Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 127

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 127

Tak lama kemudian, pemandangan di depannya mendadak berubah.

Di depannya kini muncul sebuah panggung batu putih setinggi lima tombak. Di depan panggung batu ini terdapat papan batu yang dipasang melintang; di atasnya tertulis dua huruf besar berwarna merah darah: "Hiat Tham". Di belakang papan batu bertuliskan "Panggung Darah" ini adalah undakan batu yang menjurus ke atas sampai ke puncak panggung.

Melihat suasana dan keadaan ini, tanpa terasa Suma Bing menyedot hawa dingin. Kira-kira setombak terpaut dari panggung batu itu, Rasul Penembus Dada menghentikan langkahnya. Segera terlihat dua baris wanita serba putih perlahan-lahan keluar dari dua sisi panggung darah, lalu berbaris rapi di kedua sisi. Mereka berdiri tegak dengan khidmat.

Terlihat sebuah bayangan bergerak di atas panggung, lantas terdengar dua kali suara "Tang, tang!" Suara lonceng dari atas panggung ini sangat nyaring, menambah seram suasana yang mencekam sanubari.

"Silakan naik panggung!" Rasul Penembus Dada mempersilakan.

Sedikit bimbang, lantas Suma Bing beranjak ke atas undakan dengan mengangkat dada. Rasul Penembus Dada mengikuti di belakangnya. Begitu tiba di atas panggung, ia langsung berhadapan dengan sebuah kursi batu. Kursi batu ini sudah berubah warna dan berlepotan noda hitam; sekali pandang dapat diketahui bahwa itulah bekas noda darah yang bertumpuk sekian lamanya. Di tengah panggung terletak sebuah meja batu panjang. Di belakang meja ini, duduk di kursi kebesaran seseorang yang mengenakan cadar serta pakaian serba putih. Sebelas Rasul Penembus Dada lainnya mengelilingi di belakangnya.

Setelah membungkuk dan memberi hormat kepada orang di tengah yang mengenakan cadar itu, Rasul Penembus Dada mengundurkan diri dan bergabung dengan sebelas teman lainnya tanpa bersuara. Dengan angkuh serta membusung dada, Suma Bing menghadapi orang serba putih di tengah itu. Sorot mata si orang serba putih ini bagai tajam pedang, menatap tajam ke wajah Suma Bing tanpa berkedip. Dari sinar matanya yang berkilat-kilat, dapat diukur bahwa *lwe-kang* orang serba putih ini sudah mencapai taraf yang sangat mengejutkan.

Tidak tertahan lagi, Suma Bing membuka suara terlebih dahulu, "Tuankah ketua Jeng Siong Hwe?"

"Tidak salah!" Suaranya dingin dan melengking menusuk telinga; ini menandakan bahwa ketua Jeng Siong Hwe ini ternyata adalah perempuan. Sungguh tidak menyangka bahwa sebuah perkumpulan rahasia seperti Jeng Siong Hwe yang menggetarkan seluruh dunia persilatan ternyata diketuai oleh seorang perempuan.

"Ada petunjuk apakah Tuan mengundang *cayhe* kemari?"

Dengan nada suara yang menyedot semangat orang, berkatalah Ketua Jeng Siong Hwe, "Suma Bing, apa betul kau murid Lam Sia?"

"Tak usah disangsikan lagi!" sahut Suma Bing sambil mengacungkan cincin iblis yang dipakai di jari manisnya.

"Apa hubunganmu dengan Loh Cu Gi?"

Mengungkit nama Loh Cu Gi membuat darah Suma Bing mendidih. Ia mendengus dengan penuh kebencian, "Untuk apa Tuan Ketua menanyakan hal ini?"

"Sudah tentu ada keperluanku!"

"Kalau dikatakan, kita terhitung sebagai kakak-adik seperguruan!"

Berkelebat sorot kebuasan di mata Ketua Jeng Siong Hwe yang secepat itu pula menghilang. Ia bertanya menegaskan, "Kalian adalah kakak-adik seperguruan?"

"Tidak salah!"

"Di mana sekarang Loh Cu Gi berada?"

"Untuk apa Tuan Ketua ingin mengetahui jejaknya?"

"Kenapa kau tidak perlu tahu. Jawab saja pertanyaan yang kuajukan!" Nada perkataannya seakan tengah menginterogasi pesakitan.

Keruan timbul watak sombong Suma Bing, "Tuan Ketua sedang menginterogasi keteranganku?"

"Boleh dikata demikian!"

"Ingat, *cayhe* bukan menjadi pesakitan di sini!"

"Suma Bing, sekarang kau sudah termasuk pesakitanku, tahu!"

Saking gusar, Suma Bing malah tertawa, serunya, "Kau seorang ketua, obrolanmu..."

"Tutup mulut! Suma Bing. Meskipun kau seorang Huma dari Perkampungan Bumi, itu tidak menjadi soal. Biar aku bicara terus terang padamu, namamu sudah tercatat dalam daftar kami."

"Hahahaha..."

"Kau mau bicara tidak?"

Setelah tertawa kegilaan, berserulah Suma Bing, "Tidak!"

"Ringkus dia!" tiba-tiba Ketua Jeng Siong Hwe membentak memberi perintah.

Dua orang serba putih mengiakan, terus melesat ke arah Suma Bing.

"Cari mati!" Suma Bing menggertak keras. Namun, baru saja badannya bergerak, tiba-tiba terasa kakinya kencang; beberapa borgol tahu-tahu sudah membelenggu seluruh kakinya dalam sekejap mata. Alat rahasia semacam ini sungguh praktis dan lihai sekali, membuat orang susah berjaga-jaga sebelumnya. Bagai harimau masuk perangkap, Suma Bing menggembor keras sambil meronta sekuat-kuatnya, namun sedikit pun kakinya tidak dapat digerakkan lagi. Dapat dimengerti bahwa alat rahasia semacam ini memang khusus dibuat secara istimewa.

Dalam pada itu, kedua orang serba putih itu sudah mendesak tiba di hadapan Suma Bing dan terus mengulurkan tangan menotok. Meskipun kedua kakinya terbelenggu tanpa dapat bergeming, namun kedua tangannya masih bebas bergerak. Menyongsong kedatangan kedua musuh ini, langsung ia lancarkan pukulan *Kiu Yang Sin Kang*. Dalam kemampuannya saat itu, apalagi tengah dirangsang gusar, betapa dahsyat kekuatan pukulannya ini sulit diukur. Terdengar jeritan panjang yang menyayat hati, kedua orang serba putih itu kontan terbang jauh melayang dan jatuh ke bawah panggung.

Ketua Jeng Siong Hwe menggeram gusar, tangannya menggebrak kursi. Tempat di mana Suma Bing berdiri mendadak merekah. Kontan tubuhnya terus merosot turun sampai sebatas pinggang baru berhenti, dan secepat itu pula batu yang merekah tadi merapat lagi sehingga separuh tubuhnya terjepit. Dengan keadaan seperti ini, hilanglah kemampuannya untuk melawan.

Mata Suma Bing mendelik hampir melotot keluar, desisnya sambil mengertak gigi, "Jikalau aku, Suma Bing, tidak sampai mati, anjing dan ayam di seluruh Jeng Siong Hwe sini tidak akan ketinggalan hidup."

Ketua Jeng Siong Hwe juga tidak mau kalah wibawa, ejeknya sinis, "Tapi sayang, kau sudah pasti mati."

"Perbuatan rendah seperti kalian ini termasuk..."

"Menghadapi binatang semacam kau ini, apa perlu mempersoalkan kejujuran dan kebajikan?"

Darah hampir menyemprot dari mulut Suma Bing. Sekuat tenaga ia telan kembali, semprotnya, "Keganasan Jeng Siong Hwe kalian, bukankah lebih kejam dan buas dari binatang alas..."

"Tutup mulut! *Cundrik* tajam kami selamanya belum pernah membunuh manusia tanpa dosa!"

"Bohong!"

"Suma Bing, katakan di mana jejak Loh Cu Gi, nanti kami beri pengampunan kepadamu."

"Tidak sudi!"

"Kau akan sudi!" lantas terdengar suara mencicit dari sambaran angin totokan jari tangan yang melesat ke arah Suma Bing.

Tergetar seluruh tubuh Suma Bing, terasa hawa murni dalam tubuhnya mulai lumer dan meluber, darah mengalir terbalik. Seketika terasa kesakitan luar biasa dalam tubuhnya seakan-akan dirambati ribuan semut, seolah-olah pula dibeset hidup-hidup. Siksaan ini benar-benar sangat berat dan menderita. Memang inilah cara interogasi yang paling kejam dan berat di dunia ini. Meskipun tubuh terbuat dari tulang besi dan otot kawat, juga akhirnya tidak kuat bertahan. Saking kesakitan, gigi Suma Bing hampir copot dari gusinya sehingga berdarah, keringat dingin bercucuran, sekuat tenaga ia bertahan, mengeluh pun tidak.

"Suma Bing, mau katakan tidak?"

"Ti... dak."

"Akan kulihat sampai kapan kau kuat bertahan?"

"Kubunuh..." akhirnya ia jatuh pingsan.

Waktu jalan darah *Thian In Hiat* bergetar, ia siuman kembali. Rasa nyeri yang menyusup sampai ke tulang sumsum datang bergelombang menyiksa dirinya.

"Suma Bing, katakan, nanti kuberi keringanan!"

"Tidak... bisa!" ia jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

Tidak lama kemudian dia siuman lagi. Lama-kelamaan tubuhnya semakin terasa linu dan semakin membeku, otot di atas dahi sudah menonjol keluar sebesar kacang hijau. Sikap Ketua Jeng Siong Hwe tetap sinis dan dingin, "Suma Bing, katakan?"

"Tidak..."

"Kalau kau tidak mau katakan, baiklah, aku tidak memaksa lagi. Asal Loh Cu Gi masih hidup, akan datang suatu hari dapat kutemukan. Sekarang kau adalah sesajen pertama di Panggung Berdarah ini setelah penggantian majikan di sini!"

Ucapannya ini terdengar sedemikian menggiriskan, membuat orang merinding. Ternyata Suma Bing akan dijadikan korban persembahan atau sesajen di atas Panggung Berdarah itu.

"Siapkan sembahyangan!"

Begitu perintah Ketua Jeng Siong Hwe ini dikeluarkan, suasana menjadi semakin tegang dan menyesakkan napas. Sepuluh orang berpakaian serba putih bersama-sama bekerja mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Arwah Suma Bing serasa copot dari raganya; nampaknya memang sudah nasibnya hari ini tiba ajalnya di tangan Ketua Jeng Siong Hwe.

Kedua orang berseragam putih itu menyeret tubuh Suma Bing, lalu dibaringkan di atas meja batu panjang yang terletak di tengah panggung itu. Kaki dan tangannya dipentang ke empat penjuru dan diborgol dengan kuat. Begitu sebuah tombol ditekan, mendadak meja panjang itu bergerak dan menegak menghadap ke tengah, di mana Ketua Jeng Siong Hwe tengah duduk dengan angker.

Dengan membekali *cundrik* yang berkilauan dan diangkat tinggi di atas kepalanya, Rasul Penembus Dada berdiri tegak di hadapan Suma Bing; sikapnya mengancam. Para seragam putih lainnya terpencar dan berdiri tegak di empat penjuru.

Setelah terkena totokan angin jari yang aneh dari Ketua Jeng Siong Hwe itu, Suma Bing merasakan hawa murninya semakin terkuras keluar, maka ilmu saktinya sukar dikerahkan untuk melindungi badan. Sedikit pun tak kuasa lagi melawan atau berontak, terpaksa pasrah saja menerima entah nasib apa yang bakal menimpa dirinya. Saking putus asa, matanya dipejamkan. Saat di mana hanya malaikat maut saja yang selalu terbayang dan melingkupi sanubarinya, hatinya terasa kosong melompong. Dengan tenang tanpa bergerak, dinantikannya *cundrik* musuh yang berkilauan itu menembusi ulu hatinya. Sampai mati dia juga tidak akan mengerti mengapa namanya bisa termasuk dalam daftar buku hitam musuh. Satu hal yang dimengerti, alasannya hanyalah karena dirinya seperguruan dengan Loh Cu Gi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment