Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 117

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 117

Tokoh silat nomor satu di seluruh jagat hanya diukur dari keadaan waktu itu pada tokoh-tokoh silat yang ikut bertanding saja; dari pertandingan itu, keluarlah sang juara.

"Hal ini ada sangkut paut apa dengan Suma Bing?"

"Sudah tentu ada hubungannya."

Konon, waktu Pit Gi dulu merebut kedudukan kursi pertama yang teragung dalam kalangan persilatan, itu adalah karena mengandalkan *Kiu im sin kang*. Kalau kita menggunakan Suma Bing sebagai sandera dan memintanya mengeluarkan *Kiu im sin kang* sebagai imbalan, lalu digabung dengan *Kiu yang sin kang* milik ayahmu, begitu negatif dan positif bergabung, dapat melatih sebuah ilmu yang dinamakan *Bu khek sin kang*. Seluruh jagat raya ini takkan ada orang yang berani menandingi!"

"Apa benar?"

"Masa kakekmu mau menipumu?"

"Dari mana kau bisa tahu bahwa majikan Te po itu adalah tokoh nomor satu yang terdahulu itu?"

"Julukan Pit Gi adalah Kiu im Suseng. Waktu dia menduduki tokoh pertama dulu, semua orang jelas mengetahui, hanya mereka tidak tahu bahwa dia ternyata adalah majikan dari Te po. Kebetulan Gandarwa Merah Ngo Tang, anak buah dari Menara Setan, mendapat tugas untuk pergi menantang Pit Gi, maka berita ini baru tersebar di seluruh Kangouw. Kalau tidak, teka-teki ini takkan ada yang dapat memecahkan."

"O, kiranya begitu!"

"Urusan ini sangat penting, jangan ditunda-tunda lagi, lenyapkan dulu ilmu silatnya!"

Habis ucapannya, tangannya diulur hendak menotok jalan darah di bawah perut Suma Bing.

"Eh, benda apakah ini?" tiba-tiba ia berseru heran.

Usaha Suma Bing sudah hampir mencapai hasil. Begitu melihat Pek chio Lojin hendak melenyapkan ilmu silatnya, ia merogoh keluar buntalan merahnya. Ia kaget dan merasa semangatnya melayang keluar; karena tidak dapat bergerak, terpaksa ia diam saja.

"Apakah itu?" tanya Loh Siau ling cepat.

Pelan-pelan Pek chio Lojin membuka buntalan merah itu, lalu diambilnya sejilid buku kecil yang agak tipis. Begitu melihat judul di atas sampulnya, kontan dia tertawa terbahak-bahak bagai mendapat lotre jutaan.

"Gwakong, apakah itu sebenarnya?"

"*Bu siang po liok*, hahahahaha... Ilmu gerak tubuh paling hebat di seluruh jagat ini, entah bagaimana bisa terdapat di tubuh bocah ini?"

"Coba kulihat!" seru Loh Siau ling terus maju merebut.

Pada saat itulah kebetulan jalan darah Suma Bing sudah jebol semua. Ia mendadak mencelat bangun dan langsung mencengkeram ke arah *Bu siang po liok* itu. Terdengar dua seruan kaget dan tertahan; Loh Siau ling dan Pek chio Lojin lari lintang pukang keluar gubuk.

Begitu cengkeramannya luput, Suma Bing juga ikut melesat keluar. Sungguh kebenciannya kepada Pek chio Lojin luar biasa. Tanpa banyak suara lagi, dengan jurus "Mayapada remang-remang" langsung ia menyerang Pek chio Lojin. Di mana gelombang badai menerjang, tiba-tiba menimbulkan angin ribut yang gegap gempita. Tampak raga Pek chio Lojin terbang melayang-layang diselingi jeritannya yang menyayat hati, terus terbanting keras di atas tanah kira-kira sejauh sepuluh tombak. Loh Siau ling sendiri juga terpental sempoyongan jungkir balik.

Mata Suma Bing menatap tajam ke arah Loh Siau ling, pintanya: "Kembalikan!"

Wajah Loh Siau ling pucat pasi, jantungnya berdetak keras hampir melonjak keluar. Ia mundur ketakutan dan bertanya dengan gemetar: "Kau bunuh Gwakongku?"

"Gwakongmu?" dengus Suma Bing penuh kebencian. "Hehehe, ketahuilah, dari ayahmu sampai seluruh anak buah dan keluarganya akan kutumpas habis seakar-akarnya!"

"Suma Bing," seru Loh Siau ling bengis. "Ada dendam dan sakit hati apakah kau dengan ayahku?"

"Dendam sedalam lautan, kebencian setinggi gunung. Sekarang kau dulu yang harus kubunuh!"

"Jangan bergerak!" Loh Siau ling berteriak tinggi sambil mengacungkan *Bu siang po liok* serta mengancam lagi: "Suma Bing, berani kau bergerak, biar kuremas hancur bukumu ini!"

Suma Bing terkesiap. Kalau lawan benar-benar menghancurkan buku itu, bagaimana kelak dia memberi laporan kepada Giok li Lo Ci, dan bagaimana pula dia harus memberi pertanggungjawaban kepada pihak Siau lim? Inilah buku catatan ilmu warisan yang sangat berharga dari partai Siau lim!

Loh Siau ling melihat keterkejutan Suma Bing dan tahu bahwa tindakan serta ancamannya ternyata membawa hasil. Maka katanya lagi sambil tersenyum mengejek: "Suma Bing, sekarang kau boleh pergi. Kalau kau memang seorang jantan, datanglah ke markas besar Bwe hwa hwe untuk mengambilnya. Seumpama kau berani menggunakan kekerasan, pasti kuhancurkan dulu *Bu siang po liok* ini!"

"Kau berani?"

"Kenapa tidak berani?"

"Berani kau merusak buku itu, akan kubuat tubuhmu hancur lebur menjadi abu!"

Pada saat itulah tiba-tiba melayang turun sebuah bayangan hitam; kiranya seorang pemuda ganteng.

"Kau..." tercetus seruan kejut dan heran dari mulut Suma Bing.

Pemuda ganteng yang tak diundang ini tidak lain adalah adik ipar Suma Bing, yaitu Phoa Cu giok. Kedatangannya yang mendadak ini benar-benar mengejutkan Suma Bing.

"Engkoh Giok!" terdengar Loh Siau ling memanggil dengan mesranya.

Suma Bing melongo heran. Agaknya Loh Siau ling ini adalah kekasih Phoa Cu giok, ini benar-benar di luar tahunya. Sekilas Phoa Cu giok memandang Suma Bing, lalu berputar menghadapi Loh Siau ling dan berkata: "Adik Ling, ada kejadian apakah?"

"Dia hendak membunuh aku!"

"Bunuh kau, mengapa?"

"Katanya dia bermusuhan dengan ayahku, itu kakekku telah dibunuhnya!"

Suma Bing tidak tahan lagi, tanyanya: "Cu giok, di mana Suhu dan toacimu?"

"Aku tidak tahu?" sahut Cu giok tertegun.

"Apa kau tidak tahu?"

"Bukankah di dalam lembah?"

"Hm, di sana sekarang sudah menjadi tumpukan puing, itulah karya dari Bwe hwa hwe!"

Berubah hebat air muka Phoa Cu giok.

"Engkoh Giok, kau kenal dia?" tanya Loh Siau ling heran.

"Dia adalah cihuku (suami kakak)!"

"Apa Suma Bing adalah cihumu?"

Suma Bing menatap Phoa Cu giok dan berkata berat: "Suruh dia mengembalikan buku itu kepadaku!"

"Buku, buku apa?"

"*Bu siang po liok*. Kudapat titipan dari orang untuk dikembalikan ke Siau lim si!"

"*Bu siang po liok*, benda berharga dunia persilatan!" Rona wajah Phoa Cu giok berubah tak menentu. Akhirnya ia berpaling ke arah Loh Siau ling dan berseru: "Kembalikan kepada dia!"

"Tidak mungkin!"

"Kau tidak dengar kataku?"

"Nanti dia akan membunuh aku!"

"Ada aku di sini, tidak mungkin dia membunuh kau!"

Menggunakan kesempatan percakapan mereka itulah, bagai bayangan iblis saja Suma Bing berkelebat maju lalu mencengkeram secepat kilat, terus berkelebat lagi kembali ke tempat asalnya. *Bu siang po liok* sekarang sudah kembali dalam genggamannya; betapa cepat dan sebat gerakannya, benar-benar sangat mengejutkan.

Untuk membunuh Loh Siau ling sekarang, bagi Suma Bing segampang membalikkan tangan. Tapi dia menjadi ragu-ragu dan bimbang, karena dia adalah calon istri Phoa Cu giok, adik iparnya. Tak mungkin dia turun tangan; seumpama tidak membunuhnya, kejengkelan hatinya ini rasanya sukar terlampiaskan.

Dengan rasa kejut dan curiga, bertanyalah Phoa Cu giok kepada Suma Bing: "Cihu, menurut katamu, cici dan Suhu telah hilang?"

Suma Bing mengiakan.

"Benarkah dalam lembah sana sudah terbumi hangus menjadi tumpukan puing?"

"Kau kira aku berdusta?"

"Perbuatan dari Bwe hwa hwe?"

"Benar, malah pernah kutempur Loh Cu gi di dalam lembah itu, sayang dia dapat meloloskan diri."

Terlintas bayangan nafsu membunuh di wajah Phoa Cu giok, namun mimiknya ini tidak kentara di lahirnya. Katanya sambil mendekat ke arah Loh Siau ling: "Adik Ling, cici dan suhuku telah hilang karena perbuatan ayahmu serta anak buahnya!"

Sahut Loh Siau ling lesu berduka: "Itu bukan urusanku, apalagi kau sendiri tidak pernah memperkenalkan asal-usulmu, siapa tahu..."

"Setiap orang yang menyakiti hati Phoa Cu giok harus kubalas!"

"Engkoh Giok, kau..."

"Adik Ling, tubuhmu sudah menjadi milikku, sudah tentu kau tak mungkin lari menikah dengan orang lain. Hidup atau mati jadi setan juga kau sudah menjadi keluarga Phoa, coba katakan betul tidak?"

Loh Siau ling mundur ketakutan, tanyanya: "Engkoh Giok, untuk apa kau berkata demikian? Kau masih menyangsikan cintaku kepadamu?"

"Tidak, aku tahu kau sangat mencintai aku!"

"Lalu kau..."

"Mendadak aku sadar bahwa aku tidak mungkin mencintai kau lagi!"

Pucat wajah jelita Loh Siau ling, desisnya gemetar: "Kau tidak cinta aku lagi?"

"Benar, bukan tidak cinta, tapi tidak mungkin mencintai kau!"

"Engkoh Giok, aku..." dua butir air mata meleleh membasahi pipinya yang putih halus kemerah-merahan. Agaknya cintanya terhadap Phoa Cu giok memang sangat dalam.

Phoa Cu giok masih tetap tenang, tanpa berubah nada ia berkata lagi: "Adik Ling, kau jangan salahkan aku?"

"Aku... engkoh Giok, aku cinta kepadamu! Perbuatan ayah yang durhaka itu jangan kau timpahkan kepadaku..."

"Siapa menyuruh kau menjadi putrinya?"

"Kau... apa yang hendak kau lakukan?"

Membesi raut muka Phoa Cu giok, geramnya: "Aku harus membunuhmu!"

Ucapan ini membuat Suma Bing melonjak kaget, terus teriaknya: "Cu giok, jangan sembrono..."

Tapi sudah terlambat, belum lenyap seruan Suma Bing, sudah terdengar jeritan panjang yang mengerikan memecah kesunyian udara. Phoa Cu giok benar-benar tega membunuh kekasihnya sendiri, ini benar-benar kejadian yang susah dapat dipercaya. Sedemikian cakap dan ganteng pemuda ini, tidak nyana berhati kejam, telengas, dan buas melebihi binatang. Sedemikian tega dia turun tangan jahat kepada kekasihnya.

Suma Bing sendiri sampai merinding dan berdiri bulu kuduknya, serunya gemetar: "Phoa Cu giok, kau betul-betul membunuhnya?"

Phoa Cu giok tenang-tenang seperti tak terjadi apa-apa, sahutnya acuh tak acuh: "Aku Phoa Cu giok pasti membalas setiap perbuatan orang yang menyakiti hatiku. Kejadian ini harus kau salahkan ayahnya!"

"Tapi dia adalah kekasihmu?"

"Kekasih lantas terhitung apa? Sedemikian besar dunia ini, di mana-mana aku dapat memetik bunga yang harum!"

Bergidik dan merinding seluruh tubuh Suma Bing. Baru pertama kali ini ditemuinya seorang yang kejam tidak mengenal kasihan ini, apalagi seorang pemuda yang cakap dan belum berusia dua puluh tahun.

"Phoa Cu giok, kau terlalu kejam!"

"Suma Bing, terpaksa kau kuakui sebagai cihu, harap bicaralah sungkan sedikit!"

Keruan timbul kemurkaan Suma Bing, bukan karena menyayangi kematian Loh Siau ling, sebab Loh Siau ling adalah putri musuh besarnya, melainkan karena sepak terjang dan perbuatan Phoa Cu giok yang keji tidak mengenal peri kemanusiaan itulah menimbulkan rasa tidak puasnya, maka sahutnya dingin: "Kau tidak mau mengakui bahwa perbuatanmu ini mendekati perbuatan yang sadis?"

"Hal itu memang belum pernah kupikirkan, aku hanya memikirkan keselamatan cici dan Suhu saja!"

"Tapi kan belum tentu mereka benar-benar sudah meninggal bukan?"

"Tidak peduli bagaimana, pendeknya dia memang setimpal menerima kematiannya!"

"Phoa Cu giok, perbuatanmu inilah yang setimpal harus dibunuh!"

Phoa Cu giok menyeringai sinis, ujarnya: "Suma Bing, jangan kau takabur akan kepandaianmu, jikalau tidak kupandang muka cici..."

"Kau mau apa?"

"Kau juga harus kubunuh!"

Hampir meledak dada Suma Bing, saking marah dia malah tertawa, serunya: "Cobalah kau turun tangan."

"Kau sangka aku tidak berani?" sambil mengerang, langsung ia menggenjot ke dada Suma Bing. Baru sampai di tengah jalan, pukulannya mendadak bergetar menjadi bayangan beberapa buah kepalan, seakan bunga salju yang melayang-layang di tengah udara, terus mengurung dua belas jalan darah penting bagian atas tubuh Suma Bing.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment