Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 137

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 137

Memandang bayangan punggung orang, Suma Bing menghela napas panjang dengan perasaan yang berkecamuk.

Tanpa terasa, ia mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh Phoa Cu Giok tadi, "Yang harus mati tidak mati, yang tidak seharusnya mati, malah mati." Sekonyong-konyong, sebuah suara bernada dingin sebagai ejekan menyambung perkataannya, "Ya, memang kau seharusnya mampus!" Suma Bing terkejut dan sigap memutar tubuh ke arah datangnya suara. Tampak seorang pria tua bertubuh buntak dengan janggut panjang sebatas dada yang memutih sudah berdiri di depannya sejauh tiga tombak.

Dia tidak lain adalah si Maling Bintang, Si Ban Cwan.

Suma Bing segera mengangkat tangan memberi hormat, lalu menyapa, "Semoga Cianpwe baik-baik saja selama kita berpisah!" Mulut Si Ban Cwan berdecak dingin, lalu mendengus, "Buyung, sungguh tidak disangka ternyata begitulah pribadimu. Hm, aku si maling tua agaknya sudah picak." Suma Bing melongo heran dan bertanya, "Apa maksud ucapan Cianpwe ini?" Mata si Maling Bintang memancarkan sorot berapi-api, lalu menyemprot dengan beringas, "Buyung, ternyata setelah mendapatkan ilmu sakti, kau gunakan untuk kejahatan di luar perikemanusiaan." Tiba-tiba dimaki, dicerca, dan dituduh sebagai manusia durjana, Suma Bing berjingkrak kaget dan kebingungan, "Tuduhan Cianpwe ini mengenai hal apa?"

"Buyung, di seluruh jagat ini tiada kepandaian yang tiada tandingannya. Setinggi-tingginya gunung, ada yang lebih tinggi; sepandai-pandainya orang, ada orang lain yang lebih pandai. Bukan karena mempunyai sebuah kepandaian sakti lantas tiada lawan di seluruh penjuru angin. Berbuat jahat dan malang melintang menyebar elmaut, memang manusia punya bisa, tapi Tuhanlah yang berkuasa. Kelak kau pasti akan menerima pembalasan yang setimpal."

"Cianpwe, kenapa kau bicara ngelantur? Aku kurang paham."

"Aku si maling tua menginginkan jiwamu, apa ini belum jelas?"

Saking kagetnya, Suma Bing tersurut dua langkah. Ia hampir tidak percaya akan pendengarannya, suaranya gelagapan, "Cianpwe hendak membunuh aku?"

"Ya, aku tahu si maling tua ini bukan lawanmu, tapi untuk membalas sakit hati kawan tuaku, terpaksa aku harus menjual jiwaku ini." Setelah berkata demikian, langkahnya berat beranjak maju. Rambut dan janggutnya yang memutih berdiri tegak dan beterbangan diembus angin, wajah tuanya merah padam diselubungi hawa membunuh.

"Apa ini bukan kelakar belaka?"

"Hm, kelakar..."

"Sedikitnya Cianpwe harus mengemukakan alasanmu, bukan?"

ULAR SAKTI PENGHISAP DARAH

"Alasan? Bu Khek Bun adalah aliran putih yang menjunjung tinggi keadilan. Siapa duga dengan cara keji demikian kau menumpas seluruh penghuni Bu Khek Po? Buyung, masihkah kau memiliki perikemanusiaan?" Baru sekarang Suma Bing paham duduk perkaranya; rupanya perihal dirinya menuntut balas di Bu Khek Po tempo hari membuat si Maling Bintang ini datang untuk membuat perhitungan.

Entah apa hubungan mereka. Padahal, secara terang-terangan ia menuntut balas kepada Bu Khek Sianglo. Maka, ia menyahut dengan tenang, "Cianpwe, terpaksa wanpwe harus berbuat begitu!"

"Jadi menurut hematmu kau harus berbuat begitu?"

"Ya. Tak perlu banyak mulut lagi. Selama hidup ini, meskipun si maling tua ini belum pernah melakukan kejahatan dan berbuat dosa, tapi juga belum pernah menyebar kebajikan. Sekarang di ambang kematian karena usia tua ini, baik juga melakukan pembasmian demi kesejahteraan kaum persilatan!" Kata-kata "membasmi" sangat menusuk telinga dan perasaan Suma Bing. Jika tidak mengingat hubungan terdahulu, sudah sejak tadi ia turun tangan menampar mulut orang tersebut.

Si Maling Bintang, Si Ban Cwan, maju lagi semakin dekat. Kini jarak kedua belah pihak kurang dari dua tombak. Apa boleh buat, karena didesak sedemikian rupa, akhirnya Suma Bing nekad, "Tegasnya, Cianpwe benar-benar hendak turun tangan?"

"Sudah tentu!"

"Kuharap Cianpwe suka berpikir dua kali sebelum bertindak."

"Sudah lama si maling tua ini memikirkan secara masak akan segala akibatnya!"

"Tapi aku tidak ingin melukai Cianpwe!"

"Buyung, sebaliknya bagi aku si maling tua, hari ini bagaimana pun juga kau harus kulenyapkan." Membaralah sifat pembawaan Suma Bing. Saking dongkol, keluarlah ejekannya, "Mungkin tujuan Tuan takkan dapat terlaksana!"

"Kurcaci, marilah coba ini!" gertak si maling tua Si Ban Cwan sambil menubruk maju. Begitu suaranya hilang, serangannya pun sudah merangsang tiba.

Suma Bing tetap tenang dan berdiri tegak tanpa bergerak, mengandalkan kekebalan ilmu pelindung badannya; si maling tua ini takkan mampu melukai seujung rambutnya. Tak terduga, begitu melesat tiba di hadapan Suma Bing, si maling tua membatalkan serangannya. Jarak mereka begitu dekat hingga sekali ulur tangan saja cukup untuk meranggeh lawannya. Mendadak, si maling tua malah bergelak tawa gila-gilaan. Suara tawanya tidak seperti suara tawa umumnya; agaknya ia sudah terbawa oleh perasaan hatinya, rasa sedih dan jengkel dilampiaskan dengan tawanya itu.

Tanpa terasa, perasaan Suma Bing menjadi giris. Susah ditebak apa yang tengah dimainkan oleh si maling tua yang terkenal sulit dilayani dan diajak berembuk ini.

Mendadak sebuah bentakan keras terdengar dari samping, "Maling tua, jangan!" Disusul bayangan beberapa orang berdatangan memasuki gelanggang. Suma Bing dibuat heran dan kaget; yang muncul adalah istrinya, Pit Yau Ang, beserta semua kerabat dari Perkampungan Bumi. Di antaranya terdapat juga Coh Yu Hu Pit serta Teng Tiong Cwan dan lain-lain. Sementara itu, yang membentak merintangi tadi adalah Coh Hu Si Kong Teng. Dengan pandangan rasa khawatir dan takut, Pit Yau Ang dan yang lainnya mengawasi si Maling Bintang.

Suma Bing semakin tidak mengerti.

"Maling tua," kata Si Kong Teng tertekan, "apa faedahnya kau berbuat begitu?"

Si Maling Bintang menghentikan tawanya. Setelah menyapu pandang ke arah mereka berempat, ia mengejek dingin, "Keputusan si maling tua ini selamanya harus terlaksana!"

"Jadi kau, si maling tua ini, bersedia gugur bersama?" tanya Yu Pit Ciu Eng Tiong.

"Benar!"

"Kau ini..."

"Untuk melenyapkan bencana di kalangan persilatan!"

Tergerak hati Suma Bing. Apa artinya ucapan "gugur bersama" tadi? Belum lenyap pikirannya, mendadak ia melihat si maling tua menggenggam sesuatu benda di tangan kanannya, entah barang apa yang disembunyikan itu. Kini ia paham; mengenai ilmu silat, sudah pasti si maling tua takkan mampu melukai dirinya. Namun, karena sedemikian lantang ia sesumbar hendak melenyapkan dirinya, pasti ada sesuatu di balik perkataannya ini.

Turun tangan atau tidak? Ia menjadi ragu. Kalau saat itu mendadak ia menyerang, pasti si maling tua takkan luput dari kematian, tapi hatinya kurang tega. Agaknya si maling tua dapat mengerti isi hati Suma Bing, ia menyeringai, "Buyung, kau turun tangan atau tidak, sama saja, pasti mati. Jiwa tua si maling tua ini sudah kutaruhkan. Kau tahu apa yang kugenggam di tanganku ini? Ketahuilah, sekali aku melepaskan *Sip Hiat Leng Kong* (Ular Sakti Penghisap Darah) ini, seumpama kau tumbuh sayap pun takkan dapat lolos. Buyung, meski kau ada kesempatan membunuh aku..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment