Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 114

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 114

"Eh, kembali sebentar!" Suma Bing menoleh sambil memutar tubuh, lalu bertanya, "Cianpwe masih ada pesan apa?" Wajah keriput Giok li Lo Ci penuh dengan kesedihan yang tak terhingga, ujarnya, "Persembahkan sekuntum bunga dan bakarkan kertas di depan kuburan gurumu untukku!" Puluhan tahun sudah berlalu, namun Giok li Lo Ci belum melupakan kekasihnya, Sia sin Kho Jiang, yang sangat dicintainya.

Suma Bing mengangguk hikmat, sahutnya, "Pasti akan wanpwe lakukan!" "Pergilah!" Suma Bing memutar tubuh lagi dan langsung keluar dari gua batu itu.

Pikirnya setelah menghadapi lereng gunung setinggi ratusan tombak itu, "Kalau Giok li Lo Ci sudah berpesan supaya setelah meninggalkan tempat ini aku tidak mengembangkan lagi ilmu Busiang sinhoat, mengapa aku tidak mencoba saja ilmu pelajaran pernapasan dari Giokci sinkang yang baru kupelajari itu? Akan kulihat mana yang lebih sakti dan ampuh."

Segera ia menghimpun semangat dan mengerahkan tenaga. Hawa murninya berputar cepat dalam tubuhnya, mendadak kakinya menjejak tanah lantas tubuhnya melejit tinggi. Terasa tubuhnya sekarang seenteng asap; sekali enjot, lima puluh tombak sudah dicapainya. Belum luncuran tubuhnya merandek, ia sudah berganti napas dan mengubah gaya sehingga tubuhnya terus memumbul dan naik semakin tinggi. Dalam sekejap mata saja, tahu-tahu dirinya sudah menancapkan kakinya di atas batu cadas yang menyelonong keluar itu.

Betapa girang hatinya, sungguh sukar dilukiskan. Agaknya pelajaran pernapasan yang baru dipelajari ini, kalau dibanding ilmu gerak naik dan kelit dari Busiang sinhoat, masih setingkat lebih tinggi. Karena sudah kangen betul dan mengkhawatirkan keadaan Phoa Kin sian, maka tanpa berayal lagi dan tanpa membuang waktu, dia terus berlari kencang secepat bintang meluncur turun gunung.

Tengah ia berlari kencang itulah mendadak terdengar sebuah suara memanggil di belakangnya, "Buyung, berhenti sebentar!" Tanpa terasa tergerak hati Suma Bing. Saat mana dia tengah mengerahkan seluruh tenaga untuk mengembangkan ilmunya, betapa cepat larinya itu seumpama roket meluncur. Bagi kaum persilatan umumnya, mungkin bayangannya saja tidak bakal dapat terlihat jelas. Namun, suara itu dapat mengintil kencang di belakangnya; betapa hebat dan tinggi kepandaian orang ini, sungguh sangat mengagumkan.

Maka tanpa terasa segera ia hentikan kakinya. Begitu melihat orangnya, legalah hatinya. Tersipu-sipu Suma Bing maju menyapa hormat, "Locianpwe ada petunjuk apakah?" Kangkun Lojin menggoyang-goyangkan kipas sambil mengurut jenggotnya yang panjang menjulai di depan dadanya, tanyanya, "Buyung, kau keluar dari Lembah Kematian?"

Suma Bing tertegun, sahutnya, "Benar!"

"Apakah Busiang sinli berada di dalam lembah itu?"

"Ini..."

"Aku tidak memaksa kesukaranmu. Lohu sudah menanti selama tiga bulan di luar lembah ini. Sungguh menggirangkan kemajuanmu sedemikian pesat. Dari gerak-gerik badanmu tadi, sungguh Lohu susah dapat dibandingkan lagi!"

"Locianpwe terlalu memuji!"

"Tidak, ini kenyataan!"

"Wanpwe ada satu hal hendak kuberitahukan kepada Locianpwe!"

"Tentang urusan apa?"

"Tentang Busiang po liok..."

Tanpa menanti habis ucapan Suma Bing, Kangkun Lojin sudah menyeletuk, "Bagaimana?"

"Buku itu sekarang berada di tangan wanpwe!"

"O, bagaimana ini bisa terjadi?"

"Wanpwe mendapat perintah untuk mengembalikan ke pihak Siaulim!"

Meski sudah mencapai latihan selama seratus tahun, tak urung Kangkun Lojin masih terbawa oleh perasaan haru juga. Katanya gemetar, "Buyung, apa ini betul?"

"Mana wanpwe berani membohongi Cianpwe!"

"Bagus, bagus sekali! Terlaksanalah angan-angan Lohu di dunia fana ini. Buyung..."

"Locianpwe!"

"Apa kau masih ingat cerita yang kuberitahukan kepadamu itu?"

"Masih ingat betul!"

"Lohu sudah tidak lama lagi tinggal di dunia fana ini, aku harus menceritakan semua kenyataan itu kepadamu."

"Dengan senang hati wanpwe akan mendengar penuh perhatian."

"Nama asli Lohu adalah Buyung Ceng!"

"Buyung cianpwe!"

"Nama asli Busiang sinli adalah Lin Ji-lan, seorang pelaku lain dari cerita itu bernama Li It-sim!"

"Li It-sim?" Berpikirlah Suma Bing, menurut pesan Giok li Lo Ci dirinya harus mencari seorang wanita yang bernama Li Hui. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa Li Hui ini pasti anak dari Li It-sim dan Lin Ji-lan itu.

"Kalau Li It-sim masih hidup, usianya tentu juga sudah mencapai seratus tahun lebih. Kalau kelak kau bertemu dengan orang ini, boleh kau beritahu segala kejadian terakhir ini kepada dia. Dan katakan pula bahwa Lohu tengah menanti kedatangannya di tempat perpisahan dulu!" Suma Bing mengiakan.

"Buyung, masa depanmu gilang-gemilang. Waspada dan hati-hatilah, Lohu pergi!" Habis berkata, lengan bajunya yang gondrong dikebutkan; tahu-tahu tubuhnya sudah menghilang.

Sekian lama Suma Bing termangu di tengah jalan, batinnya, "Tokoh aneh yang luar biasa ini sungguh baik hati dan tekun benar. Sungguh tidak sangka dia mengintil di belakangku. Dengan sabar selama tiga bulan dia menanti di luar Lembah Kematian!" Tak lama kemudian, Suma Bing sudah mengayun langkah melanjutkan perjalanannya.

Pada waktu tengah hari, tibalah Suma Bing di luar selokan kediaman Phoa Kin-sian dengan suhunya. Jantungnya terasa mulai berdetak keras; selamat atau mautkah yang bakal dihadapi, susah diterka sebelumnya. Mendadak pemandangan yang menggiriskan hati dan mendirikan bulu roma terbentang di hadapannya. Sekitar pinggiran selokan sebelah sana bergelimpangan beberapa mayat manusia. Darah yang membeku dan berubah warna itu merupakan perpaduan pandangan yang lebih menyeramkan. Tangan, kaki tersebar di mana-mana; kepala, biji mata, atau isi perut orang berceceran di sana-sini. Sungguh keadaan ini sangat mengerikan.

Suma Bing sendiri juga merasa merinding dan bergidik, naga-naganya dalam selokan ini telah tertimpa bencana dahsyat. Keselamatan Phoa Kin-sian, guru dan murid, membuat hatinya terasa hendak melonjak keluar. Akhirnya didapatinya beberapa tanda tertentu di atas beberapa mayat itu, tanpa terasa tercetus seruan kagetnya, "Semua adalah anak buah Bwe-hwa-hwe!" Kalau di luar selokan penuh diliputi bau anyir darah, entah bagaimana keadaan dan pemandangan di dalam selokan sana.

Sambil berpikir, tanpa ayal tubuhnya segera berkelebat melayang turun ke dalam selokan sana seenteng daun melayang. Selepas pandang, hatinya semakin kebat-kebit. Dalam selokan di mana-mana terlihat tumbuh-tumbuhan yang terbakar hangus atau sudah menjadi abu. Tidak perlu disangsikan lagi, pasti dalam selokan ini pernah terjadi kebakaran besar. Bergegas ia berlari ke arah gua. Begitu tiba, seketika dia berdiri termangu; sedikitpun tidak kentara lagi adanya bekas-bekas pintu gua, sekarang menjadi rapat seperti dinding batu semua.

Kemanakah mereka? Tertimpa bencana, atau... Tidak mungkin gua batu ini tertutup dan menghilang tanpa sebab; sudah terang kalau ditutup secara paksa oleh orang. Ditutup sendiri oleh Phoa Kin-sian guru dan murid atau disumpal dari luar, ini susah dibedakan. Inikah bukti dari ramalan Kangkun Lojin? Sesaat dia menjadi bingung harus mundur atau terus maju. Kepandaian Phoa Kin-sian dengan gurunya dia tahu betul; seumpama mengalami serangan mendadak dari luar juga tidak sukar bagi mereka untuk mengundurkan diri dengan selamat. Tapi yang membuatnya khawatir adalah Phoa Kin-sian tengah mengandung dan hampir melahirkan.

Karena kekhawatirannya inilah maka dengan teliti ia memeriksa setiap jengkal tanah dalam selokan itu. Besar harapannya dapat menemukan sesuatu, tapi juga mengharap tidak menemukan apa-apa. Ramalan Kangkun Lojin itu benar-benar membuat dia bergidik. Setengah harian sudah ia putar kayun dan membungkuk-bungkuk, tiada ditemukan benda-benda milik Phoa Kin-sian dan gurunya atau jenazah mereka berdua. Seumpama yang melepas api ini adalah perbuatan orang-orang Bwe-hwa-hwe, maka mayat-mayat yang bergelimpangan di luar selokan itu pasti adalah buah karya dari Phoa Kin-sian kakak beradik dan dibantu oleh bibinya. Tapi kemana mereka sekarang? Apakah maksud tujuan perbuatan Bwe-hwa-hwe ini? Meskipun di tengah hari bolong, namun suasana dalam selokan ini menjadi sedemikian seram dan menakutkan.

Dalam keputusasaannya, Suma Bing sudah bersiap hendak tinggal pergi keluar selokan. Baru saja niat ini timbul dalam benaknya, sekonyong-konyong terdengar suara tawa yang mengekeh dingin, lantas terdengar sebuah suara berkata, "Suma Bing, sudah lama kutunggu kedatanganmu."

Berdebar jantung Suma Bing. Waktu dia berpaling, kontan darahnya mendidih, matanya melotot, dan air mukanya membeku penuh nafsu membunuh. Di hadapannya berdiri musuh besar bebuyutannya, yaitu Loh Cu-gi, dan di belakangnya mengiringi anak buahnya, jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang.

Dari murka, Suma Bing menjadi tertawa besar, serunya, "Loh Cu-gi, ternyata semua ini adalah hasil karyamu!"

Loh Cu-gi mencemooh dingin, ujarnya, "Buyung keparat, kau menyerah dan pasrah nasib saja."

Suma Bing maju dua langkah, katanya sambil kertak gigi, "Loh Cu-gi, agaknya Tuhan membantu akan kebenaran, seharusnya kau sendiri yang terima binasa saja!"

"Bocah keparat, cuma sedikit mengangkat tangan saja, aku dapat membuat seluruh tubuhmu hancur lebur menjadi abu!"

"Kau ini sedang bermimpi!"

"Masih ada satu soal hendak kutanya padamu, apakah kau benar-benar keturunan Suma Hong?"

"Tak usah disangsikan lagi."

"Kalau begitu, kau memang harus mampus!"

Disertai bentakannya, mendadak secarik sinar merah yang menyilaukan melesat menerjang ke arah Suma Bing, betapa cepat cara turun tangannya ini betul-betul sangat mengejutkan. Inilah puncak kesempurnaan ilmu Kiuyang sinkang, kekuatannya dapat melumerkan benda-benda keras dan dapat membumihanguskan benda-benda yang mudah terbakar. Sebat sekali Suma Bing berkelebat menyingkir. Loh Cu-gi memperdengarkan cemoohan dingin, bagai bayangan yang selalu mengikuti bentuknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment