Chapter 120
Sungguh tidak disangka, dalam dua gebrak saja, ia dapat dikalahkan dengan mudah oleh seorang angkatan muda yang berusia lebih dari dua puluh tahun. Hal ini benar-benar merupakan tamparan pedas bagi semua murid Shaolin sehingga mereka berdiri terlongong dengan sedih. Memang, betapa pedih dan duka hati mereka susah untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Meskipun watak dan sifat pembawaan Suma Bing sangat angkuh dan keras kepala, lubuk hatinya sangat bijaksana dan jujur. Setelah mengandalkan *Giok Ci Sin Kang* hingga dapat mengalahkan pendeta sakti nomor wahid di jagat ini, hati kecilnya malah merasa rikuh dan kurang tenteram.
Maka, segera ia membungkuk hormat serta berkata, "Harap Taysu suka memaafkan kekurangajaran wanpwe ini!"
Sungguh tidak malu Hui Kong Taysu dipandang sebagai pendeta teragung dan sakti; lahirnya tetap tenang dan wajar. Setelah bersabda, berkatalah ia, "Bagi umat Buddhis, paling mempercayai adanya sebab dan akibat, atau hukum karma. Orang yang menanam kacang akan memperoleh kacang; demikian juga orang yang menanam semangka, dia juga akan memperoleh semangka. Siau sicu adalah tunas harapan bagi kaum persilatan. Harap kembangkanlah kebijaksanaan dan cinta kasih, bertakwa kepada Tuhan, serta berbakti kepada sesama umat-Nya. Ini akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan bagi kaum persilatan!"
Sahut Suma Bing dengan hikmat, "Wanpwe pasti akan patuh pada petuah berharga dari Taysu tadi!"
Tanpa bicara lagi, segera Hui Kong memutar tubuh, lalu pergi dan menghilang ke ruangan dalam. Rona wajah Shaolin Ciangbun, Liau Sian Taysu, berubah tak menentu. Dengan langkah lebar ia melangkah ke tengah pelataran dan berseru, "Siau sicu, harap katakanlah urusanmu yang kedua!"
Air muka Suma Bing berubah serius, katanya, "Aku ingin tahu, siapakah perempuan yang kalian kurung di belakang puncak itu?"
"Ini... Pinceng tidak bisa menjawab!"
"Kuharap Ciangbunjin suka menghindari kesukaran, terangkan saja secara jelas!"
"Urusan ini menyangkut peristiwa rahasia perguruan kita, harap Siau sicu jangan memaksa kesukaran orang lain!"
Wajah Suma Bing semakin menggelap, katanya, "Cayhe sudah bertekad, harus mengetahui!"
"Mengapa Siau sicu harus mengetahui?"
"Untuk membuktikan apakah benar perempuan itu adalah orang yang tengah kucari!"
"Siapakah yang tengah Siau sicu cari?"
"Seorang perempuan!"
"Perempuan?"
"Tidak salah!"
"Perempuan macam apakah?"
Setelah ditimbang-timbang, akhirnya berkatalah Suma Bing, "San Hoa Li, Ong Fang Lan, yang telah menghilang lima belas tahun yang lalu!"
Wajah Shaolin Ciangbun berubah lega, katanya, "Omitohud, biarlah Pinceng beritahu kepada Sicu bahwa perempuan yang terkurung di belakang puncak itu bukan orang yang kau cari."
Dingin perasaan Suma Bing, katanya menegaskan, "Dapatkah cayhe percaya?"
"Omitohud, sebagai kepala dari suatu perguruan, masa Pinceng mengobral omongan."
Timbul perasaan duka yang susah dibendung dalam benak Suma Bing; satu-satunya harapan yang dinantikan sekian lama ternyata buyar dalam sekejap. Sedemikian besar dunia ini, ke mana pula ia harus mencari jejak ibundanya? Kalau jejak dan keadaan ibundanya masih merupakan teka-teki, sebagai seorang putra, betapa dapat tenang dan lega hatinya? Apalagi para musuh besarnya selain Iblis Timur yang telah mati, Loh Cu Gi beruntung dapat meloloskan diri. Selain mereka berdua, dirinya tidak tahu apa-apa. Selain ibunya sendiri, tiada orang kedua yang dapat menyebut siapa saja musuh-musuh yang turut dalam peristiwa berdarah dulu itu.
Terdengar Shaolin Ciangbun berkata lagi, "Siau sicu masih ada urusan ketiga, bukan?"
Suma Bing menenangkan pikiran, lalu katanya, "Tentang peristiwa ratusan tahun yang terkatung-katung itu!"
Kata-katanya ini membuat seluruh hadirin, dari Ciangbunjin sampai murid yang terkecil, tergetar kaget. Mereka memasang telinga penuh perhatian.
"Maksud Siau sicu adalah..."
"Aku diutus untuk mewakili penyelesaian peristiwa ratusan tahun yang terjadi di dalam kuil kalian itu!"
Mata Shaolin Ciangbun berkedip penuh keharuan, tanyanya, "Mewakili siapa?"
"Pesan terakhir dari Bu Siang Hujin!"
"Oh, bagaimana cara penyelesaiannya?"
"Cayhe mengantar pulang Bu Siang Po Liok. Bersama itu kami nyatakan bahwa Bu Siang Sin Hoat sejak saat ini tidak akan berkembang lagi di kalangan Kangouw!" Setelah berkata, dirogohnya keluar buntalan merah itu dari dalam bajunya.
Berulang kali Shaolin Ciangbun bersabda sambil merangkap tangan dan menunduk meram. Lalu, dengan kedua tangannya yang tampak gemetar, ia menyambut buntalan merah itu dan membukanya untuk diperiksa sekian lama. Katanya, "Pinceng mewakili perguruan Shaolin menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Sicu."
"Terima kasih kembali!"
Shaolin Ciangbun berpaling ke arah Liau Seng dan berkata, "Harap Sute pergi melepas perempuan yang terkurung di belakang puncak itu!"
"Terima tugas!" seru Liau Seng sambil merangkap tangan, lalu mengundurkan diri.
Tergerak hati Suma Bing; selalu Shaolin Ciangbun menandaskan bahwa perempuan yang terkurung di belakang puncak itu menyangkut peristiwa rahasia perguruan mereka. Lantas mengapa sekarang mendadak diperintahkan untuk dilepas? Ini benar-benar susah dimengerti.
Agaknya Shaolin Ciangbun sudah mengetahui isi hati Suma Bing, katanya, "Siau sicu, perempuan yang terkurung di belakang puncak itu bernama Li Hui..."
Tergetar hebat perasaan Suma Bing, serunya keras, "Li Hui?"
"Benar."
"Putri Bu Siang Sin Li?"
"Tidak salah. Untuk mencari kembali Po Liok yang hilang itu, terpaksa kita kurung dia sekian lama."
Suma Bing menghela napas panjang yang melegakan, katanya, "Bukankah tindakan ini terlalu tidak bijaksana?"
Merah wajah Shaolin Ciangbun, katanya, "Menurut undang-undang kelenteng kita, perempuan tidak diperbolehkan menginjak pintu biara ini. Harap Siau sicu suka menanti di depan pintu pesanggrahan saja!"
"Kalau begitu, baiklah, cayhe minta diri." Setelah memberi hormat, Suma Bing terus mengundurkan diri.
Setelah tiba di luar pintu pesanggrahan, Suma Bing berdiri tenang menanti kedatangan Li Hui, orang yang ditugaskan oleh Giok Li Lo Ci untuk diketemukan. Terhitung perjalanannya kali ini tidak sia-sia; dapat menyelesaikan tiga urusan sekaligus. Tidak lama ia berdiam diri, tampak sebuah bayangan terbang mendatangi dengan cepat sekali. Begitu tiba, terlihat itulah seorang nenek yang berambut uban.
Cepat-cepat Suma Bing berseru lantang, "Apakah yang mendatangi ini adalah Li Hui Cianpwe?"
Nenek tua itu menghentikan langkahnya, sinar matanya tajam mengawasi Suma Bing, lalu tanyanya, "Kau ini Sia Sin kedua, Suma Bing?"
"Itulah wanpwe adanya!"
"Ibuku yang mengutus kau untuk menyelesaikan pertikaian ini!"
Berpikir Suma Bing, Li Hui sudah terkurung selama dua puluh tahun, dia masih belum tahu kalau Bu Siang Sin Li sudah wafat. Ada lebih baik minta dia pulang ke lembah, biarlah Giok Li Lo Ci yang menceritakan secara langsung kepadanya. Oleh karena pikirannya ini, secara samar-samar saja ia menyahut, "Benar!"
Kata Li Hui gemas, "Begitu tega ibu membiarkan aku terkurung di sini selama dua puluh tahun lamanya."
"Ini... wanpwe tidak tahu-menahu!"
"Lalu dari mana pula kau ketahui bahwa akulah yang terkurung di belakang puncak itu?"
"Wanpwe disuruh mengembalikan buku yang hilang itu; adalah pihak Shaolin sendiri yang memberitahu kepada wanpwe!"
"Jadi kau bukan khusus datang untuk menolong aku?"
"Begitulah, hitung-hitung secara kebetulan saja, tapi..."
"Tapi apa?"
"Wanpwe sudah melulusi kepada Lo Ci Cianpwe untuk menyirapi dan menyelidiki jejak Li Cianpwe..."
"Apakah Sumoayku itu baik-baik saja?"
"Dalam keadaan sehat walafiat!"
"Lembah Kematian adalah tempat buntu, selamanya belum ada orang pernah keluar-masuk, dari mana kau dapat..."
"Ini juga terjadi secara kebetulan, kelak pasti Locianpwe dapat menceritakan kepada Li Cianpwe!"
Li Hui manggut, katanya, "Kau pergilah!" Lalu dia beranjak menuju ke dalam pesanggrahan.
Keruan Suma Bing melengak heran. Menurut aturan Shaolin, perempuan dilarang masuk ke biara suci itu. Kalau dia benar-benar menerjang masuk, tentu akan menimbulkan keonaran yang berkepanjangan. Betapa hebat kepandaian Hui Kong Taysu; kalau sampai dia tertawan dan dikurung lagi, susahlah dibayangkan akibatnya. Maka, segera ia maju merintangi serta katanya, "Cianpwe hendak menuju ke mana?"
Li Hui mendengus dingin, katanya, "Selama dua puluh tahun aku disekap dalam gua yang gelap, perhitungan ini harus kuhimpas!"
"Pihak Shaolin sendiri juga terpaksa melakukan tindakan yang kurang bijaksana ini!"
"Kau pergilah!"
"Wanpwe tidak bisa pergi!"
"Kenapa?"
"Wanpwe pernah berkata, setelah menemukan Li Cianpwe, aku harus segera membawa Cianpwe pulang kembali ke dalam lembah!"
"Kalau aku tidak mau kembali?"
Suma Bing tersenyum kikuk, ujarnya, "Pertikaian antara Shaolin dengan Lembah Kematian sudah hapus. Ada lebih baik Cianpwe segera kembali ke lembah saja!"
"Kau hendak merintangi aku?"
"Tidak berani aku merintangi, hanya membujuk saja!"
"Kau tidak terima perintah untuk mengekang gerak-gerikku, bukan?"
Apa boleh buat, terpaksa Suma Bing berlaku terus terang, "Memang tidak!"
Menggelap wajah keriput Li Hui, semprotnya, "Kalau tidak kupandang kau bekerja demi kepentingan ibu, pasti tidak kuampuni kau!"
Suma Bing berpikir: meskipun usianya sudah lanjut, tapi tabiatnya tetap kasar dan suka membawa adatnya sendiri. Maka, sahutnya dingin, "Wanpwe menerima pesan dari orang, bagaimana juga..."
"Suma Bing, kau ini cerewet, jangan salahkan aku berlaku kejam nanti!"
"Wanpwe tidak peduli!"
"Sungguh katamu ini?"
"Sudah tentu sungguh-sungguh."
Sambil menggeram gusar, Li Hui mengayun sebelah tangan, terus menggenjot ke dada Suma Bing. Serangan ini bukan saja secepat kilat, juga perbawanya sangat hebat serta mengandung banyak perubahan. Dari gebrak pertama ini, dapatlah dinilai bahwa kepandaian ini masih setingkat lebih atas dari kepandaian kelima Tianglo Shaolin. Suma Bing kerahkan *Giok Ci Sin Kang* untuk melindungi badan; dengan tenang ia berdiri tanpa menyingkir atau berkelit.
'Blang.' Dada Suma Bing terkena genjotan dengan keras, badannya tergoyang gontai. Wajahnya sedikit berubah. Sebaliknya, Li Hui terpental mundur berulang-ulang karena tolakan tenaga pukulannya sendiri.