Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 113

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 113

Nak, sungguh kau beruntung, segala rezeki tertumpah kepadamu. Benar-benar kejadian yang jarang terjadi dalam dunia persilatan!

"Harap tanya, apakah syarat yang ketiga itu?"

"Nanti kita bicarakan lagi, sekarang mari kau ikut aku!" Suma Bing menurut saja mengikuti di belakang Giok Li Lo Ci. Mereka keluar dari kamar batu itu hingga sampai di sebuah lorong yang panjang. Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kamar batu yang agak kecil dengan ukuran satu tombak persegi. Sambil menunjuk sebuah meja batu, berkatalah Giok Li Lo Ci, "Inilah di sini!"

Begitu melihat apa yang terletak di atas meja batu itu, tanpa terasa bulu kuduk Suma Bing merinding. Ternyata di atas meja batu itu terletak sebuah kerangka kepala manusia yang besar luar biasa. Di tengah batok kepala itu merekah pecah, mengeluarkan hawa dingin yang menyeramkan.

"Cianpwe, inikah..."

"Betul! Inilah Bunga Iblis, kembang yang menggetarkan seluruh dunia persilatan!"

"Ini... kerangka batok kepala ini?"

"Coba kau maju melihat!" Dengan takut dan was-was, Suma Bing maju mendekati meja batu. Waktu tangan diulurkan, terasa dingin menembus badan. Ternyata kerangka batok kepala ini terbuat dari batu giok yang dipahat, tengahnya kosong, dan atasnya berlubang.

"Cianpwe, tengkorak ini terbuat dari batu giok?"

"Benar!"

"Harap tanya..."

"Sekarang kau tancapkan Pedang Darah ke dalam lubang di atas batok kepala itu, lalu kau sirami dengan setalang air ini..."

"Ini..."

"Kau tidak perlu banyak tanya, inilah pesan terakhir Suhu sebelum ajal. Aku sendiri juga tidak mengetahui seluk-beluknya."

Dengan ragu, Suma Bing memasukkan ujung Pedang Darah secara perlahan dan hati-hati ke dalam lubang di atas kerangka tengkorak itu, lalu diangkatnya talang emas yang berada di pinggiran. Terdengar Giok Li Lo Ci berkata lagi, "Gunakan tangan dan setetes demi setetes siramkan ke lubang itu!" Setelah berkata demikian, ia segera berbalik dan pergi.

Suma Bing menahan gelora hatinya. Perlahan, dengan telapak tangannya, ia menciduk air terus menuangnya ke atas lubang yang ditancapi pedang itu. Saat air mengenai badan pedang, warnanya berubah menjadi merah darah lalu mengalir memasuki lubang tengkorak.

Satu jam sudah berlalu tanpa menunjukkan perubahan. Dua jam berlalu pula tanpa reaksi apa pun. Suma Bing mulai gelisah. Tiga jam kemudian, air di talang sudah habis seluruhnya. Suma Bing benar-benar risau dan gundah.

Tiba-tiba, lubang di atas kerangka tengkorak itu melebar dan terus merekah semakin lebar. Darah Suma Bing terasa mengalir deras, jantungnya berdetak keras. Lubang itu semakin lebar, hingga sebuah benda berbentuk sekuntum bunga perlahan muncul keluar.

Suma Bing menahan napas, matanya tidak berkedip menatap ke arah benda aneh itu dengan penuh ketegangan hingga seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Kuntum bunga itu setelah naik setinggi satu kaki tiba-tiba berhenti dan tidak bergerak, terus mekar sebesar mangkuk. Maka terlihatlah sekuntum bunga putih seperti batu giok yang kemilauan dan seolah-olah tembus cahaya.

Tanpa tertahan lagi, Suma Bing berteriak kegirangan, "Bunga Iblis!" Tubuhnya gemetaran; ini benar-benar suatu keajaiban yang jarang terlihat dan terdengar. Tiba-tiba, muncul Giok Li Lo Ci dalam ruangan itu. Suaranya gemetar penuh perasaan, "Betapa besar dunia ini, segala keanehan tak terhitung banyaknya. Nak, terhitung aku orang tua pun dapat membuka mata."

Tersipu, Suma Bing maju memberi hormat serta berkata, "Budi Cianpwe ini selamanya takkan kulupakan!"

"Ini memang sudah menjadi rezekimu, bukan budi apa pun yang kuberikan kepadamu!"

"Harap Cianpwe suka memberi petunjuk selanjutnya!"

"Lihatlah kelopak kuntum bunga ini, semua terbagi dalam sembilan kelopak. Setiap kelopaknya tertera huruf, baiklah kau baca dan selami sendiri pelajaran ilmu yang tiada taranya ini."

Mulanya Suma Bing tidak memperhatikan. Baru sekarang ia melihat memang benar di atas kelopak bunga itu banyak tertulis huruf kecil yang rapat dan padat. Salah satunya bertuliskan empat huruf yang sangat besar berbunyi: "Giok Ci Sin Kang." Tak tertahan, Suma Bing membaca keempat huruf itu dengan keras.

Kata Giok Li Lo Ci pelan, "Nak, memang kau saja yang berjodoh. Aku tidak bisa ikut campur, biarlah kau belajar dan menyelami pelajaran itu di ruangan ini saja. Kebutuhanmu sehari-hari aku dapat memenuhinya."

Suma Bing sangat terharu dan berteriak, "Terima kasih atas bantuan Cianpwe yang tak ternilai ini!"

Diam-diam tanpa bersuara, Giok Li Lo Ci segera mengundurkan diri keluar ruangan. Suma Bing mulai memusatkan segala pikiran dan semangatnya. Setelah pikiran terasa jernih, mulailah dia membaca dan menyelami pelajaran "Giok Ci Sin Kang" itu.

Pelajaran "Giok Ci Sin Kang" ini meliputi dua tahap: pertama melatih pernapasan, dan kedua adalah tiga jurus ilmu silat. Jurus pertama bernama *Bi Cu Hong Bong* (mayapada remang-remang), jurus kedua *Che Ih To Cwan* (bintang bergeser jumpalitan), dan ketiga adalah *Kay Thian Pit Te* (membuka langit menutup bumi).

Betapa luas dan dalam pelajaran ketiga jurus ilmu silat ini, tidak mudah untuk dipahami dalam waktu singkat. Namun, jika dipandang sekadarnya, kekuatannya pasti hebat dan luar biasa hingga seumpama dapat mengejutkan langit dan menggetarkan bumi.

Sang waktu terus berlalu tanpa terasa. Suma Bing tekun belajar sampai lupa waktu dan lupa akan diri sendiri. Setelah semua pelajaran selesai dan berhasil dipahami serta diselami seluruhnya, barulah Giok Li Lo Ci muncul lagi.

"Nak, kuberikan selamat setinggi-tingginya kepadamu. Ternyata kau berhasil mempelajari ilmu mukjizat yang tiada taranya ini."

"Semua ini berkat bantuan Cianpwe yang menyempurnakan!"

"Pedang Darah itu boleh kau bawa serta, tapi Bunga Iblis biar tertinggal di sini!"

Suma Bing mengiakan, terus mencabut keluar Pedang Darah. Sungguh aneh dan ajaib, tiba-tiba kuntum bunga giok itu mengkerut terus kembali masuk ke dalam kerangka tengkorak itu. Sekarang telah pulih seperti sedia kala lagi. Suma Bing berdua merasa takjub dan kagum akan kepintaran pembuat dan pengatur semua ini.

Setelah tiba di dalam ruangan batu yang besar tadi, berkatalah Suma Bing, "Cianpwe, masih ada petunjuk apa?"

"Masih ada dua tugas yang harus kau lakukan!"

"Harap tanya, tugas apakah itu?"

"Pertama, kau harus mengembalikan *Bu Siang Po Liok* kepada pihak Siaulim!"

"*Bu Siang Po Liok* (buku pelajaran *Bu Siang Sinkang*)?"

"Tidak salah, buku ini memang milik Siaulim. Sudah ratusan tahun lamanya dikangkangi oleh Suhu. Sebab musabab kejadian ini, aku tidak dapat memberitahukannya kepadamu!"

Diam-diam Suma Bing berkata dalam hati, *'Tidak kau katakan pun aku sudah tahu, Kangkun Lojin sudah menuturkannya kepadaku sejelasnya.'* Maka segera ia berkata, "Wanpwe juga tidak ingin tahu!"

"Masih ada satu hal yang harus kau ingat. Kau sudah mempelajari gerak naik dan kelit dari ilmu *Bu Siang Sin Hoat*. Maksudku dulu hanya untuk membantu kau keluar dari lembah ini supaya dapat merebut pulang Pedang Darah. Setelah keluar dari lembah nanti, kau harus melupakan seakar-akarnya, jangan sekali-kali kau kembangkan ilmu itu di hadapan orang lain atau kau turunkan kepada orang lain. Sebab ini merupakan pelajaran Siaulim yang tidak sembarangan diturunkan kepada muridnya. Apalagi kau bukan murid Siaulim-si, maka lebih tidak boleh lagi kau tunjukkan kepada orang luar. Ini adalah pesan terakhir yang wanti-wanti sudah diberitahu Suhu sebelum meninggal. Apa kau dapat mematuhi pantangan keras ini?"

"Pasti dapat kulakukan!" Di mulut Suma Bing berkata demikian, namun dalam hati sebaliknya dia berpikir: *'Setelah aku dapat mempelajari Giok Ci Sin Kang dan ilmu khikang (pernapasan) yang tiada taranya itu, meskipun Bu Siang Sin Hoat itu sangat sakti dan ampuh, jika dibandingkan masih terpaut sangat jauh bagai bumi dan langit.'*

Wajah keriput Giok Li Lo Ci menunjukkan kesungguhan hati, ujarnya, "Buku catatan ini jangan sampai jatuh atau hilang dicuri orang. Kau harus secepatnya mengantarkan ke Siaulim-si dan harus langsung kau serahkan sendiri kepada Ciangbun Hong-tiang. Supaya peristiwa seabad yang terkatung-katung itu ada penyelesaiannya yang menyeluruh."

"Wanpwe pasti dapat membereskan!"

"Dan syarat yang terakhir, kau harus mencari tahu mati atau hidup jejak seseorang!"

"Siapa?"

"Li Hui!"

"Seorang wanita?"

"Benar, dia adalah anak tunggal dari mendiang Suhu Bu Siang Sin Li, umurnya lebih lanjut dari usiaku!"

Suma Bing mengiakan dengan suara keheranan, "Jejaknya menghilang sejak dua puluh tahun yang lalu, mati hidupnya masih belum diketahui."

"Baiklah, Wanpwe pasti akan mencari dengan tekun dan sekuat tenaga."

"Kalau sudah ketemu, mintalah jawabannya!"

"Jikalau Li Hui Cianpwe itu..."

"Maksudmu kalau dia sudah meninggal dunia?"

"Ya, begitulah!"

"Tulislah kabar dukanya itu di atas secarik kertas dan lemparkan masuk lembah!"

"Wanpwe sudah maklum."

"Baiklah, segera kau boleh berangkat!"

"Berapa lamakah Wanpwe berdiam dalam lembah ini?"

"Tiga bulan!"

Suma Bing berjingkrak kaget, teriaknya, "Sudah tiga bulan?"

"Sedikit pun tidak salah!"

Seketika risau, gundah, dan gugup hati Suma Bing. Sungguh tak terduga dalam sekejap ini ternyata dirinya sudah tiga bulan berada dalam lembah kematian ini. Teringat akan janji terhadap istrinya, Phoa Kin Sian, hanya seratus hari. Bagaimana pun, segera ia harus berangkat pulang menemuinya. Karena jangka seratus hari sudah di ambang pintu, masihkah dia sehat walafiat tanpa kurang suatu apa? Karena pikirannya ini, badannya sampai basah oleh keringat dingin.

Giok Li Lo Ci mengeluarkan sebuah bungkusan kain merah dan berkata, "Inilah buku catatan yang bernama *Bu Siang Po Liok* itu, kau harus hati-hati dan waspada menjaganya."

"Akan Wanpwe perhatikan betul!"

"Ingat, bagaimana pun kau harus mencari mati hidup Li Hui!"

"Wanpwe akan bekerja sekuat tenaga!"

"Bagus, sekarang kau boleh pergi!"

"Kalau begitu, Wanpwe minta diri!"

Setelah membungkuk memberi hormat, ia berputar dan berjalan keluar meninggalkan gua.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment