Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 130

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 130

Dikala bayangan Suma Bing menghilang di balik barisan puluhan tombak di depan sana, baru terdengar suara "blak, bluk". Keempat laki-laki itu roboh terkapar dan melayang jiwanya tanpa mengeluarkan suara.

Lingkungan benteng perkampungan Bu Khek Po ini ternyata sekian luasnya.

Setelah melewati ratusan tombak, barulah terlihat bangunan rumah. Sepanjang perjalanan, mayat bergelimpangan di mana-mana; di antaranya ada anak murid dari perbentengan dan ada juga anak buah Bwe Hwa Hwe.

Menyusuri jalanan batu hijau yang diapit pohon siong dan pek, terbentanglah sebuah lapangan luas di sebelah depan sana. Di pinggir lapangan sudah tertumpuk tujuh mayat, dan terlihat pula dua kelompok manusia tengah berhadapan.

Kelompok pertama dari pihak Bu Khek Bun, jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang. Sedang kelompok kedua dari Bwe Hwa Hwe, jumlahnya lebih kecil, tidak lebih dari dua puluh orang. Saat itu, seorang tua berjubah merah bersulam sekuntum bunga Bwe tengah berdebat seru menghadapi seorang lelaki paruh baya yang berpakaian perlente.

Dari cara berpakaiannya, dapatlah diketahui bahwa orang tua berjubah merah itu adalah salah satu pelindung Bwe Hwa Hwe. Sedang laki-laki perlente itu pastilah pejabat Ciangbunjin yang sekarang dari Bu Khek Bun, yaitu Bu Khek Chiu Tio Ling Wa.

Terdengar orang tua berjubah merah tertawa tergelak-gelak, serta serunya, "Ciangbunjin, ucapanku sudah habis. Sebenarnya bagaimana pendapatmu?" Wajah Bu Khek Chiu Tio Ling Wa menunjukkan rasa gusar. Semprotnya, "Sebagai pejabat Ciangbunjin, kepalaku boleh putus, darahku boleh mengalir, aku tak sudi menjadi pengkhianat dari perguruanku!"

"Hm, Ciangbunjin, berpikirlah secara jantan!"

"Persoalan sudah terang dan tak perlu diperdebatkan lagi!"

"Jadi kau rela melihat Bu Khek Po terjadi banjir darah?"

"Selamanya aku tidak takut diancam!"

"Aku menerima tugas. Kalau tujuan belum terlaksana, akan..."

"Akan apa?"

"Bu Khek Po harus dicuci bersih dengan darah kalian." Ancaman serius ini membuat semua anak murid Bu Khek Bun berubah air mukanya; bahkan yang berdarah panas sudah menggeram gusar dan hendak melabrak musuh tak diundang pembuat bencana ini.

Bu Khek Ciangbunjin, Tio Ling Wa, sendiri sampai mundur selangkah. Geramnya sambil mengertakkan gigi, "Perbuatan kalian dari Bwe Hwa Hwe ini akan menambah kebencian masyarakat. Seumpama Tuhan juga tidak akan memberi ampun terhadap kezaliman kalian ini. Hari-hari runtuhnya Bwe Hwa Hwe sudah di ambang pintu. Perguruan kita rela hancur lebur sebagai batu giok yang suci murni daripada pecah berantakan sebagai genteng yang tak berharga."

Orang tua berjubah merah mendengus ejek, ejeknya, "Ciangbunjin, nasib Bwe Hwa Hwe kelak, kau tak perlu banyak urus. Sebaliknya, saat-saat runtuhnya perguruan kalian sudah tiba di depan mata!"

Pada saat itulah, sekonyong-konyong seorang laki-laki berseragam hitam bergegas memasuki gelanggang, terus memberi lapor dengan muka ketakutan, "Lapor kepada Hu Hoat, semua penjaga gelap yang kita tanam di empat penjuru mengalami bencana..."

"Apa?" tanya si orang tua berjubah merah dengan terkejut.

"Semua penjaga gelap yang kita sebar di sepanjang jalanan telah musnah sama sekali. Semua mati karena tertutuk jalan darah kematian mereka oleh tutukan jari dengan tenaga Lwekang yang hebat sekali. Siapakah orang yang turun tangan, belum diketahui jejaknya."

Semua hadirin tergetar dan terperanjat akan perubahan luar biasa yang terjadi mendadak ini. Bagi pihak Bu Khek Po, mereka heran dan terkejut. Bagi Bwe Hwa Hwe, selain terkejut juga merasa gentar dan mulai dirundung ketakutan. Siapa dan termasuk tokoh macam apakah orang yang turun tangan itu? Tidak kurang empat puluh orang anak buah Bwe Hwa Hwe yang disebar secara gelap di empat penjuru, kini tanpa bersuara, semua sudah tergeletak menjadi mayat. Ini benar-benar sangat mengejutkan dan susah dipercaya.

Mata si orang tua berjubah merah menyorotkan pandangan gusar dan buas. Katanya dengan nada berat, "Chi dan Tan, dua Tongcu, dengar perintah!"

Dua orang berseragam abu-abu melesat keluar, serunya berbareng, "Tecu di sini!"

"Silakan kalian berdua pergi memeriksa!"

"Terima perintah!" Sebat sekali mereka sudah berlari pergi meninggalkan gelanggang.

"Ciangbunjin, kuberi peringatan yang terakhir. Harap segera serahkan Hui Jui San (Kipas Pualam Hijau). Kalau tidak, segera kukeluarkan perintah untuk menghancurkan seluruh Bu Khek Po ini!"

"Tidak bisa!" teriak Bu Khek Chiu Tio Ling Wa dengan sengit.

Mendadak dua jeritan yang melolong tinggi menusuk pendengaran terdengar dengan jelas sekali. Kontan berubah air muka semua anak buah Bwe Hwa Hwe. Kenyataan ini sudah jelas bahwa Chi dan Tan, kedua Tongcu itu, pasti sudah menemui ajalnya mengikuti para penjaga gelap yang disebar di mana-mana itu.

Mata si orang tua berjubah merah melotot besar bagai dua kelereng yang hampir mencotot keluar. Otot di jidatnya juga menonjol. Sesaat dia mati kutu, tak tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya. Sementara itu, pihak Bu Khek Po, termasuk Bu Khek Chiu sendiri, menunjukkan rasa heran karena tidak mengerti entah siapakah yang telah membantu secara diam-diam ini.

Terdengar kesiur angin yang keras, dua bayangan orang bagai burung raksasa melayang jatuh ke tengah gelanggang. Kontan berjingkrak girang dan gegap gempitalah sorak-sorai pihak Bu Khek Po. Kedua bayangan itu kiranya adalah dua orang tua yang sudah beruban dan berjenggot panjang sebatas dada.

Seketika berseru giranglah Bu Khek Chiu Tio Ling Wa, sapanya sambil memberi hormat, "Para Susiok baik-baik saja selama ini!"

"Ciangbunjin juga baik!" sahut kedua orang tua itu berbarengan. Lalu mereka berputar menghadap kelompok pihak Bwe Hwa Hwe, empat sorot mata yang berkilat-kilat menatap tajam ke arah lawan tanpa berkedip.

Si orang tua berjubah merah acuh tak acuh membuka suara, "Kiranya Bu Khek Siang Lo."

Bu Khek Siang Lo mendengus gusar, semprotnya dengan nada yang menyedot semangat, "Kam Peng Cun, sungguh tak diduga kau sekarang telah menjadi pelindung dari Bwe Hwa Hwe. Pantas kau berani main lagak dan menyebar maut ke mana-mana, malah turun tangan keji terhadap anak murid kami. Hehehe, orang she Kam, kau hendak berbuat apa terhadap perguruan kami?"

Sahut Kam Peng Cun dengan kalem tanpa berubah air mukanya, "Terlebih dahulu perlu aku bertanya, para penjaga gelap sebanyak empat puluh orang dengan kedua Tongcu kami, apakah kalian berdua yang membunuh mereka?"

Siang Lo sama-sama melongo, sahut salah seorang, "Lohu berdua baru saja tiba!"

"Benar bukan kalian yang turun tangan?" Kam Peng Cun menegasi.

"Bukan. Sebaliknya, para murid dari Bu Khek Bun yang melayang jiwanya itu, hutang darah ini, kau orang she Kam..."

"Ingat, catatlah dalam perhitungan dengan Bwe Hwa Hwe!"

"Orang she Kam, kau sangka Bwe Hwa Hwe lantas bisa menutupi matahari dengan sebelah tangan?"

"Cayhe tidak perlu banyak debat!"

"Lalu apa maksudmu?"

"Aku menerima tugas untuk minta pinjam Kipas Pualam Hijau dari perguruan kalian."

"Hahahahahaha!" Bu Khek Siang Lo memperdengarkan gelak tawa yang serak memekakkan telinga.

Kam Peng Cun, Hu Hoat berjubah merah, menggereng gusar, makinya, "Ada apa kalian tertawa?"

Setelah menghentikan tawanya, berubah kereng wajah Siang Lo, bentaknya, "Kipas Pualam Hijau adalah benda pusaka pelindung perguruan kita. Kecuali perguruan kita sudah musnah dari muka bumi ini, kalau tidak..."

"Kalau tidak dipinjamkan kepada kita kipas pualam hijau itu," demikian Kam Peng Cun menukas dan menyambung, "bukan saja nama kalian harus tersapu dari dunia persilatan, malah Bu Khek Po ini juga harus menjadi tumpukan puing!"

Saking marah, Bu Khek Siang Lo berjingkrak-jingkrak, wajahnya berubah hijau, dan seluruh tubuh gemetaran. Bahkan seorang yang agak muda berdarah panas, tanpa kuasa menahan gelora hatinya lagi, terus merangsang maju sambil menyerang ke arah si jubah merah Kam Peng Cun. Betapa hebat dan keji serangan ini, benar-benar hebat luar biasa.

Kam Peng Cun menepuk kedua tangan, terus mendorong maju menyongsong serangan lawan. Begitu tangan kedua belah pihak saling bentur, terdengarlah suara "plak, plok" tiga kali. Kontan salah satu Siang Lo itu tergetar mundur dua tindak. Ini menunjukkan bahwa Lwekang Kam Peng Cun masih berada di atas Siang Lo.

Sebagai tokoh tertinggi dari perguruannya, ternyata Siang Lo bukan menjadi tandingan seorang Hu Hoat seperti Kam Peng Cun saja. Maka dapatlah dibayangkan akibat dari pertempuran besar-besaran yang akan datang ini. Semua anak murid Bu Khek Bun, termasuk Ciangbunjin sendiri, berubah pucat dan kecut hatinya.

Dalam pada itu, kalau lahirnya saja Kam Peng Cun bersikap tenang dan acuh tak acuh, namun hatinya risau dan jantungnya berdebar keras. Orang yang turun tangan secara gelap itu merupakan ancaman terbesar bagi kedudukannya. Berpuluh jagoan kelas tinggi semua mampus tanpa keruan, malah sampai orang yang memberi aba-aba juga tidak ada. Maka dapatlah diukur betapa tinggi ilmu silat orang yang turun tangan itu, sungguh ngeri dan menakutkan. Tak terpikirkan olehnya siapakah orangnya yang berani terang-terangan main provokasi terhadap Bwe Hwa Hwe, malah sudah turun tangan secara keji pula.

Setelah dipikir-pikir, segera ia berpaling dan perintahnya kepada seorang berseragam hitam, "Ban Hiangcu, lepaskan tanda bantuan!"

Orang yang diperintah mengiakan. Selarik sinar merah melesat tinggi ke tengah angkasa, terus meledak keras dan berhamburanlah bunga-bunga api yang berbentuk seperti bunga Bwe besar.

Bu Khek Chiu Tio Ling Wa juga segera mengangkat sebelah tangan, berpuluh anak muridnya segera berpencar ke dua samping, siap siaga sambil menghunus senjata. Sekilas Bu Khek Siang Lo berpaling ke arah Ciangbunjin mereka, lalu keduanya maju bersama menerjang ke arah musuh.

Pelindung berjubah merah Kam Peng Cun membentak keras memberi aba-aba untuk mulai melabrak musuh. Sedang dia sendiri mendahului memapak kedatangan Bu Khek Siang Lo. Puluhan anak buahnya juga tidak mau ketinggalan, terus merangsek maju dan menyerbu musuh mati-matian.

Di mana-mana terdengar suara bentakan diiringi suara jerit kesakitan yang riuh rendah. Terjadilah pertempuran serabutan yang besar. Jiwa manusia seumpama rumput dibabat habis-habisan, mayat mulai bergelimpangan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment