Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 136

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 136

Tampak Suma Bing berdampingan dengan Ong Fong Jui di depan makam. Mereka berdiri mematung tanpa bergerak dan mengheningkan cipta.

Agak lama kemudian, baru Ong Fong Jui bersuara dengan nada memilukan, "Keponakanku, yang sudah pergi biarlah pergi; yang mati takkan dapat hidup kembali. Marilah kita pergi!"

"Tidak!"

"Kau...?"

"Aku hendak mendampingi makam Kin Sian selama seratus hari sebagai curahan rasa kasih sayang sebagai suami istri!"

"Maksudmu yang suci dan mulia itu sudah cukup. Janganlah kau memeras diri hingga merusak kesehatanmu sendiri."

"Bibi, kurasa dengan berbuat begitu, aku dapat memperingan beban tekanan batinku!"

"Ah, apa boleh buat, baiklah. Aku harus segera mencari durjana Phoa Cu Giok itu; harus cepat-cepat kucegah supaya dia tidak menambah kejahatannya."

"Bibi, silakan, aku tidak bisa mengantar!"

"Ada yang masih harus kuberitahu kepadamu. Pek Kut Hujin adalah guruku. Beliau sudah meninggal dunia dua puluh tahun yang lalu, dan akulah murid ahli warisnya."

"Oh!"

"Kau sudah paham?"

"Ya, Bibi. Tentang Ibunda..."

"Ibumu? Ada apa?"

"Aku sudah berhasil menemukannya!"

"Ha! Apa benar?" teriak Ong Fong Jui dengan nada kegirangan bercampur haru.

Suma Bing melanjutkan, "Dia menjadi ketua Jeng Siong Hwe yang menggetarkan kalangan persilatan itu. Namun, sebenarnya dia adalah majikan dari Panggung Berdarah!"

Saking kagetnya, Ong Fong Jui mundur selangkah. Suaranya gemetar, "Sungguh di luar dugaan. Lalu di mana sekarang kakakku berada?"

Secara ringkas dan jelas, Suma Bing menuturkan letak Panggung Berdarah tersebut. Ong Fong Jui mengangguk-angguk, lalu katanya, "Tuhan sungguh Maha Pengasih. Keponakanku, bagaimana dengan musuh-musuh besarmu?"

"Aku sudah mempunyai catatan nama-nama mereka. Loh Cu Gi adalah biang keladinya!" Menyinggung nama Loh Cu Gi, seketika timbul nafsu amarah dalam diri Suma Bing.

"Keponakanku, apa kau masih ingat pada Pek Chio Lojin?"

"Ya, dengan tanganku sendiri aku telah membunuhnya!"

"Apakah kau pernah mendengar tentang Pek Bin Mo Ong (Raja Iblis Seratus Muka)?"

"Raja Iblis Seratus Muka?"

"Benar. Dia adalah gembong aliran hitam yang kejam dan bengis. Ilmu riasnya tiada duanya di kolong langit ini. Kepandaian Lwekang-nya juga sangat disegani dalam dunia persilatan. Dia adalah kakak seperguruan Pek Chio Lojin!"

"Memangnya kenapa?"

"Konon kabarnya, Bwe Hwa Hwe baru-baru ini mengundang dan mengangkat seorang Maha Pelindung. Orang itu kemungkinan besar adalah Raja Iblis ini."

"Masa betul?"

"Sudah sekian lama Raja Iblis ini tidak muncul di kalangan persilatan, namun belakangan ini kabarnya ada orang yang melihat jejaknya!"

"Kalau dia secara terang-terangan berani membantu kejahatan dan menyebar maut, pasti aku tidak akan melepaskannya."

"Raja Iblis ini sangat cerdik, licik, dan licin sekali. Kau harus waspada dan berhati-hati menjaga diri."

"Terima kasih atas petunjuk Bibi ini!"

"Lalu, tentang barisan pohon bunga Bwe yang aneh di luar markas besar Bwe Hwa Hwe itu, apakah kau sudah...?"

"Justru hal inilah yang membuatku serba susah!"

"Kalau begitu, cobalah kau menemui Si Gwa Sianjin dan minta petunjuk padanya. Mungkin dia bisa membantumu!"

Semangat Suma Bing terbangun. Ia bertanya, "Apakah Si Gwa Sianjin juga mahir tentang ilmu barisan yang aneh itu?"

"Di antara tokoh-tokoh rimba persilatan sekarang ini, beliaulah yang paling kuat dan pandai dalam hal itu."

"Apakah selain beliau tidak ada orang lain lagi?"

"Ada, tapi..."

"Mengapa?"

"Mungkin dia sudah meninggal dunia. Jikalau dia masih ada, persoalan ini pasti dapat dipecahkan semudah membalikkan telapak tangan."

"Siapakah dia?"

"Ih Lwe Siu Ki Khek, Li It Sim!"

"Li It Sim?"

"Benar. Kenapa? Apa kau...?"

"Aku pernah mendengar Kang Kun Lojin menyinggung namanya."

"Apakah orang tua itu masih ada di dunia fana ini?"

"Entahlah."

"Lebih baik kau khusus mencari dan menemui Si Gwa Sianjin saja."

"Baiklah."

"Aku hendak pergi, jagalah dirimu baik-baik!" Setelah menghela napas panjang, Ong Fong Jui melayang pergi dan menghilang.

Di samping batu nisan, Suma Bing duduk terpekur, tenggelam dalam kenangan lama yang menyedihkan. Begitulah, tanpa terasa sang surya muncul dan tenggelam berkali-kali. Hari berganti hari dengan cepat.

Pada suatu tengah hari, kira-kira satu bulan kemudian.

Suma Bing baru saja kembali dari kota terdekat untuk membeli ransum kering. Saat mendekati makam, tercium olehnya bau harum dupa dan kertas sembahyang yang terbakar yang terbawa angin sepoi-sepoi. Ia bertanya-tanya, siapa yang datang ke pusara Phoa Kin Sian untuk bersembahyang.

Hati Suma Bing tergerak. Ia mengerahkan tenaga dan dengan gerakan yang sangat ringan tanpa suara, ia berputar memasuki hutan. Di depan makam, tampak seseorang tengah berlutut dan menyembah. Dia tidak lain adalah Phoa Cu Giok, manusia berhati serigala itu.

Seketika amarah Suma Bing memuncak. Karena menahan gusar, napasnya sampai memburu. Langkah demi langkah ia menghampiri; matanya melotot merah dan buas. Phoa Cu Giok tetap berlutut. Tubuhnya tampak gemetar; kiranya dia tengah menangis di depan makam kakaknya.

Kira-kira sejauh satu tombak, Suma Bing menghentikan langkahnya.

"Phoa Cu Giok!" hardiknya lantang dan dingin.

Phoa Cu Giok bangkit berdiri lalu berputar menghadap Suma Bing. Sinar matanya redup dan semangatnya layu. Setelah sekian lama, baru terdengar suaranya, "Cihu!"

"Phoa Cu Giok, kau tahu kenapa kakakmu sampai mati?"

"Karena perbuatanku yang durjanalah sebabnya."

"Kau sudah tahu? Baik sekali. Sekarang gunakanlah racun atau jurus-jurus keji apa pun, terserah padamu. Mari serang aku! Jika tidak, kau tidak akan memiliki kesempatan lagi. Lekas turun tangan, seranglah aku!"

"Cihu..."

"Phoa Cu Giok, hendak kuhancurleburkan tubuhmu yang kotor itu!"

Sikap Phoa Cu Giok tetap lesu menghadapi kekasaran Suma Bing. Kedua matanya tampak membengkak merah. Ia berkata dengan tenang, "Cihu, aku insaf bahwa dosaku besar dan aku harus dihukum mati. Silakan kau saja yang turun tangan, tiada apa pun lagi yang perlu kukatakan."

Suma Bing malah tertegun menghadapi sikap orang yang aneh dan pasrah ini. Namun, hawa amarahnya masih merangsang dengan hebat. Ia mendesis sambil mengertakkan gigi, "Phoa Cu Giok, dengan Racun Tanpa Bayangan kau meracuni Siang Siau Moay dan Li Bun Siang, hingga kakakmulah yang menjadi kambing hitamnya. Kau menipu dan memperkosa Thong Ping, gadis suci yang tak berdosa. Bahkan setelah kedokmu terbongkar, kau meracun dan membunuh ibunya juga. Sekarang dia sudah melahirkan seorang anak perempuan, dan dia memohon kepadaku untuk membunuhmu!"

Wajah Phoa Cu Giok berkerut gemetar, agaknya tengah menahan gejolak hatinya. Setelah sejenak berhenti, Suma Bing melanjutkan lagi, "Kau juga memperkosa dan membunuh murid Pek Hoat Sian Nio, Ting Hoan. Dia adalah sahabat karibku!"

"Cihu..."

"Kau manusia berhati binatang! Kakakmulah yang menjadi kambing hitam untuk menebus semua kejahatan dan dosamu!"

"Cihu, biarlah aku mati di tanganmu sendiri. Gunakanlah cara kejam yang paling bengis..." Setelah berkata demikian, ia menundukkan kepala. Ia benar-benar telah insaf dan bertobat, namun semua sudah terlambat.

"Pandanglah aku!" hardik Suma Bing keras. Kedua matanya melotot besar hingga hampir meneteskan darah.

Terpaksa Phoa Cu Giok mengangkat kepalanya. Wajahnya diliputi kekesalan yang mendalam; sedikit pun tak terbayang rasa takut akan kematian. Air mata mengalir tanpa henti membasahi kedua pipinya. Ini bukan sikap yang dibuat-buat; inilah jiwa tersesat yang kembali ke jalan yang benar.

Dengan beringas, Suma Bing mengayunkan kepalannya, menghantam ke arah batok kepala Phoa Cu Giok. Namun, saat kepalannya terpaut setengah kaki di atas kepala lawan, tiba-tiba Suma Bing menghentikan gerakannya. Ia tidak bisa turun tangan. Ia teringat akan pesan terakhir Phoa Kin Sian sebelum ajal menjemput.

"...Ampuni dia... tuntunlah ke jalan yang benar untuk menjadi manusia kembali..."

Apakah tindakannya ini akan membuat istrinya kecewa di alam baka? Memang ia merasa harus membunuh manusia laknat ini, tetapi pesan terakhir istrinya membuat ia tak kuasa turun tangan. Akhirnya, sambil mendengus keras, ia menarik kembali tangannya.

Phoa Cu Giok tetap bersikap tak acuh. Ia bertanya, "Kenapa Cihu tidak jadi turun tangan?"

"Aku sudah berjanji kepada kakakmu untuk tidak membunuhmu," ujar Suma Bing dengan menyesal. "Phoa Cu Giok, dia menjadi korban demi menebus dosa-dosamu. Sebelum ajal, dia masih selalu mengingatmu. Dia memintakan ampun bagimu. Kau... masihkah kau manusia?"

Mendadak Phoa Cu Giok menubruk ke depan batu nisan dan berlutut sambil menangis meraung-raung. Kepalanya dibenturkan ke tanah sambil berseru meratap, "Cici, memang dosaku besar. Aku tidak memohon pengampunanmu, hanya kuminta kau tahu bahwa adikmu yang jahat dan rendah melebihi binatang ini sekarang sudah insaf. Aku bertobat, Cici! Apa kau dengar? Oh, semua ini sudah terlambat!"

Jari tangannya yang gemetar mendadak menusuk ke arah jalan darah Thay Yang Hiat di pelipis sebelah kanannya.

"Berhenti!" Suma Bing menggertak keras. Secepat kilat jarinya menutuk dari kejauhan. Sejalur angin kencang tepat mengenai jalan darah Ji Ti, sehingga seketika tangan Phoa Cu Giok menjadi lemas.

"Kau ingin mati pun sudah terlambat. Seharusnya kau mati sebelum kakakmu menemui ajalnya. Sekarang dia sudah tiada, dan dia ingin kau tetap hidup untuk menyambung keturunan keluargamu."

Perlahan-lahan Phoa Cu Giok berdiri. Pelipisnya merembeskan darah akibat tusukan jarinya tadi. Keadaannya sungguh mengerikan. Mulutnya mendesis seperti menggumam, "Yang harus mati tidak mati, yang tidak seharusnya mati malah mati. Masih adakah harga diriku untuk tetap hidup?"

Amarah Suma Bing yang membara mulai mereda. Orang ini sudah mau kembali ke jalan yang benar, apa lagi yang bisa dikatakan?

"Phoa Cu Giok, Thong Ping sudah melahirkan seorang bayi mungil. Itulah keturunan keluarga Phoa kalian. Terhadap Thong Ping, kau harus memberikan pertanggungjawaban hidup selanjutnya!"

Phoa Cu Giok mengangguk tanpa suara. Suma Bing berkata lagi, "Kau boleh pergi. Kuharap kau jangan membuat kakakmu penasaran di alam baka. Perbaikilah hidupmu dan ikutilah petunjuk hidup yang benar!"

"Cihu, aku pasti menuruti segala nasihatmu!"

"Baiklah, kau boleh pergi!"

Sekali lagi Phoa Cu Giok berlutut dan menyembah di depan pusara kakaknya. Setelah sekian lama mengheningkan cipta, ia berdiri dan melangkah pergi dengan gontai.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment