Chapter 107
"Apa maksud Cici?"
"Jawablah menurut isi hatimu."
"Ya, memang aku mencintainya, bahkan perkawinan kami sudah direstui oleh orang tuaku."
"Harap selalu ingatlah perkataanku ini, berilah kebahagiaan kepadanya."
Pit Yau Ang menunjukkan raut wajah tidak mengerti dan termangu heran, katanya: "Cici, mengapa kau berkata demikian?"
"Kelak kau akan paham!"
Alis Suma Bing berkerut semakin dalam. Ucapan atau bisikan Kangkun Lojin tadi membuatnya risau dan waswas. Pikirnya, apakah benar dalam jangka seratus hari ini Phoa Kin Sian bakal tertimpa malapetaka? Ini benar-benar menakutkan. Cara yang sempurna untuk mengatasinya adalah dengan segera mengantarkan Hoan hun tan ke dalam selokan untuk menolong bibinya, Ong Fong Jui, lalu secara diam-diam memberi peringatan kepada bibinya supaya mengawasinya selalu tanpa berpisah selangkah pun. Karena pikiran ini, hatinya sedikit terhibur dan dada terasa lapang.
Terdengar Kangkun Lojin mendesak lagi: "Siau Ang, kau segera berangkat!"
Dengan penuh rasa berat, Pit Yau Ang berpisah kepada mereka bertiga, terus berlari menghilang di kejauhan.
Kangkun Lojin mengibaskan lengan bajunya serta berkata: "Aku orang tua juga harus pergi. Buyung, selamat bertemu!"
"Selamat bertemu!"
Begitu habis ucapannya, bayangan Kangkun Lojin juga lantas menghilang. Suma Bing terlongong memandangi Phoa Kin Sian; hatinya penuh diliputi khawatir dan ketakutan.
Kata Phoa Kin Sian sambil mengulum senyum: "Engkoh Bing, kenapa kau memandangku demikian?"
"Oh, tidak apa-apa." Sudah tentu dia tidak akan memberitahukan bisikan Kangkun Lojin kepada Phoa Kin Sian.
"Agaknya ada urusan yang mengganjal hatimu?"
"Adik Sian, jejak adikmu..."
Berubah gelap air muka Phoa Kin Sian, sahutnya lesu: "Belum ketemu!"
Tanpa terasa tenggelam juga perasaan Suma Bing. Pedang darah yang dibawa lari oleh Phoa Cu Giok ini benar-benar memengaruhi segala rencananya. Tapi orang itu adalah adik iparnya sendiri; dia hanya dapat mengeluh dalam hati, maka katanya dengan pasrah: "Cari saja pelan-pelan, tak perlu tergesa-gesa."
"Tidak, Engkoh Bing, aku harus terus mencarinya sampai ketemu."
"Urusan ini biarlah serahkan saja kepadaku..."
"Tidak mungkin..."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Dia orang yang kukuh dan senang membawa adatnya sendiri. Aku tidak suka terjadi hal-hal yang jelek akibatnya."
"Kau tidak perlu khawatir, aku pasti..."
"Sudah kukatakan tidak mungkin!"
"Tapi keadaanmu saat ini tidak leluasa banyak bergerak!"
"Kenapa?"
"Sebab kau... sedang mengandung dan tak lama lagi bakal melahirkan!"
Ucapan Suma Bing ini setengah benar. Tujuan Suma Bing adalah agar istrinya tidak berkelana seorang diri, karena dia khawatir ramalan Kangkun Lojin bisa menjadi kenyataan; hal itulah yang sangat menakutkan.
Kata Phoa Kin Sian tawar: "Itu tidak menjadi soal, toh bukan hendak bertempur mati-matian."
"Tapi aku tidak mengizinkan kau berbuat begitu!"
Merah mata Phoa Kin Sian, air mata sudah berlinang di kelopak matanya, ujarnya sedih: "Engkoh Bing, aku hanya punya seorang adik yang nakal dan tidak genah ini. Menurut pesan ayah dan bunda, aku harus menjaga dan melindunginya. Mungkin ini kesalahanku, akulah yang terlalu memanjakan sehingga dia menyeleweng dan tersesat. Kalau aku tidak mencarinya kembali, pasti dia bakal melakukan sesuatu hal yang siapa pun tidak berani membayangkan akibatnya..."
"Mari kita pulang dulu menilik Bibi Jui!"
"Dia, kenapakah suhu?"
"Untuk menyembuhkan luka dalamku karena tersesat dalam latihan, saat ini dia masih dalam keadaan pingsan!"
"Oh, lalu..."
"Aku sudah dapat memohon sebutir Hoan hun tan, kau tidak perlu khawatir."
"Syukurlah, mari cepat pulang!"
Berbarengan mereka berlarian melanjutkan perjalanan menuju ke selokan yang tidak bernama itu. Hati Suma Bing masih merasa waswas dan khawatir; dia tidak tahu apakah Hoan hun tan ini benar-benar manjur atau tidak. Kalau tidak manjur, bukankah bibinya bakal tertidur untuk selama-lamanya?
Hari itu, Suma Bing dan istrinya sudah tiba di depan selokan di mana sembilan hari yang lalu Suma Bing pergi mencari obat. Segera Suma Bing menekuk-nekuk jari menghitung, lalu katanya: "Adik Sian, bahaya betul, hari ini kebetulan adalah tepat hari kesepuluh!"
Baru saja selesai ucapannya, mendadak dari empat penjuru bermunculan beberapa bayangan manusia. Orang terdepan yang memimpin rombongan pendatang tidak diundang ini tak lain adalah Ketua Bwe Hwa Hwe, Chiu Thong, dan perempuan setengah umur yang cantik molek bersama Loh Cu Gi.
Kontan timbul nafsu membunuh Suma Bing. Dia berpikir dalam hati, kalau perempuan molek ini sudah menunjukkan diri, pasti Loh Cu Gi sendiri juga turut hadir di sini. Dendam dan sakit hati mulai bergejolak dalam darahnya. Diam-diam ia merogoh kantong dan mengeluarkan Hoan hun tan, terus diserahkan kepada Phoa Kin Sian, serta katanya: "Adik Sian, segera kau menyingkir. Bibi rebah di atas pembaringan kamar dalam, lebih penting kau pergi menolong jiwanya!"
"Lalu kau bagaimana?"
"Hendak kubunuh semua para kurcaci rendah ini!"
"Kita bersama ganyang mereka dulu baru masuk ke dalam!"
"Jangan, segala urusan susah diramalkan, jangan kau main kelakar dengan jiwa bibi. Hari ini adalah hari terakhir."
"Apa kau cukup kuat menghadapi mereka?"
"Mereka sudah mendesak tiba, lekas kau pergi. Jangan sampai diketahui rahasia di dalam selokan di bawah sana."
"Hm, kalau ada orang berani masuk ke selokan sana, berarti mereka mencari mati!"
"Adik Sian, lekas pergi!"
Phoa Kin Sian mengulurkan tangan menyambut Hoan hun tan, terus melejit tinggi berlari keluar...
"Lari ke mana?" di tengah suara bentakan yang riuh rendah, empat orang jagoan dari Bwe Hwa Hwe maju mencegat jalan larinya.
"Cari mati!" terdengar Suma Bing juga menghardik keras, terus berkelebat maju.
Belum sempat Suma Bing turun tangan, empat jagoan Bwe Hwa Hwe yang mencegat jalan keluar Phoa Kin Sian itu baru saja terpaut setombak di depan Phoa Kin Sian, mendadak melolong tinggi, terus roboh kelejetan, jiwanya lantas melayang. Tanpa terasa Suma Bing sendiri juga tertegun heran, cepat-cepat ia hentikan langkahnya.
Maka terdengarlah seruan kejut dan kaget saling susul dari empat penjuru: "Ada racun!"
"Awas, sundel ini menebarkan racun!"
Dalam keributan itulah sekejap mata saja Phoa Kin Sian sudah lolos keluar dari kepungan. Keadaan yang di luar dugaan ini benar-benar membuat ciut dan gentar nyali setiap jagoan dari Bwe Hwa Hwe. Mendadak Suma Bing memutar tubuh menghadap ke arah Ketua Bwe Hwa Hwe, Chiu Thong, dan perempuan cantik itu. Wajahnya membeku diliputi hawa membunuh. Musuh-musuhnya yang mengepung di empat penjuru mulai mendesak maju, tiga orang satu kelompok, dua orang satu iringan.
Tercekat hati Suma Bing, terang lawan agaknya tengah mengatur satu barisan untuk mengepung dirinya. Terdengar Ketua Bwe Hwa Hwe, Chiu Thong, tertawa menyeringai, ujarnya: "Suma Bing, kau menyerah saja untuk diringkus!"
Suma Bing mendengus, ejeknya: "Chiu Thong, hari ini kau pasti mati!"
Baru saja suaranya lenyap, tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat tiba di depan Ketua Bwe Hwa Hwe itu, terus mengirim sebuah pukulan mengarah dada...
Gerak-geriknya ini adalah menggunakan ilmu Bu Siang Sin Hoat, kecepatannya susah diikuti oleh pandangan mata, tapi begitu tangannya menyerang, mendadak ia kehilangan bayangan musuhnya. Malah pada saat itu juga ia rasakan beberapa jalur angin pukulan melanda tiba dari berbagai jurusan menyerang dirinya. Benar-benar hebat angin pukulan gabungan ini, kontan Suma Bing terpental balik ke tempat asalnya lagi.
Bwe Hwa Hwe Kontra Perkampungan Bumi
Sungguh kejut Suma Bing bukan kepalang, terang dirinya sudah terkepung dalam barisan. Barisan apa yang diatur oleh musuhnya, dia juga tidak tahu. Terdengar perempuan cantik itu tertawa genit, serunya: "Suma Bing, kau benar-benar hebat dapat lolos dari kurungan penjara bawah tanah. Tapi hari ini seumpama kau tumbuh sayap juga jangan harap dapat terbang keluar."
Suma Bing menggeretakkan gigi: "Siluman rase, aku ingin jiwamu!"
Kiu Yang Sin Kang dikerahkan sampai sepuluh bagian, terus dihantamkan keluar. Sejak meminum darah pusaka Naga Bumi, lwekangnya sudah bertambah berlipat ganda, maka di antara angin pukulannya itu samar-samar sudah mengandung berkelebatnya sinar merah.
Sedikit menggoyang badan, perempuan cantik setengah umur itu tahu-tahu sudah menggeser kedudukan. Maka pukulan Suma Bing yang mengejutkan ini mengenai tempat kosong lagi.
Kata Ketua Bwe Hwa Hwe, Chiu Thong, dengan nada mengancam: "Suma Bing, kalau kau ingin melawan, itulah mimpi belaka. Kau seorang laki-laki harus tahu diri dan pasrah nasib saja. Jikalau barisan ini kugerakkan, kau, Sia Sin kedua, tidak lebih seperti anjing yang bergulingan di atas tanah saja."
Hampir meledak dada Suma Bing, bukan saja karena diejek dan dihina, tetapi pukulan keduanya yang mengenai tempat kosong tadi menurunkan semangat tempurnya. Di sinilah baru ia sadari, sebelum mengetahui seluk-beluk barisan ini, janganlah sembarangan bergerak; itu akan sia-sia dan menghabiskan tenaga saja. Maka dia menahan gusar dan menekan perasaan, matanya tajam dan memasang kuping, bersiaga mencari kesempatan untuk lolos.
Perempuan cantik setengah umur itu berseri girang, katanya kepada Chiu Thong: "Thongji, gerakkan barisan, supaya tidak membawa buntut di kelak kemudian hari..."
Ketua Bwe Hwa Hwe sedikit mengangguk, terus mengangkat sebelah tangan memberi aba-aba.
Dalam sekejap itu bayangan orang terus berkelebatan, angin pukulan juga terus bergulung dan menerjang tiba dari empat penjuru seperti angin lesus. Suara benturan yang menggelegar tak henti-hentinya sehingga memekakkan telinga, angin pukulan yang dahsyat seumpama gunung gugur terus melanda bergantian menerjang ke tengah dari berbagai penjuru, terus menebar dan berputar balik lagi. Betapapun Suma Bing sudah menggunakan seluruh kekuatannya untuk melindungi tubuh, bagaimana pun susah mengendalikan badan sendiri. Tubuhnya tergoyang gontai dan sempoyongan ke kanan-kiri, terbawa arus angin pukulan yang mengekang dari luar.