Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 121

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 121

Sungguh kejutnya bukan kepalang. Kehebatan Lwekang bocah tunas muda ini benar-benar di luar persangkaannya.

Suma Bing berkata tawar, "Harap Cianpwe segera pulang ke lembah!" Lama sekali Li Hui terlongong memandangi Suma Bing. Mulutnya mengerang lirih, terus berkelebat menghilang dari pandangan mata.

Suma Bing menghela napas lega; terhitung ia sudah menunaikan tugas yang dipasrahkan oleh Giok Li Lo Ci. Namun, di samping itu hatinya juga duka dan masgul karena ternyata perempuan yang terkurung di belakang puncak itu adalah Li Hui, bukan ibunya, San Hoa Li Ong Fang Lan, yang sangat diharapkan itu. Pikirnya, ibunya adalah perempuan yang paling merana dan harus dikasihani. Bukan saja suami sudah meninggal, kehilangan anak, dan mendapat malu, malapetaka yang sukar tertahan bagi orang lain ini semua menumpuk di atas tubuhnya. Berpikir dan terus berpikir, lama-kelamaan ia tenggelam dalam kedukaan yang merawan hati tanpa terasa air mata meleleh deras di kedua pipinya.

Sekonyong-konyong terdengar sebuah suara serak yang sudah sangat dikenalnya, "Buyung, kaki si maling tua ini sudah hampir patah, tapi kiranya tidak sia-sia menemukan kau di sini!" Yang datang ini bukan lain adalah si maling bintang Si Ban Cwan.

Sejenak Suma Bing tertegun, lantas serunya, "Cianpwe tengah mencari aku?"

"Buat apa aku jauh-jauh kemari kalau tidak mencari kau?"

"Dari mana Cianpwe mengetahui kalau Wanpwe berada di Siau Lim Si?"

"Diberitahu oleh bibimu!"

"Oh, ada urusan apakah?"

"Sudah tentu ada soal penting!"

"Urusan apa?"

"Bapak mertuamu dikabarkan sudah terkubur di Telaga Air Hitam."

Keruan kejut Suma Bing bukan buatan, tanyanya gemetar, "Majikan Perkampungan Bumi?"

"Apa kau masih mempunyai bapak mertua lain?"

"Dia... bagaimana ini bisa terjadi?"

"Seorang diri dia pergi menepati janji undangan Majikan Menara Iblis dan di sana dia mendapat kecelakaan!"

"Betapa hebat kepandaian Te Kun itu, masa tidak dapat meloloskan diri?"

"Buyung, aku si maling tua hanya memberi kabar kepadamu sebagai Huma atau calon majikan Perkampungan Bumi yang akan datang. Kalau Te Kun sudah mati, kaulah sekarang yang menjadi penggantinya. Dalam jangka sepuluh hari ini, seluruh kekuatan Perkampungan Bumi hendak diboyong keluar untuk membalas dendam bagi Te Kun. Selama empat hari empat malam aku mengencangkan kaki berlari ke sini. Sekarang tinggal enam hari lagi, kau harus mengejar waktu menyusul ke Telaga Air Hitam yang terletak di perbatasan Sucwan. Pertempuran kali ini menyangkut jaya atau runtuhnya Perkampungan Bumi, kau... apakah kau tidak menyusul ke sana?"

Jilid 12: Suma Bing Menyongsong Bahaya.

"Sudah pasti Wanpwe harus segera berangkat untuk menyelesaikan persoalan ini!"

"Kalau begitu segeralah berangkat supaya secepatnya kau tiba di sana. Aku si maling tua masih banyak urusan lain, kelak kita bertemu lagi!" Habis bicara, ia terus pergi.

Hati Suma Bing menjadi gundah dan kurang tenteram; sungguh di luar sangkanya bahwa Te Kun bisa terjungkal di tangan Majikan Menara Iblis. Sebenarnya ia tertarik menjadi warga Perkampungan Bumi bukan atas kehendaknya sendiri. Tapi nasi sudah menjadi bubur, malah bibi dan istrinya, Phoa Kin Sian, juga tidak banyak cakap dalam persoalan ini. Sudah tentu ia menyerah saja kepada nasib yang sudah menjadi suratan takdir. Sebagai menantu dan calon penggantinya, memang seharusnya ia menuntut balas bagi kematian Te Kun. Di samping itu, menurut undang-undang Te Po, ia adalah majikan dari Perkampungan Bumi yang akan datang; sudah tentu menjadi kewajibannya pula untuk menunaikan tugas mulia ini. Kepandaian Te Kun sudah sedemikian tinggi dan hebat, namun toh masih terkalahkan dan tertimpa bencana di Menara Iblis. Jikalau istrinya, Pit Yau Ang, sendiri yang memimpin anak buahnya pergi menuntut balas, dapatlah dibayangkan akibatnya.

Sambil berpikir itu, kakinya terus beranjak dengan cepat turun dari puncak Siau Sit Hong langsung ke jalan raya yang menuju ke selatan. Telaga Air Hitam terletak di perbatasan antara Sucwan dengan Kui Ciu; luas telaga ini kira-kira seratusan li. Memang serasi nama dan kenyataannya, air telaga ini hitam legam bagai arang, malah mengandung racun lagi. Tak peduli manusia atau binatang, begitu tersentuh oleh air telaga ini pasti akan mati keracunan. Karena itulah, tempat ini dipandang sebagai salah satu tempat kiamat yang disegani di dunia persilatan. Sepuluh li sekitar telaga ini tiada jejak manusia atau binatang.

Menara Iblis, itulah sebuah bangunan tinggi yang bersusun dua belas tingkat berwarna cat hitam, berdiri dengan megah dan angkernya di tengah danau. Pada suatu hari, di tepi Telaga Air Hitam yang sangat ditakuti sebagai tempat bertuah bagi kaum persilatan itu, muncullah sebuah bayangan orang. Dia bukan lain adalah Suma Bing yang telah menyusul tiba dari Siauw Lim Si. Menghadapi telaga dan menara serba aneh dan seram ini, tanpa terasa timbul perasaan mengkirik dan merinding. Memang Menara Iblis, nama ini sesuai dan cocok benar dengan keadaannya; bagi siapa saja yang melihat pasti timbul perasaan seram dan takut.

Sungguh mengherankan, jejak para kerabat dari Perkampungan Bumi kok tidak kelihatan. Menurut berita yang dibawa oleh si maling tua, kedatangannya ini justru tepat pada waktunya, namun sepanjang jalan bayangan atau jejak orang-orang dari Perkampungan Bumi sedikit pun tidak terlihat. Ini betul-betul membuat orang tidak mengerti. Apakah semua orang Perkampungan Bumi sudah tertumpas habis? Tapi sekitar sini tiada gejala-gejala yang mencurigakan yang dapat membuktikan rekaan hatinya ini. Atau mungkin orang-orang Perkampungan Bumi itu sudah mengundurkan waktu untuk meluruk datang. Tapi bagaimanapun juga, kini dirinya sudah tiba di sini; biarlah seorang diri ia tandangi mereka untuk menuntut balas bagi kematian Te Kun.

Baru saja ia berpikir sampai di situ, tiba-tiba terdengar sebuah lengking tinggi bagai jeritan setan. Belum lenyap suara lengking jeritan ini, lantas disusul empat penjuru sekelilingnya terdengar pula suitan panjang yang saling bersahutan. Sungguh keadaan ini sangat mencekam hati dan mendirikan bulu roma. Suma Bing celingukan kian kemari, namun tak terlihat adanya bayangan orang. Mendadak terdengar gelombang air tersiak, di mana ombak telaga bergulung-gulung, terlihat muncul sebuah benda putih yang lonjong. Waktu ditegasi, kiranya itulah sebuah peti mati berwarna putih bersih. Tanpa terasa berdiri bulu kuduk Suma Bing; bagaimana mungkin dari tengah telaga muncul sebuah peti mati? Ombak air hitam itu terus bergulung-gulung; satu demi satu bermunculan peti mati yang serupa bentuk dan warnanya, jumlahnya tidak kurang dari dua puluh buah. Semua peti mati itu seumpama sampan kecil yang melaju pesat, tengah meluncur ke arah tepian.

Suma Bing berpikir, naga-naganya anak buah Menara Iblis semua sembunyi di dalam peti mati itu, dan peti mati ini pasti peralatan untuk mereka keluar masuk dari dalam air. Benar juga, kenyataan memang seperti dugaannya. Begitu peti-peti mati itu menepi ke pantai, tutup-tutup peti lantas menjeplak dan dua puluh lebih bayangan manusia serempak berloncatan keluar terus berlari ke hadapan Suma Bing. Suma Bing berdiri tegak dengan angkuhnya sekokoh gunung; sikapnya tenang dan garang menunggu perubahan apa yang bakal terjadi.

Setelah jaraknya agak dekat dengan Suma Bing, mereka berdiri berkeliling membentuk sebuah lingkaran di hadapan Suma Bing. Satu di antaranya yang terdepan adalah seorang tua yang bermuka tirus, bermulut monyong, dan berdagu panjang. Dengan kedua matanya yang berjelalatan seperti mata tikus itu, ia mengamati Suma Bing sekian lamanya, lalu serunya, "Buyung, kau inikah Sia Sin kedua Suma Bing yang kenamaan di daerah dataran tengah itu?"

Dingin Suma Bing menyapu pandang ke arah mereka, lalu sahutnya, "Tidak salah!"

"Kau ini pula yang menjadi Huma dari Te Po?"

"Tepat sekali!"

"Untuk apa kau datang kemari?"

"Untuk melihat tampang majikan dari Menara Iblis."

"Hehehehe, buyung, kau belum berharga untuk itu!"

Suma Bing mendengus keras, ejeknya, "Majikan Menara Iblis itu terhitung barang apa?"

Semua anak buah Menara Iblis tersentak kaget dan berubah air muka mereka mendengar hinaan Suma Bing ini. Si orang tua pemimpin itu memperdengarkan kekeh tawanya yang menusuk telinga, katanya, "Buyung, agaknya kau datang untuk mencari kematian?"

"Dengar!" hardik Suma Bing dingin. "Suruh majikan kalian keluar menemui aku!"

"Tidak sudi!"

"Sekali lagi kau berani menolak, kubunuh kau!"

"Buyung, kau tidak berharga menemui majikan kami."

Beringas wajah Suma Bing, ancamnya sambil maju setindak, "Kaulah orang pertama dari Menara Iblis yang harus mampus!"

Seiring dengan ancamannya ini, Suma Bing pelan-pelan mengangkat kedua tangannya terus didorong ke muka. Kontan terlihat si orang tua pemimpin itu melolong tinggi, tubuhnya melayang jauh kecebur ke dalam danau. Berbareng dengan serangan Suma Bing itu, berpuluh jalur angin pukulan juga telah melanda tiba ke arah Suma Bing, sedemikian dahsyat pukulan-pukulan ini disertai bunyi guntur yang menggetarkan bumi. Memang kedatangan Suma Bing untuk menuntut balas, sudah tentu cara turun tangannya juga tidak mengenal kasihan lagi. Begitu jurus Mayapada Remang-remang dilancarkan, terbitlah angin badai; bumi terguncang dan alam sekelilingnya menjadi gelap remang-remang.

Di tengah gemuruhnya angin badai itu terdengar jerit dan pekik yang menyayat hati. Dua puluh lebih anak buah Menara Iblis semua melayang jiwanya dalam satu gebrak saja. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana dengan tubuh yang tidak lengkap lagi. Keadaan ini benar-benar sangat seram menakutkan. Pada saat itulah, sebuah suara dingin yang serak gemetar terdengar berkata, "Suma Bing, kejam benar perbuatanmu ini!"

Terkejut Suma Bing, waktu berpaling dilihatnya tiga tombak di sebelah sana sudah berdiri tiga orang. Yang di tengah adalah seorang perempuan pertengahan umur yang bersolek dan tidak kalah cantik dari gadis-gadis muda yang rupawan. Kedua sampingnya masing-masing berdiri dua orang tua berjubah hitam dan yang lain berjubah merah. Yang berjubah merah itu bukan lain adalah Gandarwa Merah Ngo Tang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment