Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 111

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 111

Terdengar salah seorang Rasul yang menonton di pinggiran berseru mengancam, "Phoa Cu Giok, serahkan Pedang Darah kepada kami supaya kuampuni nyawamu!" Seketika berkobar semangat Suma Bing; rupanya Pedang Darah masih berada di tangan Phoa Cu Giok.

Maka, ia segera tampil ke depan seraya menghardik, "Berhenti!" Bentakan yang keras bagai geledek ini sontak menggetarkan perasaan mereka yang tengah bertempur. Serta-merta mereka menghentikan pertarungan.

Wajah Suma Bing membeku bagai es, sorot matanya memancarkan sinar kebuasan yang mengandung nafsu membunuh. Selangkah demi selangkah, ia melangkah memasuki gelanggang.

"Sia Sin kedua!" tercetus seruan kaget berbarengan dari keempat Rasul Penembus Dada.

Begitu memasuki gelanggang, hal pertama yang diperhatikan oleh Suma Bing adalah Phoa Kin Sian. Ia bertanya penuh khawatir, "Adik Sian, bagaimana keadaanmu? Bagaimana pula keadaan Bibi?"

"Aku tidak apa-apa. Suhu sudah siuman, tapi keadaannya masih sangat lemah. Saat ini tengah bersamadi memulihkan tenaga!"

"Oh," sahut Suma Bing merasa lega. Lantas, pandangannya menatap ke arah Phoa Cu Giok. Ia berkata dengan nada rendah dan berat, "Cu Giok, yang sudah lalu tidak perlu dipersoalkan lagi. Sekarang, kembalikan Pedang Darah itu kepadaku!"

"Adik Giok," sambung Phoa Kin Sian dengan suara gemetar, "keluarkanlah!"

Dengan rasa kikuk dan malu sambil melirik ke arah Suma Bing, akhirnya Phoa Cu Giok mengeluarkan Pedang Darah dari dalam kantongnya.

Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebatan, keempat Rasul Penembus Dada serentak menubruk maju. Dua di antaranya menerjang ke arah Suma Bing, sedang dua yang lain menyerang Phoa Cu Giok dan Phoa Kin Sian. Angin pukulan bagai gelombang badai segera menerjang dengan dahsyatnya.

Timbul kemurkaan Suma Bing. Sambil menggertak keras, kedua tangannya bergerak mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyongsong serbuan musuh. Terdengar dentuman dahsyat yang memekakkan telinga. Kedua Rasul yang menerjang ke arah Suma Bing terpental balik, namun Suma Bing sendiri tidak dapat berdiri tegak; kakinya terhuyung lima langkah.

"Pedang Darah!" tiba-tiba terdengar seruan kaget dan khawatir dari Phoa Cu Giok. Terlihat sebuah bayangan orang melesat keluar dari gelanggang pertempuran dan berlari dengan sangat kencang.

Tanpa banyak pikir lagi, Suma Bing segera mengembangkan ilmu *Bu Siang Sin Hoat*. Bagai bayangan iblis, tahu-tahu ia sudah menghadang di depan bayangan yang lari tadi. Begitu tangan kiri membabat, tangan kanan ikut membalik dan mencengkeram ke depan. Gerakannya secepat kilat.

Terdengar seruan tertahan, lantas terlihat bayangan itu limbung sempoyongan. Dari perawakannya dapat diketahui bahwa yang merebut Pedang Darah itu adalah pemimpin dari keempat Rasul tersebut. Tiga bayangan lainnya segera menubruk tiba dengan kecepatan tinggi.

Pandangan Suma Bing menatap tajam Rasul yang berada di hadapannya. Tiba-tiba kedua tangannya berputar-putar, lalu disodokkan ke depan dengan kekuatan *Kiu Yang Sin Kang*. Bau terbakar dan hawa panas merangsang ke depan bagai gelombang badai gurun Sahara. Sontak, ketiga bayangan itu berloncatan minggir menyelamatkan diri.

"Serahkan!" desis Suma Bing sambil mendesak maju, wajahnya membesi diliputi hawa pembunuhan.

Tiba-tiba selarik sinar terang yang menyilaukan mata meluncur memapak kedatangan Suma Bing; itulah cundrik milik Rasul Penembus Dada yang disambitkan langsung mengancam dadanya. Sambil menggeram gusar, Suma Bing mengelak ke samping sambil mengirim pukulan. Ternyata kepandaian lawan bukan main hebatnya; dalam waktu sekejap, tubuhnya sudah berkelit sejauh lima tombak.

"Seumpama tumbuh sayap pun jangan harap kau dapat lari!" Sebelum suara Suma Bing habis, ia sudah berada di hadapan lawan lagi dan mengirim lima serangan berantai yang dahsyat. Rasul Penembus Dada terhuyung mundur sambil memuntahkan darah; kerudung putihnya kini berubah warna menjadi merah.

Bagi Suma Bing, Pedang Darah adalah segalanya, lebih penting daripada nyawa sendiri. Maka, ia membentak bengis, "Kau mau serahkan atau tidak?"

"Suma Bing," seru Rasul Penembus Dada gemetar, "kau akan mati tanpa tempat liang kubur yang layak."

"Serahkan!"

"Tidak bisa!"

"Jadi kau ingin mati!" Sambil membentak, *Kiu Yang Sin Kang* dilancarkan kembali. *Blang!* Terdengar Rasul Penembus Dada mengeluh tertahan, tubuhnya perlahan jatuh terkulai.

Di sisi lain, keadaan Phoa Kin Sian dan adiknya juga dalam bahaya. Mereka kewalahan menghadapi Rasul yang memiliki kepandaian tinggi; berulang kali mereka terpukul telak hingga muntah darah. Sementara itu, Suma Bing sudah mengulurkan tangan hendak mengambil Pedang Darah dari pinggang lawan yang roboh.

Tiba-tiba sejalur angin kencang menyerang punggung Suma Bing. Terpaksa ia memiringkan tubuh sambil membalas serangan. *Bum!* Karena getaran yang kuat, Suma Bing terpental sempoyongan. Menggunakan peluang ini, Rasul yang membokong dengan gesit merampas Pedang Darah dan melompat jauh hendak melarikan diri.

Bola mata Suma Bing merah membara. Gelombang panas yang dahsyat ia lancarkan ke udara, dibarengi tubuhnya yang melesat maju mencegat jalan musuh. Kontan, Rasul yang lari itu terpukul balik. Dirangsang nafsu membunuh, serangan Suma Bing semakin deras hingga musuhnya roboh. Terdengar lolong panjang yang menyayat hati memecah kesunyian rimba. Rasul Penembus Dada itu terbang melayang dan terbanting keras, sementara Pedang Darah terlepas dari genggamannya.

Sekali lagi tubuh Suma Bing berkelebat, ia tiba di tempat Rasul tadi rebah dan mencengkeram kedoknya. Begitu kedok di muka Rasul itu tertanggalkan, Suma Bing berteriak kejut sambil mundur dua langkah. Ternyata, Rasul Penembus Dada yang disegani di seluruh dunia persilatan itu adalah seorang gadis rupawan yang cantik jelita.

Dua pasangan lain yang tengah bertempur pun berhenti. Pimpinan dari keempat Rasul itu kini perlahan merayap bangun, darah masih meleleh dari ujung bibirnya. Ia berkata dengan penuh kebencian, "Suma Bing, kalau kau mau, bunuhlah aku sekarang. Kalau tidak, suatu hari nanti aku akan membunuhmu!"

Setelah Pedang Darah dapat direbut kembali, hati Suma Bing menjadi lega. Apalagi setelah mengetahui lawan ternyata seorang gadis, nafsu membunuhnya menghilang tanpa bekas. Mendengar ancaman itu, ia tertawa, "Mengandalkan ucapanmu ini, biarlah kulepaskan kalian. Kalau ingin membalas dendam, sewaktu-waktu aku menantikan kedatangan kalian di kalangan Kangouw!"

"Kau jangan menyesal?"

"Omong kosong yang menggelikan!"

Tiga Rasul lainnya memapah rekan mereka yang terluka paling berat, lalu pergi tanpa banyak bicara lagi.

Suma Bing berpaling ke arah Phoa Kin Sian kakak beradik, "Adik Sian, apa kau tahu perkumpulan apakah Jeng Siong Hwe itu?"

"Aku tidak tahu. Tapi kekejaman dan banjir darah yang ditimbulkan oleh Jeng Siong Hwe kini benar-benar telah menimbulkan gelombang kemarahan kaum persilatan."

"Diukur dari kepandaian keempat Rasul ini, dapat dipastikan pemimpin Jeng Siong Hwe itu adalah seorang misterius yang sangat menakutkan!"

"Itu sudah dapat dibayangkan!"

"Kenapa Cu Giok bisa bersua dengan keempat Rasul Penembus Dada?" Phoa Cu Giok hanya menunduk malu.

Phoa Kin Sian menghela napas, "Dengan membawa Pedang Darah, Cu Giok menderita di kalangan Kangouw, hampir saja ia dipukul mati oleh Kangkun Lojin. Untung dia bicara jujur sehingga Kangkun Lojin mengampuninya dan memerintahkan ia mengembalikan Pedang Darah itu. Tak terduga, di tengah jalan ia bertemu dengan Rasul Penembus Dada yang menguntitnya sampai di sini. Kalau kau tidak muncul, entah apa akibatnya!"

Suma Bing teringat sesuatu, "Adik Sian, bukankah kau mahir menggunakan racun?"

"Kenapa?" balas Phoa Kin Sian dengan wajah berubah.

"Kenapa kau tidak gunakan racunmu menghadapi mereka?"

"Kejadian ini sungguh ganjil. Ternyata kali ini para Rasul itu tidak takut lagi menghadapi racunku!"

"Marilah kita kembali ke dalam lembah solokan itu."

"Kau tidak perlu ke sana lagi!" Suma Bing tertegun, "Mengapa?"

"Suhu yang menyuruh begitu!"

"Tapi aku harus menilik keadaan Bibi!"

"Tidak perlu lagi, paling lama satu bulan dia sudah akan sembuh kembali!"

"Kenapa dia tidak mengizinkan aku pergi melihatnya lagi?"

"Mana aku tahu!"

Suma Bing membatin. Menurut bisikan Kangkun Lojin, Phoa Kin Sian bakal mengalami bencana, dan ia berniat meminta bantuan Bibinya untuk menjaga istrinya ini. Tak terduga, Bibinya tidak ingin menemuinya lagi. Urusan ini agaknya harus berlarut panjang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment