksi Gandarwa Merah dalam menghadapi serangan musuh sungguh sangat mengejutkan.

Sekali membanting kaki, tiba-tiba bayangan Suma Bing menghilang.

"Bu siang sin hoat!" seru Gandarwa Merah kaget. Badannya berputar cepat seperti gasing.

"Lepaskan dia!" Tiba-tiba tangan Suma Bing sudah mencengkeram jalan darah Kian kin hiat di sebelah kanan lawannya. Namun, betapa kaget ia ketika menyentuh badan orang itu; tubuhnya keras bagai besi baja. Ia tertegun, dan pada detik itulah Gandarwa Merah Ngo Tang berkelebat lolos selicin belut. Suma Bing merasa sangat kesal.

Gandarwa Merah Ngo Tang menatap dengan heran seraya berkata, "Buyung, sabar sebentar, aku ada sedikit bicara."

"Lekas katakan!"

"Benarkah kau murid Sia sin Kho Jiang?"

"Untuk apa aku membual?"

"Lalu dari mana kau peroleh ilmu Bu siang sin hoat tadi?"

"Dari mana aku belajar, kau tidak perlu tahu!"

"Buyung, kuharap kau bicara terus terang. Jangan sampai kau menyesal nantinya!"

"Menyesal? Apa maksudmu?"

"Apa hubunganmu dengan Bu siang Hujin?"

Suma Bing menimbang-nimbang; apakah musuhnya takut pada nama besar Bu siang Hujin, atau ada sebab lain? Ia menyahut sinis, "Tiada sangkut-paut apa pun!"

"Lalu Bu siang sin hoat yang kau kembangkan tadi kau pelajari dari mana?"

"Tidak perlu kuberitahukan kepadamu!" Wajah tua Gandarwa Merah berkerut dengan nada berat, "Benar-benar tiada sangkut-paut apa pun?"

"Tidak salah!"

"Bagus sekali. Seperti yang kukatakan tadi, sampaikan pesan kepada Pit Gi bahwa dalam satu bulan ia harus tiba di Telaga Air Hitam untuk menyelesaikan urusan lama dan menjemput putri kesayangannya ini. Lewat dari satu bulan, segala akibatnya sulit dikatakan!" Usai berkata sambil mengempit Pit Yau Ang, tubuhnya berkelebat jauh.

"Lari ke mana kau!" Suma Bing membentak gusar, tubuhnya berkelebat mencegat di hadapan lawan.

Gandarwa Merah mengekeh gila-gilaan, "Buyung, kalau kau tidak mau dia mati, lebih baik kau tahu diri." Tangannya menekan jalan darah Tay yang hiat di pelipis Pit Yau Ang, lalu mengancam, "Hanya dengan tenaga jari ini..."

"Kau berani!"

"Ini bukan soal berani atau tidak."

"Ingin kutanya, kau sedang menjalankan tugas atau apa?"

"Ya, aku sedang menjalankan tugas!"

"Menerima tugas dari siapa?"

"Majikan dari Menara Iblis!"

"Ada pertikaian apa antara Menara Iblis dengan Perkampungan Bumi?"

"Bocah kecil seperti kau tidak perlu tahu."

"Justru aku ingin bertanya!"

"Aku juga tidak akan memberitahumu." Saking murka, kepala Suma Bing seolah ingin meledak. Namun, ia tidak bisa sembarangan bertindak karena tenaga dalamnya masih kalah jauh.

Ia mengejek, "Ngo Tang, betapa tenar dan besar nama majikan Menara Iblis kalian, sungguh tak disangka bisa menyuruh anak buahnya melakukan perbuatan rendah yang memalukan ini?"

Wajah Gandarwa Merah membiru, ia menyahut sinis, "Kalau tidak begini, Pit Gi selamanya akan bersembunyi seperti bulus..."

"Kentut!"

"Keparat, kau memaki siapa?"

"Memaki kau, mau apa?"

"Kau cari mati!" Tanpa membuang waktu, ia menerjang dengan kecepatan tinggi, mencengkeram ke dada Suma Bing dengan jurus yang aneh dan ajaib. Tokoh silat kelas atas pun akan sulit menghindar, namun Suma Bing berhasil meloloskan diri berkat keampuhan Bu siang sin hoat.

Gandarwa Merah menyeringai, "Buyung, kalau kau mau menerangkan di mana letak Perkampungan Bumi, segera kulepaskan dia!"

Selama diringkus, Pit Yau Ang tidak membuka mulut. Kini ia bersuara, "Engkoh Bing, biarkan saja, dia takkan dapat berjalan jauh!" Suma Bing tertegun, tidak mengerti maksud perkataan istrinya.

Gandarwa Merah tertawa sombong, "Justru aku tidak percaya bualanmu!"

Tiba-tiba sebuah suara serak dan dingin menyahut, "Bualannya itu harus kau percaya!"

Semua orang terperanjat. Tampak seorang tua memegang kipas, dengan ikat kepala sutra dan jubah panjang bergambar patkwa, berdiri tidak jauh dari mereka. Suma Bing segera membungkuk hormat, "Menghadap pada Locianpwe!" Phoa Kinian pun turut memberi hormat. Pendatang itu adalah Kang kun Lojin yang kenamaan.

Kang kun Lojin menunjuk Phoa Kinian, "Dia ini..."

"Istriku!" sahut Suma Bing cepat.

Kang kun Lojin mengamati Phoa Kinian cukup lama dengan wajah yang perlahan menggelap. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepala, membuat Suma Bing bingung. Phoa Kinian hanya menunduk terpekur.

Sesaat kemudian, Suma Bing mendengar suara halus lirih di telinganya: "Buyung, aku memiliki sedikit ilmu meramal. Dalam seratus hari ini, istrimu bakal tertimpa bencana. Berhati-hatilah dan waspadalah!"

Wajah Suma Bing berubah pucat. Ia tahu Kang kun Lojin bukanlah orang yang suka membual. Apalagi Phoa Kinian sedang mengandung.

Pandangan Kang kun Lojin beralih ke Gandarwa Merah Ngo Tang, "Lepaskan dia!" Suaranya mengandung kekuatan yang tidak terbendung. Gandarwa Merah mundur ketakutan, "Apakah Cianpwe ini Kang kun Lojin?"

"Hm, tepat sekali!"

"Wanpwe menerima tugas dan terpaksa..."

"Lepaskan dia dulu!"

"Baiklah!" Gandarwa Merah segera melepaskan Pit Yau Ang.

Pit Yau Ang yang merasa geram karena sempat tertangkap, segera membalikkan tangannya dan menampar. *Plak!* Kontan Gandarwa Merah terhuyung lima langkah.

"Siau Ang, kau mundur!" seru Kang kun Lojin. Pit Yau Ang pun mundur ke samping Suma Bing.

Kang kun Lojin menatap Gandarwa Merah, "Aku bekerja tidak pernah kepalang tanggung. Dalam jangka sebulan, Pit Gi pasti menepati janjinya ke Telaga Air Hitam. Sekarang kau boleh pergi!"

Tanpa bicara lagi, Gandarwa Merah segera melejit pergi.

Pit Yau Ang mengerutkan kening, "Paman, sebenarnya ada pertikaian apa antara ayah dengan majikan Menara Iblis?"

"Tanyakan sendiri kepada ayahmu," jawab Kang kun Lojin sambil mengipas diri.

"Ia tidak pernah menyinggung urusan ini."

"Tentu saja tidak semua urusan diceritakan kepadamu. Segera kembali ke Perkampungan Bumi dan sampaikan pesan itu. Jika aku yang mewakilinya, janji ini harus ditepati."

"Tetapi..."

"Bagaimana, berat meninggalkan suamimu?" goda Kang kun Lojin.

"Tua-tua keladi, makin tua makin jadi!" semprot Pit Yau Ang dengan wajah merah padam.

Kang kun Lojin berkata serius, "Jika majikan Menara Iblis mengutus orang untuk meringkusmu guna memaksa ayahmu keluar, ini bukan urusan sembarangan. Kau harus segera kembali agar ia bisa bersiap."

"Engkoh Bing, kapan kau akan pulang?" tanya Pit Yau Ang.

Suma Bing tertawa kecut, "Aku? Urusanku belum selesai, kapan kembali belum bisa ditentukan." Matanya melirik ke arah Phoa Kinian dengan rasa penyesalan yang dalam. Phoa Kinian hanya tertawa tawar.

Pit Yau Ang menghampiri Phoa Kinian, "Cici, bukankah kau sudah berjanji menetap bersama Engkoh Bing di Perkampungan Bumi?"

"Ya, aku pernah berjanji."

"Mengapa tidak ikut aku sekarang?"

"Jangan, ada urusan pribadi yang belum selesai."

"Urusan apa?"

"Belum bisa kuberitahukan, tapi ada satu pertanyaan: Apa kau benar-benar mencintainya?"

"Ini..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment