Chapter 129
San Hoa Li Ong Fang Lan tertawa tawar, katanya, "Nak, kukira kalian sudah berkenalan. Dia adalah pemimpin dari dua belas rasul itu, bernama Ih Yan Chiu!" Ih Yan Chiu, pimpinan Rasul Penembus Dada, menundukkan kepala dengan malu-malu.
Siapa yang akan menduga, seorang gadis ayu rupawan yang lemah lembut ini jebul adalah Rasul Penembus Dada yang ditakuti dan disegani oleh kaum persilatan.
"Kalian boleh mundur," kata San Hoa Li kepada keempat rasul. "Pindahkan meja perjamuan ke ruangan dalam. Yan Chiu, antarkan tuan muda pergi mandi dan salin pakaian." Ih Yan Chiu mengiakan, lalu mempersilakan Suma Bing ikut ke belakang.
Sebetulnya Suma Bing segan dan tak mau dilayani oleh Ih Yan Chiu, tetapi rasanya tak enak menolak kebaikan ibunya, maka terpaksa dia ikut pergi.
Puluhan batang lilin besar dipasang di dalam ruang tengah yang besar dan angker dengan perabotnya yang serba antik itu. Di tengah ruangan tersebut sudah tersedia meja perjamuan dengan segala masakan yang lezat. Tampak San Hoa Li sedang duduk berhadapan dengan Suma Bing, mereka sedang makan dan minum, sementara di samping berdiri Ih Yan Chiu yang melayani.
Mungkin karena terlalu berduka atau karena terlalu gembira, ibu dan anak ini kehilangan selera untuk menelan makanan yang mewah itu.
"Nak, ini seperti dalam alam mimpi saja..."
"Benar, Bu, sebuah impian yang menjadi kenyataan!"
"Nak, hari ini ibumu merasa sangat puas. Bukan saja kau sudah dewasa, malah sudah berumah tangga lagi. Bahkan sudah melaksanakan impian ayahmu dulu, yaitu mempelajari ilmu yang tertera di dalam Pedang Darah dan Bunga Iblis..."
"Bu, sejak kini lebih baik nama Jeng Siong Hwe ini kita hapus saja!"
"Kenapa?"
"Sejak saat ini, menuntut balas sudah merupakan tugas yang harus dibebankan kepadaku!"
"Baik, Nak!" sahut San Hoa Li, lalu berpaling ke arah Ih Yan Chiu dan berkata, "Ambilkan cundrik itu kemari!"
Ih Yan Chiu mengiakan sambil membungkuk hormat, lalu mengundurkan diri. Tak lama kemudian, ia membawa sebuah pedang pendek kecil yang berkilauan. Dengan kedua tangannya, ia meletakkan senjata itu di atas meja, disusul sebuah buku kecil yang tipis.
San Hoa Li Ong Fang Lan mengambil cundrik itu, matanya berlinang air mata. "Nak, cundrik ini kuserahkan kepadamu. Ingat, selain para musuh besar, kularang kau membunuh orang tanpa berdosa!"
Tersipu-sipu, Suma Bing bangkit lalu berlutut. Dengan kedua tangannya, dia menerima cundrik itu serta berkata dengan gemetar, "Anak akan selalu ingat peringatan Ibu!"
"Kau bangunlah!"
"Terima kasih, Ibu!"
"Buku kecil ini adalah daftar catatan. Nama-nama yang tertera di dalam buku ini adalah para durjana yang ikut mengeroyok ayahmu dulu. Di antaranya yang sudah dicoret dengan pensil merah sudah menjadi mayat!"
"Anak pasti akan melanjutkan tugas penuntutan balas ini!"
"Nanti sebentar, biar kuturunkan ilmu ciptaanku cara-cara menggunakan cundrik ini!" Suma Bing mengangguk-angguk dengan girang.
"Ibumu mendoakan supaya kau sukses dalam tugasmu!"
"Bu, dikala tugas penuntutan balas ini sudah selesai semua, pasti anak akan selalu mendampingi kau, orang tua..."
Sampai setengah ucapannya, kata-katanya segera ditelan kembali. Selarik arus dingin menjalar ke seluruh tubuhnya sehingga hatinya membeku. Teringat olehnya janji kepada Racun Diracun. Namun, agaknya ibunya tidak memperhatikan mimik wajahnya yang berubah.
Dia tertawa getir, "Nak, segala ucapan semacam itu terlalu pagi untuk dikatakan. Kau adalah majikan dari Perkampungan Bumi, sedangkan ibumu adalah ahli waris dari aliran Panggung Berdarah ini, dan juga, ai..." agaknya masih banyak kata-kata yang hendak diucapkan, namun tidak kuasa dicurahkan keluar.
Lahirnya Suma Bing bersikap tenang dan wajar, tapi hakikatnya jantungnya tengah berdebar dan hatinya mengeluh. Sungguh dia tidak berani membayangkan masa depan. Sepasang ibu dan anak yang masih bertahan hidup setelah mengalami berbagai kesengsaraan duniawi masing-masing menyimpan isi hati yang tak boleh diketahui orang luar. Suasana gembira akan pertemuan yang meriangkan hati ini tenggelam dalam titik kesedihan yang membekukan hati. Namun, masing-masing berusaha menahan ketenangan di luar.
Tiga hari kemudian, dengan berlinang air mata, Suma Bing berpisah dengan ibunya dan mulai lagi berkelana di kalangan Kangouw. Nama-nama musuh besar yang tercatat dalam buku daftar itu sudah ia hafal di luar kepala. Loh Cu Gi adalah nama yang tercatat nomor satu.
Rintangan terbesar yang menghalangi usahanya adalah barisan pohon bunga Bwe yang mengelilingi markas besar Bwe Hwa Hwe itu. Jika tidak dapat memecahkan atau memahami inti letak rahasia barisan itu, sulit baginya untuk mencari musuh besarnya.
Tiba-tiba, di kejauhan terlihat sebuah bangunan benteng yang mengelilingi sebuah perkampungan. Di atas benteng itu terpancang tiga huruf besar berwarna emas yang berbunyi: 'Bu Khek Po'.
"Bu Khek Po!" gumam Suma Bing. Seketika darah panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Bu Khek Po adalah tempat berdirinya aliran Bu Khek Bun. Bu Khek Siang Lo, dua tokoh kenamaan dari aliran ini, sangat tenar dan disegani di kalangan Kangouw. Bukankah Bu Khek Siang Lo tercatat sebagai nomor enam dan tujuh dalam buku daftar ibunya?
Serta-merta Suma Bing mengelus cundrik yang digembol di pinggangnya, ujung bibirnya mengulum senyum dingin, dan dengan langkah lebar dia mendatangi pintu gerbang benteng perkampungan itu.
Pintu besar yang terbuat dari besi baja ini tertutup rapat. Setelah tiba di ambang pintu, berserulah Suma Bing lantang, "Adakah orang di dalam?"
Beruntun dua kali dia berseru tanpa sahutan. Suma Bing merasa heran; mengapa tempat sebesar dan setenar Bu Khek Po tidak terlihat seorang penjaga pintu pun? Setelah menanti sekian lama tanpa adanya reaksi, akhirnya dia maju dan mengetuk pintu dengan keras. Tak disangka, pintu besar itu terbuka sendiri karena tidak dikunci.
Waktu Suma Bing beranjak masuk dan pandangannya menyapu area di dalam, hatinya tercekat. Di balik pintu, tampak dua orang berseragam hitam rebah dalam genangan darah yang sudah hampir membeku. Agaknya kematian mereka terjadi belum lama berselang.
"Siapa itu?" terdengar bentakan saling susul. Tiba-tiba empat orang laki-laki yang membawa pedang sudah berjajar menghadang di jalan masuk. Keempat orang ini mengenakan seragam yang di depan dadanya tersulam bunga Bwe warna putih—pertanda mereka anggota Bwe Hwa Hwe.
Salah satu yang berdiri di tengah mengayun-ayun pedang dan membentak kasar, "Bocah keparat, siapa kau? Sebutkan namamu!"
Tanpa menyahut, Suma Bing maju dua tindak, rona wajahnya diselubungi hawa membunuh yang tebal. Tiba-tiba, salah satu dari keempat orang itu berseru gemetar, "Kau... kau ini Suma Bing?"
Mendengar nama Suma Bing, pucat ketakutanlah ketiga kawannya. Sebagai tokoh dari Perkampungan Bumi yang dalam dua gebrakan mengalahkan Hui Kong Taysu—padri teragung dari Siau Lim Si—berita ini sudah tersebar luas di kalangan Kangouw.
Setelah saling berpandangan, mendadak keempat orang itu berbalik dan lari terbirit-birit.
"Jangan bergerak!" suara bentakan ini seolah mempunyai wibawa besar sehingga kaki mereka terpaku di tempat. Suma Bing sudah mengayunkan tangan hendak memukul mampus keempat laki-laki itu, namun tiba-tiba hatinya tergerak. Dia tidak ingin membuat gaduh dan ingin melihat keadaan di dalam perkampungan terlebih dahulu. Karena pikiran itu, tangannya ditarik kembali dan dia melesat enteng bagai burung walet melewati kepala keempat laki-laki tersebut.