Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 122

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 122

Pastilah yang berjubah hitam itu adalah Gandarwa Hitam.

Lalu siapakah perempuan di tengah itu? Enam sorot mata yang berapi-api mendelik menatap Suma Bing.

Gandarwa Merah tampil ke depan serta berkata sinis, "Suma Bing, tidak peduli apa maksud kedatanganmu, berani semena-mena kau turun tangan membunuh para jagoan anak buahku, maka jangan harap kau dapat meninggalkan Telaga Air Hitam ini dengan tetap bernyawa." Suma Bing tertawa mengejek, "Legakan hatimu, sebelum tujuanku terkabul, aku pasti tidak akan pergi!" "Apa tujuanmu?" "Bagaimana cara kematian Pit Gi, majikan dari Perkampungan Bumi?" "Mati? Siapa yang mengatakan?" Suma Bing melengak, tanyanya menegaskan, "Masa dia belum meninggal?" Tiba-tiba perempuan di tengah itu membuka suara, ucapnya dingin, "Benar, dia belum mati, tetapi dia juga tidak boleh hidup bebas." "Apa-apaan ucapanmu ini?" "Dia hanya boleh hidup di tempat ini, sekali berani beranjak keluar, maka kematianlah bagiannya!" "Di mana dia sekarang?" "Di mana dia kau tidak perlu tahu!" Suma Bing mendesak maju, desisnya, "Jikalau sampai terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan majikan Perkampungan Bumi, hm..." "Kau mau apa?" "Akan kuratakan Menara Iblis!" "Ha ha ha ha ha, buyung hijau yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, besar mulut dan takabur!" "Tuankah yang menjadi majikan Menara Iblis?" "Benar!" "Bagus sekali, kuharap kau segera lepaskan majikan Perkampungan Bumi!" "Buyung, enak benar kau berkata?" "Lalu apa maksud kalian sebenarnya?" "Pit Gi pantas untuk dihukum mati, tetapi aku tidak tega turun tangan, hanya kukungkung saja seumur hidup!" Sejenak Suma Bing berpikir, lantas serunya, "Mohon tanya, ada permusuhan apakah antara majikan Perkampungan Bumi dengan kau?" "Anak muda seperti kau belum pantas menanyakan soal ini!" "Apakah ini urusan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?" Berubah rona wajah majikan Menara Iblis, bentaknya lirih, "Mulutmu kotor dan kurang ajar, ringkus dia!" "Terima perintah!" Demikian Gandarwa Merah mengiyakan.

Memang jarak mereka terpaut paling dekat, begitu lenyap suaranya, tiba-tiba cakar setannya sudah tiba mencengkeram dan menyerang Suma Bing. Cara dan kecepatan serangan ini benar-benar menakjubkan.

Begitu mendengar perintah lawan, pikiran Suma Bing lantas bersiaga. Serta-merta Giok Ci Sin Kang pun timbul melindungi tubuhnya.

Cengkeraman Gandarwa Merah meraih pundak kiri Suma Bing. Begitu jarinya dikerahkan mencengkeram, seketika ia merasakan sesuatu yang ganjil...

"Pergilah kau!" Tiba-tiba Suma Bing menggertak sambil menyodok dengan sikunya.

'Buk!' Sambil mengerang dan memuntahkan darah segar, Gandarwa Merah terhuyung puluhan langkah. Tubuhnya juga limbung, hampir roboh.

Sungguh, Gandarwa Merah tidak menyangka, dalam jangka tiga bulan saja musuh kecilnya ini sudah berganti orang dengan Lwekang-nya yang luar biasa.

Hampir dalam waktu yang bersamaan, ketika Gandarwa Merah terhuyung mundur sambil muntah darah itu, Gandarwa Hitam juga sudah bergerak secepat kilat sambil melancarkan pukulannya. Kecepatannya pun tidak kalah hebat, sungguh mengejutkan.

Karena sudah tidak mungkin lagi berkelit, Suma Bing menjadi nekat, dan pasrah saja menerima pukulan keras ini.

Benturan keras membuat tubuh Suma Bing tersurut tiga langkah, sedangkan Gandarwa Hitam sendiri juga terpental mundur dua langkah lebar. Wajahnya membesi hitam dan menunjukkan kekejutan yang tak terperi.

Gandarwa Merah dan Hitam sudah sangat tenar dan kenamaan di kalangan Kangouw, susah dicari tandingan yang kuat melawan mereka berdua. Siapa sangka, bagi Suma Bing mereka tidak lebih bagaikan kutu yang menyambar api, mencari kebinasaan sendiri.

Segera majikan Menara Iblis mengibaskan tangan serta memerintahkan, "Kalian mundur!" Dengan wajah merah jengah, Gandarwa Hitam segera mengundurkan diri.

Sementara itu, Gandarwa Merah tengah duduk bersemedi, mengerahkan tenaga untuk memulihkan diri.

Setelah menyuruh Gandarwa Hitam mundur, majikan Menara Iblis berkata dingin, "Suma Bing, hebat juga kepandaianmu, tetapi jikalau kau berpikir untuk pergi dengan nyawa tetap hidup, kau tengah bermimpi!" Suma Bing mengejek hina, sahutnya acuh tak acuh, "Aku percaya kepada kemampuanku sendiri bahwa tiada seorang pun yang mampu merintangiku. Tetapi, maksud kedatanganku ini hanya ingin mengetahui apakah majikan Perkampungan Bumi benar-benar mati atau masih hidup. Sebelum keinginanku terlaksana, aku tidak akan meninggalkan tempat ini!" "Kau akan susah menjaga diri!" "Belum tentu!" "Jadi kau tidak percaya?" "Sudah tentu tidak percaya?" "Baiklah, kau coba ini!" Seiring dengan lenyap suaranya, tiba-tiba tubuhnya sudah melejit tiba di hadapan Suma Bing, langsung mengirimkan sebuah serangan.

Seketika Suma Bing merasa seluruh tubuhnya tergetar hebat. Dalam waktu yang bersamaan, terasa ada empat tempat di tubuhnya yang sekaligus terkena serangan, sehingga darah bergolak di rongga dadanya sampai badannya terhuyung hampir roboh.

Belum dia dapat berdiri tegak dan berganti napas, jurus serangan kedua musuh sudah datang pula, sungguh kecepatannya luar biasa.

Jurus kedua ini telah mengenai enam jalan darah mematikan di depan dada Suma Bing.

Jikalau tidak mengandalkan keampuhan Giok Ci Sin Kang yang melindungi badan, pasti saat itu tubuhnya sudah terkapar menggeletak tanpa bernyawa di atas tanah.

Kepandaian semacam ini, baru pertama kali ini Suma Bing merasakannya.

Sambil menggerung tertahan, Suma Bing tersurut lagi beberapa langkah. Darah segar sudah menerjang ke tenggorokannya, hampir saja tersemprot keluar.

Di lain pihak, Majikan Menara Iblis sendiri juga bukan kepalang kagetnya.

Dia percaya, dengan dua jurus serangannya ini tidak akan ada seorang tokoh silat siapa pun yang kuat bertahan.

Tetapi sekarang kenyataannya Suma Bing bukan saja kuat bertahan, bahkan agaknya tidak kurang suatu apa pun.

Dalam detik-detik inilah, mendadak Suma Bing menghardik keras, "Diberi tidak membalas, itulah kurang hormat!" Secepat kilat, jurus Mayapada Remang-remang dilancarkannya.

Di mana gelombang badai menerjang, tiba-tiba lima tombak di sekitarnya menjadi gelap dan bergetar.

Majikan Menara Iblis ternyata tidak kuasa bertahan saat diterpa angin kencang yang membadai ini. Ia terhuyung-huyung sejauh empat tombak. Wajahnya menunjukkan rasa terkejut dan heran, tidak percaya.

Begitu mendapat angin, Suma Bing tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Jurus Ih Sing To Cwan lantas diberondongkan keluar juga.

Agaknya Majikan Menara Iblis gentar menghadapi serangan dahsyat ini. Tubuhnya melejit tinggi dan hinggap di atas sebuah peti mati yang terapung di atas air.

Pada saat itu, Gandarwa Merah juga sudah berdiri dan melompat menyingkir bersama Gandarwa Hitam.

Suma Bing bertengger di pinggir danau, air mukanya merah diliputi nafsu membunuh. Ucapnya menegaskan, "Aku tekankan sekali lagi, harap kau sudi melepaskan orang itu?" Majikan Menara Iblis mengejek dingin, "Tidak bisa!" "Apa kau tidak membayangkan akibatnya?" "Coba kau lihat dulu!" Waktu Suma Bing berpaling, tanpa terasa ia menyedot hawa dingin. Tampak berpuluh-puluh orang pemanah yang sudah siap dengan senjatanya mengepung bundar di belakangnya, busur sudah ditarik tinggal menunggu perintah saja.

Waktu ia menoleh lagi, Majikan Menara Iblis dan Gandarwa Merah dan Hitam sudah menyingkir jauh ke tengah telaga, sejauh puluhan tombak.

Bahwasanya, kalau ilmu ringan tubuh sudah dilatih sempurna, dapat terbang atau berjalan di atas gelombang air. Tetapi jikalau disuruh berhenti tanpa bergerak di permukaan air, ini sangat ganjil dan tidak mungkin terjadi.

Tetapi kenyataan di depan matanya ini betul-betul membuat jantungnya berdetak keras.

Suara majikan Menara Iblis terdengar dari permukaan telaga sana, "Suma Bing, sekali kuberi aba-aba, sekejap saja kau akan mati dengan tubuh penuh tertancap anak panah!" "Itu berarti kau juga membawa keruntuhan hebat luar biasa bagi Menara Iblis!" demikian Suma Bing membalas ancaman itu.

"Kematian sudah di depan mata, masih berani keras mulut?" "Silakan Tuan memberi perintah!" Di mulut Suma Bing berkata demikian, sebenarnya hatinya gugup setengah mati, tengah mencari akal untuk mengatasi masalah ini.

Sudah tentu, dengan keampuhan Lwekang-nya sekarang, hanya anak-anak panah saja tidak akan dapat mencelakai dia.

Tanpa menunda lagi, majikan Menara Iblis mengayun lengan bajunya yang melambai-lambai terbawa angin.

Kontan, anak-anak panah bersuitan bagai hujan deras, semua meluncur ke arah Suma Bing.

Dahsyatnya serangan ini benar-benar mengejutkan dan menggentarkan hati.

Suma Bing mengerahkan seluruh kekuatan Giok Ci Sin Kang untuk melindungi badan. Semua anak panah, begitu mendekat ke tubuhnya, terpental balik tanpa melukai sehelai rambut pun.

Tiba-tiba tubuh Suma Bing melejit terus menubruk ke tengah-tengah para pemanah itu.

Pembunuhan besar-besaran seperti membabat rumput saja terbentang di hadapan sang majikan.

Suara jerit dan pekik kesakitan yang menyayat hati terdengar saling susul, sungguh ngeri dan membuat bulu kuduk merinding.

"Stop!" terdengar majikan Menara Iblis membentak keras sambil melompat ke daratan lagi.

Tanpa terasa, Suma Bing menghentikan perbuatannya.

Hanya dalam sekejap itu, mayat sudah bertumpuk dan bergelimpangan di mana-mana. Jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang tewas.

Gigi majikan Menara Iblis gemeretak saking murka. Gerungnya, "Suma Bing, benar-benar kau ingin menjual jiwamu untuk kepentingan Pit Gi?" "Dianggap begitu juga boleh!" "Kalau begitu, baiklah kuberi tahu. Sekarang Pit Gi terkurung di puncak tertinggi dari Menara Iblis itu. Kalau kau punya kepandaian, silakan naik ke sana untuk menolongnya." "Ah, apa susahnya?" ejek Suma Bing dengan sombongnya.

"Ya, silakan coba!" Setelah berkata demikian, bagai terbang berloncatan menginjak gelombang, majikan Menara Iblis menghilang di dalam menara hitam itu.

Para pemanah yang masih hidup juga secara diam-diam tanpa bersuara sudah lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Tak lama kemudian, semua peti mati yang terapung di atas air itu juga lenyap menghilang.

Menghadapi air telaga yang hitam legam dan memandang jauh Menara Iblis yang berdiri tegak bagai jin di tengah danau itu, Suma Bing tenggelam dalam pikirannya.

Walaupun air danau mengandung bisa jahat, tetapi dia tidak perlu khawatir karena dirinya pernah menelan rumput ular.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment