Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 134

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 134

Maka dia membarenginya dengan bentakan keras: "Rebahlah!" Jurus kedua dari Giok Ci Sinkang, yaitu Bintang Berpindah Jumpalitan, dilancarkan.

Benar saja, seperti yang diteriakkan Suma Bing, terdengar keluhan tertahan seperti orang yang hendak muntah. Kontan Tio Keh Siok terpental jatuh dan rebah di atas tanah. Mulutnya ternganga dan memuntahkan darah segar.

Semua kerabat dari perguruan Bu Khek Bun menjerit kaget. "Anak Siok!" pekik Tio Leng Wa sambil memburu maju.

Pada saat itu juga, Tio Keh Siok meronta dan merangkak bangun berdiri. Dengan nada yang menggiriskan, ia berkata: "Suma Bing, bunuhlah aku!" "Aku tidak ingin membunuhmu." "Kelak kau akan menyesal!" "Selamanya aku tidak kenal menyesal." "Ingat, akan datang suatu hari pasti aku akan membunuhmu." Nada ancaman itu penuh rasa kebencian yang meluap-luap.

Tanpa terasa Suma Bing sampai bergidik seram, tapi mulutnya masih bersikap congkak: "Selalu saya nantikan saat itu!" Kakinya menjejak tanah, tubuhnya terbang melesat keluar dari Bu Khek Po.

Sejak berhasil mencapai kesuksesan dalam mempelajari Giok Ci Sinkang, hanya dalam satu jurus saja Loh Cu Gi mampu dikalahkannya hingga lari terbirit-birit dengan luka. Hui Kong Taysu, pendeta agung dari Siau Lim Si, bahkan mengaku kalah dalam dua jurus. Sebaliknya, Tio Keh Siok, seorang gadis muda yang belum genap berusia dua puluh tahun, ternyata kuat bertahan sebanyak tiga jurus serangannya. Sungguh mengejutkan.

Siapa dan tokoh macam apakah yang mampu memberi pelajaran sedemikian hebat kepada seorang gadis kecil? Setelah tiba di luar perbentengan musuh, Suma Bing menghela napas panjang. Baru pertama kali ini dia secara terang-terangan menuntut balas atas namanya sendiri, menggunakan cundrik yang dulu pernah digunakan ibunya.

Terkenang akan penderitaan selama ini, kini beban dirinya terasa enteng dan hatinya berseri girang. Tujuan utamanya sekarang adalah markas besar Bwe Hwa Hwe. Barisan pohon Bwe yang aneh itu merupakan ganjalan paling berat dalam batinnya; sampai saat itu, belum terpikirkan cara untuk memasuki barisan tersebut. Namun, keinginan untuk menuntut balas selalu merangsang jiwanya, mendorongnya untuk segera tiba di markas besar Bwe Hwa Hwe.

Betapa banyak jagoan silat dari Bwe Hwa Hwe, namun dalam anggapannya, mereka tidak lebih dari kaum keroco yang tidak perlu dipedulikan; membunuh mereka segampang membalikkan telapak tangan baginya. Mencuci bersih seluruh Bwe Hwa Hwe dengan darah mereka sendiri—ingatan yang seram dan menakutkan ini selalu merasuk dan merangsang benaknya.

Untuk mempercepat tiba di tempat tujuan, Suma Bing mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari bagai terbang. Tengah mengayun langkah, tiba-tiba terlihat sebuah bayangan hitam mendatangi dari arah depan dengan kecepatan yang tidak kalah hebat. Ketajaman pandangan Suma Bing sekarang luar biasa; sekilas pandang saja ia sudah mengenali siapa yang datang.

Segera ia menghentikan langkah dan mencegat di tengah jalan, lalu membentak keras: "Berhenti!" Sambil berseru kaget, bayangan hitam itu segera berhenti.

Mata Suma Bing menyorotkan kebuasan saat menyapu pandang ke arah musuh, lalu berkata dingin: "Racun Diracun, tidak duga kita bertemu di sini!" Memang benar, yang baru datang adalah Racun Diracun. Tampak matanya yang lebih banyak bagian putih daripada hitamnya itu berjelalatan, serta menyahut angkuh: "Suma Bing, kau hendak apa?" "Kukira kau masih belum lupa perkataanku sebelum kita berpisah dulu, bukan?" "Coba kau katakan sekali lagi?" "Aku hendak membunuhmu!"

"Suma Bing," desis Racun Diracun gemetar, "Sudah kukatakan setengah tahun lagi akan kubereskan sendiri pertikaian kita itu!" "Aku sudah tidak sabar lagi!" "Jadi kau hendak turun tangan sekarang juga?" "Memang begitulah yang kuinginkan." "Suma Bing, sebenarnya aku juga bisa melenyapkan jiwamu dalam sekejap mata." "Menggunakan racunmu?" "Memang itulah bekal dan modalku, lebih baik kalau kau sudah tahu!"

Berkelebat cepat pikiran Suma Bing; jikalau dia melancarkan sekuat tenaga salah satu jurus kepandaian Giok Ci Sinkang, sudah pasti Racun Diracun tiada kesempatan untuk bertahan, apalagi membalas.

"Racun Diracun," kata Suma Bing dengan nada berat, "Dendam dan budi masih dapat kubedakan. Hutang budiku kepadamu biarlah kubalas dengan jiwa ragaku, tetapi mengenai kau, tidak dapat tidak, harus kulenyapkan dari bumi ini." "Suma Bing, sedemikian kukuh dan besar tekadmu sampai tidak memberi sedikit kelonggaran?" Suaranya tergetar sedih.

Suma Bing menggigit bibir. Kedua tangannya mulai bergerak terangkat naik; Giok Ci Sinkang sudah dikerahkan sampai puncaknya, yaitu dua belas bagian hawa murninya. Pada saat kritis itulah mendadak terdengar sebuah suara yang sudah agak dikenalnya: "Suma Bing, kau tidak boleh membunuhnya!"

Suma Bing menoleh ke arah datangnya suara, seketika tubuhnya merinding. Tampak samar-samar di atas puncak sebuah pohon besar, terlihat seperangkat kerangka memutih yang terbungkus kain sutra putih pula, melambai-lambai ditiup angin. Serta-merta Suma Bing membatin: "Pek Kut Hujin." Maka segera ia menghentikan tindakan selanjutnya, terus memberi hormat sembari berkata: "Cianpwe ada pengajaran apa?"

Berkatalah Pek Kut Hujin dengan irama yang menusuk telinga: "Kau tidak boleh melukainya." Berkerut alis Suma Bing, tanyanya: "Apakah Cianpwe sudah tahu sepak terjang muridmu yang laknat ini?"

"Aku sudah tahu!" Mendadak Racun Diracun berlutut di atas tanah serta menyembah berulang-ulang, sambil mengeluh menyedihkan: "Suhu!" Suara panggilan ini seakan bukan keluar dari mulut Racun Diracun. Hal ini membuat Suma Bing tertegun, namun sudah tiada tempo untuknya berpikir panjang.

"Kalau Cianpwe sudah tahu perbuatan jahat di luar perikemanusiaan muridmu ini, mengapa..." "Jadi maksudmu kau anggap aku sengaja hendak melindungi muridku?" "Memang begitulah pikiran wanpwe sebenarnya!" "Lalu kau hendak berbuat apa?" "Aku hendak menuntut balas bagi yang sudah mati dan melampiaskan dendam yang masih hidup." "Sesuatu keluarga mempunyai peraturan keluarga sendiri, demikian juga suatu aliran mempunyai aturannya sendiri. Aku orang tua sudah pasti mempunyai caraku sendiri untuk membereskan persoalan ini." "Cara bagaimana Locianpwe hendak membereskan persoalan ini?" "Dalam persoalan ini kau sudah tidak boleh turut campur." "Maaf kalau wanpwe berlaku kurang ajar..." "Kenapa?" "Agaknya Locianpwe sudah terlambat untuk bertindak!"

Nada ucapan Pek Kut Hujin terdengar marah, serunya: "Masa kau berani di hadapanku membunuh dia?" Suma Bing menggigit gigi, sahutnya lantang: "Saye terpaksa harus melakukan!" Dingin dan menusuk benar suara tawa Pek Kut Hujin, katanya: "Suma Bing, dalam masa sekarang ini, tiada seorang tokoh silat pun yang berani berkata demikian kepadaku."

Ini memang kenyataan. Nama Pek Kut Hujin sudah menggetarkan seluruh Kangouw pada ratusan tahun yang lalu, sampai pendeta agung dari Siau Lim, Hui Kong Taysu sendiri, mesti mengalah dan memberi muka padanya, apalagi tokoh-tokoh lainnya. Tapi, sifat pembawaannya yang angkuh dan keras kepala—pula turunan dari sifat-sifat Lam Sia yang agak sesat—menjadikan wataknya semakin ugal-ugalan dan tidak mengenal apa artinya takut. Semprotnya menantang: "Wanpwe tidak gentar diancam!" "Suma Bing, kau jangan berlagak dan banyak tingkah karena ilmu saktimu itu!" "Bukan wanpwe hendak memamerkan ilmu saktiku, aku hanya melakukan apa yang harus kuperbuat." "Sekali lagi kuperingatkan kepadamu, jikalau kau melukainya, kau akan menyesal seumur hidup!" "Apa Cianpwe bertekad hendak merintangi?" "Sudah tentu!" "Aku tidak pedulikan akan segala akibatnya!"

Sementara itu, Racun Diracun sudah bangkit dan berteriak gemetar: "Suhu, tecu sudah berkeputusan rela untuk mengorbankan segala apa yang perlu kukorbankan!" "Apakah kau sudah bayangkan akibatnya?" "Sudah tecu pikirkan!" "Tapi aku tidak mengizinkan!"

Suma Bing tidak paham maksud percakapan guru dan murid itu. Pada saat itu, yang ia pikir adalah rangsangan darah panasnya untuk melenyapkan makhluk aneh di hadapannya ini. Kalau tidak, bagaimana ia harus memberikan pertanggungjawaban kepada Thong Ping dan Ting Hoan yang sudah berada di alam baka.

Sekonyong-konyong, sebuah bayangan langsing terbang mendatangi dengan gesitnya tanpa mengeluarkan suara, terus menubruk ke arah Racun Diracun. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan, seketika Suma Bing tertegun mematung.

'Blang!' disertai keluhan kesakitan yang sangat, tampak Racun Diracun terhuyung beberapa langkah, hampir saja roboh terkapar. Setelah melihat orang yang baru mendatangi ini, tercetuslah seruan kaget dari mulut Suma Bing: "Adik Hun, kaukah itu?"

Memang bayangan langsing itu adalah kekasih pertama Suma Bing, yaitu Siang Siau Hun. Wajah Siang Siau Hun diliputi rasa kebencian yang meluap-luap. Mendengar panggilan Suma Bing, dia hanya mendehem sekali, kedua matanya dengan nanar mengawasi Racun Diracun.

Berkelebat sebuah bayangan putih yang melayang tiba di depan matanya. Suma Bing berteriak kaget, kontan jurus Mayapada Remang-remang dilancarkan sekuatnya. Di tengah gelombang badai yang bergulung-gulung itu, tampak bayangan putih itu terpental sampai tiga tombak jauhnya. Jurus serangannya merupakan gerakan refleks dan kesigapannya. Karena begitu bayangan putih berkelebat, tahulah dia bahwa Pek Kut Hujin sudah bertindak memasuki gelanggang. Untuk membela diri dan melindungi Siang Siau Hun, tanpa pikir panjang kontan dia lancarkan serangannya.

"Auh..." terdengar pekik yang menyayat hati. Racun Diracun sempoyongan lagi, akhirnya tak kuat berdiri dan roboh telentang di atas tanah. Hal ini malah membuat Siang Siau Hun tertegun bengong. Mengapa Racun Diracun tidak membela diri atau balas menyerang, tidak mengerahkan tenaga murninya, juga tidak menyebar racunnya? Jelas dia mengetahui bahwa kepandaian dan lwekang Racun Diracun jauh berada di atas kemampuannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment