Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 112

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 112

"Engkoh Bing," kata Phoa Kin Sian lembut.

"Agaknya kau ada sesuatu yang hendak kau katakan."

"Ya, memang tebakanmu betul!"

"Apa yang hendak kau katakan?"

"Aku punya satu permintaan kepadamu!"

"Katakanlah!"

"Aku minta sudilah kiranya kau dalam jangka seratus hari ini tidak meninggalkan tempat tinggalmu ini barang selangkah pun juga."

Phoa Kin Sian heran dan tak mengerti, tanyanya, "Mengapa?"

"Kelak biar kuberitahu kepadamu!"

Kata Phoa Kin Sian berpaling ke arah Phoa Cu Giok, "Dik, kau kembalilah dulu!" Phoa Cu Giok mengiakan lalu memutar tubuh untuk pergi.

"Engkoh Bing," kata Phoa Kin Sian, "Katakanlah, kenapa?"

Suma Bing menjadi serba salah, tidak mungkin dia menuturkan apa yang bakal menimpa istrinya sehingga menambah beban penderitaan batinnya. Oleh karena pikiran ini, ia menyahut dengan mengalihkan pembicaraan, "Sebab kau tak lama lagi bakal menjadi ibu, jangan banyak bergerak agar tidak melelahkan badanmu!"

Phoa Kin Sian mengulum senyum bahagia, tapi secepat itu tawanya lantas menghilang, tanyanya, "Mengapa harus dibatasi dalam seratus hari? Apakah aku bakal melahirkan setelah seratus hari lagi?"

"Sudah tentu ada alasannya. Tidak peduli bagaimana nanti, dalam seratus hari ini aku pasti datang menjengukmu!"

"Baiklah, aku setujui permintaanmu ini."

"Nah, inilah baru istriku yang baik!"

Phoa Kin Sian tersenyum malu, tangannya mencubit sambil mencemooh, "Cerewet!"

"Masa perkataanku tadi salah!"

Mendadak Phoa Kin Sian menutup kedua matanya, lalu membentangkan kedua lengannya dan berkata, "Engkoh Bing, ciumlah aku!"

Sikapnya ini benar-benar di luar dugaan Suma Bing. Sifat Phoa Kin Sian selamanya putih bersih dan dingin kaku. Pernikahan mereka juga terjadi dalam peristiwa yang tidak disengaja. Tatkala itu, kalau bukan karena terkena totokan jari *Hian Bu Cui Yang Ci* dari si Mawar Beracun Ma Siok Ceng, pelindung *Bwe Hwa Hwe* yang terkenal cabul, tentu Phoa Kin Sian tidak bakal kehilangan kesuciannya, sehingga mereka tidak mungkin bisa menjadi suami istri.

Walaupun sekarang dia sudah resmi menjadi istrinya, kehendak yang merangsang minta dicium ini benar-benar baru pertama kali terjadi. Namun, bagaimana pun mereka berdua adalah suami istri. Maka setelah tertegun sejenak, Suma Bing lantas memeluknya kencang-kencang sambil mencium dengan mesra. Phoa Kin Sian tenggelam dalam rangsangan penuh nafsu, timbul suatu perasaan tak menentu di benak mereka. Tatkala itu, seakan-akan sang waktu sudah berhenti. Selain terasa getaran jantung, dengusan napas, serta isapan yang menggelora, segalanya seolah-olah sudah tidak hidup dan berada lagi.

Lama sekali baru kedua suami istri ini sadar dari kenyataan. Serta-merta Suma Bing merasa sesuatu keanehan yang menakutkan sanubarinya. Peringatan *Racun Diracun* serta kisikan *Kangkun Lojin* itu laksana duri yang tidak berbekas menusuk-nusuk hati kecilnya sehingga membuatnya tidak tenang berdiri dan tidak enak duduk.

"Engkoh Bing," ujar Phoa Kin Sian penuh kasih mesra, "Kau merasa di luar dugaan, bukan?"

"Ini... ah, tidak!"

"Kau mengelabui aku. Dari air mukamu dapat kulihat kau berbohong!"

"Apa pikirmu mungkin demikian? Kau adalah istriku..."

"Engkoh Bing, aku selalu merasa segala sesuatu di dunia ini dapat terjadi di luar sangka, tiada yang abadi dan kekal. Terutama bagi kaum persilatan yang hidup dan terjun di kilatan ujung senjata dengan bekal permusuhan dan dendam sakit hati. Siapa akan tahu malapetaka apa yang bakal menimpa dirinya secara mendadak?"

Suma Bing bergidik. Memang ini kenyataan, tapi juga pertanda alamat benih petaka. "Adik Sian, mengapa timbul pikiranmu yang tidak genah itu?"

"Masa kau tidak mengakui akan kemungkinan ini?"

"Memang harus kuakui, tapi pasti ini tercetus dalam perasaan batinmu!"

"Benar, Engkoh Bing. Pikiran semacam ini sudah lama timbul sejak perkawinan kita dulu, selalu berputar dan mengganjal dalam pikiranku."

"Adik Sian, dapatkah kau tidak berpikiran begitu? Kenapa tidak kau pikirkan kelak dan masa depan kita, pikirkanlah tunas muda yang bakal dilahirkan itu..."

Mendadak kata-kata Suma Bing terputus sampai di situ. 'Masa depan', kedua kata ini membuatnya bergidik, teringat olehnya akan janjinya kepada *Racun Diracun*: "...kelak bila bertemu lagi, aku pasti membunuhmu, tapi hutang budiku terlalu banyak, biarlah aku membayar budimu itu dengan kematianku..."

Pertemuan yang bakal datang itu betapa menakutkan. Kalau begitu, dapatkah dirinya menanggung dan menyangkal akan pandangan Phoa Kin Sian yang masuk akal itu?

"Adik Sian, kita tidak perlu menerka-nerka kejadian apa yang bakal terjadi di masa depan, paling perlu kita tinjau masa kini!"

"Sekarang ini? Engkoh Bing, apa yang telah diberikan kepada kita sekarang? Namanya saja kita sebagai suami istri, tapi tiada waktu untuk kita hidup berdampingan secara kasih mesra. Kau ke timur, aku ke barat, masing-masing berkelana demi kepentingan sendiri..."

Suma Bing tertawa getir, ujarnya, "Adik Sian, memang akulah yang salah. Nanti setelah semua sakit hati dan dendamku sudah terselesaikan, pasti kutambal kekuranganku..."

"Engkoh Bing, kita setali tiga uang, tapi..."

"Kenapa?"

"Apa yang bakal terjadi kelak, siapapun susah meramalkan!"

"Adik Sian, mengapa kau melulu mengatakan kata-kata yang tidak baik saja?"

"Tidak, Engkoh Bing. Seolah-olah aku merasa malapetaka selalu menyertai di sampingku..."

Perasaan Suma Bing semakin tenggelam. Dipeluknya istrinya erat-erat serta katanya, "Adik Sian, aku tidak akan meninggalkanmu!"

"Tidak, jangan, Engkoh Bing. Kau sendiri tahu ini tidak mungkin terjadi!"

"Tapi aku rela meninggalkan semua itu!"

"Kau salah, jangan kau mengingkari arti terbesar dalam jiwa hidupmu ini. Keluarga, perguruan, dan beban yang kau pikul itu adalah satu-satunya tujuan terakhir yang harus kau laksanakan!"

"Adik Sian, cintaku kepadamu bukan termasuk..."

"Aku maklum, kau berangkatlah!"

Suma Bing melepaskan pelukannya, terus mundur dua langkah, tanyanya, "Kau ingin aku pergi?"

"Sudah tentu, apa kau hendak selalu mengeram di sini?"

"Tapi..."

"Engkoh Bing, Pedang Darah sudah kembali pada pemiliknya, kau harus menyelesaikan rencana dan mengejar cita-citamu..."

Tergetar perasaan Suma Bing, bangkitlah semangat jantannya. Berbekal Pedang Darah, ia memohon Bunga Iblis untuk melatih ilmu tiada taranya di dunia ini supaya dapat menuntut balas. Karena pikirannya ini, ia berkata murung, "Adik Sian, aku akan selalu berterima kasih akan cinta murnimu yang suci ini!"

Phoa Kin Sian berseri, serunya, "Engkoh Bing, jagalah dirimu baik-baik!"

"Adik Sian, ingat apa yang kau luluskan padaku. Dalam jangka seratus hari jangan kau tinggalkan tempat kediamanmu ini."

"Pasti selalu kuingat!"

"Kau juga harus hati-hati dan baik-baik menjaga diri!"

Phoa Kin Sian mengiakan. Begitulah, setelah berpelukan dan berciuman pula, lantas mereka berpisah tanpa banyak kata lagi. Begitu bayangan Suma Bing menghilang, dua titik air mata mengalir membasahi kedua pipi Phoa Kin Sian. Mengapa dia menangis? Berat meninggalkan Suma Bing, atau...

Baik, kini kita mengikuti perjalanan Suma Bing yang meninggalkan istrinya dengan perasaan duka nestapa. Langsung ia menuju ke Lembah Kematian. Memang letak Lembah Kematian sangat curam dan misterius. Bagi siapa yang berani memasuki, hanya kematianlah bagiannya. Namun bagi Suma Bing, tempat yang keramat dan ditakuti ini dianggap seperti tempat datar yang lurus saja. Dicarinya jalan di mana dulu dia bersua dengan *Giok Li Lo Ci*, terus mengembangkan *Bu Siang Sin Hoat* meluncur turun.

"Nak, akhirnya kau tiba juga!"

Waktu pandangan Suma Bing menyapu sekitarnya, tampak *Giok Li Lo Ci* sudah berdiri tegak di depan gua. Maka tersipu-sipu ia merangkak tangan memberi hormat serta sapanya, "Wanpwe menghadap Cianpwe!"

"Tidak perlu, mari ikut aku!"

Tak lama kemudian tibalah mereka di ruang tempat pengobatan tempo hari. Setelah mencari tempat duduk, lalu *Giok Li Lo Ci* membuka mulut, "Nak, kau sudah memperoleh Pedang Darah?"

Suma Bing mengiakan dan dirogohnya keluar Pedang Darah. Dengan kedua tangannya, pedang itu dipersembahkan. Ternyata kedua tangannya itu agak gemetar. Betapa haru dan senang hatinya saat itu, bahwa impian selama ini bakal menjadi kenyataan. Bagaimana dia tidak akan terharu dan gembira?

Setelah menyambut Pedang Darah, sekian lama *Giok Li Lo Ci* mengamati dan memeriksa, lalu katanya sambil manggut-manggut, "Nak, sungguh besar rezekimu. Kudoakan setelah kau dapat mempelajari ilmu mukjizat itu, kau dapat mendharmabaktikan kepandaianmu ini kepada sesama hidup yang tertindas."

"Terima kasih akan nasihat Cianpwe!"

"Membekal Pedang Darah adalah syarat pertama. Sekarang dengarlah syarat yang kedua!"

"Akan Wanpwe perhatikan!"

"Setelah keluar dari pintu ini, berputar ke kanan, di situ ada sebuah kamar batu. Dengan tenaga murnimu sendiri, kau tembusilah jalan darah mati hidupmu..."

Suma Bing tercengang, katanya, "Jalan darah mati hidup Wanpwe sudah tembus!"

"Apa? Jalan darah mati hidupmu sudah tembus?"

Benar, agaknya Cianpwe sudah lupa. Waktu Wanpwe terjatuh ke dalam lembah ini dulu, seiring waktu menyembuhkan luka dalam Wanpwe, Cianpwe sudah..." Sampai di sini mendadak dia menelan kembali kata-kata selanjutnya, timbul rasa heran dan pertanyaan dalam benaknya. Dia masih ingat bahwa *Giok Li Lo Ci* memang pernah memberi bantuan menembuskan jalan darah mati hidupnya. Namun waktu berada di Perkampungan Bumi, setelah minum darah pusaka naga bumi, sekali lagi jalan darah mati hidupnya juga telah ditembuskan. Ini benar-benar kejadian yang susah dibayangkan. Apa...

*Giok Li Lo Ci* juga terkejut, katanya, "Waktu kutembuskan jalan darah mati hidupmu dulu, hanya meliputi dua nadi *Jim* dan *Tiok* saja, semua hanya tertembus lima puluh empat, masih ketinggalan satu jalan darah yang susah dibobol, jadi belum berhasil..."

Baru sekarang Suma Bing paham. Waktu dalam perkampungan bumi pasti jalan darah terakhir itu yang telah ditembusi, maka segera katanya, "Wanpwe pernah ketiban rezeki, mungkin jalan darah yang tertinggal itulah yang telah dibobolkan."

"Coba biar kuperiksa!"

Setelah mengulur tangan dan memeriksa, berkata pula *Giok Li Lo Ci*, "Benar, dua puluh lima jalan darah besar *Jim Meh* dan tiga puluh jalan darah besar *Tiok Meh* sudah tembus semuanya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment