Chapter 116
Terdengar pintu gubuk bambu berderit terbuka. Begitu pintu gubuk terbentang, berjalan keluar seorang tua beruban yang bertubuh tegap dan penuh semangat.
"Tua bangka!" maki Rasul Penembus Dada dengan sikap angkuh dan dingin. "Waktu di Yok Ong Bio untung kau dapat lolos, tapi menghindari yang pertama takkan berarti dapat lolos untuk yang kedua. Semua orang yang terdaftar dalam buku catatan, siapa pun takkan dapat menyelamatkan diri!"
Wajah Pek Chio Lojin menampilkan rasa kaget dan ketakutan. Katanya dengan gemetar, "Lohu sudah lama tidak mencampuri urusan dunia, kenapa perkumpulan kalian tetap tidak melepas Lohu?"
"Enak benar kau berkata tidak turut campur urusan dunia. Ketahuilah, cundrik yang kemilau tajam ini selamanya belum pernah membunuh seorang pun tanpa dosa!"
Pek Chio Lojin tersurut selangkah, semprotnya bengis, "Ada permusuhan apa Lohu dengan perkumpulan kalian?"
Rasul Penembus Dada mencemooh dingin, "Sudah tentu akan kubuat kau mati secara tulus ikhlas!" Sambil berkata itu, sinar cundrik di tangannya berkelebat. Tahu-tahu ia sudah mendesak tiba di hadapan Pek Chio Lojin sejarak jangkauan tangan.
Pek Chio Lojin tertawa getir, katanya, "Rasul Penembus Dada, waktu cundrikmu menembus dadaku, saat itu juga ajalmu telah tiba."
Rasul Penembus Dada tertawa gelak-gelak, ejeknya tanpa mengacuhkan ancaman lawan, "Tua bangka, kau pintar meramu tanaman obat-obatan, paham betul akan sifat-sifat pengobatan, juga pandai menggunakan racun. Tapi ketahuilah, kau akan sia-sia. Dengan racunmu yang tidak berarti itu, apa yang mampu kau lakukan padaku?"
Wajah Pek Chio Lojin berubah pucat, tubuhnya gemetaran, keringat dingin membanjir keluar. Tiba-tiba mulut Rasul Penembus Dada komat-kamit entah mengucapkan apa. Seketika rambut Pek Chio Lojin berdiri tegak, air mukanya semakin pucat sampai raganya terhuyung limbung, serta serunya tergagap, "Kau... kau... kau ini..."
"Kau akan mati tanpa penasaran!" seru Rasul Penembus Dada sambil mengayunkan cundrik.
"Stop!" Mendadak pada saat itu juga terdengar sebuah bentakan nyaring. Diiringi suara bentakan ini, tampak seorang pemuda berwajah cakap dan ganteng dengan air muka kaku dingin muncul dari rumpun bunga bagaikan bayangan setan. Dia tidak lain adalah Sia Sin kedua, Suma Bing.
Saking terkejut, Rasul Penembus Dada mundur tiga tindak, serunya gemetar, "Lagi-lagi kau!"
"Benar, inilah cayhe adanya!" sahut Suma Bing tawar.
"Suma Bing, apa kehendakmu?" Nama Suma Bing ini agaknya membuat Pek Chio Lojin tergetar dan melongo.
Setelah melirik ke arah Pek Chio Lojin, berkatalah Suma Bing, "Tidak apa-apa, hari ini aku tidak mengizinkan kau membunuh orang!"
"Suma Bing, berulangkali kau merintangi dan menentang sepak terjangku, apa kau tahu apa akibatnya nanti?"
"Bagaimana?"
"Cundrik ini akan menembus dadamu!"
"Hehehe, meski cundrikmu sangat tajam, mungkin tidak mempan menembusi dadaku!"
"Ya, nanti kita buktikan!"
"Selalu cayhe nantikan, tapi sekarang kusilahkan kau segera menggelinding pergi!"
"Suma Bing, kau sangka aku tidak kuasa membunuhmu?"
"Memang kenyataannya kau tidak mampu!"
Rasul Penembus Dada menggerung gusar, sinar cundriknya berkelebat bagai kilat, langsung menusuk ke ulu hati Suma Bing. Tapi Suma Bing bergerak lebih cepat, berkelit ke samping sambil membentak, "Kau sendiri yang cari mati?"
Begitu serangannya gagal, mendadak Rasul Penembus Dada membalik tubuh, terus menusuk ke arah Pek Chio Lojin. Perbuatan Rasul Penembus Dada ini benar-benar di luar dugaan Suma Bing. Dalam gugupnya, mendadak ia melancarkan pukulan jarak jauh.
'Blang!' disertai pekik kesakitan, tampak Rasul Penembus Dada sempoyongan dua tombak jauhnya. Darah segar mengalir deras dari dada Pek Chio Lojin, tubuhnya limbung hampir roboh. Agaknya pukulan Suma Bing tadi telah menolong jiwanya, sehingga tusukan Rasul Penembus Dada tidak menamatkan riwayatnya.
Mata Suma Bing melotot berapi-api menatap wajah di balik kedok Rasul Penembus Dada, desisnya, "Kali ini kuampuni jiwamu, lekas menggelinding pergi!"
Insaf kalau bukan tandingan Suma Bing lagi, setelah membanting kaki dengan gemas, Rasul Penembus Dada mencelat jauh dan menghilang.
Saat itu, Pek Chio Lojin sudah menutup jalan darah seperlunya, lalu katanya gemetar, "Sudah dua kali Suma Siau Hiap mengulur tangan menolong jiwa Lohu, sungguh terima kasih Lohu tak terhingga."
Sebetulnya, Suma Bing sendiri tidak tahu mengapa dia turun tangan menolong jiwa Pek Chio Lojin. Mungkin karena rasa dendamnya kepada Rasul Penembus Dada belum lenyap. Dia tahu kalau Rasul Penembus Dada tengah menuntut balas, tapi akhirnya toh dia turun tangan juga. Dulu, walaupun dirinya pernah memperoleh sebutir Hoan Hun Tan, dirinya sudah membelanya mati-matian dari renggutan maut ancaman Rasul Penembus Dada, sehingga jasad Pek Chio Lojin tidak sampai hancur berantakan. Loh Siau Ling, murid perempuan Pek Chio Lojin, adalah putri musuh besarnya, Loh Cu Gi. Kalau racun tidak muncul tepat pada waktunya, terang dirinya sudah konyol di bawah penggantian syarat yang diajukan oleh Loh Siau Ling.
Kalau dikatakan budi dan dendam kedua belah pihak sudah sama hapus dan impas, sudah tiada hutang piutang lagi. Oleh karena pikirannya ini, maka dengan tawar ia menyahut, "Tidak perlu terima kasih apa segala, cayhe tidak sengaja hendak menolong jiwamu!"
Ujar Pek Chio Lojin dengan perasaan haru, "Tapi kenyataan tetap kenyataan, tak mungkin dihapus dan diakui!"
Segera Suma Bing mengangkat tangan serta pamit, "Cayhe minta diri!"
Sekonyong-konyong terdengar keluhan panjang, lantas terlihat Pek Chio Lojin roboh terkapar. Terperanjat Suma Bing, pikirnya, 'Agaknya lukanya itu tidak ringan. Kalau sudah mau menolong, jangan kepalang tanggung. Biar kupapah masuk ke dalam gubuk, mati atau hidup terserah kepada nasibnya sendiri.'
Maka bergegas ia maju mendukung tubuh Pek Chio Lojin, terus dibawa masuk ke gubuk. Keadaan dalam gubuk sangat sederhana, hanya terdapat sebuah meja, kursi, sebuah lemari, dan sebuah dipan. Keadaan ruang sebelah dalam tidak diketahui karena tertutup kain yang menjulai panjang di atas pintu. Sedikit ragu, lantas Pek Chio Lojin direbahkan di atas dipan itu.
Baru saja ia hendak meletakkan tubuh yang dibopongnya itu, tiba-tiba terasa jalan darah Bing Bun Hiat kesemutan. Hatinya tercekat dan sebelum suaranya keluar, tubuhnya sudah terkapar jatuh lemas.
Pek Chio Lojin melompat bangun sambil bergelak tawa kegila-gilaan. Mimpi pun Suma Bing tidak menyangka Pek Chio Lojin bakal membalas kebaikannya dengan tipu muslihat keji ini. Karena tidak mengira dan berjaga-jaga, saat sadar namun sudah terlambat, karena jalan darahnya sendiri sudah tertotok oleh lawan.
Meskipun Giok Ci Sin Kang merupakan ilmu digdaya yang tiada taranya yang dapat melindungi jiwa raganya, tapi sebelum pikiran bekerja, ilmu ini takkan dapat bergerak sendiri. Demikian juga keadaan kali ini, belum pikiran siaganya timbul tahu-tahu sudah tertotok, maka bagaimanapun lihai dan ampuh ilmunya itu, saat ini toh tidak berguna lagi. Begitu kena totok, keadaannya tak ubahnya seperti manusia umumnya.
Kain panjang yang menjulai itu tersingkap, keluarlah seorang gadis cantik rupawan serba hitam dengan langkahnya yang ringan dan berlenggang. Dia tidak lain adalah Loh Siau Ling, putri musuh bebuyutannya.
Hampir meledak dada Suma Bing, ingin rasanya membedah dan mencincang kedua orang di hadapannya ini. Tapi karena jalan darah sudah tertotok, memaki atau gembar-gembor juga tidak berguna. Dia insaf keadaannya ini sangat kritis, sudah terang kalau Pek Chio Lojin ini adalah komplotan dari pihak Bwe Hwa Hwe. Kebaikan hatinya tadi berarti mengantar badan sendiri ke mulut harimau, tentu sangat kebetulan bagi mereka. Maka diam-diam ia kerahkan ilmu saktinya untuk mencoba membobol sendiri jalan darah yang tertotok itu.
Sekilas Loh Siau Ling melirik ke arah Suma Bing serta mencemooh dingin, "Gwakong (Kakek), sungguh membuat aku gugup setengah mati. Untung ada makanan empuk ini yang menyibakkan kesialanmu!"
Walaupun Suma Bing tertotok dan tidak dapat bergerak, namun pendengarannya masih terang. Panggilan Gwakong itu membuktikan bahwa ibu Loh Siau Ling, yaitu Ang Siu Li Ting Yan, pasti adalah anak perempuan Pek Chio Lojin ini.
Pek Chio Lojin bergelak tertawa, ujarnya, "Ini benar-benar suatu kebetulan yang sangat kebetulan."
"Bagaimana keadaan luka Gwakong?"
"Hanya luka luar saja, dalam dua hari pasti sudah sembuh."
"Lantas bocah ini bagaimana?"
"Lenyapkan ilmu silatnya dan bawa kembali ke markas besar!"
"Melenyapkan ilmu silatnya?"
"Sudah tentu, kalau tidak, siapa berani membawa-bawa harimau galak ini!"
"Bukankah dibunuh saja lebih beres?"
"Eeee, jangan!"
"Kenapa?"
"Hehehehehe, ketahuilah kedudukan bocah ini sangat penting. Dia adalah Huma dari Te Po, itu salah satu tempat keramat yang paling disegani. Harga dirinya tidak di bawah benda-benda pusaka dunia persilatan..."
"Aku tidak mengerti!"
"Lingji," ujar Pek Chio Lojin bergelak tertawa sambil mengurut janggutnya, "Apa kau tahu tokoh macam apakah mertua bocah ini atau majikan dari Te Po itu?"
"Aku tidak tahu!"
Pikiran Suma Bing tetap terpusat dalam pengerahan tenaga untuk menjebol jalan darah yang tertotok. Terdengar Pek Chio Lojin berkata riang gembira, "Anak Ling, dia bernama Pit Gi!"
"Pit Gi? Memangnya kenapa?"
"Tokoh silat nomor satu pada pertandingan silat di puncak Hoa San yang pertama!"
"O! Jadi, Ayah adalah tokoh silat nomor satu pada aduan silat yang kedua, ini juga tidak..."
"Anak Ling, kau ini orang kecil tapi pembawaanmu besar. Apa kau kira gampang memperoleh julukan tokoh silat nomor satu di seluruh jagat ini? Berapa banyak orang yang mengimpikan mendapat julukan yang diagungkan ini."
"Apakah tokoh silat nomor satu di seluruh jagat lantas benar-benar tiada tandingannya di seluruh dunia?"
"Ini juga belum tentu. Orang pandai masih ada yang lebih pandai, gunung tinggi ada yang lebih tinggi lagi."