Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 131

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 131

Para jagoan Bwe Hwa Hwe yang diikutsertakan dalam penyerbuan adalah para Hiangcu ke atas. Mereka adalah tokoh-tokoh silat pilihan yang berkepandaian tinggi. Setiap turun tangan tanpa sungkan-sungkan lagi, maka dalam sekejap itu dapatlah dibedakan pihak mana yang lebih kuat dan asor.

Meskipun para murid Bu Khek Bun bertempur membekali rasa gusar yang meluap-luap serta bertempur dengan gigih, apa mau dikata kepandaian sendiri lebih rendah dari musuh. Bagaimanapun besar tekad dan semangatnya, toh satu per satu kena dirobohkan.

Terlebih lihai dan hebat adalah pertempuran antara Kam Peng Cun melawan Bu Khek Siang Lo. Sedang seorang tua berjubah merah sebagai pejabat pelindung lainnya melawan Tio Ling Wa. Hanya dalam beberapa gebrak saja, Bu Khek Chiu sudah terdesak hebat di bawah angin, setindak demi setindak terus mundur, setiap saat menghadapi bahaya.

Jerit menyayat hati terus saling susul terdengar menusuk telinga. Gemuruh pertempuran dan denting senjata beradu telah memenuhi seluruh perbentengan Bu Khek Po. Tidak sampai setengah jam, pihak Bu Khek Bun sudah jatuh korban hampir separuhnya. Sungguh menggiriskan pembunuhan besar-besaran ini.

Sekonyong-konyong terdengar jeritan tertahan, tampak Ciangbunjin Bu Khek Chiu Tio Ling Wa menyemprotkan darah segar, tubuhnya juga limbung hampir roboh. Salah seorang dari Bu Khek Siang Lo bergegas meninggalkan Kam Peng Cun, terus menubruk tiba merintangi di depan Bu Khek Chiu sembari menyambut serangan pelindung berjubah merah lainnya ini.

Tinggal Siang Lo yang seorang itu menghadapi Kam Peng Cun; hanya dalam tiga gebrak saja dirinya sudah terdesak pontang-panting tanpa mampu balas menyerang lagi. Sampai saat itu, kenyataan membuktikan bahwa Bu Khek Bun terang susah terhindar dari keruntuhan total.

Dalam saat-saat yang menentukan itulah, sekonyong-konyong terdengar sebuah hardikan keras yang lantang: "Semua berhenti!" Suara ini tidak begitu besar, tapi dapat menutupi semua keributan yang bergelombang rendah itu, sehingga semua orang yang tengah bertempur merasa tergetar hatinya, kuping juga serasa ditusuk jarum. Tanpa terasa kedua belah pihak menghentikan pertempuran ini.

Sebuah bayangan seenteng kapuk melayang tiba memasuki gelanggang. Pendatang ini adalah seorang pemuda yang cakap dan ganteng seumpama Arjuna hidup kembali. Tapi, di antara kerut alisnya itu terkandung hawa membunuh yang tebal. Wajah tua pelindung berjubah merah itu seketika pucat pasi, gumamnya gemetar: "Sia Sin kedua, Suma Bing!" Kedatangan Suma Bing ini seumpama malaikat maut bagi pihak Bwe Hwa Hwe, keruan ciut dan gentar nyali mereka. Sebaliknya, pihak Bu Khek Po merasa takjub, heran, dan terkejut sampai terlongong.

Meskipun diberi julukan sebagai Sia Sin kedua, tapi ketenaran dan kepandaian Suma Bing sekarang rasanya lebih tinggi dan lebih agung dari gurunya yang sudah wafat, yaitu Lam Sia Kho Jiang. Kehadiran Suma Bing di luar sangka ini benar-benar mengejutkan dan di luar dugaan kedua belah pihak. Tanpa diterangkan lagi sudah jelas, bahwa para penjaga gelap yang ditanam di mana-mana oleh Bwe Hwa Hwe itu pastilah telah dibabat habis oleh Suma Bing. Memang hanya Suma Bing saja yang mampu melakukan pekerjaan besar yang berat itu.

Serta-merta para anak buah Bwe Hwa Hwe menggeremet dan saling mepet. Wajah Suma Bing membeku bagai es, kedua matanya mencorong berkilat bagai bintang kejora di malam hari, menyinarkan cahaya dingin yang menyilaukan mata. Setelah menyapu pandang ke arah Bu Khek Siang Lo, terus berpaling menghadapi semua jagoan Bwe Hwa Hwe. Kam Peng Cun, si pelindung berjubah merah sebagai pemimpin dalam penyerbuan ini, tak dapat tidak harus menghadapi kenyataan yang serius ini. Terpaksa mengeraskan kepala dia tampil ke depan: "Apakah Tuan ini Sia Sin kedua?"

Suma Bing menggereng dingin sebagai jawaban.

"Apa maksud Tuan datang kemari?"

"Membunuh orang!" Dua patah kata yang gampang diucapkan ini keluar dari mulut Suma Bing. Betapa besar wibawanya seumpama lonceng kematian bagi anak buah Bwe Hwa Hwe, bayangan kematian melingkupi sanubari setiap hadirin.

Pelindung berjubah merah Kam Peng Cun menyedot hawa dingin dan mundur dua langkah. Sudah tahu, namun dia sengaja bertanya: "Jadi kedatangan Tuan khusus hendak membunuh?"

"Tidak salah!"

"Siapa yang hendak kau bunuh?"

"Semua orang yang mengenakan pertanda dari Bwe Hwa Hwe." Keruan terasa terbang arwah semua anak buah Bwe Hwa Hwe, semua gemetar ketakutan.

Pelindung berjubah merah Kam Peng Cun celingukan kian kemari, pandangannya menyapu keempat penjuru. Besar harapannya bala bantuan segera tiba, namun dia putus asa karena yang sangat diharapkan itu tidak kunjung datang juga. Akhirnya dipandangnya Suma Bing, nadanya mulai lembek: "Lohu beramai toh tiada permusuhan dengan Tuan, bukan?"

"Memang tidak! Sayang kalian mau menjadi anak buah Bwe Hwa Hwe!"

"Tapi Tuan tidak bisa turun tangan keji terhadap setiap orang?"

Sikap Suma Bing tetap angkuh dan dingin, ejeknya: "Justru aku harus bunuh kalian semua, seluruh penghuni Bwe Hwa Hwe termasuk ayam dan anjing tidak akan ketinggalan hidup!" Hawa pembunuhan semakin tebal, suasana ini laksana sesaat sebelum datangnya hari kiamat, membuat semua orang susah bernapas dan gemetar!

Jidat pelindung berjubah merah Kam Peng Cun berkeringat dingin, suaranya sember: "Suma Bing, lalu tindakan apa yang hendak kau perbuat?"

Suma Bing maju beberapa langkah, sikapnya tetap dingin: "Tak usah banyak mulut, kamu sekalian hendak bunuh diri atau..."

"Maju!" Dibarengi dengan bentakan aba-aba ini, Kam Peng Cun mendahului menerjang maju, sekali ayun kepalan langsung ia mengepruk ke batok kepala Suma Bing. Disusul para anak buahnya juga beramai-ramai menubruk maju merangsek dengan sengitnya, bayangan pukulan berlapis-lapis bagai bayangan gunung, angin berkesiur kencang seperti angin lesus seumpama taufan yang menyerang mendadak di gurun pasir. Sambil mengertak gigi dan menggerung keras, jurus Bi Cu Hong Bong dilancarkan.

Suara lolong dan pekik kesakitan memecah udara, di mana gelombang badai menerpa dan mengembang, tampak puluhan bayangan manusia melayang ke empat penjuru sejauh puluhan tombak. Sebagian yang lain juga terguling-guling porak-poranda sampai tiga tombak jauhnya. Hanya sekali gebrak saja, dua puluhan tokoh silat lihai itu sudah bergelimpangan di atas tanah tanpa bergerak; kalau tidak melayang jiwanya, juga pasti terluka berat. Kepandaian semacam ini betul-betul belum pernah terlihat dan sungguh menakjubkan.

Semua kerabat Bu Khek Po termasuk Bu Khek Siang Lo semua terlongo heran dan melelet lidah. Agaknya kepandaian pelindung berjubah merah Kam Peng Cun dan seorang kawannya berkepandaian lain dari yang lain, mereka terluka paling ringan dan masih dapat bergerak lincah, tanpa mengeluarkan suara lagi mereka berdua sama-sama melejit keluar gelanggang hendak lari.

"Lari ke mana kamu?" Suma Bing menghardik keras sambil berkelebat mengejar, bagai bayangan yang mengikuti bentuk, tubuhnya melesat pesat sekali. Jurus Bi Cu Hong Bong lagi-lagi dilancarkan dari tengah udara menungkrup ke arah kedua pelindung berjubah merah itu. Dua gulung bayangan merah terpental tinggi ke tengah udara sambil memperdengarkan jeritan yang menusuk hati. Sedemikian hebat pukulan Suma Bing ini sehingga tubuh mereka melayang jauh masuk ke dalam hutan di luar gelanggang sana. Di tengah udara Suma Bing jumpalitan dan menginjak tanah di tempatnya semula.

Dengan pandangan tajam, dipandangnya para anak buah Bwe Hwa Hwe yang terluka dan masih ketinggalan hidup. Mayat dan darah berceceran menyadarkan sanubarinya yang baik dan bijaksana, nafsu dan rasa kebenciannya berangsur-angsur lenyap, akhirnya tangannya diulapkan serta berseru: "Menggelinding pergi! Tapi jangan sekali-kali kembali ke Bwe Hwa Hwe, kalau tidak nasib yang sama akan menimpa kalian lagi pada suatu hari kelak!"

Para jagoan Bwe Hwa Hwe yang masih ketinggalan hidup bagai lolos dari pintu maut, tanpa diperintah lagi segera mereka angkat kaki dan serabutan lari terbirit-birit. Sekian lama Suma Bing memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan hasil karyanya itu, lalu perlahan-lahan membalik tubuh.

Sekonyong-konyong terdengar kesiur angin yang membawa suara lambaian baju, tiga bayangan orang seenteng burung kepinis melayang tiba memasuki gelanggang!

"Tuan kejam benar perbuatanmu, keterlaluan kau memandang rendah pihak Bwe Hwa Hwe kita?"

Suma Bing membalik tubuh lagi. Di hadapannya kini berdiri tiga orang pemuda berseragam putih yang bersulam kembang Bwe besar, mereka memandang gusar ke arah dirinya. Timbul pula hawa amarah Suma Bing yang sudah hampir padam tadi, alisnya dikerutkan dalam, ejeknya: "Kalian memburu tiba untuk mengantar kematian?"

Salah satu pemuda serba putih itu mencibir bibir dan melotot gusar, sanggahnya: "Kita datang untuk mengantar keberangkatanmu!"

"Mengandalkan kalian tiga kurcaci ini rasanya kurang berharga!"

Gesit sekali ketiga pemuda itu menggeser kedudukan menjadi formasi segitiga mengelilingi Suma Bing. Dilihat dari gerak tubuh mereka, agaknya lwekang mereka masih berada di atas para pelindung berjubah merah tadi, tidak heran mereka berani takabur membuka mulut besar. Setelah saling berpandangan sebentar tanpa membuka suara lagi, serentak mereka mengangkat tangan bersiap hendak menyerang.

Amarah Suma Bing semakin terangsang, wajahnya semakin membesi dirundung nafsu kekejian. Dia tahu dari gaya ketiga pemuda ini bahwa mereka tengah menghimpun kekuatan hendak melancarkan ilmu Kiu Yang Sinkang. Kiu Yang Sinkang merupakan pelajaran tunggal dari Lam Sia Kho Jiang. Tapi sekarang terunjuk pada ketiga pemuda ini, betapa tidak membuat hatinya terbakar dan mendidih darahnya. Desisnya sinis: "Rupanya kalian bertiga menjadi murid Loh Cu Gi?"

Berubah wajah ketiga pemuda itu. "Kalau benar, kau mau apa?" sanggah salah satu di antaranya.

Suma Bing merogoh ke dalam baju lalu pelan-pelan diacungkan ke atas, tampak sebilah cundrik yang berkilauan sudah digenggam di tangannya.

"Cundrik Penembus Dada!" terdengar ketiga pemuda dan para kerabat dari Bu Khek Bun berseru kejut. Sungguh tak terduga bahwa Sia Sin kedua, Suma Bing, ternyata menyandang cundrik penembus dada yang sangat ditakuti oleh kalangan hitam dan putih.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment