Chapter 132
Apakah mungkin Rasul Penembus Dada yang selama ini muncul dan malang melintang menyebar maut itu adalah duplikat Suma Bing? Ketiga pemuda itu serentak menggertak keras, masing-masing meluncurkan pukulan.
Ternyata, angin pukulan mereka mengandung sinar merah yang berkelebat bagai kilat. Ini menandakan bahwa latihan *Kiu Yang Sinkang* ketiga pemuda ini sudah mencapai taraf yang dapat dibanggakan. Serta-merta, karena pikiran siaganya bekerja, ilmu *Giok Ci Sinkang* sudah terkerahkan untuk melindungi seluruh tubuh Suma Bing. Maka, terdengarlah suara dentuman pukulan "blang-blung" tiga kali yang begitu keras sehingga menggetarkan seluruh gelanggang. Suma Bing hanya menggeliat, sebaliknya ketiga pemuda itu masing-masing mundur selangkah lebar.
Kontan pucat pasi ketiga pemuda itu, kegarangannya tadi seketika lenyap dan kuncuplah nyalinya. Mimik wajah mereka dari beringas marah berganti menjadi tegang ketakutan. Sebetulnya ketiga pemuda itu percaya benar akan kekuatan gabungan pukulan mereka, bahwa di kolong langit ini takkan ada tokoh lihai siapa pun yang kuat melawan keampuhan *Kiu Yang Sinkang*. Tapi, kenyataan bahwa *Lwekang* Suma Bing jauh di luar perkiraan mereka sendiri.
Mendadak bayangan Suma Bing berkelebat, tubuhnya menubruk ke arah salah satu pemuda itu, di mana terlihat sinar kilat menyambar. Kontan terdengar lolong panjang kesakitan yang menggetarkan sanubari seluruh hadirin. "Blang," raga pemuda berbaju putih itu terbanting keras terkapar di atas tanah; darah menyembur bagai air ledeng dari dadanya. Hampir dalam waktu yang bersamaan, dua jalur angin pukulan yang dahsyat menerjang tiba mengarah punggung Suma Bing. Keruan Suma Bing terpental ke depan menubruk angin, namun secepat itu pula tubuhnya sudah memutar balik. Hanya sekali berkelebat, tubuhnya sudah kembali ke tempat asalnya tadi, sorot matanya dingin menggiriskan menatap ke arah seorang pemuda berbaju putih yang lain.
Pucat pasi wajah kedua pemuda berbaju putih yang masih hidup ini, serta-merta mereka saling mepet dan mundur setindak demi setindak. Sungguh kecepatan gerak tubuh Suma Bing susah diikuti oleh pandangan mata. Secepat tubuhnya bergerak, secepat itu pula terdengar pekik kesakitan yang menyayat hati, pancuran darah membasahi bumi; salah seorang dari kedua pemuda itu pun ajal ditembusi dadanya. Tiga di antara pemuda berbaju putih itu kini tinggal seorang yang masih tersisa. Keruan serasa terbang arwahnya, insaf bahwa dirinya pun tidak mungkin menyelamatkan diri. Namun, betapapun daya kekuatan untuk hidup masih merangsang benaknya, sehingga ia harus meronta dari kekangan maut ini.
Setelah menghimpun seluruh kekuatannya, bukannya lari, ia malah menubruk ke arah Suma Bing dengan nekat. Terdengarlah suara "blang-blung" yang keras. Dalam sekejap mata, Suma Bing dihantam sebanyak lima kali, namun tubuhnya hanya mundur tiga tindak. Sebaliknya, si pemuda merasakan kedua tangannya hampir patah; sakitnya bukan buatan. Ia berdiri termangu bagai patung. Maka dengan mudah saja cundrik yang tajam berkilauan itu menusuk amblas ke dalam dadanya, bahkan terus menembus sampai ke punggungnya. Sebuah jeritan panjang memecah kesunyian, darah menyembur keluar, dan tubuhnya terkapar tanpa bergerak lagi.
Suma Bing menyimpan kembali cundriknya, terus melangkah menghampiri rombongan Bu Khek Bun. Sejauh satu tombak, baru ia berhenti melangkah. Bagai tersadar dari lamunannya, cepat-cepat *Bu Khek Chiu* Tio Leng Wa tampil ke depan sambil mengangkat tangan serta berkata, "Saudara ini, terimalah hormat serta pernyataan terima kasih kami!"
Tawar saja Suma Bing menjawab, "Ciangbunjin, jangan banyak peradatan."
"Terima kasih banyak atas bantuan Siauhiap yang sangat berharga ini!"
"Ah, tidak perlu sungkan-sungkan!"
"Kalau tiada Siauhiap membantu tepat pada waktunya, susahlah dibayangkan akibatnya."
"Sudah Cayhe katakan tidak perlu sungkan-sungkan. Kubunuh semua kurcaci Bwe Hwa Hwe itu bukan lantaran hendak menalangi ancaman bahaya perguruan kalian."
Semua murid Bu Khek Bun menunjukkan rasa heran dan kaget. Segera *Bu Khek Siang Lo* tampil ke depan sembari mengangkat tangan, ujarnya, "Lohu kakak beradik mewakili sekalian anak murid kita menyampaikan banyak terima kasih!"
Suma Bing mendengus ejek, sorot matanya yang mengandung kebencian menatap ke arah kedua orang tua ini. Keruan berubah air muka Siang Lo; tanpa sadar mereka mundur selangkah lebar saking gentar. *Bu Khek Chiu* Tio Leng Wa merasakan kejanggalan suasana yang menguatirkan ini, cepat-cepat ia maju ke tengah dan berkata sambil memberi hormat, "Siauhiap, silakan istirahat di dalam sambil menikmati sekadar minuman teh!"
"Terima kasih akan kebaikanmu ini!"
"Siauhiap..."
"Ketahuilah bahwa kedatanganku ini mempunyai satu tujuan!"
"Harap tanya..."
"Kedatanganku ke perguruan kalian ini untuk menagih perhitungan lama!"
"Perhitungan lama?"
"Tepat sekali!"
"Aku kurang paham apa yang Siauhiap maksudkan?"
Sorot pandangan Suma Bing melirik ke arah Bu Khek Siang Lo, katanya, "Kurasa Siang Lo kalian sudah paham apa yang kumaksudkan." Memang Bu Khek Siang Lo sudah menduga akan urusan apa. Wajah tuanya kontan berubah pucat kebiru-biruan terus berubah pucat memutih. Salah seorang tua itu tampil ke depan serta katanya penuh keharuan, "Kau ini..."
Sepatah demi sepatah Suma Bing berkata, "Keturunan Su Hay Yu Hiap, Suma Hong!"
"Oh!" Siang Lo berseru kejut berbareng dan mundur tiga langkah, tubuhnya bergemetar hebat.
"Kalian berdua sudah paham?" desak Suma Bing menyeringai.
"Siauhiap," seru Bu Khek Chiu Tio Leng Wa gugup. "Kalau ada urusan, baiklah dirundingkan perlahan-lahan!"
Suma Bing mengulapkan tangan, katanya, "Ciangbunjin, lebih baik kau tidak turut campur dalam urusan ini!"
Mulut Bu Khek Chiu Tio Leng Wa bagai disumbat, tanpa kuasa membuka mulut lagi. Sedang murid-muridnya semua melongo dan saling pandang; mereka tidak tahu peristiwa apakah yang pernah terjadi. Setelah menghela napas panjang, Siang Lo sama-sama mengangkat sebelah tangan untuk menghantam ke batok kepala sendiri. Sigap sekali Suma Bing menudingkan jarinya, kontan dua jalur angin telunjuknya mencicit melesat ke depan. Terdengar Siang Lo mengeluh tertahan; tangan masing-masing yang sudah terangkat tinggi itu kini tergantung lemas tanpa mampu bergerak lagi.
Tertua dari Siang Lo mendelik gusar, semprotnya, "Suma Bing, apa maksudmu ini?"
Tanpa banyak cakap lagi, Suma Bing melolos keluar cundrik penembus dada. "Suma Bing, bagimu membunuh orang segampang kau menganggukkan kepala. Memang dulu Lohu berdua pernah berbuat salah, tapi masa belum cukup kita menebus dengan kematian?"
Wajah Suma Bing membeku dingin, katanya, "Semua orang yang turut mengeroyok dan menganiaya ayahku dulu, tiada seorang pun yang boleh luput dari hukuman yang serupa."
"Kau terlalu kejam..."
"Kalian menyesal setelah terlambat."
Tersipu-sipu, *Bu Khek Chiu* Tio Leng Wa maju ke tengah, katanya gugup, "Siauhiap..."
Tanpa berpaling, Suma Bing mengulapkan sebelah tangan, kontan *Bu Khek Chiu* terhuyung mundur. Bu Khek Siang Lo menjerit dengan penuh kepedihan, "Sebab dan akibat saling berbalasan, Suma Bing, silakan kau turun tangan!"
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar sebuah bentakan nyaring dari kejauhan, "Suma Bing, berani benar kau!"
Suma Bing terperanjat, tanpa terasa tangannya diturunkan kembali. Matanya berkilat memandang ke arah datangnya suara. Begitu melihat dengan jelas, kontan tubuhnya merinding dan berdiri bulu kuduknya, matanya kesima, mulutnya melongo. Seorang gadis serba putih melayang datang seperti dewi dari khayangan.
Dia adalah Ting Hoan? Tapi sebuah pikiran lain segera menghapus perasaannya dalam kenyataan ini. Sebab Ting Hoan sudah meninggal setelah diperkosa oleh Racun, bahkan ia sendiri yang turun tangan mengubur jenazahnya. Orang yang sudah mati tentu takkan hidup lagi. Tapi, kenyataan yang datang ini memang benar Ting Hoan. Ia mengucek-ucek mata, dan melihat lagi lebih tegas, memang tidak salah, itu Ting Hoan. Betapa besar rasa kejut hatinya susah diuraikan dengan kata-kata, tubuhnya limbung tiga langkah. Apa mungkin Ting Hoan benar-benar hidup kembali? Kenyataan ini lantas menghancurkan segala pikiran.
Dalam pada itu, gadis serba putih itu sudah berdiri tegak di atas tanah. Matanya menyapu ke seluruh gelanggang, pertama-tama dipandangnya Bu Khek Siang Lo penuh perhatian. Lalu berpaling ke arah Bu Khek Chiu Tio Leng Wa serta memanggilnya, "Ayah!"
Bu Khek Chiu Tio Leng Wa berjingkrak kegirangan, serunya, "Anak Siok, kau... sungguh tepat kedatanganmu..."
Percakapan ini membuktikan bahwa gadis serba putih ini bukan Ting Hoan. Ini benar-benar sangat aneh dan ganjil; sungguh tak terduga di kolong langit ini ternyata ada dua orang yang mirip sedemikian rupa bagai pinang dibelah dua. Gadis serba putih ini merengut gusar, jengeknya dingin, "Suma Bing, apa yang hendak kau lakukan?"
"Siapa kau ini?"
"Nonamu ini Tio Keh Siok, putri tunggal Bu Khek Ciangbun, sudah jelas belum?"
"Kalau begitu, dengarlah biar jelas, kedatangan Cayhe ini untuk menuntut balas."
"Menuntut balas?" Suma Bing mengiakan.
"Siapa yang bermusuhan dengan kau?"
"Bu Khek Siang Lo!"
"Susiokco!" seru Tio Keh Siok lirih sambil memandang ke arah Bu Khek Siang Lo. Rasa duka dan ketakutan Bu Khek Siang Lo masih belum hilang, berbareng mereka mengangguk. Sekilas Tio Keh Siok memandang ke arah Siang Lo penuh tanda tanya dan tak mengerti, lalu berputar menghadapi Suma Bing, katanya, "Kau menjadi anak buah dari Jeng Siong Hwe."
Suma Bing mengangkat cundrik di tangannya tinggi-tinggi, serunya lantang, "Dalam dunia persilatan hakikatnya tiada kumpulan yang dinamakan Jeng Siong Hwe!"
"Lalu Rasul Penembus Dada yang muncul itu...?"
"Rasanya tidak perlu aku memberi penjelasan kepadamu."
"Suma Bing, Susiokcoku berdua ada permusuhan apa dengan kau?"
Suma Bing menggigit gigi, "Dendam setinggi langit sedalam lautan!" Lagi-lagi Tio Keh Siok melirik ke arah Siang Lo, ia mengharap pembuktian dari mulut Siang Lo sendiri.