Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 128

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 128

Loh Cu Gi merupakan sasaran terpenting bagi Jeng Siong Hwe, sehingga ia tersangkut dan terseret ke dalam pengalaman yang getir ini.

Terdengar suara ketua Jeng Siong Hwe dingin menusuk telinga, "Jalankan hukuman!" *Bret!* Seketika Suma Bing merasa dadanya dingin; ternyata baju di bagian dadanya sudah tersobek seluruhnya.

"Tahan dulu!" Tiba-tiba ketua Jeng Siong Hwe berseru terkejut, suaranya panik, bergetar penuh keheranan.

Mata Suma Bing berkilat menatap ke arah ketua Jeng Siong Hwe.

Ketua Jeng Siong Hwe bertanya dengan gemetar, "Suma Bing, siapakah ayah ibumu?" Suma Bing menyangka bahwa dirinya sudah pasti akan mati, sungguh tak terduga ketua Jeng Siong Hwe mengubah haluan dan menghentikan pelaksanaan hukuman, lalu menanyakan asal-usul dirinya kembali.

Kejadian ini sungguh sangat janggal dan mencurigakan.

Meski berada di ambang jurang kematian, watak dasarnya memang angkuh dan keras kepala, maka ia menyahut dingin, "Apa maksudmu ini?"

"Kutanya riwayat hidupmu."

"Riwayat hidup? Agaknya tidak perlu kuberitahu kepadamu."

"Suma Bing, jalur bekas luka di ulu hatimu itu...?" Sejenak Suma Bing melongo, lantas jantungnya berdegup kencang.

Dari mana dia tahu tentang bekas luka tusukan di ulu hatinya ini? Apa mungkin...

Tubuhnya gemetar!

Terbayang tragedi yang pernah diceritakan oleh si maling bintang, Si Ban Cwan, dulu.

Tubuh ketua Jeng Siong Hwe gemetar semakin keras, ia bertanya lagi, "Suma Bing, katakan, bekas luka di ulu hatimu itu...?"

"Kau... Siapakah kau?" tanya Suma Bing.

"Aku yang bertanya kepadamu!"

"Aku yang rendah, Suma Bing!"

"Aku sudah tahu. Apa benar kau bermarga Suma?"

"Kau sangka aku membual?"

"Siapa ayahmu?" Suma Bing mengertakkan gigi, menyahut, "Su Hay Yu Hiap, Suma Hong!"

Mendadak ketua Jeng Siong Hwe melonjak bangun. Sekali berkelebat, tubuhnya sudah melesat tiba di hadapan Suma Bing, tanyanya gemetar, "Siapa katamu?"

"Suma Hong!"

"Tidak salah?"

"Malu aku mengakui orang lain sebagai bapakku!"

Ketua Jeng Siong Hwe mundur dua langkah lebar, bergumam, "Tidak mungkin! Betulkah dia? Dia... sudah terang tak dapat tertolong lagi... Oh, tidak mungkin..."

Tanpa terasa jantung Suma Bing berdebar keras. Dari perkataan orang itu, agaknya ia telah menemukan sesuatu. Apa mungkin orang di hadapannya ini adalah... Sungguh ia tidak berani membayangkan bahwa apa yang tengah dihadapinya ini adalah kenyataan.

Maka dengan nada menyelidik ia bertanya, "Apa Tuan Ketua kenal dengan ayahku, Suma Hong?"

"Bukan saja kenal. Aku adalah..."

"Adalah apa?"

"Apa kau benar-benar putra Suma Hong?"

"Sedikit pun tidak salah."

"Tapi Suma Hong sudah meninggal dunia lima belas tahun yang lalu..."

"Benar, ayahku mati karena dikeroyok sekian banyak sampah persilatan!"

"Kau benar adalah..."

"Waktu itu, cayhe terluka berat dan hampir mati. Karena tidak tega melihat putranya hidup menderita, maka ibunda menusuk ulu hatiku dengan sebuah cundrik. Malah tubuhku akhirnya ditendang masuk jurang oleh musuh besar yang laknat itu. Memang Tuhan Maha Kuasa, beruntung aku tertolong..."

Tubuh ketua Jeng Siong Hwe hampir roboh, tanyanya tersendat gemetar, "Dari mana kau ketahui riwayatmu ini?"

"Tatkala peristiwa tragis itu terjadi, kebetulan ada seorang yang mengintip!"

"O, jadi kau sudah jelas dan mengetahui semua peristiwa itu?"

"Ya, menurut cerita orang itu!"

Tiba-tiba ketua Jeng Siong Hwe melambaikan tangannya memerintahkan semua anak buahnya menyingkir. Sambil membungkuk hormat, semua orang berseragam putih itu serentak turun dari panggung berdarah lalu menghilang di balik tikungan.

Suma Bing tak berani memikirkan kenyataan yang tengah dihadapinya. Semua kejadian yang datang secara mendadak dan aneh ini sungguh terasa seumpama dalam mimpi saja. Sampai saat ia dapat menerka siapa orang di hadapannya ini, ia hanya bisa menunggu waktu dan pernyataan.

Perlahan, ketua Jeng Siong Hwe menanggalkan cadar yang menutupi mukanya. Terlihat sebuah wajah yang halus, putih, dan cantik rupawan, dibasahi air mata. Katanya sesenggukan, "Nak, kau tahu siapa aku ini?"

"Ibu!" keluh Suma Bing dengan sedih. Air mata membanjir keluar dengan derasnya. Sungguh, dalam mimpi pun ia tidak menyangka bahwa ketua Jeng Siong Hwe ini ternyata adalah ibundanya, yaitu San Hoa Li Ong Fang Lan yang dirindukan siang dan malam.

Sejak dapat berpikir, dalam ingatannya tiada terbayang bentuk wajah ibundanya. Namun, dari bentuk wajah dan raga Ong Fong Jui, dapat diperkirakan keadaan ibunya. Dan ternyata perkiraannya tidak berbeda jauh dengan keadaan ibundanya yang sebenarnya.

Sambil berkeluh panjang, San Hoa Li Ong Fang Lan menubruk maju, terus mencopoti borgol yang mengekang Suma Bing, lalu memeluknya kencang sambil menangis tersedu-sedu.

"Nak, apakah ini bukan mimpi?"

"Bu, bukan mimpi, inilah kenyataan! Sudah lama sekali aku mencari kau, orang tua!"

"Nak, beritahukan pengalamanmu sekian tahun ini?"

Sambil mencucurkan air mata, Suma Bing menceritakan keadaan dalam jurang di bawah Puncak Kepala Harimau itu, secara kebetulan dirinya tertolong oleh gurunya, Sia Sin Kho Jiang, sampai pertemuan mereka sebagai ibu dan anak ini. Bercerita pada saat-saat yang menyedihkan, ibu dan anak itu tanpa terasa saling berpelukan sambil menangis tertahan.

Setelah ceritanya habis, baru Suma Bing menyinggung tentang permusuhannya dengan Bwe Hwa Hwe. Begitu mendengar anaknya menyinggung Loh Cu Gi sebagai musuh bebuyutan, berubah air muka ketua Jeng Siong Hwe. Ia geram sambil mengertakkan gigi, "Jadi, Loh Cu Gilah yang menjadi sesepuh dan tulang punggung dari Bwe Hwa Hwe?"

Suma Bing mengiakan.

"Aku bersumpah harus mencacah dan menghancurleburkan tubuhnya."

"Bu, urusan ini biarlah berikan kepadaku saja. Bukan saja Loh Cu Gi itu adalah musuh besar keluarga kita, dia juga seorang murid murtad yang mendurhakai guru. Menurut pesan suhu, aku harus mencuci bersih nama baik perguruan dan menuntut balas. Maka biarlah kedua urusan ini kulaksanakan bersama."

"Nak, memang Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkahi umat-Nya yang saleh. Sungguh tidak menyangka secara aneh kau dapat tetap hidup. Malah ketiban rezeki besar dan dapat mempelajari ilmu digdaya yang tiada taranya lagi. Memang benar, utang darah ini seharusnya kaulah yang menagih. Di alam baka tentu ayahmu dapat istirahat dengan tentram! Hanya aku ini..."

"Kau kenapa, Bu?"

Ketua Jeng Siong Hwe tertawa getir, sahutnya, "Nak, tiada muka aku bertemu lagi dengan orang di kolong langit ini, terlebih lagi malu rasanya berjumpa dengan ayahmu di alam baka..." Berkata sampai di situ, suara tawanya berganti menjadi sesenggukan.

Sudah tentu Suma Bing maklum akan maksud perkataan ibunya. Siapa dapat menduga Loh Cu Gi, si binatang buas berkedok manusia itu, dapat memerankan tragedi yang menyayat hati dalam dunia fana ini. Maka katanya dengan suara parau, "Bu, sebabnya sampai kau mengeluarkan pengorbanan sedemikian besar adalah untuk anak. Aku percaya pasti ayah tahu dan memaklumi keadaanmu yang terdesak itu..."

"Nak, dulu itu memang salah ibumu!"

"Tidak, Bu, kau tidak salah. Kau terdesak oleh keadaan. Kalau kau berkata demikian, maka tiada tempat lagi bagi anakmu ini berpijak."

"Sudah, Nak, tak perlu kita perbincangkan persoalan itu lagi. Ibumu masih tetap hidup sampai sekarang setelah ternoda, hanyalah karena aku hendak menuntut balas..."

"Bagaimana Ibu sampai bisa menjadi ketua Jeng Siong Hwe ini?"

"Apakah kau pernah dengar julukan Ceng Gi Ci Sin?"

Suma Bing tertegun, katanya, "Malaikat Keadilan? Tokoh kenamaan yang ditakuti dan dipandang sebagai malaikat dunia persilatan oleh aliran hitam dan putih enam puluh tahun yang lalu itu?"

"Benar, dia orang tua itulah yang menjadi ketua Panggung Berdarah ini!"

"Ketua Panggung Berdarah?"

"Tujuan dia membangun Panggung Berdarah ini adalah untuk menghukum para durjana dan penjahat besar di kalangan kangouw yang memang setimpal menerima hukumannya. Dengan darah para hukuman itulah panggung ini dibangun. Supaya dunia bisa aman tentram tanpa kejahatan..."

"Lima belas tahun yang lalu, secara kebetulan ibumu menemukan buku catatannya yang tertinggal, di mana tertera pelajaran ilmu silat. Maka kuangkat diriku sebagai murid ahli warisnya..."

"Lalu asal mula nama Jeng Siong Hwe ini..."

Wajah San Hoa Li Ong Fang Lan mendadak berubah penuh kebencian, katanya sambil mengertakkan gigi, "Nak, nama Jeng Siong Hwe hanyalah suatu simbol kenyataan saja!"

"Simbol kenyataan?"

"Ya, tujuannya hanyalah untuk menuntut balas!"

"Kenapa harus menggunakan nama itu untuk menuntut balas?"

"Nak, pedang pendek yang menusuk ulu hatimu dulu adalah cundrik yang selalu menembusi dada musuh-musuh besar itu. Untuk memperingati kematianmu karena kebencian yang berlimpah, aku bersumpah menggunakan cundrik ini untuk menembusi dada setiap musuh besar kita itu!"

Air mata meleleh deras. Baru sekarang Suma Bing paham, rupanya daftar catatan itu adalah daftar nama-nama para musuh besar keluarganya. Jadi, para tokoh silat yang sudah mati tertembus ulu hatinya oleh cundrik "Rasul Penembus Dada" itu ternyata adalah musuh-musuh besar yang sudah terdaftar dalam buku itu.

"Nak, mari kita bicara di dalam saja!"

Suma Bing mengusap air matanya sambil mengangguk. Saat itu, sifat gagah dan kegarangannya sudah lenyap terbawa angin. Di hadapan ibunya, seperti anak kecil saja ia menurut dituntun berjalan. Setelah turun dari panggung berdarah, tibalah mereka di sebuah lorong yang berbelok-belok, dan tak lama kemudian sampai di sebuah rumah kuno yang dibangun dengan batu.

Empat orang perempuan berseragam putih segera muncul dari balik pintu lalu berdiri jajar dengan hormat. Menunjuk ke arah Suma Bing, San Hoa Li Ong Fang Lan berkata, "Inilah Tuan Muda!"

Serentak keempat perempuan berseragam hitam itu membungkuk hormat sambil memanggil, "Tuan Muda!"

Suma Bing mengangguk, entah sengaja atau tidak, sorot matanya menyapu satu di antaranya. Gadis itu bukan lain adalah Rasul Penembus Dada yang pernah dibuka kedoknya oleh Suma Bing.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment