Chapter 123
Meskipun permukaan danau ini sangat luas, dengan mengandalkan kepandaiannya saat itu, terbang beranjak di atas permukaan air bukanlah hal yang sukar baginya.
Justru yang menjadi keraguan adalah karena Menara Iblis dijajarkan sebagai salah satu tempat keramat yang bertuah bagi kaum persilatan; sudah pasti di dalam menara itu dipasang berbagai jebakan yang dapat mengancam nyawanya. Di lain pihak, seumpama bapak mertuanya dapat lolos dari Menara Iblis itu, dapatkah ia selamat tiba di daratan? Karena mungkin di tengah perjalanan di atas air itu mereka bakal dicegat dan diserang habis-habisan oleh musuh; akibat dari kenekadan musuh inilah yang harus dipertimbangkan.
Namun, dalam situasi sekarang ini, selain maju, tiada alasan untuk mundur. Tentang mengapa orang-orang Perkampungan Bumi sampai saat itu masih belum terlihat bayangannya, hal ini juga membuat hatinya risau. Tiba-tiba otaknya mendapat suatu ilham yang membuat hatinya terang. Baru sekarang dia sadar mengapa majikan Menara Iblis serta Gandarwa Merah dan Hitam bisa dengan tenang berdiri di permukaan air. Maka, dicarinya dua lembar papan kayu selebar telapak tangan, lalu diikat di bawah sepatunya. Waktu ia melompat turun ke dalam air, ternyata benar, rasanya tenang dan ringan sekali. Begitu *Giok Ci Sin Kang* dipusatkan, seketika terasa badannya seenteng daun; secepat burung walet terbang, ia terus melesat ke arah Menara Iblis itu.
Sebentar saja, tibalah ia di depan pintu Menara Iblis. Bangunan Menara Iblis ini melingkupi tanah seluas puluhan tombak. Selain menara yang tegak meninggi, di sekelilingnya masih ada tanah pelataran kosong. Memandangi Menara Iblis di depannya ini, tanpa terasa ciut nyali Suma Bing. Seluruh bangunan menara terbuat dari besi baja; selain dua pintu besi yang terpasang di tingkat paling bawah, lapisan selanjutnya sampai paling puncak tiada pintu atau jendela satu pun, seakan-akan berbentuk seperti keong. Di atas pintu besi besar itu terpancang papan besi yang bertuliskan "Menara Iblis".
Sejenak Suma Bing ragu-ragu, lalu dengan langkah lebar mendekat ke depan pintu. Waktu tangannya mendorong, ternyata tidak bergeming, maka ia mundur tiga langkah, kedua tangannya menghimpun seluruh tenaga, lalu dihantamkan ke arah pintu besi itu. Dentuman keras menggelegar membuat seluruh bangunan menara tergetar. Pintu besi itu terpentang lebar, bertepatan dengan itu hujan anak panah memberondong keluar. Tercekat hati Suma Bing, secepat kilat kakinya menggeser ke samping delapan kaki; untung ia bisa terhindar dari serangan keji ini. Setelah menenangkan gejolak hatinya, sambil melintangkan kedua tangan di depan dada, gesit sekali ia melompat masuk ke dalam Menara Iblis. Terdengar suara *kereyat-kereyot*, pintu besi Menara Iblis itu mulai menutup sendiri. Keadaan dalam menara seketika gelap gulita sampai lima jari sendiri tidak terlihat. Betapapun tinggi dan hebat kepandaian Suma Bing, dalam keadaan sekarang ini tak urung hatinya berdebar-debar dan waswas juga.
Sekian lama kedua matanya dipejamkan, lalu dibuka kembali. Samar-samar pemandangan di hadapannya mulai jelas. Di mana sorot matanya memandang, mendadak ia menjerit kaget dan melompat mundur. Tampak berpuluh-puluh kerangka tengkorak yang lengkap berdiri berjajar membelakangi dinding; sikapnya mengancam dengan menjulurkan kedua tangan ke depan, siap hendak menubruk mangsanya. Perasaan dingin timbul di atas tengkuknya dan terus menjalar ke seluruh tubuh. Seram dan menakutkan benar, sehingga tanpa terasa telapak tangan Suma Bing basah oleh keringat. Tiba-tiba suara ringkik jeritan setan terdengar saling bersahutan, menusuk telinga. Semua kerangka itu mendadak bergerak-gerak dan mulai melangkah maju dengan kaku, terus merubung ke arah dirinya. Keruan saja Suma Bing merasa arwahnya terbang ke awang-awang, keringat dingin bercucuran membasahi tubuh. "Trap, trap!" irama tulang-tulang yang bergeser di atas tanah menambah keseraman suasana yang menakutkan.
Kerangka sudah tentu tidak akan bisa bergerak, tidak perlu disangsikan pasti semua ini ada peralatan yang mengendalikannya. Suma Bing mengheningkan cipta menenangkan gejolak hatinya; tiba-tiba tangannya terayun terus memukul ke depan. Kontan beberapa kerangka yang berada di depan tersapu roboh berantakan menumbuk dinding. Suara tulang-tulang yang tercerai-berai menumbuk dinding terdengar riuh rendah, asap putih kehijauan bergulung-gulung dari tulang-tulang yang hancur berkeping-keping itu. Kerangka lain yang tidak terserang masih tetap melangkah kaku mendekat ke arahnya dengan sikap mengancam. Bahwa pukulannya dapat merobohkan beberapa kerangka itu menambah keberanian Suma Bing. Sambil menggeram keras, dia menggerak-gerakkan kedua tangannya sambil memutar badan, sekaligus Suma Bing menyerang semua kerangka yang mengelilingi dirinya. Maka, dalam sekejap saja kerangka-kerangka itu menjadi setumpukan tulang kering yang hancur berantakan berserakan di mana-mana.
Tapi asap putih kehijauan yang menguap dari dalam tulang-tulang yang hancur itu bertambah lebat memenuhi ruangan. Kabut putih ini mengeluarkan bau harum yang dapat memabukkan orang. Suma Bing merasa kepala pening dan badan terasa enteng; ia tahu bahwa kabut putih ini ternyata mengandung racun jahat. Cepat-cepat ia kerahkan hawa murni dalam tubuhnya untuk membendung serangan hawa beracun ini. Untung dia pernah menelan rumput ular yang berkhasiat menolak segala bisa; kalau tidak, tanggung sejak tadi ia sudah terkapar roboh tanpa bernyawa lagi.
Waktu mengangkat kepala memandang ke atas, di lapis kedua kira-kira setinggi dua tombak, tampak undakan atau tangga untuk naik ke atas. Hanya di sebelah kanan sana terbuka sebuah lubang kecil kira-kira lima kaki; lubang kecil inilah agaknya menjadi pintu penghubung untuk menerobos masuk ke tingkat dua itu. Dengan adanya pengalaman yang berbahaya pada tingkat permulaan ini, sudah pasti pada tingkat kedua juga tidak bakal selamat begitu saja, mungkin bahaya yang mengancam lebih menakutkan dan lebih seram. Sekian lama Suma Bing mengamati lubang kecil itu, tiba-tiba ia menghantam ke arah lubang bundar itu, terus tubuhnya ikut melejit ke samping.
"Blum!" terdengar dentuman menggelegar, sebuah papan baja bundar sebesar lubang di atasnya itu meluncur mengemplang ke atas kepalanya. Untung dia cepat menyingkir sehingga papan baja itu jatuh di atas tanah, menggetarkan seluruh bangunan Menara Iblis. Dari sini dapatlah dibayangkan betapa berat papan besi baja itu. Kalau secara ceroboh tadi Suma Bing terus meloncat ke atas hendak menerobos naik, pasti tubuhnya akan tertindih hancur lebur menjadi perkedel. Sekian lama Suma Bing kesima dan menelan air liur sambil menjulurkan lidah. Tapi bagaimana pun, karena majikan Perkampungan Bumi terkurung di puncak menara ini, seumpama gunung golok dan wajan minyak mendidih juga harus dihadapi dan diterjang terus. Begitulah, setelah hatinya tenang dan semangatnya pulih kembali, beruntun tangannya bergerak memukul tiga kali. Setelah dilihatnya tiada reaksi apa-apa, baru kakinya dijejakkan, tubuhnya terus melejit ke atas menerobos lubang bundar itu.
Pada saat tubuh Suma Bing baru saja muncul di ambang lubang kecil itu, segulung angin pukulan laksana gugur gunung sudah menerjang tiba, mengarah tubuh Suma Bing. Kesempatan untuk berpikir saja belum ada, tahu-tahu badan Suma Bing sudah terpental jauh menumbuk dinding besi baja. Waktu ditegasi, terlihat seorang perempuan berpakaian serba hitam dengan rambut terurai panjang tengah berdiri membelakangi dirinya. Jadi, yang membokong dengan pukulan tadi terang adalah perbuatan perempuan ini. Timbullah hawa amarahnya, bentaknya, "Berputarlah untuk menerima kematianmu!"
"Terima kematian? Hahahahaha..." Nada kata dan tertawanya hakikatnya bukan suara yang keluar dari mulut makhluk berjiwa; sedemikian dingin, kaku, seram, dan aneh menakutkan.
Tanpa terasa berdiri bulu kuduk Suma Bing. Gertaknya sekali lagi, "Aku tidak ingin membunuhmu dari belakang!"
"Membunuh aku? Apa kau mampu?"
"Segampang membalikkan tangan!"
"Huh, kau sedang bermimpi?"
"Baik, lihatlah ini!" diiringi bentakan, kedua tangannya sudah bergerak.
Namun, sebelum tenaga terkerahkan keluar, mendadak terasa papan besi tempat dia berpijak bergerak terus berputar, semakin berputar semakin cepat. Kontan pandangannya menjadi kabur dan kepala terasa berat dan pening. Diam-diam hatinya mengeluh, kalau berputar terus seperti ini tak sampai sepeminuman teh pasti dirinya akan roboh secara konyol. Suara dingin yang menusuk telinga itu mendadak terdengar lagi, "Suma Bing, bagi yang berani memasuki Menara Iblis, selain menjadi setan tiada jalan lain untuk hidup."
Pecah nyali Suma Bing, tapi apa yang dapat diperbuatnya? Dalam keadaan tubuh turut berputar seperti gasing itu, darah mulai bergolak di rongga dadanya. Apakah harus pasrah saja menerima kematian? Biasanya orang yang terdesak dalam bahaya bisa timbul akal sehatnya. Demikian juga, mendadak Suma Bing mendapat ilham cara bagaimana dia harus menyelamatkan diri. Tiba-tiba tubuhnya meluncur tinggi, terus bergantungan di atas atap loteng tingkat ketiga seolah-olah seekor kelelawar besar. Terdengar sebuah seruan kejut, besi berputar itu juga segera berhenti. Perempuan aneh bagai setan itu masih tetap berdiri di tempatnya. Suma Bing melayang turun, terus mencengkeram ke arah lawan.
Selicin belut, perempuan itu berkelit ke samping terus membalik badan. Napas Suma Bing hampir berhenti dan serta-merta mundur berulang-ulang. Sungguh dia tidak dapat membedakan apakah makhluk di hadapannya ini manusia atau setan. Seumur hidupnya belum pernah dilihatnya makhluk seaneh ini. Panca indra perempuan ini tidak lengkap, wajahnya penuh goresan luka dan daging yang menonjol-nonjol, matanya tinggal satu dan miring ke samping, hidungnya bolong plong, dan mulutnya meringis kelihatan dua baris giginya yang memutih menyeramkan.
"Kau ini manusia atau setan?"
"Terserah apa yang hendak kau katakan!"
Suma Bing menjadi nekad dan bertekad, katanya, "Tak peduli kau ini manusia atau setan, yang terang kau memang harus mampus!"
*Ih Sing To Cwan* (Bintang Bergeser Jumpalitan), yaitu jurus kedua dari *Giok Ci Sin Kang* dengan kecepatan yang susah diukur, dilancarkan untuk menyerang.