Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 119

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 119

Tanpa memedulikan lawan-lawannya lagi, Suma Bing terus berlenggang menuju biara besar. Mendengung suara sabda Buddha, tahu-tahu lima pendeta tua berlis putih sudah mencegat di luar pintu biara. Mereka tidak lain adalah Siau Lim Ngo Lo.

Tersipu-sipu Suma Bing mengangkat tangan sambil menyapa, "Taysu sekalian, apa kabar selama berpisah?" Kelima Tianglo menunjukkan raut terkejut dan gusar. Sahut Hi Bu Taysu, yang tertua di antara mereka, "Apa Sicu hendak memainkan peranan cerita yang sudah lalu itu?"

"Cerita seperti dulu itu tidak bakal terulang lagi!" sahut Suma Bing dengan ketus.

"Harap kau terangkan maksud kedatanganmu."

"Mohon bertemu dengan Ciangbun kalian, Liau Sian Taysu, ada keperluan penting."

"Terangkan sejelasnya."

"Ini sudah cukup terang!"

Pada saat itulah Liau Ngo dengan delapan muridnya menyusul tiba dengan napas terengah-engah, mukanya penuh keringat dan kotoran. Hi Bu Taysu mengerutkan alis dan menegur, "Sicu menggunakan kekerasan melukai orang."

"Cayhe belum turun tangan, Taysu boleh tanyakan kepada mereka." Mata Hi Bu Taysu menatap tajam ke arah Liau Ngo. Liau Ngo menunduk malu dan berkata, "Tecu tergetar oleh ilmu pelindung badan, tapi tidak terluka."

"Kalian boleh mundur!" Liau Ngo bersama delapan muridnya merangkap tangan terus mengundurkan diri.

Air muka kelima Tianglo semakin mengelam menunjukkan kekhawatiran. Setelah memandang keempat kawannya, Hi Bu Taysu segera maju dan berkata, "Kalau Sicu tidak menerangkan maksud kedatanganmu, Lolap sekalian tidak akan memberi izin."

"Cayhe tidak boleh masuk ke dalam biara?"

"Ya, begitulah!"

"Apa kalian mampu merintangi Cayhe?"

"Sicu keterlaluan memandang rendah kita!"

Memang Suma Bing mempunyai maksud tertentu. Sengaja ia memancing kemarahan kelima Tianglo ini untuk mencari gara-gara, maka serunya sambil tertawa dingin, "Baiklah, aku akan menerjang masuk!" Dulu, Suma Bing sudah pernah membuat ribut di Siau Lim Si, sampai di mana kepandaian dan Lwekang Suma Bing, kelima Tianglo sudah dapat menjajaki. Sudah tentu mereka tidak bakal menyangka dalam jangka waktu yang tidak lama ini, ternyata Suma Bing sudah berganti rupa dengan berbagai pengalaman yang menguntungkan dirinya. Betapa tinggi Lwekangnya sekarang, mungkin pada zaman ini sudah tiada tandingannya.

Pada saat Suma Bing melangkah maju, kelima Tianglo berbareng bersabda terus masing-masing mendorong sebelah tangannya. Gabungan tenaga pukulan kelima Tianglo ini tentu bukan main hebat dan dahsyatnya. Suma Bing juga tidak berani ayal-ayalan; kedua tangan diputar terus disodokkan ke depan untuk menyambut secara keras. Ia menggunakan tenaga Kiu Yang Sin Kang sampai sepuluh bagian kekuatannya. Bersamaan dengan terdengar suara geledek mengguntur, terlihat kelima Tianglo tersurut mundur beberapa langkah.

Menggunakan peluang inilah, bagai bayangan setan, tubuh Suma Bing menyelinap segesit belut memasuki ruangan Tay Hiong Po Tian. Dalam sekejap mata, tibalah ia di pelataran depan Tay Hiong Po Tian itu. Suara genta bertalu-talu; sekali lagi Siau Lim Si berkancah dalam kegemparan yang menegangkan hati. Semua anak murid Siau Lim Si menjadi ribut dan keluar merubung di sekitar pelataran yang luas itu dengan rasa kaget dan ketakutan.

Wajah Suma Bing membeku dingin, raganya tegak sekokoh pohon besar, sikapnya garang, dengan pandangan menantang ke arah Tay Hiong Po Tian. Di tengah bertalunya suara genta, dari dalam Tay Hiong Po Tian beriring berjalan keluar Liau Sian Taysu, Ciangbun Hong Tiang dari Siau Lim Si. Di belakangnya mengikuti Liau Seng, pengawas kelenteng, dan Liau Ngo, si penerima tamu, dan yang paling akhir adalah delapan belas murid pelindung. Bertepatan dengan itu, kelima Tianglo juga kebetulan telah menyusul tiba dan berdiri jajar di pinggiran sebelah kanan.

Suma Bing maju beberapa langkah serta memberi hormat dan menyapa, "Ciangbunjin, selamat bertemu."

Ciangbun Liau Sian merangkap tangan dan bersabda, "Untuk kedua kalinya Sicu membuat onar di kelenteng kami, apakah tujuanmu?"

"Cayhe minta bertemu secara hormat, dari mana bisa dikatakan membikin onar!"

"Silahkan kau terangkan maksud kedatanganmu!"

"Cayhe ada tiga urusan penting yang harus diselesaikan!"

"Silahkan terangkan satu per satu!"

"Yang pertama: setelah memperoleh budi kebaikan Hui Kong Taysu dari kuil kalian tempo hari, setiap saat tidak Cayhe lupakan barang sedetik pun jua. Sekarang aku datang untuk minta pengajaran lagi!"

Ucapan Suma Bing yang menantang secara terang-terangan ini membuat seluruh hadirin kaget dan berubah air mukanya. Maklum, bahwa Hui Kong Taysu adalah Hudco (kakek guru) dari Ciangbun Hong Tiang yang sekarang, dipandang sebagai pendeta sakti yang tidak boleh dibuat permainan oleh semua generasi tua dan muda. Sungguh tidak disangka, Sia Sin kedua Suma Bing ternyata berani terang-terangan menantang untuk berkelahi.

Berubah gusar air muka Ciangbun Liau Sian, serunya lantang, "Sicu kau terlalu takabur, Pun Hong Tiang tidak dapat mengabulkan permintaan ini!"

Suma Bing mengerahkan tenaga di dalam pusatnya, terus menggunakan suara gelombang panjang berseru lantang ke arah dalam sana, "Suma Bing, kaum keroco Bulim tengah menunggu dan minta pengajaran dari Hui Kong Taysu!"

Keruan semua anak murid Siau Lim Si menunjukkan rasa gusar yang berlimpah karena sikap Suma Bing yang congkak ini. Entah berapa banyak sorot mata yang melotot murka menatap ke arah dirinya. Sampai Ciangbun Hong Tiang dan para pendeta seangkatannya juga tidak ketinggalan merasa gusar bukan kepalang. Tiba-tiba terdengar seruan yang berkumandang dari ruang sebelah sana, "Hudco tiba!"

Meskipun sebetulnya Suma Bing bertekad dan penuh kepercayaan pada diri sendiri, tak urung ia merasa kebat-kebit. Ia sendiri belum berani memastikan apakah dengan bekal Lwekangnya sekarang sudah dapat menandingi pendeta sakti ini. Jikalau sampai terkalahkan lagi, maka ketenarannya bakal lenyap tanpa berbekas. Sebetulnya ini hanya pandangan sepihak saja; tokoh sakti siapa lagi dalam Bulim ini yang dapat atau ada harganya untuk mengukur kepandaian dengan Hui Kong Taysu? Seumpama terkalahkan juga tidak perlu diambil malu.

Suasana menjadi sedemikian hening walaupun beratus orang turut hadir. Semua berdiri hikmat sambil meluruskan kedua tangannya. Serempak Ciangbun Hong Tiang menyingkir ke samping sambil merangkap tangan serta bersabda Buddha. Tampak seorang pendeta tua yang bertubuh kurus kering, tinggal kulit membungkus tulang, sambil memejamkan mata perlahan-lahan beranjak keluar dari ruang sebelah dalam.

Walaupun sikap Suma Bing angkuh dan congkak, ia masih tidak berani berlaku kurang hormat. Segera ia membungkuk dalam serta berseru, "Wanpwe Suma Bing menghadap kepada Taysu yang mulia."

"Jangan banyak peradatan!" seru Hui Kong. Kedua matanya tiba-tiba dipentang, sorot matanya yang dingin tajam menatap Suma Bing. Serta-merta Suma Bing bergidik mundur satu tindak.

"Tempo hari Lolap terbawa oleh nafsu sehingga menanam akibat ini. Kuharap sukalah Siau Sicu menghapus bersih sebab dan akibat ini!"

"Tidak berani, Wanpwe memberanikan diri untuk minta pengajaran sebanyak tiga jurus kepada Taysu!"

Timbul keributan di antara hadirin. Tempo hari sekali gebrak dengan mudah saja Hui Kong Taysu lantas meringkus Suma Bing. Tapi ternyata sekarang Suma Bing berani minta bertanding sebanyak tiga jurus; ini benar-benar sangat mengejutkan dan hampir susah dipercaya.

Kelopak mata Hui Kong dipejamkan, lalu dipentang lagi, ujarnya, "Pasti Siau Sicu telah melatih suatu ilmu yang digdaya?"

"Tidak berani, hanya sedikit hasil saja!"

"Siau Sicu, silahkan mulai!"

"Silahkan Taysu!"

"Mana bisa Lolap turun tangan dulu?"

"Kalau begitu, maaf Wanpwe berlaku kurang hormat."

Seluruh gelanggang sunyi senyap seumpama jarum jatuh juga pasti terdengar; semua anak murid Siau Lim seolah-olah sudah berhenti bernapas. Suma Bing mulai menggerakkan tangan membuat bundaran, jurus pertama dari Giok Ci Sin Kang yaitu "Mayapada Remang-remang" mulai dilancarkan.

Hui Kong Taysu merupakan ahli dalam gelanggang silat yang sakti luar biasa; sudah tentu ia juga tahu baik buruknya sesuatu ilmu, maka cepat-cepat ia mengerahkan Sian Thian Sin Kang untuk membalas menyerang. Dua ilmu sakti yang tiada taranya kontan saling gempur sehingga menimbulkan benturan menggelegar bagai gunung longsor, sehingga seluruh gelanggang diliputi kabut hitam gelap. Genteng dan atap rumah sekelilingnya juga tergetar pecah, malah para pendeta yang berdiri di depan juga sempoyongan jatuh bangun ke mana-mana. Gebrakan pertama yang mengejutkan ini baru pertama kali terjadi dalam lembaran sejarah Siau Lim Si.

Waktu kabut menghilang dan keadaan menjadi terang, tampak jarak antara Suma Bing dengan Hui Kong Taysu kini semakin jauh, kira-kira enam tombak. Semua anak-anak murid Siau Lim terlongong-longong heran, seakan-akan mereka berdiri mematung tanpa semangat. Setelah istirahat dan menormalkan jalan darahnya, Suma Bing berkata lagi, "Taysu harap sambutlah jurus kedua!" sambil berkata kakinya dijejakkan melompat maju empat tombak, memperpendek jarak antara mereka.

Wajah tirus Hui Kong yang kurus kering itu mendadak menunjukkan mimik yang aneh. Mendengar seruan Suma Bing ini, ia hanya mengangguk-angguk saja. Mulailah Suma Bing melancarkan jurus kedua, yaitu "Ih Che To Cwan" (Bintang Berpindah Jungkir Balik). Tampaklah berbagai bayangan pukulan berkelebatan, susah diraba mana pukulan asli atau pukulan gertakan. Semua bergerak dari segala jurusan yang mengarah juga ke tempat-tempat vital yang tidak menentu. Hui Kong Taysu juga mulai menggerakkan kedua jubah tangannya, sehingga timbullah kekuatan hebat tidak kentara yang melindungi seluruh tubuh.

'Blang!' tampak tubuh Hui Kong tergetar mundur selangkah lebar, mimik aneh pada wajahnya itu seketika buyar. Ternyata jurus "Ih Che To Cwan" ini dapat menembus pertahanan kekuatan dinding tak kentara dari ilmu sakti Hui Kong dan malah mengenainya. Hui Kong Taysu dijunjung sebagai Hudco yang merupakan lambang tertinggi bagi tingkatan perguruan Siau Lim Si, adalah satu-satunya tokoh silat nomor wahid bagi Siau Lim selama dua ratusan tahun terakhir ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment