Chapter 135
Dirangsang nafsu untuk menuntut balas tanpa banyak berpikir akan segala akibatnya, mati-matian dia turun tangan. Sebenarnya kecil harapannya dapat berhasil, namun kenyataan tidak seperti perhitungan semula; ternyata sedemikian mudah dirinya berhasil melukai musuh.
Karena terpaku, sampai lupa untuk bertindak lagi...
Suma Bing sendiri juga bukan main heran dan kagetnya. Sikap "Racun Diracun" kali ini benar-benar sangat ganjil.
Sementara itu, Pek Kut Hujin sudah melayang tiba di sisi tubuh "Racun Diracun". Suaranya hampir menjerit sedih, "Muridku, tidak setimpal kau mengeluarkan pengorbanan sedemikian besar."
"Kau... kau..." Mendadak, tubuh "Racun Diracun" berkelejatan dua kali.
Terjadilah suatu keanehan. Kulit seluruh tubuh yang semula berwarna hitam itu kini perlahan-lahan berubah. Menjadi kuning, lalu berubah pula menjadi putih...
"Ah...!" Suma Bing menjerit keras, dan sempoyongan mundur puluhan langkah. Kedua matanya melotot, hampir mencelat keluar.
Phoa Kin Sian. Itulah istrinya, Phoa Kin Sian. Dalam mimpi pun dia tidak mengira bahwa "Racun Diracun" ternyata adalah duplikat Phoa Kin Sian.
Pucat pias wajah Siang Siau Hun, tubuhnya menggigil keras sekali.
Sementara itu, Pek Kut Hujin itu juga mulai berubah. Bentuk wajah yang seram menakutkan tadi, seolah-olah kena sihir, telah berubah menjadi bentuk asalnya. Dia bukan lain adalah Ong Fong Jui, bibinya.
Suma Bing menggigil semakin keras sehingga tubuhnya terasa dingin membeku. Hampir-hampir dia tidak mempercayai kenyataan yang dihadapinya ini.
Dengan wajah diliputi kesedihan dan suaranya yang pilu, berkatalah Ong Fong Jui, "Keponakanku, kau harus bertanggung jawab atas tragedi ini. Dua jiwa manusia telah dikorbankan. Seorang adalah istrimu, sedang yang lain adalah anakmu yang bakal lahir."
Hitam gelap pandangan Suma Bing, tubuhnya limbung, hampir roboh. Keringat dingin deras mengalir dari atas jidatnya. Sesaat, terasa seperti dunia kiamat sudah tiba di ambang pintu. Juga seperti tahanan yang mendadak mendengar keputusan hukum mati baginya, otaknya terasa kosong melompong.
Siang Siau Hun membanting-banting kaki sambil menggenggam kedua tangan erat-erat. Teriaknya mengeluh, "Oh Tuhan, apakah yang telah kuperbuat?"
Wajah Ong Fong Jui sudah basah oleh air mata. Katanya tersengal-sengal, "Nona Siang, ini bukan salahmu. Sudah sepatutnya kau menuntut balas bagi adikmu. Orang jahat yang meracun dan membunuh adikmu serta Li Bun Sian sebenarnya adalah adik Kin Sian sendiri. Karena pesan ayah bundanya sebelum meninggal, dia mewakili adiknya mengorbankan dirinya..."
Berkatalah Siang Siau Hun menghadap Suma Bing, "Engkoh Bing, selamanya aku akan menyesal terhadapmu... aku..."
Kala itu, Suma Bing berdiri terpaku seperti patung. Biji matanya tidak bergerak. Apa yang dikatakan Siang Siau Hun ini sudah tentu dia tidak mendengar.
Siang Siau Hun menjerit tersengal-sengal, terus berlari pergi sambil menutup mukanya.
Suasana menjadi hening sekian lamanya, diliputi kesedihan dan kepiluan hati.
Lama sekali kemudian, baru Suma Bing dapat membuka mulut bertanya, "Bibi, dia... masihkah dapat ditolong?"
Ong Fong Jui menggeleng kepala penuh putus asa. Jawabnya sedih, "Tak bisa ditolong lagi."
"Tak bisa ditolong? Oh Tuhan...!" "Dia tengah mengandung tua dan hampir melahirkan, terkena pukulan berat dan terluka parah. Masihkah ada harapan untuk tetap hidup?"
Suma Bing menjerit sambil menubruk ke depan. Kedua kakinya menjadi lemas dan terus jatuh berlutut di atas tanah.
Wajah Phoa Kin Sian memutih seperti kertas. Jubah panjang dan celananya sudah basah kuyup, tergenang darah.
Gugur! Kandungannya telah gugur! Semangatnya semakin runtuh, hatinya terasa tengah meneteskan darah. Apakah dosa istrinya? Kini dia telah meninggal! Apa pula dosa anak yang belum lahir itu? Dia juga ikut menemui ajalnya!
Dia berteriak-teriak dan menggumam entah apa yang terucapkan, terdengar hanya samar-samar saja, "Akulah pembunuhnya, aku adalah... pembunuh... aku..."
"Keponakanku," bujuk Ong Fong Jui pilu. "Tak berguna kau menyalahkan diri sendiri. Kita berada di pinggir jalan raya, marilah kita pindah ke suatu tempat lain!"
Suma Bing mengangguk-angguk seperti patung. Tanpa menghiraukan noda-noda darah, dipapahnya tubuh Phoa Kin Sian, lalu dibawa ke dalam sebuah hutan dan mencari tempat yang rindang di bawah sebuah pohon besar, kemudian dibaringkan kembali.
Jarak yang dekat, tidak lebih dari puluhan tombak ini, baginya terasa seperti dibebani ribuan kati beratnya. Kesedihan yang berlebihan membuat hatinya lemah, semangatnya runtuh, langkahnya sedemikian berat dan perlahan.
Melihat perilakunya ini, Ong Fong Jui menggeleng kepala tanpa bersuara.
Seolah sadar dari mimpinya, berkatalah Suma Bing, "Bibi, dia masih dapat ditolong?"
"Apa? Dapat ditolong?" "Seumpama tenaga murniku akan terkuras habis, biarlah dengan Kiu Yang Sinkang..."
"Ai... keponakanku, isi dalam perutnya sudah jungkir balik. Kandungannya juga sudah gugur. Seumpama tabib dewa sekalipun, takkan kuasa menolongnya."
"Tapi... dia tidak boleh mati! Jangan! Aku harus membuatnya hidup kembali..."
"Keponakanku, tenangkanlah pikiranmu."
Setelah menyeka air matanya, secepat kilat Ong Fong Jui mengulurkan telunjuknya. Beruntun jarinya menotok dua puluh lebih jalur darah besar. Lalu, dengan sebuah gaplokan keras, dia memukul jalur darah Khi Hay. Kemudian, dengan telapak tangannya menekan di jalur darah Thian Toh, mulailah hawa murninya sendiri disalurkan gelombang demi gelombang.
Sebentar saja wajah Phoa Kin Sian mulai bersemu merah. Dadanya juga mulai bergerak naik turun secara teratur. Tidak lama kemudian, tiba-tiba ia membuka mata.
Baru sekarang air mata Suma Bing membanjir keluar. Suaranya sedih dan tersengal-sengal, "Adik Sian, kau... Mengapa kau berbuat demikian?"
Agaknya Phoa Kin Sian tengah meronta menahan sakit. Bibirnya bergerak-gerak sekian lama, baru terdengar suaranya yang lirih seperti dengungan nyamuk, "Engkoh Bing, aku... tidak menyalahkan kau..."
"Tidak, Adik Sian, kau harus membenci dan mengutukku... katakanlah kau benci padaku..."
"Engkoh Bing, sungguh aku menyesal... tidak melahirkan... anak untukmu..."
"Oh aku... Akulah algojonya! Akulah yang membunuh anakku, membunuh istriku...!"
"Engkoh Bing... jangan kau salahkan diri dan meratapi diri. Inilah takdir!"
"Takdir? Tidak, inilah tragedi buatan manusia!"
Suma Bing mengelus-elus rambut istrinya. Air mata terus mengalir dengan deras.
Kata Ong Fong Jui dengan suara serak, "Kin Sian, kau sudah melakukan perbuatan yang paling bodoh di kolong langit ini. Mengapa kau tidak mau mendengar nasihatku..."
Sepasang mata Phoa Kin Sian yang redup dan buram berkedip-kedip. Ujarnya sedih, "Suhu, kau... pandang aku sebagai putrimu sendiri. Budimu yang luhur setinggi gunung dan setebal bumi ini, terpaksa dalam penitisan yang akan datang baru dapat kubalas!"
"Adik Sian," tanya Suma Bing, "Mengapa kau... tidak terang-terangan menjelaskan asal-usulmu?"
"Aku... tidak boleh..."
"Mengapa?"
"Pertama, peraturan... perguruan. Kedua... sebelum ayah bunda meninggal, mereka menyerahkan Cu Giok kepadaku... Dia melakukan kejahatan di luar perikemanusiaan... semua ini adalah kesalahanku. Aku harus menebus dosanya itu, dengan pengharapan dia... mengubah diri dan kembali ke jalan yang benar..."
"Phoa Cu Giok!!" gumam Suma Bing sambil mengertakkan gigi. Seumpama saat itu Phoa Cu Giok berada di hadapannya, pasti tanpa berpikir lagi dia akan dibunuhnya.
Agak lama Phoa Kin Sian memejamkan matanya. Lalu dengan susah payah dibukanya lagi, serta katanya semakin lemah.
"Engkoh Bing... kuharap kau meluluskan satu permintaanku..."
"Coba katakanlah?"
"Apakah kau dapat mengampuni... Cu Giok?"
"Ini...!" Terbayang nafsu membunuh yang tebal di wajah Suma Bing.
Kata Phoa Kin Sian pula dengan sekuat tenaga, "Engkoh Bing, tiada... lain permintaanku hanya... inilah satu-satunya pengharapanku. Lulusilah... mengampuni jiwanya... bantu dan bimbinglah dia ke arah jalan yang benar, meskipun mati..."
"Tidak, Adik Sian... aku tidak bisa membiarkan kau... tidak! Seumpama mesti mengorbankan jiwaku, aku juga harus berusaha..."
Air muka Phoa Kin Sian berubah merah. Napasnya mendadak memburu dan batuk-batuk. Tangan Ong Fong Jui yang menempel di jalur darah Thian Toh itu juga kelihatan gemetar. Keringat membanjir deras membasahi tubuh.
"Engkoh Bing," kata Phoa Kin Sian pula, suaranya lirih hampir tak terdengar, "Lu... lulusilah permintaanku!"
Suma Bing merenggut rambut sambil mengertakkan gigi. Jawabnya terpaksa, "Baiklah, aku penuhi permintaanmu yang terakhir ini..."
Warna merah di muka Phoa Kin Sian menghilang dan kembali pucat pasi. Tapi, ujung bibirnya tersungging senyum terkulum. Kepalanya terkulai ke samping. Mangkatlah arwahnya ke alam baka.
Dengan lesu dan perih, Ong Fong Jui menarik tangannya, "Dia sudah meninggal!"
Suma Bing berteriak menggila, "Adik Sian!" terus menubruk jenazah Phoa Kin Sian.
Seketika terasa pandangannya gelap dan bumi berputar jungkir balik. Pikirannya kosong melompong.
Mendadak Suma Bing meloncat bangun. Sesaat ia memandang wajah pucat jenazah Phoa Kin Sian. Tiba-tiba ia mengangkat sebelah tangannya, lalu mengepruk ke atas batok kepalanya sendiri.
"Gila kau!" hardik Ong Fong Jui keras. Secepat kilat ia bergerak mencengkeram kencang pergelangan tangannya, lalu berkata lagi, "Suma Bing, apa kau ingin membuatnya mati tidak tenang? Apa yang hendak kau lakukan? Tugas berat menuntut balas belum terlaksana, pesan terakhir gurumu hendak kau ingkari. Beginilah kelakuan seorang gagah!"
"Bibi," gumam Suma Bing, "Bagaimana aku bisa mengampuni diriku sendiri?"
"Keponakanku yang baik. Hubunganku dengan Kin Sian sebagai guru dan murid, tapi hakikatnya seperti anak kandungku sendiri. Perih dan kesedihan hatiku rasanya tidak kalah beratnya darimu. Tapi semua ini tidak dapat diubah oleh kekuatan manusia. Semua ini sudah menjadi suratan takdir!"
"Ya, Bibi, aku akan menyesal dan merana sepanjang hidupku ini!"
Sebuah gundukan tanah dari sebuah kuburan baru muncul di antara halangan pohon-pohon lebat dalam rimba itu. Di atas sebuah batu nisan yang sederhana, tertulis beberapa huruf yang berbunyi, "Kuburan Kin Sian, istri Suma Bing yang tercinta." Di bawah sebelah kiri tertanda nama Suma Bing.