Chapter 124
Jurus *Ih-sing-to-cwan* inilah yang telah mengalahkan Hui Kong Taysu, si padri agung dari Siau-lim-si yang diabdikan sebagai Hud-co. Betapa dahsyat kekuatannya, dapatlah dibayangkan. Apalagi sekarang dilancarkan di dalam ruang menara yang luasnya hanya empat tombak saja; hampir setiap senti peluang yang kosong sudah terlingkup dalam kekuatan pukulan Suma Bing ini.
Baru saja perempuan aneh tadi hendak menggerakkan alat rahasianya, tapi sudah terlambat. Terdengar keluhan tertahan, lantas badan perempuan itu limbung ke belakang, terus terkapar roboh tak bergerak lagi. Suma Bing menyeringai dingin. Sekali cengkeram, dengan mudah ia menjinjing tubuh orang, terus mendongak memandang ke tingkat ketiga. Ia bersiap menggunakan perempuan yang terluka berat ini sebagai perintis jalan menerobos lubang kecil yang menuju ke tingkat tiga itu.
Memang perbuatannya ini agak kejam, tapi bagaimana juga perempuan jelek rupa ini harus dikorbankan menjadi makanan bagi alat-alat rahasia yang dipasang di tingkat ketiga itu. Pada saat itulah, mendadak sebuah nada dingin dan kaku berkata gugup, "Suma Bing, letakkan dia!"
Sebat sekali Suma Bing memutar tubuh. Dilihatnya majikan Menara Iblis sudah berdiri di hadapannya.
"Letakkan dia!" seru majikan Menara Iblis pula.
Suma Bing mendengus ejek, katanya, "Kau anggap sedemikian gampang?"
"Lalu kau mau apa?"
"Kuharap dia membuka jalan untuk naik ke tingkat ketiga itu!"
"Tidak mungkin!"
"Kalau kau bilang tidak, lantas benar tidak?"
Berulang kali wajah majikan Menara Iblis berganti-ganti tak menentu, desisnya dingin, "Suma Bing, dia sudah terluka berat sekali..."
"Memang, tapi justru *cay-he* baru saja terhindar dari ancaman ajal maut!"
"Letakkan dia!"
"Tidak bisa."
"Kalau sampai terjadi apa-apa, awas, tubuhmu pasti hancur lebur!"
"Kalau kau anggap kau bisa berbuat begitu, silakan lakukan, aku anggap sepele!"
"Suma Bing, menara ini dibangun dengan besi baja, selain lubang hawa tiada pintu atau jendela. Seumpama kau dapat menerobos sampai ke tingkat teratas, juga hanya kematian saja bagimu. Jangan harap kau dapat pergi dengan masih bernyawa!"
"Itu kan urusanku sendiri nanti!"
"Jadi kau sudah bersiap mengantar nyawamu di dalam menara ini?"
"Belum tentu, masih terlalu pagi untuk menentukan itu!"
Sikap gugup dan nada ucapan majikan Menara Iblis yang lunak ini benar-benar membuat Suma Bing terheran-heran. Kenapa sedemikian besar perhatian majikan Menara Iblis ini terhadap perempuan jelek yang sudah setengah mampus ini?
"Suma Bing, lepaskan dia, biar kululuskan kau naik terus ke tingkat teratas dengan selamat."
Suma Bing menimbang-nimbang. Mati hidup Tekun masih belum diketahui. Daripada menerjang secara sembrono, lebih baik menyetujui permintaan orang saja. Orang ini adalah ketua dari suatu aliran yang ditakuti, sudah tentu tidak akan ingkar janji, maka segera ia berkata dingin, "Apa benar majikan Perkampungan Bumi terkurung di puncak sana?"
"Benar!"
"Apa benar dia belum mati?"
"Pertanyaanmu ini berlebihan."
"Baik, aku setuju dengan permintaanmu itu!"
Lalu ia melemparkan perempuan jelek itu ke arah majikan Menara Iblis. Tersipu-sipu majikan Menara Iblis maju menyambut, terus memeriksa lukanya, lalu mengusap wajahnya. Pandangan Suma Bing serasa kabur, matanya terbelalak. Ternyata perempuan jelek menyerupai setan itu adalah penyamaran dari seorang gadis yang cantik rupawan. Kiranya dia mengenakan kedok muka untuk menakuti orang.
Baru sekarang ia paham, gadis ayu ini pasti ada hubungan sangat erat dengan majikan Menara Iblis, mungkin juga anaknya. Kalau tidak, mana mungkin dia begitu gugup dan perhatian, malah mau mengalah mengajukan syarat tukar-menukar.
Sekian lama majikan Menara Iblis memeriksa dengan teliti, akhirnya pandangannya beringas dan membentak bengis, "Suma Bing, kalau lukanya sampai tak dapat ditolong, akan kubalas dengan tindakan keji yang paling kejam!"
Nada ucapannya mengandung ancaman serius yang berlimpah. Acuh tak acuh Suma Bing menyahut, "Kalau kau mampu melaksanakan ancaman itu, *cay-he* takkan berkerut alis!"
"Baik, semua alat rahasia kini sudah kututup semua, silakan kau naik ke atas!"
Sejenak Suma Bing bimbang, lalu melejit menerobos lubang bundar di atasnya. Benar juga, tanpa rintangan yang membahayakan, dalam sekejap saja ia sudah tiba di tingkat kesebelas. Setingkat lagi adalah yang terakhir; itulah tempat di mana Tekun sekarang tengah dikurung. Seperti yang sudah-sudah, hanya lubang bundar sebesar kaki-lah satu-satunya penghubung antara tingkat demi tingkat itu.
Perasaan Suma Bing mulai tegang. Dia ingin berteriak memanggil, tapi setelah dipikir-pikir, akhirnya dia urung membuka suara. Sekali kakinya menggenjot tanah, tubuhnya terus menerobos lewat dan tiba di tingkat teratas.
"Siapa itu?" Terdengar sebuah bentakan nyaring serak.
Sekali dengar lantas Suma Bing tahu itulah bentakan yang keluar dari mulut Tekun sendiri. Suma Bing menyapu pandang ke sekelilingnya, melihat apa yang terpajang di hadapannya, seketika ia terlongong-longong sampai lupa memberi jawaban!
Itulah sebuah ruang atau kamar yang dihias sedemikian indah dan mewah seumpama kamar pengantin; sinar mutiara berkilauan menerangi seluruh kamar itu. Tampak Tekun tengah duduk tegap di atas sebuah kursi malas. Wajahnya mengunjuk rasa kejut, matanya kesima memandangi Suma Bing. Ini bukan kamar tahanan, jadi terang bahwa Tekun juga bukan ditahan. Pasti ada hal-hal apa yang mencurigakan.
Konon, seorang diri Tekun meluruk datang menepati janji dan terkubur di dasar Telaga Air Hitam. Tapi kenyataannya dia masih segar bugar. Ada pula yang mengatakan Tekun terkurung di puncak Menara Iblis, namun kenyataan ini juga berlawanan dengan berita yang dikabarkan. Adalah majikan Menara Iblis ternyata perempuan setengah umur yang masih cantik molek, mungkinkah di sini letak persoalannya? Otaknya sampai terasa berdenyutan memikirkan persoalan ini.
Akhirnya Tekun Pit Gi membuka suara, "Menantuku, untuk apa kau kemari?" Suaranya sudah tidak berat dan berwibawa seperti waktu masih berada di Perkampungan Bumi, tak ubahnya seperti orang tua biasa yang tengah bicara dengan menantunya.
Sesaat Suma Bing tertegun, lalu sahutnya sambil membungkuk hormat, "*Siau-say* (menantu) menghadap Tekun!"
"Sudahlah, coba katakan mengapa kau datang kemari?"
"Menurut kabar bahwa Tekun sudah terkubur di Telaga Air Hitam. Seluruh kekuatan Perkampungan Bumi akan diboyong kemari untuk menuntut balas. Maka jauh-jauh *siau-say* menyusul tiba, tapi..."
"Kenyataan tidak seperti apa yang dikabarkan?"
"Ya, benar!"
"Kabar kematian itu memang aku sendiri yang suruh orang menguarkan!"
"Kenapa?" tanya Suma Bing tersentak kaget.
Agaknya Raja Bumi sudah berubah sangat tua dalam sekejap mata ini. Katanya sambil menghela napas, "Selama hidup ini, aku sudah berkeputusan untuk tidak kembali lagi ke Perkampungan Bumi atau muncul di dunia persilatan!"
Lebih heran dan tak mengerti, dalam ingatan Suma Bing betapa garang dan besar wibawa Raja Bumi tempo hari, sungguh tidak nyana hari ini bisa bicara demikian lunak dan lembek. Ini benar-benar susah dapat dipercaya.
Berkata pula Tekun Pit Gi, "Kau merasa di luar dugaan, bukan?"
"Ya."
"Sudah kepalang kau datang kemari, terpaksa harus kututurkan duduk perkara sebenarnya. Tapi, kau harus ingat satu hal..."
"Harap jelaskan?"
"Duduk perkara peristiwa ini hanya kuijinkan kau sendiri yang tahu, selamanya jangan kau bocorkan kepada siapa pun juga!"
"Terhadap Adik Ang juga tidak boleh?"
Terbayang rasa duka pada wajah Raja Bumi, sahutnya, "Dia boleh dikecualikan, tapi juga harus tiba saatnya yang tepat baru boleh kau beritahu kepadanya."
"Yang dimaksud tiba saatnya adalah..."
"Sedikitnya setelah dua puluh tahun kemudian."
"Dua puluh tahun kemudian?"
"Bersama itu, kau juga harus tahu benar bahwa aku sudah mati."
"Ini..."
"Inilah perintahku yang pertama dan yang terakhir kepadamu, kau harus patuh!"
"Tapi Perkampungan Bumi tiada yang memimpin..."
"Kaulah calon penggantinya."
Berubah air muka Suma Bing. Sungguh dia tidak berani membayangkan masa depannya, sebab dia masih berhutang budi terhadap Racun Diracun, namun dia juga harus membunuh Racun Diracun. Dia sendiri pernah berkata akan menebus budi orang dengan kematiannya, untuk membuktikan kejantanannya bahwa dia dapat membedakan antara budi dan dendam.
Baru saja pikiran Suma Bing melayang-layang, terdengar Raja Bumi berkata lagi, "Menantuku, kau tahu mengapa aku berbuat demikian?"
"*Siau-say* tidak paham!"
"Untuk menebus cinta!"
"Menebus cinta? Apakah artinya?"
Berubah nada ucapan Raja Bumi, sedemikian berat serak dan merawan hati, "Dulu, aku menelantarkan seorang perempuan. Sekarang, dengan sisa hidupku ini aku harus menebus kesalahanku itu kepadanya!"
"Siapakah dia?"
"Majikan Menara Iblis!"
"O!" Tergetar seluruh tubuh Suma Bing. Mimpi juga tidak nyana bahwa urusan ini ternyata berliku-liku sedemikian jauh. Bahwa dua majikan dari Perkampungan Bumi dan Menara Iblis yang sangat disegani itu kiranya adalah sepasang kekasih, tapi dia salah berpikir...
"Dia adalah istriku sah, kita mempunyai seorang anak perempuan, lebih tua dua tahun dari Yau-ang. Dia bernama Yau-cu!"
"O!" tercetus seruan kaget dari mulut Suma Bing. Teringat olehnya gadis molek yang terluka berat oleh pukulannya di tingkat kedua tadi, pastilah dia itu Pit Yau-cu adanya. Dia adalah kakak dari istrinya kedua, Pit Yau-ang, entah bagaimana keadaannya.
"Apa kau tahu siapakah aku ini dulu?"
Terbayang oleh Suma Bing percakapan Pek-chio Lojin dan muridnya, segera ia mengangguk dan sahutnya, "Tahu!"
"Tahu? Dari mana kau tahu?"
"Dengar dari percakapan orang!"
"Coba katakan yang kau tahu!"
"Kiu-im Suseng adalah tokoh silat nomor satu di seluruh jagat ini pada pertandingan silat pertama di puncak Hoa-san..."
"Ya, kau benar. Sejak aku menggondol gelar jago nomor satu seluruh jagat yang kosong itu, pengalamanku hampir sama dengan nasibmu itu!"
"Sama dengan nasibku?"
"Ya, sama benar, seperti kau menjadi duplikatku!"
"Terpilih sebagai *huma* oleh Perkampungan Bumi?"
"Semua benar, dalam keadaan yang tidak merdeka aku dinikahkan dengan ibu Yau-ang."