Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 108

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 108

Kekuatan pukulan itu sendiri amblas ditelan gelombang pukulan gabungan para musuhnya tanpa meninggalkan jejak. Dalam keadaan demikian, betapa tinggi pun *lwe-kang*-nya, ia pasti takkan kuat bertahan selama sepeminuman teh. Pada saat itu, mau tak mau ia harus menyerah dan diringkus saja.

Sungguh ia sangat menyesal. Sebetulnya ia sudah harus bergerak sebelum lawan sempat atau sempurna mengatur barisannya, tetapi sekarang sudah terlambat. Sesal kemudian tak berguna. Waktu terus berjalan tanpa menanti.

Keadaan Suma Bing sudah semakin payah karena tenaga tidak dapat mengimbangi kekerasan hatinya. Tubuhnya terus bergulingan mengikuti arus angin pukulan yang keras bergulung-gulung. Keadaan ini sangat berbahaya; ia sungguh tidak berani membayangkan jika dirinya kehabisan tenaga dan diringkus oleh musuh. Loh Cu-gi adalah musuh bebuyutannya. Jika dirinya jatuh ke tangan orang-orang Bwe-hwa-hwe, kematian hanyalah bagiannya.

Pada saat itulah, mendadak terdengar berbagai seruan kejut dan pekik kesakitan. Barisan yang mengepung itu menjadi ribut dan kocar-kacir. Kekuatan angin pukulan yang mengekang dirinya juga susut sebagian besar. Suma Bing menenangkan pikiran dan menghimpun semangat. Kini, dengan gampang ia dapat menerjang keluar dari kepungan barisan musuh. Saat matanya menyapu ke sekeliling, tampak dua orang berseragam hijau dan berpuluh orang berbaju hitam tengah bertempur seru melawan para jagoan Bwe-hwa-hwe.

Terutama kedua orang berseragam hijau itu; bagai banteng ketaton dan harimau kelaparan, cara bertempurnya hebat luar biasa. Di mana tangan bergerak dan kaki menendang, di situ terdengar seruan kesakitan. Dalam sekejap mata saja, mayat bergelimpangan di atas tanah; jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang lebih. Sekali pandang, Suma Bing sudah jelas bahwa mereka ini tak lain adalah anak buah dari Perkampungan Bumi. Kedua orang berseragam hijau itu tidak lain adalah *Sim-tong Tongcu* Song Liep-hong dan *Bu-tong Tongcu* Pau Bing-sam. Bahwa *Sim* dan *Bu* dua *tongcu* datang tepat pada waktunya memecahkan barisan dan menolong jiwanya, hal ini benar-benar di luar dugaan Suma Bing.

Betapa gusar dan murka perempuan cantik setengah umur itu dan Chiu Thong terlihat pada mimik wajah mereka yang merah padam. Susahlah dilukiskan betapa geram hati mereka. Maka terdengar Chiu Thong membentak keras, "Berhenti!" Gelanggang pertempuran seketika sunyi senyap.

Menggunakan kesempatan ini, segera *Sim* dan *Bu* dua *tongcu* maju menghadap Suma Bing sambil memberi hormat, "Sim-tong Tongcu, Song Liep-hong, menghadap *Huma*!" "Bu-tong Tongcu, Pau Bing-sam, menghadap *Huma*!"

Berkerut alis Suma Bing, ia berkata acuh tak acuh, "Sudahlah!"

"Terima kasih kepada *Huma*!"

"Kalian berdua sejak kini panggil saja namaku..."

"Hamba tidak berani."

Semua jagoan Bwe-hwa-hwe dari sang Ketua sampai anak buahnya saling pandang. Sungguh tidak menyangka bahwa Sia-sin kedua ternyata sudah menjadi *Huma* (menantu raja). Hal ini sebelumnya tidak diketahui oleh mereka.

Segera *Bu-tong Tongcu* Pau Bing-sam maju sambil membungkukkan tubuh serta berseru, "Harap *Huma* memberi petunjuk bagaimana kita harus bertindak!"

Sorot mata Suma Bing yang mengandung nyala kebencian menyapu ke seluruh gelanggang lalu berseru, "Harap kalian pimpin semua anak buahmu menjaga empat penjuru, jangan lepaskan satu orang pun."

"Terima perintah!"

Tiba-tiba perempuan cantik setengah umur mendesak maju ke arah Song Liep-hong serta bertanya, "Tuan ini dari aliran atau golongan mana?" Sebelum menjawab, Song Liep-hong memandang dulu Suma Bing. Segera Suma Bing menyanggah, "Jangan banyak mulut meladeni dia, jalankan perintah!"

"Baik!"

Begitu kedua *tongcu* ini mengeluarkan perintahnya, semua anak buahnya yang berseragam hitam segera berpencar ke empat penjuru mengepung di luar barisan. Jadi, situasi dalam gelanggang kini berubah; pihak Bwe-hwa-hwe yang semula mengepung kini berganti dikepung.

Sorot pandangan dingin Suma Bing menatap Ketua Bwe-hwa-hwe tajam-tajam, desisnya, "Chiu Thong, biar kusempurnakan kau dulu!" Tanpa terasa Ketua Bwe-hwa-hwe mundur satu langkah. Segera lima jagoannya melejit tiba menghadang di hadapannya untuk melindungi sang Ketua.

Pelan tapi pasti, selangkah demi selangkah, Suma Bing mendesak maju. Mimik wajahnya semakin gelap dirundung kekejaman yang buas. Situasi sangat tegang mencekam hati.

"Minggir!" disertai gertakan nyaring ini, mendadak Suma Bing menggerakkan kedua tangannya. Dengan kekuatan himpunan *lwe-kang*-nya sekarang, betapa dahsyat pukulannya ini susahlah diukur. Maka di mana angin pukulannya melanda, kontan terdengar jerit dan pekik kesakitan saling susul. Tiga bayangan manusia terpental terbang, sedang dua yang lain terguling-guling dengan muntah darah.

Bola mata Ketua Bwe-hwa-hwe, Chiu Thong, merah membara. Sambil mengertak keras, ia menerjang maju sambil menyerang dengan satu pukulan. Pukulannya ini sungguh hebat dan aneh sekali; jarang terlihat dalam dunia persilatan gaya serangan semacam ini. Tanpa berkelit atau menyingkir, Suma Bing malah memutar kedua tangannya terus memapak pukulan lawan secara kekerasan.

Kagetlah Ketua Bwe-hwa-hwe bukan kepalang; serta-merta gerak-geriknya menjadi lamban dan ragu-ragu. Sementara itu, sambil tertawa mengejek, tangan kanan Suma Bing bergerak melintang terus menyelonong menjojoh dada musuh. Baru saja serangannya ini sampai di tengah jalan, disusul pula oleh serangan tangan kiri; kecepatannya bagai kilat berkelebat.

Tersipu-sipu Ketua Bwe-hwa-hwe menjejakkan kaki melejit menyingkir. Dalam waktu yang bersamaan, dari sebelah belakang perempuan cantik setengah umur itu juga melancarkan serangan membokong punggung Suma Bing. Mendadak Suma Bing mengembangkan ilmu gerak kelit dari ilmu *Bu-siang-sin-hoat*. Tubuhnya berputar dan menggeser kedudukan selicin belut, maka tahu-tahu bayangannya sudah menghilang, terus terdengar dua kali seruan kaget dan kesakitan.

Perempuan cantik setengah umur bersama Ketua Bwe-hwa-hwe sama terhuyung mundur, wajah mereka pucat pasi. Terang mereka sudah terluka dalam yang tidak ringan oleh pukulan Suma Bing.

"Chiu Thong, kau rebahlah!" di tengah suara hardikan yang keras ini, terdengar pula lolong kesakitan. Tampak Ketua Bwe-hwa-hwe terhuyung limbung hampir roboh sambil muntah darah, tetapi akhirnya melosot di atas tanah. Tujuh bayangan manusia serempak berkelebat merintang di depannya.

"Kalian cari mati!" *Kiu-yang-sin-kang* menerbitkan gelombang dahsyat seumpama lahar gunung berapi menerpa ke arah tujuh musuhnya yang berani coba-coba merintangi. Maka terdengar pula jerit dan pekik menyayat hati saling susul; ketujuh tubuh manusia itu juga lantas beterbangan sungsang sumbel ke empat penjuru.

Bertepatan dengan saat itulah, mendadak terlihat selarik sinar merah disertai suara mendesis langsung meluncur ke arah Suma Bing. Sekonyong-konyong bayangan Suma Bing menghilang dan berputar secepat angin lesus; tahu-tahu ia sudah menggeser kedudukan tiga tombak jauhnya dari tempat ia berdiri semula. Sambil melambaikan angkin merahnya, perempuan cantik setengah umur itu menatap ke arah Suma Bing dengan pandangan berapi-api. Kiranya selarik sinar merah tadi bukan lain adalah kain ikat pinggangnya yang dibuat senjata untuk menyerang Suma Bing. Kalau tidak mengandalkan kesaktian *Bu-siang-sin-hoat*, sungguh sulit bagi Suma Bing dapat lolos dari serangan senjata lemas ini.

Maka, sambil mengempit Ketua Bwe-hwa-hwe, berkatalah perempuan cantik setengah umur itu dengan suara gemetar, "Suma Bing, selamat bertemu!"

Keras-keras Suma Bing mengejek, "Kau masih hendak lari?"

Sekali menjejakkan kaki, perempuan setengah umur itu melejit jauh terus berlari keluar membobol kepungan.

"Kembali!" sekali berkelebat tahu-tahu Suma Bing sudah mencegat di depannya terus menghantam ke arah musuhnya. Kontan dengan telak perempuan setengah umur itu terpental mundur beberapa langkah. Maka para jagoan Bwe-hwa-hwe lainnya beramai-ramai berlarian keluar hendak menyelamatkan jiwa sendiri. Tapi mereka tercegat dan dirintangi oleh anak buah Perkampungan Bumi yang sudah mengepung mereka.

Dalam keadaan yang terpaksa dan terdesak ini, maka berkatalah perempuan cantik setengah umur itu, "Suma Bing, apa yang hendak kau perbuat?"

"Aku ingin jiwa kalian!" ancaman yang mengandung keanyiran darah ini benar-benar menggiriskan semua pendengarnya.

Terang Ketua Bwe-hwa-hwe sudah terluka parah, perempuan setengah umur ini juga tidak ringan lukanya, mana ia kuat bertahan? Ditambah lagi para anak buah Perkampungan Bumi juga bukan sembarangan jagoan silat, pula mereka sudah berjaga di empat penjuru. Bagi Suma Bing, untuk menyapu habis seluruh jagoan Bwe-hwa-hwe bukanlah suatu hal yang sukar; seumpama membalik tangan saja gampangnya.

Setelah menyapu pandang ke seluruh gelanggang, berserulah Suma Bing, "Awas, aku hendak turun tangan." Peringatannya ini berarti dimulainya pembunuhan besar-besaran, keruan semua jagoan Bwe-hwa-hwe bergidik ketakutan.

Pada waktu itulah sekonyong-konyong sebuah bayangan orang meluncur tiba memasuki gelanggang. Waktu pandangan Suma Bing menatap ke arah bayangan yang baru tiba ini, tanpa terasa tergetar hatinya. Ternyata pendatang baru ini bukan lain adalah gadis serba hitam yang pernah bersua di dalam gedung kelenteng bobrok di Sengtoh tempo hari, yaitu murid *Pek-chio-lojin* yang mengaku bernama Siau-ling.

Sambil mengerling tajam, berkatalah gadis serba hitam itu dengan dingin, "Suma Bing, kita bertemu lagi?"

Suma Bing manggut-manggut, sahutnya, "Benar, kedatangan nona ini..."

"Suma Bing, apa kau masih ingat janji kita tempo hari?"

Suma Bing tertegun, sahutnya, "Tentu masih ingat!"

"Kau masih utang satu syarat kepadaku, ya benar!"

"Ya."

"Kalau begitu, sekarang juga nonamu hendak menagih hutangmu itu!"

"Sekarang?"

"Ya, sekarang juga!"

"Dapatkah nona memberi kelonggaran supaya aku dapat menyelesaikan urusanku di sini dulu?"

"Tidak bisa!"

Suma Bing serba salah dan tak habis mengerti. Naga-naganya kedatangan gadis berseragam hitam yang tepat pada waktunya ini bukan secara kebetulan belaka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment