Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 109

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 109

Untuk memohon sebutir Hoan hun tan, dirinya harus memenuhi syarat sebagai pengganti. Seorang laki-laki harus menepati ucapan, tidak boleh ingkar janji. Maka, ia berkata sambil mengertakkan gigi, "Baik, katakanlah!"

Gadis serba hitam itu menyeringai sinis, "Suma Bing, sebelum kuajukan syarat ini, perlu kiranya aku memperkenalkan diri!"

"Bukankah kau murid Pek Chio Lojin?"

"Benar, tapi yang kumaksud adalah asal-usulku!"

"Aku tidak ingin mengetahui riwayat hidup Nona, lebih baik..."

"Kau perlu dan harus mengetahui!"

"Mengapa?"

"Supaya kau dapat mati dengan tenang!"

Suma Bing tertawa hambar, "Kata-kata seorang laki-laki sejati pasti dapat dipercaya; berani bersumpah pasti berani mati. Aku tidak akan menyesal."

"Ya, nanti setelah aku memperkenalkan siapa diriku, kau takkan berani berkata demikian!"

"Kalau begitu, silakan katakan!"

"Aku bernama Loh Siau Ling!"

Suma Bing terlonjak, "Kau bermarga Loh?"

"Benar. Ini ibuku, bernama Ang Siu Li Ting Yan!" sambil berkata, ia menunjuk perempuan setengah umur itu.

Wajah Suma Bing berubah pucat, suaranya bergetar, "Dia adalah ibumu?"

"Tidak salah!"

"Jadi, kau ini adalah putri Loh Cu Gi?"

"Tepat sekali!"

Saking geram, timbul nafsu membunuh dalam diri Suma Bing. Ia mendesis bengis, "Aku harus membunuhmu!"

Loh Siau Ling mengekeh dingin, "Suma Bing, bayar dulu syarat yang kuajukan ini!"

Suma Bing tidak menyangka gadis serba hitam ini ternyata putri Loh Cu Gi, musuh bebuyutannya. Ia kembali berkata, "Aku harus membunuhmu!"

"Suma Bing, bukankah kau seorang ksatria?"

"Kenapa bukan?"

"Apakah ucapanmu dapat dipercaya?"

"Tentu!"

"Kalau begitu, dengar dulu syarat yang harus kuajukan."

Apa boleh buat, Suma Bing mengertakkan gigi, "Katakan!"

Loh Siau Ling tersenyum, "Syaratku sangat gampang, kau tutuk sendiri jalan darah mematikanmu!"

Saking kaget, Suma Bing terhuyung tiga langkah, serunya gusar, "Tidak mungkin!"

Loh Siau Ling mengejek, "Suma Bing, jadi ucapanmu dulu itu hanya omong kosong?" Bayangan kematian membuat seluruh tubuh Suma Bing merinding.

Jika ia harus menutuk sendiri jalan darah yang mencacatkan badan, bukankah itu sama dengan mengakhiri nyawanya? Akibatnya mungkin lebih mengenaskan daripada kematian. Baru sekarang ia sadar telah tertipu dan masuk perangkap, namun penyesalan sudah terlambat.

Apakah ia harus menepati janji dengan syarat kejam ini? Bukankah itu menjadikannya makanan empuk bagi musuh besarnya? Sakit hati orang tua dan dendam perguruan merangsang benaknya. Setelah berpikir sejenak, ia berkata, "Janjiku pasti kutepati, tapi setelah kalian menjadi mayat, baru bisa kulaksanakan!"

Loh Siau Ling membentak, "Suma Bing, tidak malukah kau? Jikalau aku tidak menjelaskan asal-usulku, jikalau waktu di Yok Ong Bio aku mengajukan syarat yang sama, apakah kau akan ragu? Apakah kau bakal mengeluarkan perkataan tadi?"

Suma Bing bungkam seribu bahasa. Memang, waktu di Yok Ong Bio, ia pasti menerima syarat itu tanpa ragu demi mendapatkan sebutir Hoan hun tan untuk menolong bibinya, Ong Fong Jui. Namun, pada hakikatnya, ia tidak rela mati di tangan putri musuh besarnya. Ini adalah pilihan antara hidup atau mati, sekaligus batas antara sumpah dan ingkar janji.

Keadaan seketika hening, namun suasana tetap tegang. Loh Siau Ling berkata lagi, "Suma Bing, kalau kau hendak menjilat ludahmu sendiri, katakan saja, aku tidak akan peduli lagi!"

Di bawah tekanan dendam kesumat dan rasa kebencian yang meluap, Suma Bing hampir saja menggila. Ia menggeram sambil mengertakkan gigi, "Sungguh menggelikan! Aku, Suma Bing, seorang laki-laki, masa harus ingkar janji terhadap kau? Kalau begitu, segeralah turun tangan, tutuklah jalan darah pencacatmu!" Suma Bing kembali terhuyung mundur.

Mendadak di antara kelompok jagoan Bwe Hwa Hwe terdengar seruan kaget dan ketakutan. Mereka menyiak ke kedua sisi, membuka jalan bagi seorang aneh berbaju hitam yang melangkah masuk. Ia tidak lain adalah Racun Diracun. Suma Bing menelan ludah. Lagi-lagi, seorang musuh yang harus ia bunuh telah datang.

Begitu memasuki gelanggang, dengan sorot mata dingin, Racun Diracun menyapu pandangan ke sekeliling, lalu berkata kepada Loh Siau Ling, "Kau ini yang menginginkan Suma Bing menutuk sendiri jalan darah pencacat tubuhnya?"

"Memang begitulah," sahut Loh Siau Ling.

"Mengapa?"

"Mengajukan syarat!"

"Syarat apa?"

"Ini bukan urusanmu, Tuan!"

"Belum tentu!"

"Jadi, Tuan juga ingin menangguk di air keruh?"

"Harus kulihat dulu, ini urusan apa dan untuk kepentingan apa?"

Loh Siau Ling menjawab, "Suma Bing mohon sebutir Hoan hun tan kepadaku, dia sendiri yang minta supaya aku mengeluarkan syarat apa pun untuk mengganti obat itu."

"Maka syarat Nona itu adalah menyuruh dia menutuk jalan darah sendiri supaya cacat tubuhnya?"

"Tidak salah!"

"Bukankah keinginanmu terlalu kejam?"

"Suma Bing boleh mengingkari janji atau tidak setuju jika ia merasa syaratku kejam atau keji!"

Suma Bing menyela dengan geram, "Kau jangan banyak mulut untuk mengekang aku! Aku tidak akan ingkar janji terhadap kau!" Ia berpaling kepada Racun Diracun, "Urusan ini harap Tuan jangan campur tangan!"

Racun Diracun menjengek, "Suma Bing, benarkah kau ingin mati?"

Sikap Suma Bing tetap angkuh, "Urusanku tidak perlu Tuan khawatirkan!"

Racun Diracun mengekeh panjang, "Suma Bing, sakit hati orang tuamu belum kau balas, dendam perguruan juga belum kau tuntaskan. Kalau sekarang kau bersikap demikian, kau akan menjadi orang berdosa sepanjang masa, anak yang tidak berbakti dan tidak mengenal kebajikan!"

Mendengar teguran yang menusuk hati itu, tubuh Suma Bing bergetar. Keringat membasahi dahinya. Ia sadar, namun sifat angkuh dan keras kepalanya membuat ia malu untuk ingkar janji.

Sementara itu, perempuan setengah umur tersebut tengah menghimpun tenaga untuk mengobati luka parah Chiu Thong. Para jagoan Bwe Hwa Hwe menatap Loh Siau Ling dengan penuh harap.

Tanpa menghiraukan Suma Bing, Racun Diracun kembali menghadapi Loh Siau Ling, "Siapa namamu?"

"Aku bernama Loh Siau Ling!"

"Ada permusuhan atau dendam apa antara kau dengan Suma Bing?" Racun Diracun agaknya belum tahu bahwa Loh Siau Ling adalah putri Loh Cu Gi.

Loh Siau Ling merasa sebal, "Tuan benar-benar hendak campur tangan?"

"Boleh dikata demikian!"

"Jadi Tuan hendak membantu Suma Bing untuk mengingkari sumpahnya?"

"Belum tentu. Apa kau tahu akibatnya setelah kau mengajukan syarat itu?"

"Akibat apa?"

"Bwe Hwa Hwe akan hancur dalam sekejap mata!"

"Huh, mengandalkan Tuan, apa mampu?"

"Kau tahu siapa yang berjaga di luar lingkungan ini?"

"Siapa?" balas Loh Siau Ling acuh tak acuh.

"Sim dan Bu, dua Tongcu serta anak buah dari Perkampungan Bumi."

Mendengar keterangan ini, semua anak buah Bwe Hwa Hwe terperanjat. Mereka tidak menyangka musuh yang mengepung di luar adalah anak buah Perkampungan Bumi yang ditakuti dunia persilatan. Wajah Loh Siau Ling berubah tegang, ia mundur dua langkah.

Racun Diracun mengejek, "Loh Siau Ling, terus terang kukatakan. Suma Bing adalah Huma dari Te Po, juga menjadi calon utama majikan Te Po yang akan datang. Cobalah kau berbuat menurut keinginan hatimu."

Wajah Loh Siau Ling berubah pucat. Tujuannya melenyapkan Suma Bing adalah untuk menghilangkan perintang bagi cita-cita ayahnya. Akan tetapi, kekuatan Te Po adalah lawan ampuh yang sulit diatasi bagi Bwe Hwa Hwe. Pikirannya buntu.

"Loh Siau Ling," kata Racun Diracun lagi, "Apa kau tahu tempat apakah ini?"

"Tempat apa?"

"Daerah terlarang dalam kekuasaan Racun Diracun!"

Loh Siau Ling menantang, "Kalau daerah terlarang, kau mau apa?"

"Yang melanggar daerahku harus mati!"

Saat itu, Ang Siu Li Ting Yan sudah selesai mengobati Chiu Thong. Keduanya bangkit berdiri. Loh Siau Ling berkata dingin, "Tuan sangka dengan racunmu itu kau lantas dapat malang melintang tanpa tandingan?"

Racun Diracun tertawa, "Aku tahu kau adalah murid tabib sakti Pek Chio Lojin. Tapi perlu kujelaskan, mengandalkan kemampuan obat pemunah Pek Chio Lojin, pasti takkan dapat mengatasi bisaku yang bernama Racun dalam Racun! Kalau tidak percaya, silakan dicoba!"

"Racun dalam Racun?" suara Loh Siau Ling gemetar.

Suma Bing sendiri berubah wajah; ia pernah merasakan kelihayan bisa tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment