Chapter 118
Pukulan ini boleh dikata sangat aneh dan ganas.
Suma Bing gusar bukan kepalang. Tanpa berpikir panjang, ia menghimpun kekuatan *Kiu yang sin kang* sampai sepuluh bagian untuk menyongsong pukulan musuh. Terdengar gerungan tertahan, tampak Phoa Cu Giok terhentak terbang sejauh dua tombak lebih, sementara ujung bibirnya melelehkan darah segar.
Suma Bing tertegun dalam hati, "Agaknya pukulanku terlalu berat." Wajah Phoa Cu Giok diliputi rasa kebencian yang berapi-api, sorot matanya buas, lalu ia berhardik bengis, "Suma Bing, jangan kau sesalkan aku turun tangan kejam!"
Pada saat yang tepat, mendadak terdengar sebuah bentakan nyaring, "Cu Giok, berani kau kurang ajar kepada cihumu!" Begitu suara itu lenyap, meluncurlah sebuah bayangan di hadapan mereka. Pendatang ini tidak lain adalah bibi Suma Bing, Ong Fong Jui.
Dengan rasa terkejut dan takut, Phoa Cu Giok mundur dua langkah, lalu bertekuk lutut seraya menyapa, "Suhu, terimalah hormatku!"
Dengan dingin, Ong Fong Jui melotot ke arahnya. "Cu Giok, lagi-lagi kau berani lari keluar. Inilah peringatan terakhir dariku. Jika kau berani berbuat jahat dan menyebar bencana di mana-mana, pasti kuhukum menurut peraturan perguruan nomor satu!"
"Ampun, Suhu, anak Giok sudah insaf akan dosanya!"
Baru sekarang Suma Bing berkesempatan maju memberi hormat. "Bibi, apakah kau baik-baik saja?"
"Bing-tit, apakah yang telah terjadi?"
Suma Bing segera menceritakan kejadiannya secara ringkas dan jelas. Ong Fong Jui gusar bukan kepalang, ia menyemprot Phoa Cu Giok, "Cu Giok, memang kau setimpal untuk dibunuh. Mengingat pesan terakhir ayah ibumu, maka cicimu sangat menyayang dan mengeloni kau. Akan datang suatu hari pasti cicimu akan celaka di tanganmu sendiri." Phoa Cu Giok menunduk diam tanpa berani bergerak.
Suma Bing bertanya, "Bibi, apakah Kin Sian selamat?"
"Dia baik-baik saja, kenapakah kau tanyakan dia?"
"Ini tidak apa-apa, hanya bertanya saja. Di manakah dia sekarang?"
"Aku sudah ubek-ubek ke mana-mana mencari bocah durhaka ini. Ah, dia sungguh kasihan, dia seorang yang welas asih!"
"Waktu Titji kembali ke dalam lembah, kutemui..."
"Karena curiga kau bersembunyi di dalam lembah, maka Bwe Hwa Hwe melepas api membakar lembah untuk memaksa kau keluar!"
"O!" seru Suma Bing. Baru sekarang ia tahu duduk perkara sebenarnya.
"Bing-tit, agaknya *Lwekang*-mu..."
"Titji sudah mencapai hasil mempelajari ilmu yang tertera di dalam Pedang Darah dan Bunga Iblis!"
"Ah, apa benar? Sungguh menggembirakan, kuberi selamat kepadamu. Bagaimana jejak ibumu dan musuh besarmu?"
"Ini masih belum ketemu!"
"Kau harus berusaha sekuat tenaga untuk menyirapi keadaan ibumu. Kalau tidak, para musuh yang turut dalam pengeroyokan di puncak Kepala Harimau itu susah kau selidiki!"
"Benar!"
"Aku juga akan membantu sekuat tenaga mencari."
"Terima kasih akan bantuan Bibi!"
"Sekarang ke mana kau hendak pergi?"
"Aku diutus seorang *Cianpwe* untuk menyelesaikan pertikaian ratusan tahun yang lalu di gereja Siau Lim!"
"Pertikaian apakah itu?"
"Untuk mengembalikan *Bu Siang Po Liok* kepunyaan Siau Lim yang hilang ratusan tahun yang lalu!"
"O, kalau begitu kau harus segera berangkat!"
Setelah berpisah dengan bibinya, Suma Bing menyusuri jalan raya melanjutkan perjalanan menuju ke Siau Lim Si. Hari itu, pagi-pagi benar sebelum sang surya muncul dari peraduannya, di depan pesanggrahan gereja Siau Lim muncullah seorang pemuda yang bertubuh tegap garang dengan sikap kaku, dingin, dan angkuh. Ia tidak lain adalah Suma Bing. Terbayang olehnya peristiwa terdahulu waktu dirinya teringkus dan dikurung di dalam gereja agung ini. Maka tersimpullah dalam benaknya suatu tekad yang melebihi batas.
"Tuan, dari manakah itu sepagi ini sudah berkunjung ke biara kita? Silakan berhenti." Dua pendeta yang beralis tebal muncul di tengah jalan yang menuju ke atas gunung.
"Cayhe Suma Bing, berkunjung untuk kedua kalinya."
Setelah melihat siapa yang datang, kedua pendeta itu mundur ketakutan. Salah seorang pendeta memberanikan diri bertanya, "Ada keperluan apa Sicu berkunjung?"
"Urusan penting, mohon bertemu!"
"Harap Sicu suka menanti sebentar!" Kedua pendeta itu terus berlari bagai terbang.
Tak lama kemudian, seorang pendeta tua yang berwajah bersih dan angker melayang tiba di luar pintu pesanggrahan. Sekali pandang, Suma Bing tahu pendeta yang mendatangi ini tidak lain adalah Liau Ngo Hwesio. Ia segera mengangkat tangan menyapa, "Selamat bertemu, Taysu!"
Liau Ngo bersabda Buddha, lalu berkata dengan suara menggelegar, "Suma Sicu berkunjung pula ke biara kita, tentu ada keperluan, bukan?"
"Kalau tiada urusan, takkan berkunjung ke tempat suci. Sudah tentu Cayhe ada urusan sangat penting!"
"Harap tanya..."
"Setelah bertemu dengan Ciangbun kalian, pasti akan Cayhe terangkan!"
Pelajaran dan pengalaman yang terdahulu membuat Liau Ngo serba salah mengambil keputusan. Setelah bimbang sekian lama, akhirnya ia berkata, "Kenapa Sicu tidak terangkan sekalian maksud kedatanganmu, supaya Pinceng ada alasan memberi laporan!"
Suma Bing menjawab dingin, "Sebelum bertemu dengan Ciangbun kalian, maaf, aku tidak akan menerangkan!"
"Kalau begitu, terpaksa Pinceng menolak permintaan Sicu, harap Sicu..."
"Cayhe minta bertemu secara hormat, lebih baik Taysu jangan mempersukar. Kalau tidak..." nada Suma Bing mengancam.
"Kau mau apa?"
"Aku bisa langsung pergi menemui Ciangbun kalian, tak usah Taysu pergi melapor."
Air muka Liau Ngo berubah, sabdanya, "Omitohud, Sicu terlalu memandang rendah Siau Lim kita..."
"Kau sendiri yang mengatakan begitu!"
"Biara kita adalah tempat suci yang agung, harap Sicu berpikir sebelum bertindak!"
"Sudah kukatakan ada urusan penting baru aku datang kemari!"
"Silakan terangkan maksudmu itu?"
"Belum tiba saatnya!"
"Kalau begitu Pinceng tak dapat menyetujui!"
"Maka jangan kau salahkan aku berlaku kurang hormat, awas, aku akan menerjang masuk!"
Dari belakang Liau Ngo serempak muncul delapan pendeta yang rata-rata berusia pertengahan dengan membawa pentungan, berdiri berjajar di luar pintu pesanggrahan. Suma Bing mendengus dingin, katanya menegasi, "Taysu, aku tiada minat turun tangan. Kalau kalian masih tidak mengalah dan memaksa Cayhe turun tangan, segala akibatnya harus kalian sendiri yang bertanggung jawab!"
Liau Ngo yang menyambut tamu itu bergetar hatinya, ujarnya tersendat, "Sicu tidak mengingat pelajaran yang terdahulu?" Maksud ucapan Liau Ngo ini hendak memperingati Suma Bing bahwa ia dulu pernah diringkus oleh Hui Kong Taysu dalam satu gebrakan dan dikurung di kamar Ceng Sim Sek. Peristiwa itu merupakan noda hitam bagi Suma Bing.
Justru ini sangat menusuk perasaan dan gengsi Suma Bing. Timbullah sifat ugal-ugalannya, serunya sambil bergelak tertawa, "Taysu, setiap waktu aku juga selalu ingat peristiwa yang memalukan itu!"
Liau Ngo tertegun, tanyanya, "Jadi maksud kedatangan Sicu ini adalah untuk..."
Suma Bing menukas kata-kata orang, "Aku tidak sabar menanti lagi!"
"Kalau Sicu tidak mau menerangkan maksud kedatanganmu, maka Pinceng tidak akan menyambut secara hormat!"
"Kalau begitu silakan kalian minggir!"
Wajah Liau Ngo berubah tegang, matanya melotot gusar dan bersiaga. Serempak, kedelapan pendeta berpentung itu juga mengayunkan senjatanya. Agaknya bila Suma Bing benar-benar hendak menerjang dengan kekerasan, pasti mereka akan turun tangan mengeroyok.
Suma Bing mendengus ejek, tantangnya, "Kalian menantang berkelahi?"
Bentak Liau Ngo dengan bengis, "Di tempat yang keramat dan agung ini, jangan kau main lagak dan bertingkah!"
Memang Suma Bing sengaja hendak menuntut balas kekalahannya tempo hari untuk menjunjung pulang gengsinya, tapi tidak bermaksud melukai orang. Maka diam-diam ia kerahkan kekuatan *Giok Ci Sin Kang* untuk melindungi badan, mulutnya mengejek menghina, "Aku tidak percaya akan obrolanmu!" Sambil berkata, ia bergegas mengangkat langkah terus menerjang maju.
Sambil bersabda Buddha, Liau Ngo mengangkat sebelah tangannya terus mengepruk. Tanpa berkelit atau menyingkir, Suma Bing seakan-akan tidak merasa dan melihat serangan lawan ini.
*Blang!* Dentuman yang keras ini malah membuat tubuh Liau Ngo terpental membal menumbuk pintu pesanggrahan. Tangannya seperti memukul di atas besi baja yang keras luar biasa sehingga telapak tangannya kesakitan sendiri.
Menggunakan peluang inilah tiba-tiba Suma Bing berkelebat menghilang terus berlenggang menuju ke atas gunung. Terdengar bentakan dan makian yang riuh rendah, delapan senjata pentungan berbareng meluruk mengepruk ke atas kepalanya. Betapa hebat serangan gabungan ini sampai menerbitkan angin badai yang menderu-deru. Diiringi jerit dan pekik kesakitan, terlihat beberapa bayangan orang jumpalitan terbang ke empat penjuru. Kiranya kedelapan pendeta Siau Lim itu semuanya terpental sungsang sumbel bergelindingan di atas tanah.