Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 125

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 125

Sejak itu, aku menduduki jabatan sebagai Raja Bumi. Sementara itu, ibu Yau Ang meninggal dunia tak lama setelah melahirkan Yau Ang.

Tepat saat aku terpilih sebagai calon Huma di Perkampungan Bumi, Yau Cu, ibu beranak itu, mendadak menghilang. Ke mana-mana aku mencarinya, namun tanpa hasil.

"Tak nyana, takdirlah yang menentukan. Kiranya dia telah menjadi majikan dari Menara Iblis ini!" Setelah berkata demikian, ia menghela napas panjang dengan lesu.

Suma Bing manggut-manggut seraya berkata, "Sekarang aku paham!"

Pada saat itulah, sebuah bayangan mendadak muncul bagaikan bayangan setan. Terlihat bayangan itu tengah membopong seseorang. Mereka tidak lain adalah majikan Menara Iblis dan Yau Cu. Air muka majikan Menara Iblis tampak kaku membeku, matanya menyorotkan kemarahan yang berapi-api.

Melihat gelagatnya, nyali Suma Bing menciut. Perasaannya ikut tenggelam, membayangkan mungkin Pit Yau Cu sudah meninggal. Terdengar Te Kun berjingkrak kaget, serunya, "Dia... Yau Cu kenapa?"

"Dia sudah mati!" sahut majikan Menara Iblis penuh kebencian.

Te Kun melompat bangun, serunya gemetar, "Apa katamu? Cuji sudah mati? Bagaimana bisa mati?"

"Menantumu yang bagus itulah yang turun tangan!"

Bergetar seluruh tubuh Te Kun. Kilatan matanya menatap tajam ke wajah Suma Bing cukup lama, kemudian barulah tercetus pertanyaannya, "Kau yang membunuh dia?"

Suma Bing menggigit bibir, sahutnya, "Benar. Sebelum ini, kita masing-masing adalah musuh besar yang harus menentukan mati atau hidup!"

Te Kun maju mendekat dan membopong tubuh Yau Cu. Dua titik air mata meleleh, menetes di wajahnya yang pucat pias tanpa darah.

Majikan Menara Iblis mengancam dengan gemetar, "Suma Bing, sudah kukatakan akan kuhancurleburkan tubuhmu menjadi perkedel!"

Seketika Suma Bing mundur selangkah. Suara Te Kun terdengar sangat sedih, "Istriku, dia tidak sengaja..."

Mata majikan Menara Iblis semakin menyala-nyala. Ia menyemprot beringas, "Kau berani merintangi aku menuntut balas atas anak gadisku?"

Sementara itu, Te Kun tengah memeriksa denyut jantung anak gadisnya. Mendadak ia berseru kegirangan, "Nadi besarnya masih belum putus..."

"Aku tahu, tapi seumpama tabib Hua Tuo hidup lagi pun, jangan harap dapat menyembuhkan dia!"

Mendengar ini, Suma Bing berseru girang, tanyanya gugup, "Apa betul nadi besarnya belum putus?"

"Betul," sahut majikan Menara Iblis sambil mengertakkan gigi, "delapan nadi di seluruh tubuhnya sudah hampir musnah, meskipun..."

"Bisa ditolong," potong Suma Bing.

"Apa, bisa ditolong?" Te Kun dan majikan Menara Iblis berseru terkejut secara bersamaan.

Suma Bing mengusap keringat yang membasahi dahi, lalu berkata, "Ilmu Kiu Yang Sin Kang yang saya pelajari dapat menolongnya!"

Majikan Menara Iblis masih kurang terima, ejeknya, "Suma Bing, kau menolongnya demi menyelamatkan jiwamu sendiri!"

Watak Suma Bing yang keras dan congkak hampir meledak, namun karena berhadapan langsung dengan Te Kun, ia berusaha menahan kemarahannya. Sahutnya dingin, "Aku menolongnya karena aku tahu budi pekerti, bukan untuk kepentingan diriku sendiri."

Te Kun Pit Gi meletakkan Pit Yau Cu di atas ranjang, lalu berkata, "Menantuku, lekaslah kau menolongnya!"

Setelah menenangkan hati dan menghimpun semangat, Suma Bing mendekati ranjang. Secepat terbang, tangannya bergerak menotok berbagai jalan darah besar, lalu melepas sepatu dan duduk di atas ranjang. Kiu Yang Sin Kang mulai dikerahkan melalui tangan yang menekan batok kepala, disalurkan terus-menerus. Hawa murni yang positif dan bersifat panas mengalir masuk.

Sepeminuman teh kemudian, tubuh Suma Bing basah kuyup bagaikan kehujanan, wajahnya pucat pasi. Sebaliknya, Pit Yau Cu mulai bernapas teratur, darahnya berjalan normal, dan wajahnya mulai bersemu merah.

Tanpa berkedip, Te Kun dan majikan Menara Iblis mengawasi keadaan anaknya. Setengah jam berlalu, terdengar Pit Yau Cu mulai mengerang lirih. Pit Yau Cu membuka mata dan perlahan bangkit duduk. Begitu melihat Suma Bing yang tengah bersamadi di atas ranjang, ia menggerung gusar, lalu mengangkat tangan hendak memukul batok kepala Suma Bing.

"Jangan, Cuji!" cegah Te Kun sambil menyambar pergelangan tangannya. "Kejadian ini akibat salah paham. Untuk menolongmu, dia sudah kehilangan banyak hawa murni. Kau turunlah dan beristirahat!"

Pit Yau Cu menarik tangannya, melirik sekali lagi ke arah Suma Bing, lalu berputar balik dan menghilang ke dalam pintu rahasia.

Saat Suma Bing selesai dengan samadinya, satu jam telah berlalu. Di hadapannya kini tinggal Te Kun seorang diri. Te Kun berkata dengan sedih, "Menantuku, tugas berat Perkampungan Bumi selanjutnya kini jatuh di atas pundakmu."

"Saya akan menjunjung tinggi harapan Gak Tio yang mulia!"

"Bagus sekali. Masih ada lagi, kuharap kau perlakukan Angji dengan baik..."

"Pasti, aku bisa."

"Jagalah dirimu baik-baik, sekarang boleh kau pergi. Ingat dan jangan lupa pesanku tadi."

"Saya ingat betul, sekarang juga saya mohon diri!" Setelah membungkuk memberi hormat, Suma Bing turun dari Menara Iblis.

Kini pintu besar Menara Iblis sudah terbuka lebar, namun tidak tampak bayangan seorang pun. Seperti saat datang tadi, ia menyeberangi danau dan kembali tiba di daratan. Memandang ke arah Menara Iblis di kejauhan, hatinya terasa hampa dan masgul. Sang junjungan agung, majikan Perkampungan Bumi yang kenamaan dan ditakuti, akhirnya harus menghabiskan sisa hidupnya di tempat pengasingan.

Namun, ia seharusnya merasa tenteram dan puas, seperti apa yang dikatakan sendiri bahwa ia tengah menebus cinta yang tertunggak. Baru sekaranglah ia insaf bahwa semua kejadian dan peristiwa di kalangan Kangouw ternyata serba-serbi dan tiada sesuatu pun yang abadi.

Sekonyong-konyong terdengar derap langkah kaki yang ramai mendekat dari kejauhan, disusul beberapa bayangan manusia yang melayang tiba bagaikan bintang jatuh. Betapa jeli pandangan Suma Bing sekarang; dari kejauhan sudah dilihatnya bahwa mereka adalah anak buah dari Perkampungan Bumi.

Yang mengepalai dan berada di barisan terdepan adalah istrinya sendiri, yaitu Pit Yau Ang, bersama Coh Hu dan Yu Pit, dua perdana menterinya. Di belakangnya lagi adalah para Tongcu, semua petugas hukum, serta kerabatnya dengan jumlah tidak kurang dari dua ratus orang.

Di tengah ramainya suara kaget, orang-orang itu melayang tiba. Pit Yau Ang berjingkrak kegirangan di luar dugaan, serunya, "Engkoh Bing, tak terduga kau telah tiba lebih dulu!"

Suma Bing tertawa tawar, sahutnya, "Adik Ang, semua anak buahmu sudah kau kerahkan datang semua?"

"Ya, hanya tinggal beberapa orang saja untuk menjaga rumah."

Coh Hu dan Yu Pit segera maju menghadap dan menyembah, "Menghadap Huma!"

Cepat-cepat Suma Bing melambaikan tangan, katanya, "Kalian bangun, tidak perlu banyak peradatan."

Lalu, beramai-ramai para Tongcu dan semua kerabatnya bergiliran maju dan menyembah. Sambil melayani anak buah Perkampungan Bumi, otak Suma Bing bekerja keras mencari alasan untuk mencegah Pit Yau Ang agar tidak menuntut balas. Semua anak buah Perkampungan Bumi tengah berkabung dan geram; mereka datang dengan hati yang panas dan bara dendam yang berkobar di setiap sanubari.

Setelah berpikir mendalam, Suma Bing mengambil keputusan. Demi menjalankan pesan terakhir Te Kun, terpaksa ia harus berlaku keras dan tegas untuk berbohong.

Mata Pit Yau Ang mengembunkan air mata, ujarnya sedih, "Engkoh Bing, sekarang kaulah yang memimpin untuk bertindak..."

"Aku yang memimpin?"

"Sudah lazim dan jamak, bukan? Masa kau..."

"Urusan ini sudah selesai sebagian..."

"Apa?"

"Apa kau tidak melihat mayat-mayat di pinggir telaga dan noda-noda darah itu?"

Semua sorot mata beralih mengikuti arah yang ditunjuk Suma Bing, lalu kembali menatapnya. Tanya Pit Yau Ang heran, "Engkoh Bing, apakah yang telah terjadi?"

"Aku sudah menuntut balas bagi Te Kun!"

"Kau..."

"Ya, Menara Iblis sudah kucuci bersih dengan banjir darah!"

Semua anak buah Perkampungan Bumi mengunjuk rasa kagum dan kaget luar biasa. Dengan tenaga seorang diri dapat mencuci bersih seluruh kekuatan Menara Iblis adalah hal yang sulit dibayangkan dengan akal sehat. Tapi, kenyataan ini terucap dari mulut Huma sendiri, siapa yang berani tidak percaya?

"Engkoh Bing," ujar Pit Yau Ang pilu. "Lalu bagaimana dengan jenazah ayahku?"

Suma Bing tidak menduga bakal mendapat pertanyaan ini. Seketika ia terhenyak tanpa mampu menjawab. Namun akhirnya, tersimpul suatu akal dalam benaknya, sahutnya, "Jenazahnya tenggelam di dasar danau hari itu juga, waktu dia datang kemari."

"Tenggelam di dasar danau?" Pit Yau Ang mengeluh panjang, lalu berlutut dan menyembah ke arah danau. Pecahlah tangisnya tergerung-gerung. Tidak ketinggalan, semua anak buah Perkampungan Bumi serempak berlutut dan menyembah ke arah danau sebagai penghormatan terakhir kepada Te Kun.

Sebagai Huma, tentu Suma Bing harus menunjukkan teladan. Terpaksa ia juga berlutut dan menyembah di samping Pit Yau Ang. Suasana seketika menjadi sunyi, diliputi isak tangis berkabung yang merawan hati. Namun, keadaan sebenarnya hanya Suma Bing seoranglah yang tahu.

Agak lama kemudian, baru Suma Bing membimbing Pit Yau Ang bangkit berdiri dan membujuknya agar menghentikan tangis. Semua berdiri dan mengheningkan cipta ke arah Menara Iblis di tengah danau sana.

Tiba-tiba Pit Yau Ang membanting kaki, serunya geram, "Engkoh Bing, menara itu harus kita hancurkan!"

Tercekat hati Suma Bing, sahutnya gugup, "Adik Ang, menurut hematku, kita sudahi saja sampai di sini..."

"Kenapa?"

"Air danau hitam ini mengandung racun yang sangat jahat. Bagi siapa pun yang terkena, pasti segera mati. Aku sudah menebus hutang darah Te Kun. Kalau ada tindakan apa-apa lagi, sedikitnya harus mengorbankan tenaga dan mungkin malah nyawa!"

"Sejak semula, kenapa tidak kau runtuhkan saja menara itu?"

"Itu tak mungkin terjadi!"

"Kenapa tak mungkin?"

"Menara itu dibangun dengan lapisan papan besi baja, mana gampang untuk merusaknya!"

"Lantas kita hanya diam saja menerima nasib ini?"

"Adik Ang, Menara Iblis sudah mengorbankan apa yang harus dia korbankan."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment