Chapter 110
Jikalau Phoa Kin Sian tidak menolongnya dengan obat Tan Tiong Tan, pasti jiwanya sudah melayang.
"Lalu apa maksud tujuan Tuan?" bentak Loh Siau Ling nekad.
"Semua hadirin dalam gelanggang ini sudah terkena racun, termasuk kau sendiri. Jika tidak percaya, coba kau empos pernapasanmu!" Loh Siau Ling adalah murid Pek Chio Lojin, seorang tabib kenamaan yang pandai dan paham pengobatan.
Begitu dia mencoba bernapas, terasa memang dirinya telah terkena racun berbisa. Dilihatnya semua anak buahnya juga menunjukkan raut terkejut dan ketakutan; terang mereka juga sudah terkena racun. Nyata bahwa ancaman Racun Diracun bukan sekadar main-main.
Tersipu-sipu dia merogoh keluar beberapa butir obat pemunah racun, lalu menelannya. Setelah sekian lama dia memeriksa, ternyata obatnya tidak mujarab dan tak berguna melawan bisa dari racun tersebut.
Baru sekarang dia benar-benar terperanjat dan takut, maka dia membentak dengan bengis, "Tuan, apa maksudmu sebenarnya?" Pelan dan tegas Racun Diracun berkata, "Semua orang yang memasuki daerahku terlarang harus dihukum mati; ini sudah merupakan undang-undang. Tapi hari ini, baiklah aku melanggar kebiasaanku itu..."
"Kalau Tuan melanggar pantangan sendiri, pasti disertai syarat, bukan?" tanya Ketua Bwe Hwa Hwe dengan perasaan haru.
"Tidak salah, kau ini pintar juga!"
"Syarat apa?"
Racun Diracun tetap menghadapi Loh Siau Ling, ujarnya, "Gampang sekali. Kau batalkan syarat yang kau ajukan kepada Suma Bing. Maka aku tidak akan memperpanjang urusan ini, segera kuberikan obat pemunahnya, dan kalian harus segera pergi dari sini."
"Tidak mungkin terjadi!"
"Racunku itu di kolong langit ini tiada seorang pun yang mampu memunahkan. Maka semua yang telah terkena racunku ini dalam setengah jam saja bakal bergelimpangan mati." Kata-katanya ini diucapkan dengan enteng dan seenaknya, tapi di pendengaran para jagoan Bwe Hwa Hwe, seolah-olah itu perintah dari Giam Lo Ong. Semua pucat dan gemetar saking ketakutan.
Terdengar Ang Siu Li Ting Yan ikut bicara, "Apa Tuan berani bertanggung jawab kita semua dapat keluar dengan selamat?"
"Sudah tentu!"
"Kalau begitu, anak Ling, lulusilah!"
Namun, pada saat itulah mendadak Suma Bing menyela dengan suara menggelegar, "Racun Diracun, Cayhe tidak sudi menerima budimu ini!"
"Suma Bing, agaknya kau takut menghadapi kenyataan ini. Memang aku berutang jiwa kepada beberapa orang terhadapmu, tapi siang-siang sudah kukatakan ini merupakan dua hal yang tersendiri, jangan kau campur baurkan. Suma Bing, jangan kau salah sangka bahwa aku bakal menanam budi untuk menebus dosa-dosaku yang tertunggak itu atau minta pengampunan kepadamu. Bukti menyatakan kalau aku ingin kau segera mati, itu segampang membalikkan tangan. Akan tetapi, sudah kukatakan setengah tahun lagi aku akan memberikan pertanggungjawaban kepadamu. Mengapa tidak kau nantikan setengah tahun lagi? Urusan hari ini adalah..."
"Aku belum pernah melulusimu untuk menanti setengah tahun lamanya!" tukas Suma Bing dengan angkuh.
"Jadi kau sekarang juga hendak turun tangan?"
"Ada kemungkinan!"
"Suma Bing, kau ini binatang berdarah dingin!"
"Ketahuilah, aku tidak sudi menerima kebaikanmu!"
"Kau takut akan hati nuranimu sendiri yang bakal tidak tenteram?"
"Tidak peduli bagaimana juga, aku tidak setuju!"
"Jadi kau sudah bertekad hendak mati?"
"Itu urusanku sendiri!"
"Tapi saat ini kau berada di daerahku yang terlarang diinjak orang luar. Akulah tuan rumah di sini, apa yang senang kuperbuat pasti kulakukan, siapapun tiada hak merintangi, kau sudah mengerti?"
Bukan main heran Suma Bing; di bawah selokan di depan sana adalah tempat mengasingkan diri bibinya, Ong Fong Jui, dan muridnya, Phoa Kin Sian. Tapi dengan tandas Racun Diracun berulang kali mengatakan bahwa daerah sekitar sini adalah daerah terlarangnya. Tentu ada hal-hal yang mencurigakan. Betapa kejam dan telengas sifat Racun Diracun ini; tulang belulang kekasihnya, Ting Hoan, masih belum dingin. Mengapa pula dia mengambil risiko sedemikian besar untuk membantu dirinya? Menurut apa yang pernah dikatakan Goan Hi Taysu dari Siau Lim Si, dia sealiran dengan Pek Kut Hujin, malah mungkin adalah muridnya. Sudah berulang kali mereka, guru dan murid, mengulurkan tangan menolong jiwanya dan menanam budi pada dirinya. Sekarang ini juga, dalam saat-saat dirinya menghadapi marabahaya, dia muncul lagi. Mengapa? Karena dia memperkosa dan membunuh Ting Hoan. Karena mempermainkan Thong Ping yang tidak berdosa dan membunuh ibundanya. Maka dia bersumpah hendak menumpas manusia laknat ini!
Tapi berbagai kenyataan membuktikan dia sudah beberapa kali menolong jiwanya. Ini juga kenyataan yang tidak mungkin disangkal lagi. Antara dendam kesumat dan budi kebajikan membuat dia tertekan dalam kepedihan, sanubarinya menjerit dan mengeluh. Sepak terjang Racun Diracun ini benar-benar hebat, apalagi kalau dipikirkan secara sehat, agaknya sangat mustahil.
Setelah memikirkan timbal balik untung ruginya, segera Loh Siau Ling berkata lantang dan tegas, "Racun Diracun, baiklah, aku menyetujui jual beli ini!"
"Kita sudah saling tukar, maka antara kau dengan Suma Bing sudah tidak ada utang piutang lagi?"
"Baiklah."
"Ini adalah obat pemunah, ambillah. Setelah tiga li dari sini baru kalian telan. Bagikan setiap orang satu butir, jumlahnya tepat dan tidak kurang!" Lantas dilontarkan sebuah botol kecil ke arah Loh Siau Ling.
Enteng sekali Loh Siau Ling mengulurkan tangan menyambutnya, terus berpaling ke arah perempuan cantik setengah umur seraya berkata, "Mah, mari kita pergi!" Maka terlihat bayangan orang berkelebat; dalam sekejap mata saja semua jagoan anak buah Bwe Hwa Hwe berloncatan menghilang dari pandangan mata.
Tampak Sim Tong Tongcu Song Liep Hong, anak buah dari Perkampungan Bumi, tersipu-sipu tampil ke depan menghadap Suma Bing serta berseru, "Harap Huma memberi petunjuk!"
Suma Bing menghela napas panjang dan berkata, "Biarkan mereka pergi, setelah itu kalian juga boleh pulang!"
"Hamba menerima perintah dari Te Kun untuk menyertai dan melindungi Huma!"
"Tidak perlu lagi, kalian boleh pergi!"
"Ini..."
Melotot mata Suma Bing, semprotnya, "Aku ingin kalian pergi!"
"Baik," sahut Song Liep Hong sambil membungkuk tubuh mengundurkan diri.
Tak lama kemudian semua orang sudah pergi, keadaan gelanggang menjadi sepi. Tinggal Racun Diracun berhadapan dengan Suma Bing; mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing tanpa buka suara sekian lamanya.
Akhirnya Racun Diracun membuka kesunyian, katanya, "Suma Bing, kau anggap sepak terjangku tadi sangat menyinggung perasaan dan harga dirimu, bukan?" Kata-kata ini langsung menusuk ke lubuk hati Suma Bing. Semangatnya menjadi lesu, katanya masgul, "Mengapa Tuan berbuat demikian?"
"Aku tidak ingin melihat kau mati secara konyol dan penasaran!"
"Mengapa?"
"Kelak kau akan paham!"
"Apa benar daerah ini adalah tempat terlarang Tuan?"
"Ini... hehe, hanya menggertak supaya mereka pergi!"
"Silakan Tuan juga pergi!"
"Kau tidak ingin bicara dengan aku?"
Terlintas hawa membunuh pada air muka Suma Bing, desisnya dingin, "Pertemuan yang akan datang mungkin aku harus membunuhmu!"
Tawar saja Racun Diracun berkata, "Terserah apa yang hendak kau perbuat, asal kau mampu melakukan!"
"Dan lagi, Cayhe masih dapat membedakan antara budi dan dendam. Memang utangku terlalu banyak kepadamu, nanti setelah semua urusan pribadiku selesai kukerjakan, biarlah aku menebus utangku itu dengan kematian jiwaku!"
"Untuk ini rasanya tidak perlu!"
"Silakan, Tuan boleh pergi!"
Sambil bersuit melengking tinggi laksana jeritan setan, tiba-tiba tubuh Racun Diracun melayang jauh terus menghilang.
Suma Bing termangu memandangi bayangan manusia misterius yang menakutkan itu menghilang dari pandangan matanya. Entah bagaimana perasaan hatinya. Kawankah? Musuhkah? Berbudi atau berdosa? Tak dapat dia membedakan dan menganalisa termasuk orang macam apakah Racun Diracun ini. Tapi bagaimanapun juga, dasar keinginannya hendak membunuhnya takkan goyah atau berubah. Ia telah menerima budi dan kebaikan seorang lain, ingin benar dia membalas budi atau kebaikan orang itu. Tapi alasan lain yang lebih kuat mau tak mau mengharuskan dia membunuh orang yang menanam budi ini. Perasaan dan perang batin yang kontras ini sungguh sangat menyedihkan dan menekan jiwanya. Apalagi bagi seorang yang jelas dapat membedakan antara budi dan dendam atau kejahatan, kekontrasan ini akan lebih mendalam. Begitu juga keadaan Suma Bing pada waktu itu, berada dalam kekontrasan yang mencekam sanubarinya.
Mendadak ia tergugah dari lamunannya, teringat olehnya keadaan bibinya yang masih sangat kritis di dalam selokan, dan istrinya, Phoa Kin Sian, sedang pergi menolongnya. Entah Hoan Hun Tan yang diperolehnya itu manjur atau tidak. Dalam berpikir itu, kakinya segera berlari-lari, mengembangkan ilmu ringan tubuhnya, terus melayang bagai terbang masuk ke dalam selokan yang curam itu.
Kira-kira ratusan tombak kemudian, terdengar olehnya suara bentakan dan makian yang riuh rendah dari balik rimba sebelah depan sana. Tanpa terasa tergerak benak Suma Bing. Tempat ini tidak jauh dari selokan tak bernama itu; siapakah yang tengah bertempur di sini? Sedikit merandek, terus dia putar haluan dan berlari ke arah datangnya suara bentakan.
Semakin dekat suara bentakan dan pertarungan semakin nyata dan jelas. Kiranya di sebuah rimba yang membelakangi sebuah kaki bukit, samar-samar terlihat berkelebatnya bayangan beberapa orang. Begitu mengencangkan kaki, seenteng burung walet tubuhnya terbang menerobos hutan, terus hinggap di pinggir gelanggang pertempuran.
Waktu melihat tegas siapa-siapa yang tengah bertempur itu, seketika mendidih darah panasnya. Tampak dua orang Rasul Penembus Dada tengah bertempur seru dan sengit melawan Phoa Kin Sian kakak beradik. Malah masih ada dua Rasul lainnya yang berdiri menonton di pinggiran. Phoa Kin Sian kakak beradik tengah mati-matian melawan seorang Rasul Penembus Dada; keadaannya sudah terdesak di bawah angin, tidak lama lagi pasti keduanya dapat dikalahkan oleh musuh-musuhnya ini.