Chapter 126
"Pasti Tekun dapat meram di alam baka." Namun, kecintaan Pit Yau Ang terhadap ayahnya sangat dalam; sekian lama dia masih meributkan ini-itu serta bertangisan sekian lamanya pula. Hal itu membuat Suma Bing jengkel, tetapi juga tidak tega. Namun, bagaimana pun dia tidak bakal berani membangkang perintah Tekun untuk mengungkapkan duduk perkara sebenarnya.
Coh Hu, Si Kong Teng, dan Yu Pit Ciu Ing Tiong berbareng maju menghadap sambil membungkukkan tubuh. "Hamba berdua minta sedikit petunjuk?"
"Silakan katakan!"
Kata Coh Hu hormat, "Perkampungan kita tidak bisa tanpa pimpinan. Harap Huma segera kembali ke dalam kampung untuk menduduki jabatan Tekun ini."
Suma Bing tertegun, sahutnya, "Tekun baru saja wafat, urusan ini harus dirundingkan lagi seratus hari kemudian. Apalagi urusan pribadiku di kalangan Kangouw masih belum selesai. Sekali aku menduduki jabatanku, nama dan kedudukanku akan menjadi penghambat belaka. Bagaimana menurut pendapat kalian berdua?"
Lalu dia berpaling ke arah Pit Yau Ang dan katanya pula, "Adik Ang, kau jelas mengetahui keadaanku yang serba sulit ini. Semua urusan di kampung sementara biarlah kau yang urus dan pimpin, maukah?"
Sesaat Pit Yau Ang ragu-ragu, akhirnya mengangguk setuju. Sekilas Coh Hu dan Yu Pit saling berpandangan, lalu membungkuk dan berseru lagi, "Menurut perintah Huma!" Mereka terus mengundurkan diri.
Suma Bing menghela napas lega, ujarnya, "Adik Ang, perintahkan segera kembali!"
"Lalu kau bagaimana?"
"Kuharap kau dapat memaafkan aku. Segera aku harus kembali ke Tionggoan untuk menuntut balas kepada musuh-musuhku!"
"Kau tidak mengiring..." Bicara setengah terus ditelan kembali.
Suma Bing tertawa ringan, bujuknya, "Adik Ang, hari-hari yang akan datang masih panjang."
Mata Pit Yau Ang merah dan berlinang air mata, katanya, "Baiklah, Engkoh Bing, jagalah dirimu baik-baik!"
"Aku pasti dapat, kau juga hati-hati dan jagalah kesehatanmu!"
Sekian lama dipandangnya Pit Yau Ang lekat-lekat. Diam-diam benak Suma Bing mengeluh; sungguh dia tidak berani membayangkan masa depannya. Janjinya terhadap Racun Diracun merupakan ketentuan dari nasibnya kelak. Demi dendam dan demi kesejahteraan kaum persilatan, dia harus membunuh Racun Diracun. Dan untuk menebus budi kebaikan Racun Diracun yang berulang kali menolong jiwanya, hanya dengan kematianlah dia dapat melunasi hutang budinya ini.
Demikianlah dengan rasa pilu dan masgul, dia berpisah dengan istri keduanya, Pit Yau Ang, dan terus beranjak cepat menuju ke Tionggoan. Dendam kesumat dan kebencian sudah semakin deras berderap dalam aliran darahnya. Tujuannya yang pertama kali ini adalah menangkap hidup-hidup Loh Cu Gi dan menumpas habis seluruh Bwe Hwa Hwe dengan banjir darah.
Dua jam kemudian, dia sudah menempuh perjalanan sejauh dua ratusan li. Tengah berlari kencang itulah, mendadak dilihatnya tiga orang Tosu tengah berdiri jajar di bawah sebuah pohon besar di pinggir jalan. Saking heran dan ingin tahu, segera Suma Bing menghentikan langkahnya. Ketiga Tosu ini masing-masing mengenakan seragam jubah panjang berwarna abu-abu kehitaman.
Suma Bing melengak. Dari jubah seragam yang aneh ini, dia tahu bahwa ketiga Tosu ini adalah anak murid Butong Pay yang sangat kenamaan dengan ilmu pedangnya, yaitu Butong Sam Siu. Butong Sam Siu tidak bergerak juga tidak membuka suara; mereka berdiri tegak bagai tiga buah patung hidup. Suma Bing semakin heran dan besar hasratnya ingin tahu. Entah untuk keperluan apa Butong Sam Siu ini datang ke perbatasan yang belukar ini? Tapi mereka sedemikian angkuh tanpa menyapa sekadarnya, buat apa pula dirinya mencari penyakit. Setelah dipikir-pikir, kakinya diangkat hendak pergi.
Mendadak dilihatnya jubah di depan dada Butong Sam Siu itu bersemu merah darah!
Keruan hatinya terperanjat, sebat sekali tubuhnya berkelebat tiba di hadapan Butong Sam Siu. Waktu ditegasi, merindinglah tubuhnya. Kiranya ketiganya sudah menjadi mayat dan kaku tanpa roboh. Butong Sam Siu mati bersamaan di pinggir jalan; ini betul-betul sangat mengejutkan dan susah dipahami. Dilihat dari noda darah yang masih merembes keluar, agaknya kematian mereka terjadi belum lama ini. Setelah diteliti sekian lamanya, tanpa terasa tercetus seruan kaget dari mulutnya, "Rasul Penembus Dada!"
Ternyata dada ketiga Tosu dari Butong Pay ini masing-masing berlubang karena tusukan cundrik. Cara pembunuhan kedua kalinya. Betapa tenar dan kenamaan Butong Sam Siu ini, kenapa bisa mati di tangan Rasul Penembus Dada? Perkumpulan macam apakah Jeng Siong Hwe sebenarnya? Apa tujuannya menyebar maut dengan pembunuhan sadis yang menakutkan itu? Tokoh macam apakah ketua mereka? Waktu pertama kali dirinya bertemu dengan Rasul Penembus Dada, orang pernah menyangka bahwa dirinya adalah sekomplotan dengan Loh Cu Gi. Maka, naga-naganya bahwa Loh Cu Gi juga pasti adalah salah satu sasaran yang harus dibunuh pula oleh pihak Jeng Siong Hwe. Kalau sampai Loh Cu Gi diketahui oleh Rasul Penembus Dada sebagai sesepuh atau pemegang peranan belakang layar Bwe Hwa Hwe, bukankah jerih payah sekian lama ini bakal menjadi sia-sia belaka?
Berpikir sampai di sini, semakin besar hasratnya untuk segera meluruk ke markas besar Bwe Hwa Hwe supaya sakit hatinya dapat segera terbalas. Namun, berturut-turut lain pikiran segera merangsang juga dalam benaknya. Itulah persoalan tentang barisan pohon-pohon bunga Bwe itu. Barisan inilah merupakan perintang utama sebagai penghambat untuk terlaksananya cita-citanya untuk menuntut balas. Kalau tidak dapat memecahkan barisan pohon-pohon bunga Bwe ini, bagaimana pun dirinya tidak bakal dapat memasuki markas besar musuh. Alis tebalnya berkerut semakin dalam.
Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar sebuah suara memanggil, "Suma Bing, selamat bertemu."
Terperanjat Suma Bing. Di mana pandangannya menyapu, dilihatnya sebuah bayangan putih melayang tiba bagai bayangan setan; tahu-tahu sudah tiba di hadapannya. Pendatang ini tak lain tak bukan adalah Rasul Penembus Dada. Agaknya setelah membunuh Butong Sam Siu, Rasul Penembus Dada masih belum pergi jauh.
Sinar mata Suma Bing berkilat menyapu lawan, katanya dingin, "Butong Sam Siu ini adalah kau yang membunuh?"
"Tidak salah!"
"Untuk kejahatan apa mereka harus dibunuh?"
"Sudah tentu ada alasannya untuk dibunuh!"
"Alasan apa? Coba katakan!"
"Ini tidak menyangkut urusanmu!"
"Kalau aku mau mengurus?"
"Kau tidak akan mampu mengurus!"
Berkobar marah Suma Bing, dengusnya berat, "Aku tidak percaya tidak dapat mengurus."
Rasul Penembus Dada menyeringai dingin, "Suma Bing, keselamatanmu sendiri susah diramalkan, masih berani banyak tingkah dan membela orang yang sudah mati?"
Suma Bing maju dua langkah, tantangnya, "Dalam dua gebrak kalau kau masih tetap hidup, untuk selanjutnya biarlah aku tidak bernama Suma Bing."
Tanpa sadar Rasul Penembus Dada mundur selangkah lebar, desisnya, "Mungkin kau tiada kesempatan turun tangan!"
"Hm, biar kau rasakan..."
"Nanti dulu!"
"Masih hendak kentut apalagi kau?"
"Suma Bing, bicaralah sopan sedikit!"
Panas rasa wajah Suma Bing; baru sekarang disadari bahwa musuhnya ini adalah seorang perempuan, memang ucapannya tadi terlalu kasar. Maka tanyanya mendesak, "Ada omongan apalagi, lekas katakan?"
"Ketua kami ingin bertemu dengan kau!"
Suma Bing melengak, tanyanya menegasi, "Ingin bertemu aku?"
"Tidak salah!"
"Untuk apa?"
"Kau takut?"
Semprot Suma Bing dengan sombongnya, "Selamanya aku tidak kenal apa artinya takut!"
Rasul Penembus Dada keluarkan suara tawa ringan, ejeknya, "Tuan terlalu besar mulut!"
"Apa kau tidak terima?" dengus Suma Bing.
"Setelah bertemu dengan ketua kita, baru kau akan kenal apa yang dinamakan takut!"
Suma Bing berludah menghina. "Sekarang mari kau ikut aku!"
"Baik, tunjukkan jalan!"
Suma Bing mengintil di belakang Rasul Penembus Dada; sepanjang jalan mereka berlari secepat terbang. Tidak lama kemudian, tibalah mereka di tengah-tengah sebuah selat sempit di mana tersebar batu-batu runcing bagai hutan batu. Tiba-tiba Rasul Penembus Dada menghentikan langkah sembari berkata, "Sudah sampai!"
Suma Bing menyapu pandang empat penjuru, tanyanya, "Di sinikah markas besar Jeng Siong Hwe kalian?"
"Jangan banyak cerewet, nanti sebentar kau akan tahu!"
Pada waktu itulah tiba-tiba muncul seorang gadis serba putih yang membekal sebilah pedang merah darah, serta serunya nyaring, "Suci sudah kembali!"
"Di mana Suhu berada?"
"Berada di dalam kamarnya!"
"Segera laporkan kepada Suhu bahwa Suma Bing sudah tiba!"
"O!" Gadis itu mengunjuk rasa kejut dan mengerling ke arah Suma Bing; sekejap saja bayangannya sudah menghilang di balik batu.
Tiba-tiba berkatalah Rasul Penembus Dada, "Suma Bing, konon kabarnya dalam dua gebrak kau dapat mengalahkan Hui Kong Taysu yang dipandang sebagai Hudco oleh Siaulim Si. Apakah hal ini benar?"
Suma Bing membatin; kabar yang tersiar di kalangan Kangouw sedemikian cepat, tak tahunya kabar ini sudah sampai di perbatasan yang sepi dan belukar ini. Otak berpikir, mulutnya menyahut pelan, "Benar, memang begitulah halnya!"
"Kepandaian yang kau lancarkan pasti bukan asli dari pelajaran Lamsia."
"Ini... memangnya kenapa?"
"Kau ketiban rezeki?"
"Rasanya aku tidak perlu jawab."
Gadis serba putih itu muncul kembali, katanya, "Suci, menurut perintah Suhu, harus langsung dibawa ke Hiat Tham (Panggung Berdarah)."
Berdetak jantung Suma Bing. Panggung Darah, suatu nama yang menusuk telinga. Berulang kali dirinya bermusuhan dengan Jeng Siong Hwe, entah cara bagaimana mereka hendak menghadapi dirinya nanti...
Belum hilang pikirannya, tampak Rasul Penembus Dada sudah bertindak seraya ajaknya, "Mari ikut aku."
Batin Suma Bing, mengandal apa yang telah dipelajarinya, masa perlu takut-takut lagi. Maka dengan tenang dan angkernya dia mengikuti di belakang orang. Batu-batu runcing itu sedemikian banyak bagaikan hutan; setelah selulup timbul dan belak-belok ke kanan-kiri, seakan-akan mereka tengah berada di dalam suatu barisan yang menyesatkan saja.