Chapter 115
Lagi-lagi dia melancarkan sebuah pukulan. Kecepatan dalam mengubah serangannya sungguh sulit dicari tandingan; cahaya sinar pukulannya melebar dan melingkupi udara di sekitar tubuhnya.
Memang Suma Bing kalah dalam latihan dan kurang ulet, sampai akhirnya tidak ada lagi tempat luang untuk selalu bermain kelit. Dalam kegugupannya, ilmu Giok Ci Sin Kang seketika timbul dan dilancarkan menyertai isi hatinya. Dentuman keras yang menggetarkan bumi mengguncangkan semua hadirin. Tampak Suma Bing tersurut tiga langkah dan berdiri tegak lagi dengan angkernya tanpa kurang suatu apa pun, sekelilingnya diliputi kabut asap yang bergulung-gulung.
Sungguh terkejut Loh Cu Gi bukan kepalang. Betapa hebat dan tinggi kepandaian tokoh silat mana pun, takkan mungkin kuat menahan kedahsyatan pukulan Kiu Yang Sin Kang; seumpama besi baja juga pasti lumer. Tapi sebaliknya, Suma Bing masih tetap segar bugar tanpa kurang suatu apa pun setelah menyambut pukulannya. Semua tokoh silat di belakang Loh Cu Gi juga berubah pucat pias.
Begitu melancarkan kemurnian ilmu Giok Ci Sin Kang, ternyata ia kuat bertahan melawan pukulan Kiu Yang Sin Kang milik musuh. Bertambah besar tekad hati Suma Bing, ia maju selangkah lantas membentak keras, "Loh Cu Gi, akan kucincang dan kuhancurleburkan manusia laknat seperti kau ini!" Tanpa sadar, Loh Cu Gi mundur selangkah dengan gentar.
Pada saat itulah, tiba-tiba lima orang tua berkelebat maju dari belakang Loh Cu Gi, terus membungkuk berbarengan serta berkata, "Hamba beramai-ramai menunggu perintah!" Loh Cu Gi mengangguk-angguk, tubuhnya melejit mundur sejauh delapan tombak. Kelima orang tua ini matanya berkilat-kilat, terang sekali kalau latihan Lwekang mereka sudah mencapai titik kesempurnaan. Berdiri setengah lingkaran, mereka menghadapi Suma Bing dan mulai bergerak siap untuk menyerang.
Terdengar bentakan dan hardikan yang riuh rendah, lima jalur angin pukulan serempak bergulung menerpa ke arah Suma Bing. Suma Bing menggigit gigi kencang-kencang, air mukanya membesi hitam dirundung sifat kebuasan, tubuhnya berdiri tegak dan gagah perwira laksana malaikat maut tanpa bergerak. Begitu diterpa kelima jalur angin pukulan itu, Suma Bing hanya terdorong mundur tiga tindak. Bahwa gabungan pukulan kelima orang tua yang berkepandaian tinggi itu ternyata hanya dipandang sebagai pukulan anak-anak. Betapa hebat dan tinggi kepandaian Suma Bing ini, kiranya tiada tandingannya lagi di dunia ini.
Seketika kelima orang tua itu berdiri kesima dan termangu tanpa bergerak, timbul rasa gentar dan ketakutan dalam benak masing-masing. Di saat kelima orang tua itu kesima tanpa bergerak itulah, tiba-tiba tangan Suma Bing bergerak melintang dan berputar. Dilancarkannya jurus pertama dari ilmu Giok Ci Sin Kang yang baru dipelajarinya itu, yaitu Bi Cu Hong Bong (Mayapada Remang-remang).
Di mana gelombang badai melanda, tanah merekah dan batu hancur lebur, pohon dan rumput berterbangan. Lima tombak sekitar gelanggang menjadi gegap gempita, terdengarlah beberapa kali jerit dan lolong panjang yang menyayat hati memecah kesunyian udara. Tampak tubuh kelima orang tua itu hancur lebur dan tercerai-berai ke mana-mana meliputi arena sepuluh tombak lebih.
Suma Bing sendiri juga terkejut dan kesima melihat hasil kekuatan ilmu Giok Ci Sin Kang ini; kedahsyatannya sungguh di luar taksiran sebelumnya. Semua jagoan Bwe Hwa Hwe yang hadir juga bukan main takut dan arwahnya terasa hampir melayang meninggalkan badan kasar. Saat mana Loh Cu Gi sudah mundur sejauh lima tombak lebih, wajahnya menunjukkan kejut dan keheranan, matanya terlongong memandangi Suma Bing. Sungguh susah dibayangkan dari manakah Suma Bing dapat mempelajari ilmu digdaya yang sakti mandraguna seperti ini hanya dalam jangka tiga bulan saja.
Suma Bing maju beberapa langkah lagi. "Loh Cu Gi, serahkan nyawamu!" tiba-tiba dia menggertak keras, tubuhnya pun sudah melesat tiba di hadapan Loh Cu Gi terpaut tiga tombak jauhnya. "Buyung, jangan terlalu takabur!" Selarik sinar merah kemilau mendesis menerjang ke arah Suma Bing. Sekali ini agaknya Loh Cu Gi sudah mengerahkan seluruh kekuatan Kiu Yang Sin Kang yang dipandang sebagai ilmu yang tiada bandingannya di dunia ini.
Suma Bing juga menggerung keras, dengkulnya sedikit ditekuk, tangannya bergerak melancarkan jurus Mayapada Remang-remang itu tadi untuk menyongsong serangan lawan. Begitu dua ilmu sakti saling berhantam, terbitlah guntur yang menggelegar; saking dahsyat benturan ini sampai bumi pegunungan sekitarnya terasa bergetar laksana gempa bumi. Karena benturan dahsyat ini, Suma Bing terpental balik dan terhuyung delapan langkah baru bisa berdiri tegak lagi. Sebaliknya, Loh Cu Gi juga mencelat mundur tiga tombak jauhnya, air mukanya pucat pasi, darah meleleh keluar dari ujung bibirnya. Tokoh nomor satu pada empat belas tahun yang lalu itu ternyata tidak kuat menahan gebrak pertama serangan Suma Bing. Malah puluhan jago Bwe Hwa Hwe yang terdekat juga terpental sungsang-sumbel dan jungkir balik ke empat penjuru.
Maka tanpa bersuara lagi, mendadak Loh Cu Gi membalik tubuh terus melesat terbang memasuki hutan rimba sebelah sana. Maka semua anak buah Bwe Hwa Hwe yang masih ketinggalan hidup beramai-ramai melenting mencawat ekor coba melarikan diri. "Mau lari ke mana?" Suma Bing menghardik keras sekali, tubuhnya juga melenting maju memburu dengan kencang. Namun, rimba itu sedemikian lebat dan di dalam bawah jurang pula, maka dalam sekejap mata saja bayangan Loh Cu Gi sudah menghilang tanpa bekas. Saking gusar, kepala Suma Bing sampai menguap, dada juga hampir meledak. Tahu dia akan sia-sia terus mengejar, maka begitu memutar balik, ganti para kunyuk yang ketakutan itulah yang menjadi korban demi pelampiasan kedongkolan hatinya.
Maka di mana-mana timbul pekik dan jerit kesakitan yang menyayat hati. Mungkin hanya seorang dari sepuluh orang yang dapat menyelamatkan diri, selebihnya sudah menjadi setan gentayangan di bawah tangan Suma Bing. Setelah mengumbar kedongkolan hatinya dengan berpesta pora dengan pembunuhan yang keji itu, baru Suma Bing merasa puas dan menghentikan sepak terjang selanjutnya. Gumamnya sambil kertak gigi, "Kalau aku tidak menimbulkan banjir darah di Bwe Hwa Hwe, aku bersumpah tidak menjadi manusia!" Suasana sekelilingnya sunyi senyap seolah-olah tiada insan lagi yang masih tetap hidup di dunia fana ini.
Sekuat tenaga Suma Bing menekan gejolak hatinya serta menerawangi tindakan selanjutnya. Langsung meluruk ke markas besar Bwe Hwa Hwe atau mencari dulu jejak istri dan bibinya? Di manakah kiranya sekarang ibunya berada? Kalau ibunya belum ketemu, sukar untuk dapat mengetahui siapa-siapa saja yang menjadi musuh besar keluarganya. Apa lebih baik mengantar dan mengembalikan Bu Siang Po Liok ke Siau Lim Si? Setelah berpikir dan ditimbang sekian lamanya, akhirnya dia mengambil keputusan untuk pergi dulu ke Gereja Siau Lim.
Perempuan yang terkurung di belakang puncak Siau Sit Hong itulah yang masih membuat hatinya kurang tenteram, dia curiga mungkin perempuan itu adalah ibundanya yang telah hilang itu. Maka tujuannya ini boleh dikata sekali tepuk dua lalat. Meskipun Pek Kut Hujin pernah memperingatkan bahwa perempuan itu bukan orang yang tengah dicarinya, ia harus membuktikan sendiri kenyataan ini untuk membuka ganjalan hatinya selama ini. Sekarang ilmu sakti sudah sempurna dipelajarinya, setahap demi setahap dia bakal dapat menyelesaikan dendam permusuhannya dengan para musuh besarnya; ini tinggal tunggu waktu saja.
Begitulah, tanpa ayal lagi Suma Bing langsung berayun menuju ke Siong San Siau Lim. Hari itu dia sudah beranjak di jalan raya yang menuju ke wilayah Ho Lam; menurut perhitungannya, lima hari lagi dia pasti sudah tiba di atas gunung Siong San itu. Betapa tinggi ilmu ringan tubuh Suma Bing saat itu, luncuran tubuhnya seumpama bintang terbang. Sekonyong-konyong terlihat di depan sana ada setitik putih tengah berlari kencang, semakin lama titik putih itu tersusul dan semakin besar. Setelah membelok sebuah tikungan, bayangan putih itu melesat memasuki hutan lebat di pinggir jalan sebelah kanan. Sejak memperoleh ilmu Giok Ci Sin Kang, pandangan mata Suma Bing semakin jeli dan tajam luar biasa. Hanya sekali pandang saja, diketahuinya bahwa bayangan putih itu tidak lain adalah Rasul Penembus Dada, tokoh yang paling ditakuti kaum persilatan masa itu.
Setelah ditolong malah mentung. Kalau Rasul Penembus Dada muncul dengan gerak-gerik yang mencurigakan ini, pasti ada tujuan yang tertentu. Mungkin di sinilah markas atau sarang Jeng Siong Hwe itu berada atau mungkin juga... Begitu membelok haluan, dia juga mengikuti menerjang masuk ke dalam hutan lebat itu. Dengan kepandaiannya saat itu yang sangat sakti dan menakjubkan, meskipun gerak-gerik Rasul Penembus Dada sangat cekatan dan gesit sekali selulup-timbul di antara dahan-dahan pohon, sebegitu jauh masih tak lepas dari pandangan matanya. Dia sengaja mengendorkan langkahnya untuk menguntit terus di belakangnya. Betapa tinggi kepandaian Rasul Penembus Dada, toh sejauh itu belum mengetahui bahwa dirinya dikuntit orang.
Setelah melewati hutan lebat ini, di depan sana terlihat melintang sebuah anak sungai yang lima tombak lebarnya. Di antara keremangan dan himpitan dahan dan daun pohon, samar-samar terlihat bangunan sebuah gubuk. Tanpa sangsi dan takut-takut, Rasul Penembus Dada langsung terbang melewati anak sungai itu, terus melesat ke arah gubuk bambu itu. Bukan kepalang heran Suma Bing, buat apa Rasul Penembus Dada mendatangi sebuah gubuk reyot yang dibangun di tengah hutan belukar begini? Mungkinkah... Tengah ia berpikir-pikir, terdengar Rasul Penembus Dada sudah memperdengarkan tawa dinginnya dan membuka suara ke arah gubuk bambu itu, "Pek Chio Lojin, apa kau minta tuanmu ini masuk ke dalam gubuk untuk menyilahkan kau keluar?"
Begitu mendengar nama Pek Chio Lojin, berdetak jantung Suma Bing. Teringat olehnya waktu dirinya memohon sebutir Hoan Hun Tan di Yo Kong Bio dulu, layon jenazah Pek Chio Lojin terang terletak di ruang tengah sembahyang. Apa mungkin seperti apa yang dikatakan oleh Rasul Penembus Dada dulu bahwa dia hanya pura-pura mati untuk mengelabui? Untuk apa dan kenapa Rasul Penembus Dada mati-matian mengejar dan tidak melepaskan Pek Chio Lojin? Terbawa oleh keinginan tahunya, dengan gerak raga yang cepat luar biasa, seenteng daun ia melayang melewati anak sungai itu, terus menyelinap dan bersembunyi di rumpun bunga yang terletak di samping gubuk bambu.