Chapter 133
Akhirnya salah satu Sianglo itu membuka mulut juga, "Suma Bing, peristiwa di puncak Kepala Harimau pada lima belas tahun yang lalu, antara pihak hitam dan putih yang ikut serta dalam pengeroyokan tidak kurang dari ratusan orang jumlahnya. Tahukah kau siapakah sebenarnya yang turun tangan secara langsung kepada ayahmu, Su Hay Yu Hiap Suma Hong?"
Sorot mata Suma Bing memancarkan kebuasan, desisnya bengis, "Ayahku terbunuh karena keroyokan kalian bangsa sampah persilatan!"
"Kau jangan menuduh semena-mena tanpa bukti!"
"Tuan hadir tidak dalam peristiwa itu?"
"Ya, kami hadir, tapi sebagai penonton saja!"
"Hm, pembual nomor satu. Tuan ikut turun tangan tidak?"
"Ini..."
"Jangan ini-itu, utang jiwa bayar jiwa, utang darah bayar darah..."
Tio Keh Siok maju beberapa langkah merintangi di depan Sianglo, jengeknya dingin, "Suma Bing, cundrik di tanganmu itu entah sudah berlepotan darah berapa banyak tokoh silat, masa sebanyak itu masih kurang dapat menebus jiwa ayahmu seorang. Balas-membalas tiada habisnya, kiranya sudah saatnya kau hentikan kekejaman yang mengalirkan banyak darah dan jiwa ini?"
"Sesudah tiba saatnya pasti akan berhenti, kalau para kurcaci yang tidak tahu malu dari sampah persilatan itu sudah tertumpas habis."
"Jadi, tekadmu hendak membunuh habis mereka semua sampai ke akar-akarnya?"
"Bukan sampai ke akar-akarnya. Seorang anak harus membalaskan dendam ayahnya, ini sudah jamak dan adil, bukan?"
"Tapi kurasa hari ini kau pasti akan kecewa!"
"Jadi, Nona hendak merintangi tindakanku?"
"Tidak salah!"
"Apakah kau mampu?"
"Mari kau coba!"
Suma Bing berkata dengan nada berat, "Nona Tio, perguruan Bu Khek Bun belum pernah melakukan kejahatan besar dalam dunia persilatan, maka aku tidak mau melukai atau membunuh orang yang tidak berdosa..."
"Suma Bing, lebih baik kau silakan pergi saja!"
"Tidak mungkin!"
"Kalau begitu, janganlah kau berpura-pura welas asih dan berbuat bajik, kau sangka pasti dapat berhasil?"
Keras-keras Suma Bing mendengus, ancamnya, "Bagus sekali, aku Suma Bing tidak keberatan untuk menambah banyak pembunuhan!" Sembari berkata, tubuhnya mendadak bergerak memutar setengah lingkaran melewati tubuh Tio Keh Siok, terus menerjang ke arah Sianglo. Ia berkelebat sambil menyerang; sungguh kecepatan gerak tubuhnya ini bagai kilat menyambar.
"Berani kau!" terdengar sebuah bentakan nyaring diiringi gelombang angin pukulan menerjang ke arah Suma Bing. Kekuatannya bagai gugur gunung dan geledek menggelegar. Dentuman keras bagai bom meledak ini membuat tubuh Suma Bing terpental balik ke tempat asalnya, sedang Tio Keh Siok sendiri juga ikut terpental akibat daya tolakan luar biasa sehingga terhuyung beberapa langkah.
Kedua belah pihak sama kaget dan melongo akan kekuatan lawan masing-masing. Diam-diam tercekat hati Suma Bing; ternyata kepandaian lawan hebat luar biasa di luar perhitungannya. Serangan tadi bukan main dahsyatnya, kekuatannya sungguh susah diukur. Sedang Tio Keh Siok sendiri tidak kalah kejutnya; ternyata hanya mengandalkan tenaga pelindung badan musuh saja sudah cukup membuat dirinya terpental balik tanpa terkendali. Kalau bergebrak sungguh, bukankah akan lebih hebat dan menakutkan?
Tapi dalam situasi sekarang ini, tiada tempat baginya untuk mengundurkan diri, sebab bagaimanapun ia tidak tega melihat kedua Susiokconya tewas di ujung cundrik musuh. Sebenarnya Bu Khek Sianglo bukan penjahat dari aliran hitam, justru karena tamak dan loba saja sehingga berbuat tindakan yang sesungguhnya sangat memalukan perguruan. Menyesal pun sudah terlambat. Kini mereka termangu bagai patung di tempatnya.
Bu Khek Chiu Tio Leng Hwa membanting kaki sembari meremas-remas kedua tangannya dengan sedih. Sebagai ketua dari satu aliran, dia tidak tahu kalau dalam perguruannya ada anggota tertua yang ikut dalam komplotan memperebutkan benda pusaka orang lain; ini merupakan suatu penghinaan dan pengrusakan nama baik perguruan. Sudah tentu dia tidak kuasa untuk merintangi musuh untuk menuntut balas, namun hakikatnya memang tak mungkin dan tak kuasa dirinya merintangi. Sebaliknya, dalam batin dia juga tidak rela untuk mencegah putrinya turun tangan mencampuri urusan ini. Yang diharapkan satu-satunya hanyalah kemungkinan timbulnya suatu keanehan yang ajaib.
Para murid yang lain lebih-lebih tak dapat berbuat apa-apa, bagian mereka hanya menonton sambil melongo saja. Memang cara Suma Bing turun tangan membereskan seluruh anak buah Bwe Hwa Hwe tadi sungguh menciutkan nyali mereka.
Amarah Suma Bing semakin memuncak. Sambil menggerung keras, sekali lagi tubuhnya melejit langsung menubruk ke arah Sianglo. Tio Keh Siok menggertak geram, secepat kilat dikirimkannya sejurus serangan yang aneh bin ajaib.
Suma Bing sudah mempunyai perhitungan; di tengah jalan mendadak ia mengubah permainan silatnya, jurus Mayapada Remang-remang kontan diberondong keluar secepat kilat. Timbullah pemandangan yang mengerikan dan mengejutkan semua orang dalam gelanggang. Batu beterbangan, pasir dan debu bergulung menari-nari di tengah udara, tanah tergetar merekah. Saking hebat angin badai yang timbul ini, seakan geledek menyambar menggoncangkan seluruh Mayapada.
Hampir dalam waktu yang bersamaan, terdengar dua kali jeritan panjang yang mengerikan menusuk pendengaran. Setelah angin dan badai berhenti, keadaan menjadi terang lagi. Tampak Bu Khek Sianglo sudah rebah di atas tanah dalam genangan air darah; dada mereka masing-masing berlubang dan mengalirkan darah dengan derasnya. Maka beramai-ramai Bu Khek Chiu Tio Leng Hwa dan anak muridnya memburu maju ke arah kedua jenazah itu.
Sementara itu, dengan kalem Suma Bing tengah memasukkan cundriknya ke dalam baju. Tio Keh Siok memekik nyaring terus menubruk ke arah Suma Bing. Sebat sekali Suma Bing melejit mundur sejauh delapan kaki, serunya tanpa emosi, "Nona Tio, aku tidak ingin membunuh kau!"
"Tapi akulah yang ingin membunuh kau!" desis Tio Keh Siok penuh kebencian. Seiring dengan habis suaranya, tubuhnya yang ramping semampai itu melejit maju lagi sambil mengayun sebelah tangannya. Terpetalah gambar pukulan tangan yang menderu, membawa kesiur angin keras melengking, terus bergulung menungkup ke seluruh tubuh Suma Bing.
Suma Bing terkejut melihat kehebatan serangan ini; sungguh susah diukur dan ganjil benar, sedemikian keji tiada bandingannya di kolong langit ini. Seluruh sudut kedudukan dirinya semua terancam dalam jurus serangan musuh ini, sedikit pun tak terlihat celah kelemahannya sehingga membuat orang tak tahu bagaimana caranya harus membela diri atau menyingkir. Sungguh dia tidak mengerti bahwa Lwekang Tio Keh Siok ternyata jauh di atas Bu Khek Sianglo, malah hakikatnya kepandaiannya ini bukan pelajaran dari perguruan Bu Khek Bun mereka sendiri.
Waktu tiada memberi tempo untuk dia banyak berpikir, terpaksa dengan jurus Mayapada Remang-remang lagi dia balas menyerang untuk menandingi serangan musuh. Angin badai saling tumbuk dan saling terjang dengan dahsyatnya, menimbulkan dentuman keras yang menggetarkan seluruh langit dan bumi. Seketika Suma Bing merasa darah dan pernapasannya sesak dan mengembang, tapi tubuhnya masih kuat berdiri tegak tanpa bergeming. Sebaliknya, Tio Keh Siok terhuyung mundur lima langkah, wajahnya berubah pucat.
Yang benar-benar terkejut sebenarnya adalah Suma Bing sendiri. Pernah secara gampang saja dalam dua jurus dia mengalahkan Hudco dari Siau Lim Si, Hui Kong Taysu, tapi nona jelita yang masih muda dan berusia tidak lebih dari dua puluh tahun ini ternyata kuat dan mampu menahan jurus serangannya tanpa kurang suatu apa; ini benar-benar luar biasa.
Setelah melancarkan pernapasannya kembali, Tio Keh Siok melompat maju lagi, wajah membatu, kedua tangannya bergerak bergantian terus dikebutkan keluar. Jangan kira hanya gerak kebutan saja, kelihatannya enteng dan biasa, namun sebenarnya mengandung kekuatan dalam yang tidak kentara. Betapa besar kekuatannya ini benar-benar sangat mengejutkan. Suma Bing merasa tiba-tiba dirinya dilingkupi gelombang kekuatan bagai gugur gunung yang meluruk semua ke arah tubuhnya. Maka pikirnya, "Biar kucoba betapa besar kemampuanmu."
Karena pikiran siaganya ini, Giok Ci Sinkang terkerahkan sampai sepuluh bagian tenaganya terus menyelubungi seluruh tubuhnya. Melihat sikap lawannya yang acuh tak acuh dan ogah-ogahan seakan-akan tak terjadi apa-apa, semakin geram hati Tio Keh Siok. Kekuatan tenaga pukulannya ditambah dan dipergencar, terus diberondong semakin dahsyat. Dentuman yang menggelegar membuat hawa udara lima tombak sekelilingnya pepat dan berputar membumbung tinggi seperti angin lesus. Para hadirin yang menonton, termasuk Bu Khek Chiu sendiri, sampai tidak kuat berdiri lagi. Mereka terdesak mundur sempoyongan, malah ada yang jungkir balik terguling.
Suma Bing masih berhadapan dengan Tio Keh Siok tanpa bergerak. Hati masing-masing maklum, salah satu pihak menyerang dengan seluruh himpunan tenaganya, sedang yang lain menadah diserang secara kekerasan; kalau dibandingkan, anak kecil juga segera dapat membedakan siapa kuat siapa asor.
"Nona, sudah saatnya kau menghentikan sepak terjangmu ini?"
"Suma Bing," teriak Tio Keh Siok beringas, "Kecuali kau memberikan keadilan!"
"Apa keadilan?"
"Apakah kematian kedua Susiokcoku itu lantas sia-sia belaka?"
"Memang setimpal kematian mereka."
"Tutup mulut! Kalau nonamu ini tidak membunuhmu, aku bersumpah tidak menjadi manusia."
"Apakah kau mampu?"
"Serahkan jiwamu!"
Seiring dengan gertakan nyaring ini, untuk ketiga kalinya Tio Keh Siok melancarkan serangan jurus ketiga. Jari dan telapak tangan bergerak berbareng, sedemikian aneh dan hebatnya cara geraknya ini sehingga semua tempat vital yang mematikan di tubuh lawan semua dalam ancaman renggutannya. Sedemikian jauh Suma Bing terus mengalah, tapi dalam keadaan yang terdesak ini akhirnya hatinya berpikir, kalau aku tetap mengalah terus, kapan akhir urusan di sini.